
"APA KATAMU?!!!" Bentak Eren tak terima
Eren telah mengangkat tangannya dan hampir meluncurkan serangannya, namun...
"SUDAH CUKUP!!!" Teriak Kaira dari belakang.
"Apa kalian ga punya malu dilihatin semua orang? Kalau mau berantem ya di ruangan aja nanti aku kasih kalian pedang satu-satu." Ketus Kaira.
Kaira meninggalkan kedua pria itu disana dan memilih masuk lagi ke dalam ruang VIP yang telah mereka pesan
"Kai, Kai" Panggil ketiga cecungik itu.
Kaira duduk kembali pada posisi awalnya, sedangkan Eren dan Mahen berebutan posisi duduk di samping Kaira.
"Mas, ngapain kamu datang kesini lagi sih? Apa kamu masih belum puas dengan semua yang kamu lakukan kepadaku, huh?" Celetuk Kaira tiba-tiba saat Eren menempatkan dirinya pada sebuah lantai di pinggir kanan Kaira.
"Aku hanya berbisnis. Memang kenapa? Ga boleh?" Jawab Eren tak kalah ketus.
Kaira memutar kedua bola matanya.
"Tunggu, kalian punya hubungan?" Sahut Tiara tanpa kabel disekitarnya.
Mereka bertiga hanya terdiam sejenak.
"Sudahlah ga usah dibahas. Aku capek. Aku mau pulang" Pamit Kaira
Wanita itu berjalan keluar sendiri. Eren menengguk sebuah minuman bir yang masih dalam keadaan utuh satu botol tanpa tersisa setetespun. Setelah itu, pria itu langsung berlari mengejar Kaira
"Ara, tunggu" Ucap Eren menghentikan langkah Kaira.
Ketiga cecungik yang memang sedari awal sudah kepo itu pun mengikuti mereka dan menjadi saksi ketegangan diantara mereka.
"Apa lagi sih mas? Jangan ganggu hidup aku lagi. Aku ingin bahagia bersama yang lain. Toh kamu juga sudah punya Clara kan?" Tegas Kaira
"Tidak, aku merindukanmu. Clara tidak sesuai dengan ekspektasi ku. Dia terlalu banyak menuntut dan kurang mandiri. Ga kayak kamu" Ucap Eren sambil memeluk Kaira erat dari belakang. Kaira tak membalasnya dan tetap bergeming pada posisinya.
"Lalu, apa urusannya denganku? Bukankah waktu itu kamu yang membuangku? Atas dasar apa kamu boleh memelukku sembarangan?" Ketus Kaira.
Di kediaman Wisnu Wijaya...
"Duhh, kemana sih Kaira? ini sudah jam berapa?" Gumam Wisnu
Bibi sedari tadi terdiam melihat Wisnu kedepan kebelakang, kesamping, dan selalu mondar-mandir seperti itu. Wisnu berkali-kali melihat jam yang ada di tangannya. Sudah hampir jam 12 malam dan masih belum ada tanda-tanda Kaira akan pulang. Pria itu semakin gelisah saat mendapati ponsel Kaira yang dalam keadaan tidak aktif. Setelah beberapa kali percobaan, Kaira mengangkat teleponnya.
"Kai, kamu kemana sih? Aku khawatir banget. Kamu gapapa kan? Mahen ga apa-apa in kamu kan?" Tanya Wisnu
__ADS_1
"Tenang aja. Aku baik-baik saja..." Ucap Kaira lirih
Jangan sampai Wisnu tau ada Eren juga disini~Batin Kaira.
"Aku akan pulang sebentar lagi. Nanti aku ceritain kenapa aku lama,ok? See u, Wisnu" Ucap Kaira
"Humph, baiklah. Aku menunggumu"
"Jangan, nanti kamu kecapekan. Mending tidur dulu. Nanti kalau aku sudah pulang, aku akan membangunkan mu" Respon Kaira
"Baiklah"
Jawaban itu adalah hoax. Wisnu tentu saja tidak akan mendengarkan perintahnya. Dia memilih untuk menyetel televisi dan menonton film kesukaannya hingga Kaira pulang. Dia berpikir bila dia masih sanggup bila harus menunggu Kaira bahkan hingga esok pagi.
Berbeda dengan Kaira. Wanita itu sekarang dalam posisi sulitnya. Tatapan dingin ala Eren ia rasakan sekali lagi. Dia tak habis pikir dengan kemauan pria labil disampingnya. Waktu itu, pria itu yang membuangnya dan sekarang pria itu datang kembali untuk memungutnya. Apakah dia adalah sampah tak berharga?
"Siapa? Wisnu?" Tanya Eren dingin
"Dia siapa itu bukan urusan kamu lagi. Aku mau pulang. Jangan cegah aku lagi" Jawab Kaira sinis
"Kamu satu rumah dengan Wisnu?" Teriak Eren membuat langkah Kaira terhenti untuk kedua kalinya.
"Iya. Kupikir, dia lebih baik untuk menjadi rumahku daripada kamu yang ga pernah pulang ke rumah kita dulu" Jawab Kaira
"Kamu selamanya hanya milikku, milik Eren William" Tegas Eren
Brakkk
Pria itu mendorong Kaira hingga dirinya terpelanting dalam mobil, mengunci pintu mobil dan membawanya pergi.
"TOLONG!!! TOLONG!!!" Teriak Kaira meminta tolong. Sayangnya, mereka tak berani berbuat apapun.
