
"Untuk apa kamu kemari?" Tanya Mama Eren.
"Tentu saja mengajak anakku bermain, apakah itu terlarang?" Tanya Eren balik.
"Ara, apakah pria kecil itu adalah Lauren?" Tanya Eren saat melihat seorang pria kecil mirip dirinya.
"Ya" Jawab Kaira dingin.
"Lauren, kamu sungguh sangat tampan. Kemarilah. Papa sangat rindu kepadamu" Ucap Eren sambil merentangkan kedua tangannya.
"Siapa kamu?" Tanya Lauren Ketus.
"Sayang, ga boleh begitu sama papa. Walau mama tau kamu membencinya, tapi mama ga pernah mengajarkan begitu sama Lauren" Ucap Kaira. Lauren pun langsung menuruti ucapannya.
"Kamu boleh memelukku hanya karena mama mengatakannya. Selebihnya, kita tidak lebih dari orang asing" Ucap Lauren dingin.
Eren tanpa berpikir panjang langsung mengangkat tubuh mungil milik Lauren dan menghujaninya ciuman bertubi-tubi. Namun, berbeda dengan Lauren, pria kecil itu nampak sangat risih dan jijik.
Iuhhh, apakah setiap pertemuan awal akan begini? Benar-benar menjijikkan~Batin Lauren.
"Mama" Panggil Karen
"Kakak Olen punya papa. Telus, papa Alen dimana? Alen juga ingin dipeluk papa" Ucap Karen dengan nada sendu sambil menunduk. Kaira hanya bungkam.
"Sudah selesai kan? Lepaskan aku" Ucap Lauren dingin.
Eren melepaskan pelukannya dan membiarkan pria kecil itu pergi semaunya. Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya kepada seorang gadis kecil yang berdiri tepat disebelah Clarissa. Gadis itu mirip sekali dengan Kaira bahkan tidak meninggalkan jejak Eren disana.
"Ka-kalian, kalian sudah menikah? Ini putri kalian? Cantik sekali" Puji Eren.
Semua orang saling bertatapan. Mereka bingung harus berbicara apa. Semua orang hanya menunggu keputusan dari Kaira
"Baiklah, jika aku tidak mengatakannya berarti aku egois kepada ayah dari Karen dan egois juga terhadap Karen." Celetuk Kaira tiba-tiba.
"Terserah kamu mau percaya padaku atau tidak, tapi Karen adalah anak kamu, anak kita." Ucap Kaira
Jderrr
Bagai disambar petir di siang bolong. Selama jni, dia benar-benar menyia-nyiakan dua berlian kecil beserta ibunda mereka pergi dengan menjalani kehidupan yang sulit, kehidupan yang bahkan membuat malaikat kecil itu kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Membuat Lauren memiliki sifat dingin dan kejam. Untung saja, Lauren sangat menyayangi Kaira dan adiknya.
"MAMA!!!" teriak Lauren tiba-tiba memecahkan keheningan diantara mereka
"Tolong, Sasa pingsan" Ucap Lauren terlihat panik.
__ADS_1
"Sasa, sayang. Kamu gapapa?" Tanya Eren.
"Gimana sih kamu mas, anak sakit begini diajak jalan-jalan ke mall. Ayolah kita bawa ke rumah sakit" Ucap kaira sambil menggendong Clarissa. Lauren menggandeng adiknya mengikuti Kaira dari belakang, begitupun dengan Wisnu dan kedua orang tua Eren.
..................
Mereka telah tiba di rumah sakit dan Clarissa langsung mendapatkan perawatan secara intensif.
"Maaf, aku sekali lagi merepotkan kalian. Tadi, dokter telah memperbolehkan Clarissa untuk pergi. Namun, tidak tahu mengapa hal ini terjadi. Aku sungguh minta maaf" Ucap Eren merasa bersalah.
"Sudahlah. Kemana mama anak ini? Mengapa dia benar-benar tidak peduli dengan anaknya sendiri?" Tanya Mama Eren.
"Entahlah. Aku benar-benar ingin bercerai dengan wanita itu. Dia benar-benar berbeda dari yang aku harapkan. Namun, ini bukan saatnya. Aku lebih khawatir dengan Clarissa" Curhat Eren.
"Kamu yang sabar. Karma itu akan datang cepat atau lambat. Kau dulu memperlakukan Kaira seperti itu. Saat Lauren sakit, saat dia harus melahirkan seorang bayi tanpa suami disampingnya. Merawat dua malaikat kecil sendirian. Apa kamu pikir itu tidak berat?" Ucap Mama Eren
"Ya, Eren tau kesalahan Eren tidak dapat dimaafkan. Eren pun tak berharap lebih." Ucap Eren.
"Baiklah, jika tidak ada hal lain lagi, kami akan pergi sekarang" Ucap Kaira berpamitan pergi.
Mereka berenam berlalu pergi meninggalkan Eren sendirian disana layaknya orang asing yang tidak pernah ada dalam hidup mereka.
"Ma, berarti om itu, om itu ayah Karen? Lalu, mengapa mama meninggalkan papa?" Tanya Karen
"Jika Karen mau menemaninya, maka temani Papa. Mama ga bakal ngelarang kamu."
"Baiklah, jaga Karen baik-baik ya." Ucap Kaira membiarkan mereka pergi.
