Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Kedatangan Kaira


__ADS_3

Beberapa saat kemudian...


Kaira nampak turun dari sebuah mobil kecil miliknya. Dia langsung masuk ke kantor dan menuju ruangan suaminya. Benar saja, di depan kantor, sudah ada puluhan karyawan yang siap tidka siap harus menerima konsekuensi dari marahnya sang tuan muda. Satu kata yang dapat diucapkan adalah "mengerikan".


Tak tak tak


Kaira berjalan mantap ke arah kerumunan itu, langkah kaira pun terdengar jelas di sana membuat semua orang menjadi hening seketika


"Ada apa ini?" Tanya Kaira dihadapan semua orang


"Kai, akhirnya lu Dateng. Selamatin gue dan temen-temen gue please. Gue tau cuman lu yang bisa nenangin tuan muda" Ucap seorang pegawai yang merupakan teman Kaira dulu disana


"Aku?" Tanya Kaira polos menunjuk diri sendiri


"Iya, siapa lagi? Kan lu istrinya tuan muda. Tuan muda begini karena ngambek sama lu kan?" Balas karyawati di hadapannya


"Tunggu tunggu. Aku belum pernah mempublikasikan hubunganku. Terus, bagaimana kalian bahkan bisa tahu dia begini karena aku. Bahkan, aku merasa tidak membuatnya marah. Siapa yang memberitahukan kepada kalian?" Tanya Kaira


"Sekretaris Rangga" Balas mereka semua dengan serempak.


Kaira menatap Rangga tajam


Awas saja, kau berhutang nyawa padaku ~Batin Kaira.


Sedangkan, Rangga terlihat acuh seperti seorang bayi yang tidak tahu tentang apa-apa. Polos atau mungkin hanya sok polos.


"Kalau sudah ketahuan, apa lagi yang bisa aku perbuat..."


BRAKK


Suara keras itu lagi dan lagi muncul disana. Kaira dan yang lainnya terpelonjak kaget bukan kepalang


"Baiklah, aku akan masuk. Tapi, aku tidak bisa menjamin nasib kalian. Aku akan berusaha semaksimalnya untuk mencoba." Ucap Kaira. Semua orang nampak antusias dan bahkan mendorong kaira untuk segera masuk ke dalam.


Kriekkk


Seseorang membuka ruangan Eren saat dia memarahi karyawannya. Pria itu sangat membenci perilaku tidak sopan seperti itu


"Apa kamu tidak mengetahui peraturan disini? Ketuk terlebih dahulu sebelum masuk" Bentak Eren


Kaira tak menghiraukan suaminya, dia tetap melangkah ke depan tanpa ada rasa takut. Suruh siapa dia adalah seorang wanita yang biasa menghadapi segala kehidupannya dengan keberanian. Takut? Siapa yang mau menjadi pelindungnya jika dia takut akan sesuatu? Sejak hari itu, sejak dirinya ditinggalkan oleh ibu tirinya di sebuah desa terpencil dan dititipkan, dirinya harus berjuang sendiri, kabur dari belenggu mereka dan kembali ke rumahnya, dia sama sekali tidak menanamkan rasa takut dalam dirinya.


"Apa kamu tidak mendengarkan ucapan saya?" Tanya Eren sekali lagi.


Kaira mengalungkan tangannya ke leher Eren, memeluknya dari belakang dan mencium leher belakangnya lembut. Tak lupa, dia pun meniup lirih telinga suaminya.


"Yakin masih mau marah?" Goda Kaira dengan suara seksinya. Eren membelalakkan mata dan mengubah fokusnya ke wajah cantik milik Kaira. Dekat, wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Pegawai yang baru saja diamuk oleh Eren pun bingung. Sejak kapan teman mereka naik pangkat menjadi nyonya muda? Begitulah pikirnya kira-kira.


"Kamu keluar dulu" Ucap Eren sedikit mereda.


"Ba-baik tuan" Wanita itu lari terbirit-birit. Kaira hanya menggeleng pelan melihat kelakuan temannya itu.


.............


Di luar ruangan...


