
Assalamualaikum wr.wb
Apa kabar semuanya?
Semoga selalu sehat dan bahagia ya, Di tengah pandemi kaya gini pasti mager banget buat yang harus bekerja dirumah dan belajar daring, Wah bosen banget ya pengen rasanya keluar untuk ketemu temen-temen dan rekan kerja.
Eitss
Tapi jangan dulu ya, kita harus tetap mematuhi aturan pemerintah untuk memutus rantai covid-19 salah satunya dengan cara dirumah aja, daripada mager enggak jelas mending baca novel yuk!
Buat yang udah pernah baca novel author abal-abal ini, pasti udah tau donk novel dengan judul "Cinta anak santri"
Yups
Bener banget, novel itu bercerita tentang kisah cinta antara Laksmi dan Musa yang pertemuan mereka berawal dari sebuah pesantren, tapi kisah cinta mereka tidak berjalan mulus, cinta mereka harus tertunda akibat perjodohan yang dilakukan orang tua Musa, Terus bagaimana nasib Laksmi? Apakah dia meninggalkan pesantren hanya karena cintanya tak terbalas?
Bagi yang penasaran silahkan baca dulu ya "Cinta anak santri" supaya waktu baca yang ini enggak bingung dengan tiap karakternya, Hehe
Sekarang author mau memperkenalkan tentang kisah cinta Adam dan Rayya, dimana Adam disini adalah sepupu Musa, sedangkan Rayya adalah gadis yatim piatu yang tanpa sengaja bertemu dengan Adam.
Kisah cinta apa? Apakah perjalanan cinta mereka juga penuh dengan ujian?
Ya, tentu saja, karena semua cinta pasti ada ujiannya masing-masing.
Daripada penasaran yuk baca cerita lengkapnya di novel baru author, selamat membaca, kalau berkenan jangan lupa kasih like dan coment ya, Tapi diharapkan memberi koment yang positif, silahkan memberi saran apa saja supaya author bisa menciptakan cerita yang lebih baik lagi kedepannya, dan diharapkan memberi komentar yang sopan, dan tidak membuat author DOWN.
Happy reading guys!!
UJIAN CINTA KITA.
Tidak terasa pernikahan Adam dan Rayya sudah berjalan hampir tiga tahun lamanya, Setiap hari hal-hal romantis selalu tercipta diantara keduanya, sampai-sampai membuat para tetangga yang melihatnya merasa iri.
Tapi ditengah keromantisan dan keharmonisan itu ada satu hal yang masih belum mereka dapatkan yaitu kehadiran sang buah hati, Terkadang Rayya mengeluh dan menyesal karena masih belum juga bisa memberi keturunan untuk Adam.
Adam yang berhati lembut hanya tersenyum saat mendengar keluhan istrinya itu, Karena kelembutan hatinya itulah yang membuat Rayya merasa damai dan tenang ditengah kekurangan yang dia rasakan, ucapan dan nasihat Adam membuat hatinya luluh.
__ADS_1
"Aku merasa kesepian hanya tinggal berdua denganmu dirumah ini, Mas, seandainya kita mempunyai anak," keluh Rayya sambil mengaduk kopi yang sedang dibuatnya.
"Lagi-lagi kamu bicara begitu, apa kau bosan hanya tinggal denganku saja?" jawab Adam dengan suara lembutnya.
"Bukan begitu, Mas, aku hanya merasa kesepian saja, apalagi saat kau bekerja," jawab Rayya.
"Kalau kau merasa kesepian, kau bisa mengunjungi Mayra atau teman-temanmu yang lain, yang penting saat aku pulang kau sudah ada dirumah," jawab Adam mengelus pipi Rayya.
"Mas, bagaimana kalau kita mengadopsi anak saja?" ucap Rayya.
Adam yang tengah menyeruput kopinya langsung terkejut dan membuatnya tersedak, Rayya yang menyaksikan hal itu segera membantunya meredakan batuknya.
"Pelan-pelan, Mas, maafkan aku tiba-tiba berkata begitu dan membuatmu terkejut," ucap Rayya.
