Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Wisnu Datang ke Rumah


__ADS_3

Rangga dan Anna pergi keluar sejenak, entah apa yang akan mereka lakukan. Rangga dan Anna, keduanya akhir-akhir ini disibukkan dengan urusan kantor serta rumah tangga majikan mereka. Eren yang terus berulah dengan Clara, membuatnya harus banting tulang untuk tetap menyejahterakan perusahaannya. Eren benar-benar hanya mengetahui untuk have fun dengan cinta pertamanya dan selingkuhannya itu.


"Rangga, gue kasihan sama nyonya. Dari awal nikah sampai sekarang, dia ga pernah yang benar-benar bahagia. Bahagia pun hanya singkat. Kenapa sih orang baik itu susah mendapatkan keadilan hanya karena harta mereka?" Curhat Anna.


"Ya, gimana lagi An? Duit berbicara" Jawab Rangga singkat, melirik wanita di hadapannya dan kembali fokus ke jalan didepannya.


"Ada ga ya cowok yang tulus gitu? Yang benar-benar ga akan selingkuh. Gue jadi takut nikah..." Ucap Anna lirih, namun masih dapat terdengar oleh Rangga.


Rangga tak menimpali ucapannya, hanya tersenyum hangat mengisyaratkan bila ada dia di sampingnya, dia yang ga akan pernah meninggalkan wanita itu dalam keadaan apapun..Namun, terkadang cinta tak butuh penjelasan, cukup dengan tindakan. Dirinya pun yakin bila Anna tak mau mendengarkan janji manisnya, trauma dengan Eren yang selalu menjanjikan hal manis yang nyatanya hanyalah omong kosong semata


................


Disisi lain...


Kaira dipaksa untuk bangkit, bangkit untuk menyelesaikan proyeknya dan resign dari kantor suaminya sendiri. Dia sudah benar-benar muak dengan melihat wajah pria itu saja.


Kaira bertemu dengan Wisnu di lokasi proyek. Tidak banyak percakapan diantara mereka. Kaira sengaja menjauh darinya, bahkan menatapnya pun tidak. Wisnu hanya mendengus kesal, namun apa yang bisa dia lakukan?


Serah terima kunci pun telah dilaksanakan, resto Jepang pun telah resmi dibuka.


"Terimakasih atas kerjasamanya selama ini. Semoga kita diperkenankan untuk bekerjasama lagi di kemudian hari. Karena semua telah selesai, dimohon dengan sangat untuk bapak Wisnu untuk tidak menghubungi saya lagi, namun langsung pada pimpinan perusahaan. Jika tidak ada pertanyaan, saya permisi" Ucap Kaira dingin.


Kaira sedikitpun tak memberikan kesempatan untuknya. Kaira langsung pergi dari sana dan menuju ke kantor, menyerahkan surat resignnya dan kembali ke rumahnya.


Kaira langsung pulang ke rumah. Dia menyapa kedua mertuanya yang terduduk di ruang tamu dan melanjutkan jalannya menuju kamar, mengunci pintunya erat-erat dan memeluk bantalnya sambil menangis sesenggukan.


Selalu begitu. Dia bukanlah Kaira yang dulu lagi, si ceria dan penuh tawa. Dia muram, hanya suka menyendiri dengan anaknya tercinta, Lauren, seorang bayi mungil yang menjadi satu-satunya alasan mengapa dia bertahan hingga saat ini.


...............


Di Resto baru Wisnu


Tadi, kenapa ya Kaira beda gitu? Ga, gue harus ke rumahnya. Gue takut sesuatu terjadi karena rasa gegabah gue~Batin Wisnu.


Tanpa butuh waktu lama, Wisnu telah tiba di rumah Kaira.


"Permisi" Ucap Wisnu di depan pintu.


"Ma, sepertinya ada orang." Bisik papa Eren kepada istrinya.


"Bi, tolong bukain pintu" Seru mama Eren.


"Baik nyonya" Sahut bibi.

__ADS_1


Saat dibuka pintu tersebut, mereka melihat sosok yang tak asing bagi mereka. Wisnu. Pria yang selalu disebutkan oleh Eren dan Kaira di setiap pertikaian mereka.


"Kamu!! Ngapain kamu kesini? Masih punya muka?" Seru Papa Eren kepada pria muda tampan dihadapannya.


Wisnu menatap mereka bingung seakan dia tak sadar atas apa yang telah dia perbuat.


"Mengapa? Saya tidak ada salah" Jawab Wisnu enteng.


"Nak, kami tahu kamu bersungguh-sungguh dengan Kaira, tapi bisakah kami memohon padamu?" Mama Eren membuka suara, membuat Wisnu menatapnya dengan serius. Wanita paruh baya itu duduk di sebuah kursi di ruang tamu dengan gaya yang elegant, membuat Wisnu sungkan dan akhirnya dia memilih untuk duduk di bawah, lantai yang dingin dan tak beralas itu.


"Nak, ngapain kamu duduk di bawah. Sini lho sebelah saya" Ucap Mama Eren


Wisnu hanya menurutinya saja. Dia sendiri pun tak tahu mengapa tubuhnya bergerak sendiri seolah lebih menuruti wanita di hadapannya itu, sangat berkharisma.