Klekkk


Semua orang menunggu kabar dari Kaira dan pegawai yang tadi sempat dimarahi Eren.


"Gimana Sa? Lu aman kan? ga di pecat kan?" Berjuta pertanyaan yang sahut-sahutan menyapa seorang karyawati yang baru saja dibuat syok oleh Kaira dan Eren. Wanita itu diam mematung.


"Jawab kita dong, Sasa!!!! Jangan buat kita makin panik dong" Ucap seseorang didepannya sambil menggoncang-goncangkan badan Sasa, karyawati yang sempat menjadi korban kemarahan tuan muda mereka.


"Aku tadi ga salah lihat kan? Tadi.. Tadi Kaira, tuan muda.. Mereka..." Ucap Sasa terputus-putus


"Kenapa sama Kaira? Dia juga kena marah? Tamatlah kita. Bahkan satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan kita pun juga kena..." Ucap salah seorang teman Sasa. Wanita itu mendadak terdiam dan lemas seketika, tak terkecuali karyawan pria yang ikut berdiri di sana.


"Duhh, gimana nih nasib istri sama anak gue?"


Riuh suara karyawan dan karyawati yang tetap berdiri di sana. Rangga pun sudah pasrah dengan segala sesuatu yang akan terjadi kepada mereka, bukan lebih tepatnya kepada dirinya sendiri. Apakah perjuangan cintanya kepada Ana akan kandas ditengah jalan hanya karena dia tidak memiliki pekerjaan?


Melihat semua orang lebih gaduh dari situasi sebelumnya, Sasa mulai buka suara atas apa yang dilihatnya tadi.

__ADS_1


"Kalian kenapa sih? Aku kan masih belum ngomong" Ucap Sasa membuat semua orang heran dibuatnya. Beberapa pasang mata menatap tajam kearahnya.


"Apa maksud kamu? Jadi, kamu ga dipecat?" Tanya seorang temannya.


"Aku kan ga bilang aku dipecat. Tapi, ada berita menggemparkan lohhh..." Ucap Sasa.


"Tch, dasar bigos. Dimana-mana selalu bergosip. Ini pikirin dulu nasib kita gimana"


"Bigos?"


"Biang gosip. Udahlah itu ga penting. Katakan saja apa maksud kamu?"


"Ya, maksud aku. Kalian tahu, Ternyata Kaira sama tuan muda memiliki hubungan lho" ucap Sasa bangga seakan hanya dia yang mengerti berita itu


"DAH TAHU" jawab mereka kompak


"Lhah? Berarti gue yang kudet dong? Tch, ga asyik ah." Sasa mengerucutkan mulutnya dan mennyedekapkan tangannya


"Ehh tapi, tadi Kaira berani banget godain tuan muda. Ini sih ya paling dia pakai pelet"


"Ga usah sembarangan nuduh kalau belum ada buktinya" Celetuk Zuli dari belakang


"Lha emangnya situ siapa? Kok sewot?" Balas Sasa


"Dasar kamu ya!!!"


"Lagian ya bukannya disini peraturannya ga boleh pacaran? Terus, untuk apa mereka begitu? Cihh, paling juga simpanan." Ucap Sasa mengundang amarah publik


Kriekk


Suara pintu terbuka terdengar nyaring disana membuat setiap orang yang sedang bersitegang itu berhenti seketika.


Kaira keluar dari ruangan Eren entah apa yang sedang mereka lakukan hingga selama itu didalam.


"Lho, kalian ngapain masih berdiri disini sih?" Tanya Kaira


"Ini nih si cewek tengil banget mulutnya hsshhh pen gue remet" Ucap Zuli kesal


"Kenapa memangnya? Heh lu Kaira, lu pakai pelet kan? Bisa-bisanya lu dapatin hati bos. Cihh, dasar wanita murahan" Ucap Sasa.


"Maaf, saya tidak pernah memiliki masalah dengan anda bahkan saya selalu baik kepada anda. Apa maksud anda berkata begitu ya?" Balas Kaira


"Ya jelaskan. Ngapain kamu dekat-dekat sama bos kalau kamu ga godain dia? Sadar Kaira. Bos sudah punya tunangan, namanya nona Clara ga sih? ya walau ga jadi sih tapi kan lu ga harusnya naik ranjangnya si bos. Sadar diri bossque" Celetuk Sasa


Kaira tak habis pikir dibuatnya. Wanita itu memegangi kepalanya, bingung harus menjelaskan kepadanya bagaimana.