"Ehm, tidak apa-apa, ini bukan salahmu, hanya aku saja yang terburu-buru, lihat sudah jam berapa? Aku berangkat dulu ya, kamu hati-hati dirumah," ucap Adam sambil mengambil tas kerjanya, disaat bersamaan Rayya mencium tangan suaminya itu.
"Assalamualaikum," ucap Adam.
"Waalaikumsalam," jawab Rayya yang ikut mengantar Adam sampai depan rumah hingga Adam lenyap dari pandangan bersama mobil yang dikendarainya.
Sesampainya dikantor, Adam disambut hangat semua karyawannya dengan ucapan salam, Sebagai lulusan pesantrean Adam juga memberi aturan agar semua karyawannya sholat tepat waktu dan meninggalkan pekerjaan mereka terlebih dahulu.
"Kamu sholat subuh tadi, Li?" tanya Adam kepada Ali, sahabatnya sejak lama.
"Sudah dong, tenang saja, aku tidak akan bangun siang kok," jawab Ali.
"Alhamdulillah,"
Semua pekerjaan dan berkas sudah menumpuk diatas mejanya, Ali sebagai sekertaris dan juga sahabatnya selalu membantu apapun yang Adam kerjakan, bahkan saat perjalanan ke luar kota sekalipun selalu Ali yang ada disampingnya, Tidak jarang banyak karyawan yang bergunjing mengenai hubungan Adam dan Ali.
"Pak Adam itu normal tidak sih? Masa sekertaris pribadi cowok sih?" ucap salah satu karyawannya.
"Ya normal lah, kalau tidak normal mana mungkin dia punya istri," jawab yang lain.
"Mungkin saja itu cuma untuk nutupin hubungan dia sama pak Ali, buktinya sampai sekarang pak Adam belum punya anak,"
__ADS_1
"Hm, iya juga sih, kasihan ya bu Rayya,"
"Ehm..."
Mereka yang sedang bergosip sangat terkejut mendengar suara dehem dari belakang mereka, Mereka segera menoleh dan dilihatnya sosok Ali yang sedang berdiri menatap mereka.
"Eh, pak Ali," sapa salah satu karyawan dengan gugup.
"Tugas kalian sudah selesai? Cepat letakkan diatas meja saya," ucap Ali.
"Belum pak, sebentar lagi,"
"Kalau belum, kenapa kalian bergosip? Kalian fikir aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan?" ucap Ali dengan tegas.
"Ma-maafkan kami pak,"
"Ali, jangan begitu pada mereka, mereka sudah bekerja keras untuk perusahaan kita," terdengar suara Adam dari dalam ruangannya, "Cepat masuk keruanganku, ada yang harus diperbaiki," lanjut Adam.
"Iya sayaaaang... I'm coming," jawab Ali sambil berjalan menuju ruangan Adam.
Mendengar jawaban Ali yang seperti itu, kedua karyawan itu hanya bisa menundukkan kepalanya dan sesekali saling melirik satu sama lain.
"Kamu jangan begitu pada karyawan, ubah sikap pemarahmu itu," ucap Adam.
"Aku kesel Dam, mereka gibahin kita punya hubungan, Iihh memang aku cowok apaan," jawab Ali.
"Ih, aku juga tidak mau ya punya hubungan sama kamu, mangkanya kamu menikah Li,"
"Belum ada jodoh Dam, Allah belum kasih jodoh yang pas buat aku, terus aku harus gimana?"
"Sabar Li, aku juga yang sudah lama menikah belum dikasih momongan, aku ingat ucapan Rayya pagi tadi, dia minta ingin ngadopsi anak, menurut kamu gimana Li?"
"Iya itu mah terserah kalian saja, kalau kalian sudah siap jadi orang tua, kenapa tidak, kalau kalian masih mau bulan madu berdua, lebih baik sabar dulu," jawab Ali dengan sedikit nasihatnya.
"Kamu benar, Li, baiklah, aku akan bicarakan itu lagi nanti, yuk ke ruang rapat," Adam bangun dari tempat duduknya.
__ADS_1
Ali yang masih berniat menggoda karyawannya, dengan sengaja keluar ruangan dengan menggandeng tangan Adam, membuat kedua karyawan itu semakin risih melihat kemesraan bosnya itu.