"Terimakasih mama" Seru Karen gembira.
"ARA!!!" Panggil Eren.
"Aku ingin berbicara sama kamu berdua saja. Bolehkah?" Tanya Eren.
Kaira menatap kearah kedua mertuanya dan mereka hanya mengangguk setuju. Kaira menghela nafas pelan dan tersenyum, mengangguk menyetujui permintaannya.
"Kita bicara di dekat kantin saja" Ucap Eren.
Eren melangkah pergi disusul dengan Kaira.
"Baiklah, cepat berbicara" Ketus Kaira.
"Karen, kapan kamu hamil dia?" Tanya Eren to the point
__ADS_1
"Saat itu, aku disergap oleh Mahen disebuah dinding dan kamu menolongku. Kamu mabuk. Aku kira kamu adalah pahlawanku, namun ternyata kamu yang melakukan hal tidak senonoh itu. Aku sudah melupakannya, namun siapa sangka muncul Karen. Aku tidak pernah menyesali memiliki gadis cantik nan baik hati seperti dirinya, namun aku masih sangat membenci tindakanmu waktu itu" Jawab Kaira tegas.
"Baiklah, itu salahku. Tapi, apakah kita benar-benar tidak bisa mencobanya sekali lagi tuk kembali?" Tanya Eren untuk ke sekian kalinya.
"Maaf. Kamu yang memilih untuk meninggalkanku kala itu. Mempermalukan ku demi mantan pacar yang tidak pernah pergi dari hatimu. Lalu, atas dasar apa kamu memintaku kembali? Lalu, mau dikemanakan Clara dan Clarissa. Kamu tidak akan sanggup memisahkan Clarissa dari ibunya dan aku yakin kmu juga tidak akan sanggup berpisah dari Clarissa, bukan?"
"Baiklah, aku kalah telak. Namun, tidakkah kamu berpikir untuk memberikan keluarga yang utuh bagi Lauren dan Karen?" Tanya Eren.
Lauren yang sedari tadi mendengarkan ucapan mereka pun muncul
"Maaf, Papa. Tapi, ku pikir mama, aku dan Karen sudah terbiasa tanpa kehadiranmu, tanpa kasih sayang seorang Ayah. Jadi, kami benar-benar tidak memerlukan itu. Kebahagiaan mama nomor satu." Jawab Lauren tegas.
Sekali lagi, Eren kalah telak. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia sungguh menyesal, namun apa gunanya sekarang. Keluarga kecil yang seharusnya harmonis dan bahagia itu kini tinggallah kenangan yang berakhir luka. Semua itu hanya tinggal khayalan belaka dan mimpi yang tidak akan pernah terwujud.
"Sudah mendengar jawabannya, bukan? Lebih baik kamu sekarang pergi dan fokuslah kepada kesehatan Sasa." Ucap kaira
"Aku dan Lauren pamit pergi dulu" Lanjut Kaira.
Wisnu berlarian menuju kearah mereka, menghentikan langkah Kaira dan Lauren.
"Eren gawat. Clarissa dalam kondisi kritis dan dokter memintaku untuk memanggilmu secepatnya" Ucap Wisnu ngos-ngosan
"Apa?!! Baiklah aku akan kesana" Pekik Eren
"Ma, perlukah kita kesana?" Tanya Lauren.
"Tentu saja. Bagaimana pun Clarissa adalah adik kamu dan dia tidak bersalah, sifatnya pun sangat baik,bukan? Kamu harus peduli dengan dia" Ucap Kaira kepada Lauren. Pria kecil itu hanya menanggapinya dengan anggukan pelannya.
..................
"Dok, sebenarnya anak saya kenapa sih?" Tanya Eren kepada sang dokter.
"Mengingat kondisi pasien sedikit mengkhawatirkan, kami berupaya untuk mempercepat proses tes yang dilakukan agar hasilnya bisa keluar dengan cepat dan tepat. Menurut hasil tes, anak bapak terkena kanker Leukemia" Ucap Dokter sambil membuka dan membacakan hasil dari tes yang telah dilakukan
"A-apa?!! Ba-bagaimana mungkin anak sekecil dia sudah memiliki Leukemia?" Tanya Eren. Wajahnya mulai memerah, keringat pun bercucuran saking paniknya. Bajunya pun telah basah.
"Leukemia bisa menyerang siapa saja dan diusia berapa saja pak" Ucap dokter.
"Lalu, bagaimana cara menyembuhkannya pak?" Tanya Eren
"Dengan cara transplantasi sumsum tulang belakang. Hanya keluarga kandungnya yang kemungkinan dapat melakukannya, seperti adiknya maupun kedua orang tuanya." Ucap sang dokter.
"Baiklah dokter. Saya akan menghubungi istri saya" Ucap Eren.
__ADS_1
"Silahkan. Namun, hal ini juga akan beresiko bagi anak bapak. Kemungkinan jika gagal dan infeksi, itu akan sangat berbahaya baginya dan jikalau tidak melakukannya pun, anak bapak dapat melakukan berbagai terapi untuk menyembuhkan kankernya atau memperpanjang umurnya." Ucap Dokter menambahkan.
"Baiklah dokter. Saya akan berunding dulu dengan istri saya. Permisi" Pamit Eren