Tiba-tiba, Eren keluar dari ruangannya, merangkul pinggang Kaira dan berdiri sejajar dengannya


"Mas..." Ucap Kaira lirih. Eren tersenyum manis kepada istrinya


"Maaf sebelumnya, saya izin meluruskan."


Semua orang menunduk, melihat kearah lantai


"Memang benar apa yang kamu katakan(Menunjuk kearah Sasa), tapi itu adalah masa lalu. Sekarang, saya sudah menikah" Ucap Eren mengambang.


"Bukankah kalian semua sudah mengetahui status saya? Jadi, apakah kalian tidak membela saya? Baiklah, saya sudah bernegosiasi. Tidak ada karyawan yang akan dipecat kali ini" Ucap Kaira tegas.


"Mas, bolehkah aku memecat wanita itu?" Bisik kaira kepada Eren


"Hmmm. Kamu adalah nyonyaku, bagaimana bisa tidak boleh?" Goda Eren genit.


"Mas... Malu tau dilihat orang"


Kalian, apakah benar-benar tidak tahu malu bahkan bermesraan di depan kami?~Batin beberapa orang yang telah mengetahui faktanya.


"Kecuali..." Ucap Kaira mengambang. Semua orang mendongak kearahnya dan menatapnya cemas


"Kecuali Sasa. Kamu saya pecat. Silahkan hubungi HRD perusahaan ini untuk mengurusi surat pemecatan." Ucap Kaira dengan mantap.


Semua orang bersorak gembira mendengar kabar membahagiakan itu, namun mereka tetap akan dapat konsekuensi atas kesalahan yang setimpal, yaitu mengulangi lagi pembuatan proposal dalam waktu satu malam. Ya, satu malam. Besok adalah deadline pemberian proposal ke mitra kerja.


"Kalau tidak ada hal lain lagi, silahkan kalian pergi dari sini dan mulai kerjakan ulang laporan-laporan tersebut." Ucap Eren

__ADS_1


Pria itu merangkul Kaira dan membawanya pergi meninggalkan mereka yang berada disana. Mereka pun pergi berlalu lalang meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan senang yang tak terhingga, meninggalkan seorang wanita yang masih terdiam mematung di sana


Apa? bagaimana mungkin aku dipecat, tapi... ~Batin Sasa


Sasa berlari mengejar Kaira dan memegang tangannya dari belakang, memutarnya dengan kasar


"Tunggu" Ucap Sasa


"Apa lagi?" Balas Kaira dingin


Wanita itu menundukkan kepalanya, menutupi rasa malunya. Namun, sepertinya itu tidak berlangsung lama. Wanita itu mendongakkan kepalanya seraya berkata


"Atas dasar apa kamu bisa memecatmu? Atas dasar kamu adalah simpanan? Bukankah tadi tuan muda mengatakan bila tuan memiliki istri?" Protes Sasa


"Dasar wanita keji. Kamu jahat. Apa kamu ga inget apa yang sudah aku lakukan? Kamu bahkan sekarang bisa naik daun begini, menangani proyek besar, apa semua itu bukan karena aku? Dasar kamu kacang lupa kulitnya" Lanjutnya


"Karena kamu? Hey, sadar diri. Aku bisa mendapatkan apa yang aku miliki saat ini karena perjuangan aku bukan karena kamu. Satu lagi, bukankah tuan muda mengatakan siapakah istrinya? Tidak kan? Kalau kamu mau tahu, tanya semua orang disini. Siapa aku dan atas dasar apa aku bisa memecatmu. Permisi" Balas Ksira dengan nada tegasnya


"Ayo mas kita pergi. Ga usah ladenin wanita gila kek dia" Ucap Kaira pedas.


