
Wisnu telah memikirkannya dengan matang. Setelah ultimatum yang diberikan si mbok padanya selama tujuh hari tujuh malam, dia tersadarkan oleh perbuatannya yang merugikan. Terlebih lagi, selama beberapa hari ini, kedua mertua Kaira meneleponnya secara bergantian. Terkadang berbicara dengan nada lembut, terkadang penuh emosi. Dia paham dengan jelas jika kedua orang yang usianya sudah jauh melampauinya ini sebenarnya memiliki niat yang baik, yaitu memberikan keadilan dan kebahagiaan untuk Kaira.
Hal yang tak dapat dipercaya olehnya hingga saat ini adalah kedua orang tua itu bahkan rela memutuskan hubungannya dengan Eren, menyita sebagian aset milik Eren dan membagikan aset mereka kepada Kaira secara adil..Namun, bagi kaira itu semua sudah tak ada gunanya lagi.
Siang itu, tepatnya pada pukul 1 siang, Wisnu dengan sengaja mampir ke rumah kaira setelah mendapatkan kabar bila wanita yang sangat dicintainya itu tengah sakit. Dia membeli beberapa buah-buahan segar untuk masa penyembuhan Kaira, tak lupa dia juga mengundang dokter pribadi milik keluarganya.
"Non Kaira baik-baik saja. Dia hanya sedikit depresi atas kejadian yang telah menimpanya. Saya tidak tahu apa jelasnya, namun sebaiknya kurangi untuk membuatnya stress ya, karena itu sangat mengancam mental dan jiwanya." Ucap Sang dokter
Mama Eren yang baru saja mendengarkan apa kata dokter pun tak kuasa menahan air mata. Beliau memeluk erat Kaira dari samping dan memposisikan Kepala Kaira pada pundaknya. Air mata pun tak lagi mau menetes, sudah cukup Eren membuatnya menangis.
"Sayang, jangan dipikirin, please. Eren aja ga mikirin kamu. Kasian Lauren jika kamu biarkan sendirian. Kalau kamu stress, siapa yang jaga Lauren? Dia masih kecil lho" Ucap mama Eren menguatkan Kaira dengan sedikit terbata-bata.
Kaira melirik kearah mama Eren dan terpikir apa yang diucapkannya memang benar.
"Ma, maafin Ara ya. Ara buat mama khawatir." Ucap Kaira lirih.
"Ga usah minta maaf sayang. Tuh Lauren lagi nangis. Dia pasti sedih lihat mamanya sedih. Udah ya jangan nangis" Mama Eren mengusap air mata Kaira dan itu memang berhasil. Wajah cantik Kaira masihlah terpampang jelas disana. Dia berdiri tegak dan mengambil anaknya yang sedang menangis itu, menyusuinya dan kembali bersemangat.
Kaira turun ke lantai bawah. Dia akhirnya memutuskan untuk makan-makanan yang bergizi dan membuang jauh-jauh pikiran yang membuatnya stress beberapa hari ini. Sesekali, Wisnu mengajak Kaira pergi ke taman, menemaninya dan Lauren bermain dan melupakan segalanya. Senyum yang selama ini telah hilang, kini telah kembali sudah. Namun, sepertinya tidak akan berlangsung lama ketika sebuah mobil berhenti tepat didepannya.
Siapa lagi kalau bukan Eren. Pria tinggi besar berwajah tampan itu melangkah mantap ke dalam rumah. Dia melirik Wisnu yang tengah asyik bermain disana. Pikiran negatif pun melayang-layang dengan liarnya di benaknya. Dia mengabaikannya.
Wisnu yang melihat Eren menghentikan langkah pria yang merupakan teman lamanya itu.
"Eren, saya ingin bicara sama kamu" Ucap Wisnu dengan nada serius.
"Apalagi yang perlu dibicarakan?" Respon Eren.
Kaira yang mendengarkan percakapan diantara mereka pun terbangkit dengan membawa buah hati mereka. Perhatian Eren teralihkan untuk sejenak. Ada perasaan rindu yang mendalam kepada anaknya itu. Dia mencium anaknya dalam waktu yang singkat.
__ADS_1
"Ada apa kamu kemari?" Tanya Kaira ketus.
"Masih ingat pulang? Masih ingat anak istri?" Imbuhnya.
"Kaira, kamu diam disini ya sama mama" Mama Eren menarik kaira menjauh dan membiarkannya menonton dari kejauhan
"Jangan halangi jalanku untuk masuk" Ucap Eren dingin.
"eits." Wisnu memegang dada bidang Eren, mencegah pria itu untuk masuk.