"Pa, biar mama saja yang bicara"


"Kamu pria yang bernama Wisnu kan, Teman sekolah Eren?" Tanya mama Eren


Wisnu menjawabnya dengan anggukan kecil, namun terkesan sangat elegant


Pria ini... Pantas saja jika Eren cemburu. Pria yang sangat bermartabat sepertinya bisa menyukai menantuku berarti menantuku adalah wanita yang sempurna. Ga salah Eren milih istri~Batin mama Eren


"Ada apa ya, te?" Tanya Wisnu dengan nada sungkan.


Sontak, Wisnu terkejut mendengar ucapan dari wanita di sebelahnya, lebih tepatnya di hadapannya. Ingin emosi, tapi dia tak bisa. Pria itu hanya menatap mama Eren dengan tatapan yang tak dapat dijelaskan. Matanya memerah, tatapan penuh kebencian, amarah dan bingung terpancar jelas disana. Wisnu tak dapat menyembunyikannya.


"Maaf sebelumnya Tante. Saya sangat menghargai Tante sebagai senior saya, sebagai seseorang yang lebih tua dari saya..Namun, apa salahnya jika saya memperjuangkan cinta saya? Bukankah cinta itu datang dengan sendirinya?" Elak Wisnu


"Perkataan kamu memang benar, namun bukan memperjuangkan cintamu kepada istri orang. Itu kesalahan besar. Aku yakin kamu mengetahui seberapa besar cintanya Kaira kepada Eren,bukan? Jika kamu terus bungkam tentang masalah waktu itu, bukankah kamu hanya akan menyakiti Kaira?" Mama Eren masih saja berusaha untuk menyadarkan pria itu. Sayang sekali jika wajah yang begitu tampan dia gunakan untuk merebut istri orang, seperti orang yang tidak laku saja.


Yang dikatakan olehnya benar. Tapi, apakah aku benar-benar harus merelakannya? Tapi, jika aku stay terdiam, sama saja aku menghancurkan kehidupan pernikahan Kaira dan menghancurkan masa depan anaknya kan? Tch, benar-benar sulit.~Batin Wisnu


"Ba-baik. Sa-saya akan memikirkannya lagi. Tapi, bolehkah saya melihat keadaan Kaira?" Ucap Wisnu meminta izin


"Lihatlah sendiri" Mama Eren memberi izin


"Ma, tapi..." Protes Papa Eren


"Udah, kamu percaya sama aku aja"


"Thank u, Tan dan om. Permisi"


Wisnu berjalan menaiki anak tangga, terdengar suara rintihan dan tangisan sendu seorang wanita saat dirinya melangkah mendekat kearah kamar Kaira.

__ADS_1


Tok tok tok


Wisnu mengetuk pintu, arah datangnya suara tersebut.


Kaira menyeka air matanya sebelum dia melihat siapakah sosok yang mengetuk pintunya kali ini


"Iya bentar" Sahut Kaira dari dalam kamar


Kriiekkk


Suara pintu terbuka.


"Ada a...pa?" Tanya Kaira yang terputus saat melihat seorang pria yang tak asing baginya, seorang pria yang telah menghancurkan kepercayaan Eren terhadapnya, seorang pria yang telah merenggut masa depan yang cerah untuk anaknya, pria yang telah egois untuk mendapatkan dirinya.


"Hai, Kai. Aku dengar kamu tadi..."


BRAKKK


Kaira membanting pintunya sesaat setelah terdiam beberapa saat


Brak brak brak


Wisnu mengetuk pintunya keras


"Kaira!!! buka pintunya" Teriak Wisnu dari luar


"Enggak!! Buat apa kamu kesini? Buat ngetawain aku yang seperti ini?" Sahut Kaira dari dalam kamarnya


"Apa sih yang kamu bicarakan?"


"Ga usah sok gatau deh Wisnu. Gue muak sama lu. Bukankah kerjasama diantara kita sudah berhasil? Bahkan lu juga sudah berhasil membuat mas Eren salah paham padaku, menjauhiku bahkan jijik kepadaku. PUAS KAMU?!!"


Wisnu membelalakkan matanya sesaat setelah mendengarkan segala protes yang dilayangkan oleh Kaira. Dia sadar bila perbuatannya salah, salah besar.


"A-aku..."


"Sudahlah, aku membenci kamu. Menatap wajahku, aku benci. Aku benci dengar suaramu, mengingat dirimu dan semua tentangmu aku membencinya. Pergi dari sini. Aku benar-benar muak sama kamu, orang yang menghancurkan hidupku dan anak aku." Ucap Kaira dengan nada tinggi


"Kaira, dengarkan penjelasan ku." Pinta Wisnu


"PERGI!!!" bentak Kaira.


"Huhuhu, kenapa sih Wisnu, kamu harus menjadi orang ketiga diantara kami? Mengapa kamu melakukan ini padaku? Apa salahku?" Gumam kaira sendirian, bersandar pada pintu dan memeluk dirinya sendiri erat.

__ADS_1


__ADS_2