"Lu sih, Sa nyinggung Kaira. Kena sendiri kan dampaknya" Ucap seseorang ditelinga Sasa


"Memangnya siapa sih dia? Sok-sokan banget" Balas Sasa


"Cihh, sudah dipecat saja masih bisa bersikap sombong. Memang pantas ya Kaira mecat kamu. Gue bersyukur bat. Gue pikir lu sahabat baik-baik. Taunya."


"Sekretaris Rangga" Panggil Sasa kepada Rangga yang kebetulan lewat


"Hmm" Balasnya dingin


"ee... Saya izin bertanya. Sebenarnya, siapakah Kaira?" Tanya Sasa ragu


"Istri tuan muda. Jika tidak ada sesuatu yang penting lagi, segeralah menuju ruang HRD. Permisi." Jawab Rangga dingin.


Sasa mau tidak mau harus meninggalkan kantor tersebut. Dengan berat hati, wanita itu harus meninggalkan kantor itu, kantor dengan sejuta kenangannya bersama kawan-kawan, kantor yang selalu menjadi tempat gosip yang sudah merupakan hobi yang telah melekat pada dirinya.


Dia mendenguskan nafas kasar dan berlalu pergi dari sana.


Disisi lain...


"Mas..." Kaira membuka obrolan diantara mereka


"Hmmm?" Balas Eren. Pria itu sepertinya terlalu menikmati masakan kantin di kantornya


"Lihat aku dong" Protes Kaira


"Ada apa sih? Kalau mau ngomong, ya ngomong aja kali." Eren menghentikan aktivitasnya, menatap lekat Kaira, menopang dagunya dan siap menerima segala curhatan dari istrinya.


"Tapi, jangan lihatin aku kek gitu. Aku malu..." Ucap Kaira dengan pipinya yang memerah


"Ok ok serius. Ada apa sih?" Tanya eten dengan wajah seriusnya membuat Kaira bahkan tak bisa berkata-kata.


"Ga jadi ah. Mas Eren gitu"


"Astaga, Ara. Kamu mau aku kek gimana sih? Lihatin kamu begitu ga boleh, sambil makan ga boleh, sekarang kek gini pun ga boleh" Seru Eren.


"Tch, hilangin tuh muka dinginnya. Bikin badmood tau" Kaira memanyunkan bibirnya dan menakup kedua tangannya, tanda dirinya merajuk.


"Iya nihh nihhh senyum" Senyum terpaksa tertera jelas pada wajah Eren membuat Kaira semakin gemas dibuatnya.


"Iya deh iya..."


"Mas... Menurutmu, apa aku ini jahat ya?" Tanya Kaira serius


"Mengapa bilang begitu?" Tanya Eren balik


"Ya, aku memecat teman aku sendiri." Kaira pindah ke kursi sofa khusus di kantin tersebut, bisa dikatakan itu adalah tempat VIP, dimana hanya tuan muda sekeluarga beserta para staff dan direksi di perusahaan yang dapat duduk disana. Wanita itu memeluk tangan Eren dan menempel pada Eren. Sisi manja kaira keluar. Eren hanya terdiam dan tersenyum hangat dibuatnya. Lucu sekali begitulah batinnya kira-kira


"Ya memang sih aku udah jengkel sama dia dari dulu. Tapi, dia kan tetap temen aku. Apa aku setidak tahu diri itu sampai dia menghinaku seperti kacang yang lupa kulitnya?" Celoteh Kaira panjang lebar.


Eren mengusap lembut rambut Kaira dengan tangan kekar sebelah kanan miliknya.


"Sudah ya. Jangan menyesal. Kamu membuat keputusan yang tepat. Jika bukan kamu yang bercerita, bagaimana mungkin aku bisa mengetahui ada seorang karyawan ku yang suka bergosip di perusahaan. Kau tahu kan aku benci gosip?" Balas Eren hangat. Kaira benar-benar bersyukur, bersyukur memiliki seorang suami penyayang. Banyak orang disana yang berlalu lalang, sesekali melirik ke arah mereka dan tersenyum hangat melihat kemesraan mereka

__ADS_1


"Iri sekali..." Itulah ucapan mereka setiap kali lewat di depan Kaira.


__ADS_2