"Apakah seorang Presdir perusahaan terkenal memiliki perilaku buruk seperti ini?Bahkan tak membiarkan orang lain untuk berbicara?"
"Aku malas berbicara denganmu"
"Satu hal yang perlu kau tahu, kejadian waktu itu semuanya adalah bohong. Kaira ga salah. Tapi, aku dan Clara lah yang salah" Wisnu akhirnya mengucapkan kata-kata yang sangat berat baginya dengan begitu lancar. Dia benar-benar sudah tidak tega melihat Kaira yang semakin hari semakin kurus itu.
"Apa maksudmu?" Tanya Eren
"Ga usah berbelit-belit. Gue ga ada waktu"
"Iya, Clara yang telah merencanakan segalanya. Dia yang telah memberiku obat untuk dimasukkan ke dalam minuman Kaira saat itu, menuntunnya ke dalam kamar dan menjebaknya disana. Dia bahkan menipuku dengan memberiku obat. Dia adalah wanita yang licik juga matre. Demi mendapatkan kamu kembali, dia bahkan menghalalkan segala cara" Jelas Wisnu panjang lebar.
"Cihh, kau pikir aku akan percaya? Menurutku, Clara adalah sosok wanita yang terbaik diantara yang baik. Sudahlah, semuanya sudah terlambat..."
Tanpa tahu diri, Clara masuk ke dalam rumah Eren, bukan rumah Kaira sebagai mahar pernikahannya waktu itu.
"MAS!!!" Teriak Clara.
Betapa terkejutnya Clara saat melihat suasana yang sedang memanas disana. Mereka bersitegang dalam waktu yang lama. Clara terdiam untuk sesaat, melihat Wisnu dengan tatapan penuh arti.
__ADS_1
Apakah pria itu telah mengatakan segalanya? Jika iya, tamatlah riwayatku~Batin Clara.
"Ada apa sayang?" Ucap Eren memamerkan kemesraan mereka dihadapan semua orang, tak terkecuali kedua orang tuanya.
"Aku hamil"
Satu kalimat, dua kata dan delapan huruf itu mampu memecahkan suasana, membuat semua orang menunjukkan ekspresi terkejut mereka masing-masing. Terutama Kaira. Dengan sigap, Mama Eren memeluk wanita di hadapannya itu, sedangkan suaminya mengambil bayi yang ada di pelukan Kaira.
Kaira melepaskan pelukan dari sang mama mertua, berjalan lurus menuju kedua pasangan yang tengah pamer kemesraan di antara mereka.
PLAKK!
Tanpa kata, Kaira menampar pria di depannya, menatapnya tajam dan penuh dengan kebencian. Matanya memerah dan berlinang air mata. Kaira menatap Eren dalam waktu yang lama, terdiam tanpa kata. Eren pun sebaliknya. Pria itu memegangi pipinya yang mulai memerah
Suasana kembali menjadi tegang. Amarah Kaira telah sampai pada ubun-ubun, tubuhnya kaku dan gemetar pada waktu yang bersamaan. Takut? Tidak lagi. Dia sudah mati rasa bersama pria itu, tak ada lagi rasa khawatir dan takut kehilangan pada dirinya. Semua sirna.
Jeder jeder jeder
Kilatan kemarahan mulai menyambar-nyambar di hati Kaira, sakit, panas dan sesak hingga membuatnya tidak leluasa untuk bernafas. Ucapan dari seorang wanita yang sama sekali tidak ia kenal sebelumnya terasa seperti telah menikam jiwanya. Hatinya bahkan berhenti berdetak sekejap, aliran darah pun membeku dan terpusat pada otak. Perasaan yang telah hancur sehancur-hancurnya itu sudah semakin hancur bahkan terasa seperti partikel atom, atau mungkin lebih kecil.
"Ya, seperti yang kamu dengar, aku akan memiliki anak dari wanita yang aku cintai. Jadi, tidak ada lagi halangan untukku menikah lagi" Ucap Eren dengan entengnya.
Kaira menarik nafasnya dalam-dalam, mengatur kembali nafasnya dan mengangkat tangannya.
"Kamu, kamu adalah pria baj*ngan yang pernah ada dalam hidupku." Ucap Kaira sambil menunjuk Eren.
Tangannya berubah, membentuk kepalan.
"Kenapa mas? Kenapa? Apa salahku? Apa dalam pikiranmu hanya ada wanita pelakor ini, huh?" Ucap Kaira dengan nada tingginya.
__ADS_1
Plakk!!
Sebuah tamparan balik mendarat di pipi Kaira. Dia terhuyung sebentar, lalu mengatur dirinya untuk tetap berdiri dengan tegaknya, menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya dan kembali menatap serius sosok dihadapannya.