
Nyawa diujung tanduk, namun perjuangan tak akan berakhir bila sesuatu yang ada pada diri seorang wanita itu belum keluar. Perjuangan antara hidup dan mati yang akan dirasakan oleh setiap wanita yang berjuang demi masa depan si buah hati memang layak diberikan sebuah apresiasi yang besar. Tak peduli dengan cara apa mereka melahirkan seorang bayi atau mungkin lebih, entah itu dengan cara operasi ataupun normal, semua itu akan sangat menyiksa dan yang bisa dilakukan hanyalah berserah kepada sang maha kuasa.
Saat ini, Kaira sedang berjuang untuk kehidupan dua orang sekaligus. Dirinya sendiri dan bayinya saat ini. Pendarahan sudah terjadi, namun ini bukanlah saat yang tepat untuknya melahirkan. Masih tersisa dua bulan lagi sebelum dia bisa melihat bayi mungilnya itu. Namun, apa boleh buat? Lebih cepat lebih baik selama itu adalah yang terbaik bagi keduanya
"SUSTER!! DOKTER!!!" Teriak Eren histeris
Pria tinggi besar itu nampak panik dan histeris ketika melihat seseorang yang dia cintai terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Dia benar-benar takut saat ini. Kakinya bahkan tangannya bergetar sangat hebat. Dia lemas, namun dia berusaha untuk tetap kuat. Jika bukan dirinya, lalu siapa lagi yang akan bertanggung jawab kepada wanita itu?
"Please, tuhan. Berilah keselamatan bagi istri dan calon anak hamba" Ucap Eren sambil mengepalkan tangan dan berdoa kepada sang pencipta
Kaira tersadarkan dari komanya untuk waktu yang singkat
"Ahhh" Rintih Kaira
"Nyonya, anda sudah sadar? Kalau begitu saya katakan saja pada anda jika anda harus segera melakukan operasi sesar saat ini. Jika tidak, bayi anda dan nyawa anda tidak dapat diselamatkan"
Kaira membelalakkan mata seketika. Jujur saja, jika sekarang, dia sama sekali tidak siap. Dia terdiam sejenak, berpikir untuk mengambil tindakan
"Apakah kami berdua akan selamat?" Pertanyaan itu adalah kalimat pertama yang dia lontarkan setelah dia bangun dari pingsannya dan sepertinya semua orang yang berada di posisi Kaira akan mempertanyakan hal yang sama
"Untuk kemungkinan selamat dua-duanya hanya bekisar 20 hingga 30% saja" Jawab dokter yang menanganinya
Sedangkan, Eren diluar masih tetap cemas menanti.
Mengapa dokter belum juga keluar? Apakah terjadi sesuatu dengan mereka berdua? ~Batin Eren
Setelah mendengarkan jawaban dari dokter, Kaira meneteskan air matanya. Mungkin, inilah saatnya dia berkata "selamat tinggal" pada suaminya tercinta. Percuma saja dia hidup jika selalu dalam belenggu perselingkuhan suaminya, belenggu scandal yang selalu membuatnya terjerat dalam kesedihan dan keputusasaan yang mendalam seakan tak ada ujungnya
Glekkk
Kaira menelan ludahnya sebelum mengucapkan kata yang amat berat itu. Dia harus merelakan hidupnya.
"Dok, saya berpesan untuk lebih utamakan selamatkan bayi saya, ya. Jangan pedulikan lagi nyawa saya. Saya sudah ga kuat untuk hidup hiks hiks. Namun, jangan beritahu pada suami saya ya kalau ini permintaan saya. Cuma katakan saja pesan terakhir dari saya, tolong jaga bayi ini dan beri nama Lauren jika anaknya lelaki dan Karen jika anaknya perempuan" Ucap Kaira
"Baik Bu. Kami akan ingat pesan ibu. Namun, kami mohon untuk ibu tidak pesimis terlebih dahulu karena kemungkinan keduanya untuk hidup masih tergolong besar" Ucap dokter tersebut.
Kaira tak meresponnya kembali. Keputusannya sudah bulat. Dikatakan pesimis, ya memang dia sangat pesimis saat ini. Terlebih saat mengingat pemutaran video barusan itu membuatnya semakin pesimis untuk bertahan hidup. Bagaimana tidak? Hidup bagaikan dineraka itu akan lebih menyiksanya daripada dia harus mati dalam keadaan suci dan masuk surga.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan meminta bapak untuk mengonfirmasikan di bagian administrasi" Ucap Dokter tersebut dan berlalu pergi
Huffttt, semoga keputusan ini adalah hal yang paling tepat. Namun, apakah aku tega membiarkan anak ini diasuh oleh wanita lain? Bagaimana jika mereka memperlakukannya dengan begitu buruk? ~Batin Kaira
Kriekkk
Suara pintu terbuka. Eren segera bangkit dari duduknya
"Permisi, apakah anda suami pasien?" Tanya dokter itu
"Iya, dok. Saya sendiri. Bagaimana keadaan istri saya dan calon anak saya?" Tanya Eren panik
"Nyonya butuh untuk sesegera mungkin melakukan tindakan operasi, jadi mohon bapak mengisi ketersediaannya dalam mengambil tindakan tersebut." Jawab dokter
"Tapi... Tapi, mereka berdua bisa selamatkan dok?"
