
Tak terasa hari demi hari telah berlalu, bulan pun telah berganti, namun hubungan Kaira dan Eren tak kunjung membaik. Mereka telah menjadi orang asing yang bahkan tak serumah. Yap, tidak serumah. Kaira tidak pernah mengetahui dimanakah Eren tinggal sekarang, yang jelas dia hanya mengetahui bila prianya itu hanya akan pulang untuk sarapan, mandi dan ganti baju saja. Menyapa dan meliriknya pun tidak.
Kaira nampak lebih kurus dari biasanya, namun pekerjaan tetaplah pekerjaan. Dia berusaha untuk tetap profesional dalam segala kegiatannya, membantu Eren semakin jaya walau tidak dilihat sama sekali olehnya. Senyum palsu pun selalu terpancar jelas di bibir Kaira, sesekali dia menangis saat sendiri.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu rumah mereka pagi ini.
Hari libur yang dulu biasa dirinya gunakan untuk memasak dan memanjakan suaminya atau mungkin jalan-jalan tanpa tujuan, menghabiskan waktu dengan suaminya tercinta kini tinggallah angan-angan. Dia bahkan tak tahu sampai kapan dirinya akan bertahan, semua ini, pernikahan ini, akankah berakhir begitu saja?
"Hai, Kaira sayang." Sapa Wanita paruh baya dihadapannya.
"Mama, papa. Mama papa kok ga kabarin Kaira dulu sih kalau mau datang?" Tanya Kaira kepada kedua mertuanya itu.
Bagaimana aku harus menjawab jika mas, tidak, tuan muda tidak berada di rumah? Ehh tapi, bisa jadi kan Eren tinggal disana dan melaporkan perbuatanku. Mampus!!~Batinnya.
"Kamu ga mempersilahkan kami masuk?" Tanya mama mertua
"Oh ya, silahkan masuk" Jawab Kaira. Kaira membukakan pintu selebar-lebarnya kepada kedua mertuanya itu. Namun, hingga saat ini, Eren masih belum nampak batang hidungnya. Biasanya, dia akan pulang tepat pukul 7. Kenapa sekarang tidak?
"Mama, papa. Mau makan apa? Kaira masakin ya" Ucap Kaira basa-basi.
Saat Kaira akan berlalu,sebuah tangan telah mencengkeram tangannya, menghentikan langkahnya. Kaira menoleh kearah tangan itu. Tangan mungil milik seorang wanita yang sudah tidak segar lagi, namun tak nampak keriput juga.
"Kaira, mama punya pertanyaan untuk kamu. Kamu duduk sini dulu" Ucap Mama mertuanya yang tiba-tiba begitu serius, suasana pun menjadi tegang seperti dalam ruang persidangan.
Kaira menurutinya. Dia duduk di sebuah sofa yang berhadapan dengan mereka berdua
"Iya ma, ada apa ya?" Tanya Kaira
Apakah statusku sebagai menantu keluarga William akan berakhir? Tidak, aku masih sangat menyayangi keluarga ini~Batin Kaira
"Kemana Eren? Tidak biasanya kamu tidak masak hingga jam segini" Ucap mama tanpa berbasa-basi.
Tunggu, jika mama bertanya seperti itu, berarti tuan tidak berada di rumah mereka. Lalu, selama ini dia menginap dimana?
__ADS_1
Kaira hanya menggeleng lirih, air matanya tak sengaja menetes tanpa dapat dia kontrol.
"Lho, kok malah nangis. Kamu gapapa kan?" Tanya papa mertua. Aura kebingungan keluar dari wajah tampan dan cantik milik mereka. Mereka menatap Kaira dengan tatapan kebingungan sekaligus prihatin, walau mereka tak mengetahui alasan Kairamenangis.
Kaira menyeka air matanya dan berusaha menyusun kata untuk bersiap menjawabnya.
"Mas Eren... Mas Eren ga pernah pulang kemari..." Ucap Kaira lirih
"Apa? Apa maksud kamu?" Pekik Mama dan papa mertua bersamaan.
"Kami bertengkar. Aku dijebak oleh temannya yang bernama Wisnu. Aku berada di kamar yang sama dengannya. Tepat saat mas membuka pintu, aku berada di atas pria itu. Sekujur tubuhku panas, aku pun tidak tahu apa yang telah dia berikan padaku..Namun, pakaian kami masih tetap utuh, aku menahannya. Dan mas tidak percaya dengan perkataanku, sama sekali tidak percaya." Jelas Kaira. Dia mau tidak mau harus jujur kepada kedua mertuanya. Mereka berdua nampak menyimak dengan saksama, mencoba menyerap setiap perkataan Kaira, mencernanya dan menarik kesimpulan.
