Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Kencan Pertama dengan Mahendra


__ADS_3

"Sepertinya, dia orang yang baik ya dan sepertinya hanya aku yang tidak mengetahui banyak tentangmu. Aku jadi iri deh"


Kaira hanya tersenyum menunduk, memandangi kedua tangannya yang sedang mengepal satu sama lain, berkaitan. Tingkah polos milik Mahen benar-benar telah berhasil membuatnya teringat akan masa lalunya. Saat-saat manis bersama pria yang sekarang telah menjadi milik orang lain itu.


Apa sih Kaira, dia aja ga inget sama kamu, ngapain kamu masih terbayang-bayang dia. Bener kata mama. Aku harus berusaha move on, mulai dari menerima pria ini atau mungkin pria lain seperti Wisnu untuk menemaniku kedepannya. Aku harap kalian tidak akan pernah mengecewakanku~Batin Kaira


..................


Kaira dan Mahen telah sampai di sebuah pusat perbelanjaan di Denpasar, Bali. Suasana hiruk-pikuk terdengar beriringan dengan suara alunan musik khas Bali yang indah. Semua klasik,namun tentu saja berbeda sekali dengan Jogja.


"Kai, kalau nanti kamu mau sesuatu, ngomong aja nanti aku traktir" Ucap Mahen.


Mahen memberanikan dirinya menggenggam tangan Kaira dan menggandengnya mesra. Kaira membiarkannya dan tersenyum hangat, namun genggaman tangan itu terasa hampa, tidak seperti genggaman lembut milik Eren. Wanita itu benar-benar tengah merindukan mantan suaminya.


"Harusnya aku dong yang traktir kamu. Kan aku baru dapat pekerjaan baru" Seru Kaira lantang seakan menutupi rasa rindunya pada Eren.


"Kamu yakin mau traktir aku? Ga takut aku habisin seluruh jatah gajianmu bulan ini? Bukankah seharusnya kau juga perlu membelikan sesuatu untuk pria tengil itu dan si mbok?"


"Aku percaya kamu bukan orang seperti itu. Ayolah masuk. Kalau berlama-lama disini, kita harus terus menerus mengantri. Itu menyebalkan." Ucap Kaira sambil menarik tangan Mahen


"Ehh ehh Kai, tungguin lah."


Sebuah pemandangan yang tak asing bagi mereka. Teman kuliah Kaira dan Mahendra terlihat disana. Ketiga gadis yang reseknya minta ampun itu sedang mencoba untuk masuk ke dalam setelah melakukan scanning aplikasi peduli lindungi (Vaksinasi)


"Raya, Sasa, Tiara." Panggil Kaira dengan renyahnya.


"Ehh Kaira..." Kata-kata Tiara terhenti saat melihat pria idola kampus berada di samping Kaira, menggandeng tangannya mesra.


"Ups, kalian pacaran? Kamu Mahen kan?" Tanya Tiara


"Enggak. Ini salah paham..." Elak Kaira.


Mahen hanya terdiam, tidak membenarkan juga tidak menolaknya.


"Terus? Gandengan mesra gitu, bukan pacaran apa namanya?" Timpal Raya yang tiba-tiba menyahuti perbincangan mereka


"Tch, ceritanya panjang. Gimana kalau kita ke resto Q steak Denpasar dulu. Katanya rasanya enak banget tau" Ajak Kaira.


"Boleh kan mahen?" Pinta Kaira dengan mata membulat.


Mahen mendenguskan nafas pelan. Dia benar-benar gemas melihat tingkah laku Kaira yang tidak pernah berubah dari dulu itu. Dia adalah wanita dewasa juga wanita manja di waktu yang bersamaan. Benar-benar dapat menggerakkan hati setiap orang.


"Sesuai keinginanmu saja. Aku akan ikut" Jawab Mahen lembut


Dasar trio cecungik. Awas aja kalian. Gangguin orang lagi kencan saja~Batin Mahen dengan tatapan iblisnya.


.................


Mahen mengikuti setiap langkah Kaira masih dengan setia menggandeng tangannya.


Q Steak Denpasar....


"Kalian mau duduk dimana?" Tanya Sasa


"Yang jelas ya meja yang muat untuk..." Ucapan Raya terhenti sejenak


"Satu, dua, tiga, empat, lima" Gumam Raya lirih hingga nyaris tak terdengar


"Lima Sa, lima orang. Yang mejanya cukup untuk 5 orang" Teriak Raya sesaat setelah Sasa pergi menjauh.


"Gue juga tau" Seru Sasa dari kejauhan.