"Untuk masalah keselamatan, kita hanya bisa berdoa saja bapak. Namun, kesempatan untuk mereka berdua selamat hanyalah sekitar 20-30% saja. Jadi, hal terburuk adalah... Bapak harus memilih diantara mereka"
"Lakukan yang terbaik untuk mereka berdua,dok. Namun, jika disuruh untuk memilih, tolong selamatkan nyawa istri saya. Saya benar-benar ga bisa hidup tanpa dia dan saya akan merasa sangat bersalah padanya. Saya mohon dok" Ucap Eren memohon
Kedua pasangan ini jawabannya berlawanan. Jika dilihat dari ekspresi bapak ini, seharusnya dia adalah suami yang sangat mencintai istrinya. Namun, mengapa ibu yang didalam tadi sepertinya tertekan dengan suaminya? Pasangan yang aneh ~Batin dokter tersebut
Setelah menandatangani semua berkas yang diperlukan, Eren menuju ke ruang operasi dan menanti kabar kedua belahan jiwanya yang sama-sama berjuang bersama. Tak henti-hentinya doa dia panjatkan. Tangannya bergetar hebat. Dia takut apa yang ia takuti akan terjadi.
"Please, Ara. Bertahanlah. Aku janji aku akan menuruti semua keinginan kamu dan ga akan lagi berbuat kesalahan itu. Aku tidak akan mudah terjebak lagi. Aku janji aku akan membuatmu bahagia setelah itu, tidak akan ada lagi air mata. Tapi, bertahanlah untukku setidaknya untuk anak kita" Gumam Eren
Entah sudah berapa kali Eren mengatakan janji itu kepada Kaira. Namun nyatanya, dia sama sekali tidak melakukan janji itu. Dia selalu ingkar bahkan terakhir kali pun dia hingga membuat nyawa Kaira hampir saja melayang.
..............
Beberapa saat kemudian...
Operasi sesar telah selesai. Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut
Saat mendengarkan suara pintu terbuka itu, Eren langsung bangkit dari duduknya dan menghadap ke dokter itu
"Dok, gimana kondisi bayi dan istri saya? Semuanya selamat kan?" Tanya Eren
__ADS_1
"Bayinya selamat, pak. Tapi..." Jawab dokter tersebut membuat Eren semakin tegang
"Kenapa dengan istri saya dok? Ara ga kenapa-kenapa kan?" Tanya Eren panik
Wajah pria itu benar-benar merah saat ini. Keringat pun telah berhasil membasahi seluruh badannya bahkan wajahnya.
"Untuk istri bapak, kami masih belum bisa memastikan karena kondisi beliau saat ini sedang dalam masa kritis. Jadi, mohon untuk bapak tetap berdoa untuk keselamatannya." Jawab dokter
Entah mengapa kaki Eren merasa lemas seketika. Namun, dia juga sedikit senang mendengar anaknya baik-baik saja. Harapannya saat ini hanyalah kesadaran istrinya.
.................
Sudah beberapa jam berlalu, namun kaira tak kunjung sadar. Keadaannya sudah mulai stabil dan itu membuat semua orang terheran-heran dibuatnya
"Dok, kenapa istri saya tidak bangun-bangun ya? bukankah kondisinya sudah stabil?" Tanya Eren.
"Kemungkinan adalah ibu ini tidak menginginkan untuk bangun. Alam bawah sadarnya menolak untuk sadar" Jawab Dokter
"Kalau tidak ada hal lain, saya permisi" Pamitnya
Tak berselang lama, keluarga dari Eren dan Kaira semuanya berkumpul di rumah sakit. Saat itu, mereka tak bisa langsung ikut pergi karena pesta masih diselenggarakan. Jadi, mau ga mau mereka harus tinggal. Berhubung segalanya sudah beres, maka mereka harus segera mengetahui keadaan kedua malaikat ini dengan baik.
PLAKKK
Bukan pertanyaan demi pertanyaan yang Eren dapatkan, dirinya malah mendapatkan tamparan keras dari sang mama tercinta
"Puas kamu mempermainkan kaira hingga seperti ini? Puas?!!" Teriak mama Eren
"Ma, sudah ma sudah. Ini rumah sakit. Jika mama berisik, kasian kairanya" Ucap Papa Eren menenangkan istrinya
"Mama ga habis pikir ya. Mama pikir waktu itu kamu benar-benar sudah berubah. Jika tahu begitu, apakah kamu pikir mama akan mengizinkanmu untuk membawanya pergi? Tentu saja tidak" Ucap Mama Eren
wanita paruh baya itu menatap anaknya layaknya dia menatap seorang musuhnya
"Kalian semua sudah salah paham. Aku bisa mengerti itu terjadi. Aku salah. Tidak seharusnya aku pergi malam itu dan mendengarkan ucapan Ara. Dia telah melarangku" Jawabnya sambil menunduk.
Eren malu bahkan dia sama sekali tidak berani menatap setiap orang disana. Dia benar-benar pria terbodoh yang pernah ada. Entah berapa banyak kali dia mengalami hal yang sama, mengulang setiap kesalahan yang pernah dia buat sepenuhnya,namun sama sekali tidak mengambil pelajaran dibaliknya. Dia memang adalah seorang Presdir yang jenius dalam urusan bisnis, namun benar-benar bodoh dalam masalah cinta.
__ADS_1
Tuan, saya tahu persis anda seperti apa. Anda masih saja seperti remaja yang labil. Namun, saya yakin anda saat itu tidak bermaksud demikian. Namun, aku tidak bisa membelamu. Maaf. ~Batin Rangga