"Kalian percaya pada saya kan? Tapi, jika kalian ingin menyalahkan saya juga untuk kejadian waktu itu, saya siap menerimanya. Memang itu adalah perbuatan hina bagi keluarga besar seperti kalian. Dan saya, saya memang tak pernah pantas untuk mendapatkan kepercayaan itu" Tambah Kaira.
Setiap perkataan kaira mengandung bawang. Nadanya bahkan menyiratkan bila dia sudah frustasi, sudah menyerah akan segala hidupnya. Jika bukan karena Lauren, untuk apa dia hidup hingga detik ini? Keluarga tak punya, bahkan suami pun telah meninggalkannya.
Kedua mertuanya itu memeluknya erat. Dia menangis sekencang-kencangnya, meluapkan segala emosi yang telah dipendamnya beberapa hari ini.
Hingga seorang pria dengan langkah besar pulang ke rumah.
Bahkan untuk memanggil nama Kaira pun dia enggan melakukannya.
"Siapa yang datang? Kenapa lu ga beritahu gue?" Tanya Eren dengan kasarnya
PLAKKK
Sebuah tamparan mulus mendarat pada pipinya.
"Mama benar-benar kecewa sama kamu. Kamu sudah berjanji untuk tidak melukai Kaira, tidak akan pernah membuatnya mengeluarkan air mata lagi, tidak akan pernah meninggalkannya. Namun, apa nyatanya? Mana janji kamu Eren?" Ucap Mama Eren yang sudah diselimuti emosi itu.
Eren menatap tajam kearah Kaira, kaira hanya bisa menunduk merinding dibuatnya.
"Ini pasti akal-akalannya dia aja." Ucap Eren.
Eren melangkah dengan cepat menarik Kaira untuk berdiri tepat disebelahnya, menakup dagunya kasar dan memaksanya untuk mendongak kearahnya
__ADS_1
"Kamu kan pasti yang sudah menghasut kedua orang tuaku.JAWAB!!!" bentak Eren..Pria itu seperti telah kerasukan sesuatu.
Kaira terdiam sejenak, mencoba mengolah kata-kata sempurna dan memberanikan dirinya untuk melawannya kali ini. Dia sudah capek, capek menghadapi sikap Eren
Jika dalam sebuah novel mengatakan "Cinta itu tidak boleh mengalah pada hal negatif. Cinta harus menang dari segala hal-hal buruk" Tapi, apakah cintanya dengan Eren pantas untuk diperjuangkan? Untuk apa mempertahankan hubungan jika hubungan itu hanya akan menyakiti diri sendiri? Toxic relationship, sebuah julukan yang pantas untuk hubungan mereka saat ini.
"LEPASKAN" Kaira meronta. Wanita itu berhasil melepaskan dirinya dari cengkeraman Eren.
Plakk
Kaira menampar eren dengan penuh emosi.
"Cukup, mas. Cukup. Apa kamu kurang puas menyakitiku begini?" Bentak Kaira membuat Eren kaget bukan kepalang, matanya membelalak lebar dan mulutnya terbuka menganga terkejut
"Mama mengatakan bila kamu tidak ke rumah mereka, lalu selama ini kamu kemana,mas?" Tanya Kaira.
"Sayang, masih lama kah?" Suara seorang wanita yang tak asing ditelinga Kaira terdengar dari luar pagar.
Jederrr... Rasanya bak disambar petir di siang bolong, Kaira sekarang mengerti alasan mengapa Eren memperlakukannya begitu buruk. Itu semua hanya alasannya saja kan agar dirinya tidak terlihat buruk di mata orang.
"Oh, jadi kamu selama ini tidur di rumah Clara?" Tanyanya menyadari asal suara tersebut
"Ya." Jawab Eren singkat
"Kamu jahat mas. Jahat. Kamu nuduh aku yang berbuat, tapi ternyata kamu sendiri yang melakukannya. hiks hiks hiks" Protes Kaira sambil memukuli dada bidang milik Eren, membasahi bajunya dan mengekspose tubuh seksinya. Namun, itu semua buat apa?
"Sudahlah, terima aja nasib..Itu semua kesalahanmu sendiri..Jangan salahin aku." Eren memaksa Kaira melepaskan cengkeramannya. Kaira bangkit dan dengan mantap menatap Eren, mengusap air matanya dan berkata
"Kalian balikan?"
Kaira telah memantapkan hatinya apapun yang suaminya itu katakan.
"Ya. So, jangan ganggu saya dan dia lagi. Permisi" Ucap Eren berlalu pergi.
Hancur... Hancur sudah hatinya saat mengetahuinya. Kedua orang tua Eren memeluk Kaira menguatkannya, sedangkan Eren bermesraan di dalam mobil bersama wanita yang sempat membuatnya hampir gila
__ADS_1