Tuhan, Beri Aku Kekuatan

Tuhan, Beri Aku Kekuatan
Clarissa yang Malang


__ADS_3

Eren membawa buah hatinya pergi ke rumah sakit. Dia terlihat begitu panik, berbeda dengan Clara yang begitu santai. Wanita itu hanya memperlihatkan raut wajah paniknya hanya didepan Eren saja.


Banyak dari pasien lain berbisik tentang perbedaan ekspresi kedua pasangan itu. Mereka berbisik mengapa Tuhan memberikan keturunan kepada wanita Sepertinya dibandingkan dengan wanita baik-baik yang serius yang bahkan telah mengeluarkan begitu banyak biaya hanya untuk memiliki seorang anak.


"Dok, tolong anak saya. Demamnya ga turun-turun dan terdapat bintik merah serta luka lebam yang tidak diketahui bagaimana ceritanya. Tolong selamatkan anak saya ya dok" Ucap Eren panik


"Baik pak."


Dokter tersebut masuk bersama dengan suster yang mendorong buah hati mereka dan menyuruh mereka untuk menunggu didepan.


"Sayang, duduk sini. Aku pusing lihat kamu mondar-mandir" Celetuk Clara membuat Eren menghentikan langkahnya


"Apa kamu pernah berpikir betapa paniknya aku? Lalu, kenapa aku tidak melihat kepanikan diwajahmu?" Tanya Eren


"A-aku... Si-siapa yang tidak panik melihat anak seperti itu? Tentu saja aku panik, tapi aku menyembunyikannya" Elak Clara


"Toh juga dengan kamu mondar-mandir ga akan bisa menyelesaikan masalah bukan? Mending duduk sini dan kita berdua bersama-sama" Ucap Clara mencoba menenangkan Eren.


Eren menuruti ucapannya tanpa berpikir panjang. Dalam hatinya benar-benar gundah. Bagaimana jika anaknya tidak bisa diselamatkan? Apakah dia akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan anaknya yang lainnya. Lauren.


Tuhan, maafkan aku. Aku telah melakukan kesalahan terbesar. Aku membuang anak kandungku sendiri beserta istriku dan meninggalkan mereka dalam kesengsaraan. Tapi, ku mohon jangan sampai karma itu memberi dampak pada Clarissa. Aku mohon atas kesembuhannya.~Batin Eren


Sudah beberapa lamanya dokter masih tidak menampakkan wujudnya. Itu membuat Eren semakin khawatir dan Clara masih mencoba untuk menenangkannya.


Apa aku coba telepon Kaira dan meminta maaf padanya dan Lauren?~Batin Eren


Disisi lain...


"Lauren, Karen, cucu kesayangan Oma dan opa, sini kita makan dulu" Ucap Mama Eren


"Oh iya, kalian panggil kami Oma dan opa ya" Tambahnya


"Siap Oma" Ucap Karen.


Lauren masih sama. Dia hanya menyauti dengan sekali anggukan. Tangannya dilimpat dan dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"Kaira, mama mau tanya sama kamu. Kemana Mahen? Dan Karen itu anak siapa? Wisnu?" Tanya Mama Eren berbisik


"Uhuk uhuk" Kaira tersedak makanan yang baru saja ia masukkan ke mulutnya


"Kai, kamu gapapa. Ini minum dulu" Ucap Wisnu menyodorkan segelas air putih kepada Kaira


"Mahen? Aku tidak pernah mengetahui kabarnya. Saat itu, aku menuruti ucapan mama untuk mencoba berkencan dengannya. Tak kusangka, dia hanyalah pria baj*ngan yang hampir saja melakukan hal buruk kepadaku. Untuk Wisnu, kami belum menikah. Bukannya aku tidak mau membuka hati, namun aku masih ingin fokus kepada kedua anak ini" Jawab Kaira.