Mereka berjalan mendekat menuju kursi yang sebenarnya hanya cukup untuk berempat saja

__ADS_1


"Kalian ngapain ga mesan ruang VIP?" Tanya Mahen


"Ya lu tau ndiri lah, Hen. Restoran bintang lima gini ga sembarang orang bisa pesan VIP. Hanya tamu eksklusif sa..." Kata-kata Sasa terhenti setelah melihat black card VVIP member milik Mahendra.


"Wow, lu gimana bisa dapat kartu VVIP? Perasaan, bahkan keluarga kaya macam tuan muda William yang sering muncul di tv tv itu aja belum tentu bisa" Ucap Tiara asal ceplos


Deg


Hati Kaira seakan berhenti sejenak. Dunianya pun ikut berhenti setelah mendengar nama Eren disebutkan.


ARGHHH, Aku bisa-bisa gila kalau setiap namanya disebutkan, hati ini akan berhenti berdetak. Aku bahkan bisa mati!!!~Protes Kaira pada dirinya sendiri.


"Kai, kamu gapapa kan? Kenapa tiba-tiba berkaca-kaca kek mau nangis gitu?" Tanya salah seorang dari mereka.


"Ahh gapapa. Cuman kelilipan. Ya, kelilipan" Ucap Kaira sambil menghapus air mata yang berlinang di pelupuk matanya.


"Kai, jika sesuatu tidak nyaman, bilang aja ya." Bisik Mahen pada Kaira.


Kaira tersenyum singkat


"Aku beneran gapapa kok" Ucap Kaira berbohong.


...................


Apartment baru Eren William...


Ting


Sebuah email masuk pada laptopnya.


Siapa sih yang kirim email di jam segini? Bukannya gue sudah mengatakan bila gue bakal libur hingga beberapa hari kedepan?~Batin Eren


Eren membaca isi email tersebut dengan saksama. Sebuah kerjasama yang menguntungkan membuatnya tertarik untuk mengikutinya hingga melupakan cutinya. Dia sesegera mungkin mempersiapkan barang bawaannya dan berlari ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri.


"Mas, kenapa sepertinya buru-buru? Kamu mandi bukannya baru sepuluh menit? Tumben banget. Ada apa sih?" Tanya Clara


"Clara, keknya aku harus ke Bali deh. Ada masalah mendadak disana. Kamu ga ingin usaha aku bangkrut kan?" Balas Eren


"Ya.. Gamau lah. Tapi, bukannya kamu sudah izin cuti untuk semingguan ini? Kenapa tiba-tiba ada masalah sih? Terus apa kerjanya si Rangga dan Anna itu" Clara menghujani Eren dengan beribu pertanyaan hingga membuatnya jengah dan memilih untuk mengabaikannya.


"Mas, kenapa ga jawab aku sih?" Protes Clara, namun Eren tetap sibuk bersiap untuk berangkat.


"MAS!!!" Bentak Clara


"DIAM!!!" bentak Eren tanpa sadar. Clara langsung diam dan menatap pria yang baru saja ia nikahi itu. Temperamen Eren benar-benar telah kembali seperti dulu, berbeda jauh dibandingkan dengan saat dia bersama Kaira.


"Kamu sudah menjadi istri aku bukan berarti kamu boleh ikut campur urusanku. Jika aku ingin pergi, maka aku pergi. Jika tidak, maka aku tidak akan kemana-mana. Ingat itu" Tegas Eren


"Lagipula, Rangga dan Anna hanyalah bawahan, sekretaris. Semua keputusan ada ditanganku. Sebagai istri, harusnya kamu dukung lah" Tambah Eren


"Bu-bukan gitu maksudnya, mas. Aku hanya ingin seminggu full ditemani kamu" Ucap Clara manja


"Tidak, aku tidak bisa. Aku harus segera pergi hari ini juga mungkin hingga beberapa hari ke depan" Ucap Eren sambil mengancingkan pakaiannya dan membenahi dasinya.


"Aku ikut" Akhirnya Clara tak tahan untuk tidak mengekor padanya


"Ini bukan acara honeymoon, Clara. Ini murni bekerja. Udahlah ya, kamu jangan kemana-mana"


"Aku pergi dulu" Pamit Eren singkat


"Tch, menyebalkan. Baru saja menikah sudah kabur. Lebih baik kencan dengan pria tampan saja dan mendapatkan uang dari mereka daripada menganggur di rumah" Ucap Clara.


"Halo Rangga, apakah tiket pesawat menuju ke Bali telah disiapkan?" Tanya Eren pada Rangga di ujung telepon

__ADS_1


"Sudah tuan, Saya dengan Anna akan segera menuju apartment baru milik anda." Responnya.