"Aku ga ngerti sama Kaira. Semua wanita bahkan memimpikan untuk naik ke ranjang tuan muda. Dia memiliki kesempatan itu dan malah meronta-ronta untuk dilepaskan?" Bisik Tiara kepada kedua temannya.
"Apakah kalian tidak melihat ekspresinya? Sepertinya, dia sangat membenci tuan muda. Atau jangan-jangan, mantan suami yang baru saja ia ceritakan adalah..." Bisik Raya menerka-nerka
"Ngaco. Mana mungkin tuan muda mau sama wanita biasa kayak Kaira? Dia cantik sih, tapi tetap saja dia bukan satu kalangan sama dia" Celetuk Sasa memotong pembicaraan
"Yee, bilang aja lu syirik. Mungkin aja kali. Nanti aja deh pas reunian kita tanya Kaira nya langsung" Ucap Raya melerai.
Seseorang terlupakan di sudut restoran Q steak itu.
Hiks, salah apa yang sudah ku perbuat? Mengapa aku selalu menjadi seseorang yang dilupakan?~Batin si jones Rangga.
....................
__ADS_1
"EREN!!! LEPASIN AKU!!! LEPASKAN!!!" teriak Kaira dari belakang mobil sambil memukuli pundak Eren.
Eren tak menggubrisnya dan fokus menyetir. Namun, sesuatu nampak tak baik-baik saja. Kaira dapat melihat Eren tak dapat menyetir dengan benar.
"Kamu... Kamu mabuk? Gila!!!" Celetuk Kaira
"Tch, berisik." Bentak Eren
"Ya udah, lepasin aku. Kalau mau mati ya mati aja sendiri. Aku masih harus pulang merawat Lauren. Kamu? Anak sama istri aja ga dipeduliin, terus kamu fungsinya apa?" Ucap Kaira menusuk hati.
Kaira berulang kali mencoba membuka pintu mobil tersebut. Sayangnya, pelindung terlalu kuat baginya untuk keluar. Dia tak habis pikir untuk apa pria itu memasang segalanya anti gores, anti api, anti peluru dan lain sebagainya. Bagaimana jika seseorang terjebak didalamnya? Bukankah seseorang diluar tidak akan sanggup membukanya?
Dua puluh menit kemudian...
Mereka berdua telah sampai di sebuah hotel mewah bintang lima yang kala itu pernah mereka kunjungi bersama.
"Kenapa aku dibawa ke hotel ini lagi?" Tanya Kaira.
"Sttt, diam"
Eren mendatangi Kaira. Wanita itu menghindar sebisa mungkin, mengelak bahkan menendangnya.
"A-apa yang mau kamu lakukan? Lepasin aku. Sadar Eren sadar aku bukan lagi istri kamu"
Sayangnya, tenaga pria itu lebih kuat dibandingkan dirinya. Eren memaksanya turun dan menggendongnya menuju kamar yang telah dipesannya. Eren berjalan dengan pandangan lurus tak memedulikan orang-orang sekitar yang bergosip mengenai dirinya. Suara teriakan Kaira meminta tolong memenuhi seisi hotel.
"AHHHH" Teriak Kaira saat dirinya dilempar oleh Eren ke king bed miliknya.
Eren menggulung lengan bajunya sembarangan dan mulai berbaring di atas wanita yang pernah menjadi miliknya.
"Please, don't do this..." Ucap Kaira lirih.
Hal tersebut membuat Eren semakin menggila. Dia mulai menghujani berbagai ciuman panas di leher Kaira membuatnya meronta untuk dilepaskan. Pengkhianatan yang diperbuat oleh pria itu terekam jelas di kepalanya, membuatnya terpaksa memutar kembali setiap adegan kelam yang telah dilaluinya. Adegan saat dirinya harus berjuang sendirian mengasuh anak semata wayangnya. Adegan saat Eren dengan gamblangnya mengatakan bila dia lebih memilih Clara dibandingkan dengan dirinya. Adegan saat dia benar-benar sudah mencapai titik frustasinya hingga membuatnya hampir gila sepenuhnya pun terputar disana. Kaira hanya dapat berteriak dan menangis kesakitan. Pria itu melakukannya dengan kasar.
"Kau tau Ara, saat kamu menolakku tadi, hatiku benar-benar sakit. Sakit sekali. Apalagi saat melihat cowok itu menggigit bibirmu ini. Memegang badanmu. Aku tidak menyukainya. Aku membencinya" Ucap Eren di tengah-tengah permainannya.
"Ahh... Huhu, sakit..." Rintih Kaira
"Tapi, bukankah itu maumu mas? Aku sudah memberimu kesempatan untuk kesekian kalinya. Namun, lagi dan lagi kamu mengingkarinya dan bahkan memilih wanita yang jelas-jelas merusak rumah tangga kita dibandingkan dengan istrimu sendiri. Kamu ga percaya aku, mas. Kamu menuduhku, memfitnahku. Aku sakit." Protes Kaira histeris.
Eren mendengarnya dan marah dengan dirinya sendiri. Namun, dia juga membenci dengan apa yang dikatakan Kaira hari ini
..."Iya. Kupikir, dia lebih baik untuk menjadi rumahku daripada kamu yang ga pernah pulang ke rumah kita dulu"...
Kata-kata itu terngiang-ngiang di kepalanya. Pria itu malah semakin menggila. Sudah berbagai cara yang telah dilakukan oleh Kaira untuk melepaskan dirinya. Pria itu sepertinya sudah benar-benar dalam kondisi mabuk saat ini. Bukan lagi dirinya. Kaira akhirnya hanya bisa menangis dan pasrah, menunggu fajar tiba.
__ADS_1