"Lalu, anak siapa dia?" Tanya mama Eren


"Ma, jangan tanya begitu. Itu bisa menyinggung Kaira seakan Kaira adalah wanita rendahan" Ucap papa Eren

__ADS_1


"Ehh maaf. Mama tidak bermaksud begitu"


"Gapapa kok ma. Saat itu, saat Mahen ingin melecehkan aku. Eren datang dan menyelamatkanku. Namun, siapa sangka dia juga ikutan mabuk dan malah membawaku ke sebuah hotel" Ucap Kaira menjelaskan


"Jadi, waktu itu kamu tidak pulang karena Eren membawamu? Benar-benar pria kurang ajar!!! BRAKKK(Wisnu memukul meja makan).Sudah punya istri juga masih aja ganjen sama mantan istrinya sendiri." Ucap Wisnu penuh emosi


"Dan saat aku pergi ke Surabaya dan membawa Lauren bersama. disitulah aku bekerja di sebuah kedai bakso dan bertemu kembali dengan Wisnu. Sesaat setelahnya, aku menyadari aku tengah hamil anak Eren atas kejadian waktu itu. Jadi, Karen adalah anak kami. Aku dan Eren" Jelas kaira.


Percakapan mereka berakhir saat mendengar suara telepon Wisnu yang berdering. Kaira telah memblokir seluruh akses hubungannya dengan Eren termasuk juga memblokir semua sosial medianya.


"Halo, Eren. Ada apa lagi?" Ketus Wisnu


"Wisnu, aku yakin kamu bersama dengan Kaira. Bolehkah aku berbicara dengannya?" Tanya Eren


"Kaira, Eren ingin berbicara kepadamu" Ucap Wisnu


"Jika begitu, maka temui aku dalam beberapa hari lagi. Aku masih ingin menikmati hari-hari ku tanpa melihat wajahnya" Ucap Kaira tegas.


"Baiklah" Ucap Wisnu


"Kau sudah mendengarnya dengan jelas kan? Aku tidak bisa memaksanya." Jawab Wisnu langsung memutus telepon


"Wisnu, halo halo" Panggil Eren


"Sial!!!" Umpatnya


"Mas, kenapa sih kamu masih mencari-cari wanita itu? Sudahlah lupakan dia. Lihatlah aku" Ucap Clara


Beberapa saat kemudian...


"Permisi. Apakah kalian orang tua pasien" Tanya dokter


"Benar. Gimana kondisi anak kami? Semua lancar dok?" Tanya Eren


"Mari kalian ikuti saya. Saya akan menjelaskan sesuatu" Ucap dokter.


Eren dan Clara mengikuti setiap langkahnya hingga tibalah mereka di sebuah ruangan khusus disana. Tertera nama "dr.Erzha Khadafie" disana


"Mari pak silahkan duduk. Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan" Ucap dokter Erzha


"Ada apa ya dok dengan putri kami?" Tanya Eren


"Begini. Ini adalah hasil tes lab putri bapak. Disini menunjukkan bila adanya kejanggalan pada sel darah putih atau biasa disebut leukosit pada anak bapak. Dan juga trombosit mulai turun perlahan. Saya sarankan untuk kalian untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut yaitu biopsi tulang belakang atau tes sumsum tulang belakang. Biayanya akan sedikit lebih mahal." Ucap Dokter menjelaskan


"Lakukan apa saja dok. Untuk masalah biaya, saya akan membayarnya seberapa mahal pun" Ucap Eren


"Baik, kalian silahkan tanda tangani berkas persetujuan." Ucap dokter

__ADS_1


.................


"Hufttt, panas sekali" Keluh Kaira sambil menghapus peluhnya.


"Mau minum?" Ucap Wisnu menawarkan sebotol minuman kemasan.


"Thank u" Ucap Kaira sambil menyabet minuman dari tangan Wisnu.


"Kai, kamu ada kerjaan hari ini?" Tanya Wisnu


"Kalau menurut sekretaris aku, hari ini harusnya sih free. Besok baru ada meeting pagi-pagi dengan klien kemarin yang kita temui di pesta" Ucap Kaira.