Tiga puluh menit kemudian...


Mereka bertiga telah tiba di bandara Soekarno-Hatta dan menunggu di waiting room untuk waktu yang lama hingga pesawat pun telah diberangkatkan.


Q Steak Denpasar


"Ini Ras, saya memesan ruangan VVIP plus karaoke untuk kami berlima" Ucap Mahen kepada seorang pelayan


"Baik, tuan muda" Ucap pelayan tersebut sopan.


"Tuan muda... Apa jangan-jangan lu yang punya restoran ini?" Tanya Tiara kepo, sedangkan Kaira masih saja bergeming ditempat yang sama, tempat dirinya berdiri sedari tadi.


"Kurang tepat. Coba tebak lagi" Jawab Mahen


"Punya ortu lu? Nyokap lu atau bokap lu?" Lanjut Tiara menebak


"Sekalian aja, Tir. Lu sebutin semua."


"Ya, gue serius nanya"


"ya, ini punya bokap gue. Puas lu?" Ucap Mahen dengan nada sedikit meninggi dan penuh penekanan.


"Wow, ga nyangka selain tampan juga kaya. Lu beruntung banget sih Kai" Ucap Tiara sambil menoleh ke arah Kaira. Dia memiringkan kepalanya saat melihat Kaira menatap lurus keluar jendela dengan tatapan kosong


"Mahen, lu yakin kaira gapapa?" Tanya Tiara lirih.


"Dia ada masalah keluarga. Gue ga mau cerita kalau bukan dari mulutnya sendiri. Gue sendiri juga takut mentalnya yang kena"


"Ara..." Mahen mencoba memanggil Kaira dengan panggilan kesayangan ala mantan suaminya


"Jangan memanggilku dengan panggilan itu. Aku membencinya" Bentak Kaira mengejutkan semua orang. Suasana hening seketika. Mereka semua menunjukkan ekspresi terkejutnya masing-masing


"Ma-maaf. Aku lost control. Aku hanya teringat suatu masalah. Maaf ya" Ucap Kaira merasa bersalah.


"Kai, kalau ada sesuatu yang mau kamu bicarakan, kami siap kok mendengarnya."


"Kalau begitu, ayo kita menuju ruang yang telah kita pesan"


Mereka semua membawa Kaira yang masih linglung itu. Entah sudah berapa banyak yang ia lewatkan selama dia melamun untuk waktu yang lama. Dia pun merasa bila dia sedang melayang bukan berjalan. Kaira terus mengikuti langkah kaki mereka mengarahkan bahkan jika menceburkannya ke kolam renang maupun sumur sekalipun, wanita itu tidak akan menyadarinya.


"Kai, lu kenapa sih? Cerita-cerita dong sama kita" Ucap salah satu dari ketiga trio cecungik itu.


"Halah, paling masalah cowok. Paling dia gamon. Ya ga Hen?" Timpal Raya menggoda Kaira.


"Iya. Ini karena cowok. Aku Gedeg banget sama cowok itu. Apa semua cowok di dunia ini sama aja? Ayah aku bahkan meninggalkanku dengan adikku..." Kata-katanya terhenti. Kaira mengingat adiknya. Saat dia menghadiri pesta pernikahan Eren dan Clara, dia sama sekali belum bertemu adiknya.


"Guys, aku izin telepon adik dulu ya." Pamit Kaira.


Setidaknya, diriku pernah berjuang... Meski tak pernah ternilai di matamu...


Suara dering ponsel Rayhan memenuhi asramanya. Rayhan langsung terpelonjak kegirangan saat membaca nama kontak yang tertera disana. "Kakak Kai"


Rayhan dulunya selalu memanggil Kaira dengan sebutan Kakak Ara,namun semenjak perceraiannya dengan Eren, Kaira melarangnya untuk memanggilnya dengan sebutan itu. Wanita itu sepertinya telah membenci nama panggilan kesayangan itu hingga ke ubun-ubun.


"Halo kak, Apa kabar?" Tanya Rayhan


"RAYHAN!!! KENAPA GA PERNAH HUBUNGIN KAKAK SIH?!! SUDAH LUPA SAMA.KAKAK YA?!!!" Pekik Kaira di ujung telepon. Rayhan langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya, jika tidak, dia dipastikan akan tuli kemudian.


"Maaf kak. Rayhan sibuk akhir-akhir ini. Banyak banget proyek. Puhh, Rayhan aja baru punya waktu istirahat kali ini. Kakak lagi apa?" Tanya Rayhan


"Kakak lagi..."

__ADS_1


__ADS_2