"Mama, om inu, Alen mau jalan-jalan. Alen bocen banget" ucap Karen dengan logatnya yang lucu


"Iya. Besok setelah mama rapat ya nak. Kita berenam jalan-jalan ke mall. Mama juga lama ga shopping sama Oma kamu" Jawab Kaira


"Belenam?" Tanya Karen


"Iya, berenam. Mama, om Wisnu, kak Oren, aren, Oma dan Opa" Jawab Kaira menjelaskan. Gadis kecil itu menghitung kembali jumlah orang yang berada di rumah itu dengan tangan mungilnya


"Catu, dua, tiga, empat, lima, enam" Celoteh Karen


"Ehh, mama. Kenapa papa selalu ga ikut? Alen ga punya papa? Gulu-gulu Alen, selalu tanya kemana papa Alen, Alen jawab gatau" Celoteh Karen membuat Kaira gemas sekaligus prihatin


"Karen punya Ayah, tapi Papa Karen sibuk sekali jadi belum ada waktu mengunjungi Karen. Nanti, kalau Papa pasti bakalan pulang kalau sudah ga sibuk lagi. Karen yang sabar ya nak" Ucap Kaira memberi penjelasan.


Air mata telah menggenang di pelupuk matanya dan bisa terjun bebas kapan saja yang dia inginkan. Kaira sesegera mungkin menghapusnya


"Mama, Alen mau main sama Oma dulu ya. Dada" Pamit Karen berlalu pergi.


"Wisnu, apa menurutmu aku tidak keterlaluan dengan tidak memberitahukan tentang keberadaan ayah kedua anak itu? Bagaimana pun, mereka juga berhak tau Ayahnya kan? Tapi, aku ga siap kalau harus terima kenyataan mereka lebih memilih Eren dibandingkan aku" Tanya Kaira dengan mulut yang bergetar sambil menangis


"Udah, ga usah khawatir. Mereka sudah terbiasa hidup tanpa ada sosok Ayah. Lagipula, ada aku. Tapi, itu memang keterlaluan jika kamu tidak memberitahukan kepada Eren juga kepada mereka berdua tentang ayah mereka. Suatu saat, mereka akan menyalahkanmu atas fakta ini" Ucap Wisnu menasehati.


"Mom, Oren sebenarnya sudah tahu siapa papa. Papa Oren bernama Eren William, Presdir tertinggi di perusahaan William Group, usia sekitar 35 tahun saat ini dan memiliki perawakan bule seperti aku kan? Dia sudah menikah lagi dan sebab itulah dia meninggalkan kita waktu Oren masih kecil" Ucap Lauren mengejutkan mereka


"Oren, ba-bagaimana kamu bisa tahu itu semua? Ka-kamu..." Ucap Kaira terbata-bata


"Mudah saja. Aku bisa mencuri data perusahaan miliknya dan membobolnya. Di internet, hanya ada sedikit pengetahuan tentangnya. Tidak detail. Tapi, di website resmi perusahaan pastilah ada." Jawab Lauren dengan entengnya


Apakah dia masihlah anak berusia lima tahun? Bahkan anak seusianya pun belum pandai membaca~Batin Kaira


"Anak mama memang hebat. Tapi, mama tidak pernah mengajarkan ke kalian untuk membenci papa. Dalam beberapa hari ini, kita akan melihat papa,ok?" Ucap Kaira


"Hmmm. Baiklah. Aku masih ingin tahu tentang pria itu." Ucap Lauren dingin.


"Yang terpenting, Lauren jangan kayak papa ya. Ditinggalkan itu rasanya sakit sekali. Lauren harus menjaga istri Lauren dan anak-anak Lauren. Menikah cukup sekali dengan istri yang Lauren cintai. Jangan kasih harapan palsu ke orang lain. Ingat pesan mama" Ucap Kaira dengan nada tegas.

__ADS_1


Ehh, apakah ini tidak keterlaluan? Dia masih bocil lho? Kenapa aku bisa-bisanya kasih ultimatum tentang istri sih?~Batin Kaira


sedangkan Wisnu hanya terkekeh melihat tingkah konyol ibu dan anak disebelahnya


__ADS_2