Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Fitnah untuk Zidan.


__ADS_3

Tidak terasa hari semakin siang, Para santri membersihkan diri karena sebentar lagi akan memasuki waktu dzuhur.


Semua pergi ke kamar mandi, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang pergi ketempat dimana Zidan terkurung.


Haris dan Akmal tidak mencurigai apapun karena yang mereka tahu kalau Zidan sedang pergi keluar pesantren.


"Lho, Zidan kemana? Enggak sama kalian?" tanya ustadz Fatih.


"Zidan lagi keluar ustadz," jawab Haris.


"Lho kemana? Dan mau apa? Apa dia udah izin?"


Haris dan Akmal menoleh ke arah Ruli yang sedang tertunduk berpura-pura memasang kancing dibajunya, Sadar sedang diperhatikan akhirnya Ruli membuka suara.


"Tadi dia bilang ke saya begitu ustadz, saya enggak tahu buat apa dan kemana," sahut Ruli dan saling bertatapan dengan Ridho.


"Ya udah, Haris cepat kumandangkan adzan,"


Haris maju kedepan dan mengumandangkan adzan, Suaranya yang nyaring membuat Zidan yang masih terkurung didalam toilet langsung membuka mata setelah sebelumnya dia tertidur karena kelelahan.


Zidan kembali mengetuk-ngetuk memanggil setiap nama orang yang dia kenal disana, Tapi toilet itu rupanya sangat tertutup dan terlihat sudah lama tidak digunakan, jadi jarang ada orang yang datang kesana.


Hari sudah larut, Akmal dan Haris yang sudah berada dikamar mereka masih tetap terjaga karena karena memikirkan kemana sebenarnya Zidan pergi.


Beberapa santri pun diperintahkan untuk mencarinya keluar pesantren tapi mereka juga kembali dengan tangan hampa.


"Ustadz, apa toilet belakang udah diperiksa?" tanya salah satu santri.


"Iya ustadz, sepertinya belum," sahut yang lain.


Ustadz Lutfi pun menyuruh mereka mencarinya kesana, Kedua santri itu segera melanjutkan pencarian, Diikuti Haris dan juga Akmal.


Sesampainya disana, mereka mencoba mengetuk pintu toilet berulang kali tapi tidak terdengar apapun, Bahkan kunci toilet itupun tidak ditemukan, Mereka berusaha mendobrak pintu itu tapi jika itu dilakukan sepertinya akan berbahaya karena tiang penyangga bisa saja roboh.


"Kita tunggu aja malem ini, Kita jaga bergantian, siapa tahu dia pulang," ucap salah satu santri.


"Hah, masih baru merepotkan saja," sahut yang lain sambil berjalan pergi.


Akmal dan Haris berjaga didepan gerbang berharap Zidan akan segera kembali, Tapi sepertinya rasa kantuk tidak tertahankan lagi, Mereka pun tertidur diatas sebuah kursi bambu yang berada disana.


***

__ADS_1


Allahu akbar Allahu akbar


Suara adzan subuh berkumandang, Para santri sudah bersiap untuk melaksanakan sholat di masjid pesantren.


Setelah sholat berjamaah selesai, Mereka membubarkan diri, Tapi ada juga yang tetap disana untuk melakukan tadarus hingga matahari menunjukkan diri.


"Aku mau ke toilet dulu," ucap salah satu santri kepada santri lain.


Santri itu berlari sambil mengangkat sarungnya hingga lutut supaya langkahnya bisa lebih cepat, Saat dalam perjalanan menuju toilet, dia melihat sosok Zidan yang tergeletak di rerumputan.


Santri itu pun segera memberitahu ustadz dan juga santri lainnya, Mereka segera menuju ketempat dimana Zidan ditemukan.


Ustadz Fatih mendekati Zidan yang masih tidak sadarkan diri untuk memeriksanya.


"Astagfirullahal adzim," ucap ustadz Fatih.


"Ada apa ustadz? Apa dia baik-baik aja?" tanya Akmal cemas.


Akmal mendekati Zidan dan betapa terkejutnya dia saat mencium aroma alkohol dari tubuh Zidan, Akmal dan yang lainnya membawa Zidan masuk kedalam kamar dan mengganti pakaiannya.


Akmal diminta ustadz Fatih untuk menjaga Zidan sampai siuman, Akmal terus menatap wajah Zidan yang terlihat pucat bahkan bibirnya kering seperti orang kehausan.


Setelah menunggu cukup lama, Akhirnya Zidan membuka matanya, Akmal segera memberinya air putih dan juga susu hangat.


"Kamu dikamar, apa kamu baik-baik aja?" tanya Akmal.


"Aku laper Mal, dari kemarin aku belum makan,"


Akmal segera mengambilkan makanan untuk Zidan dan juga menyuapinya, Disaat bersamaan ustadz Fatih datang untuk memeriksa keadaan Zidan.


"Zidan, kamu baik-baik aja?" tanya ustadz Fatih.


"Saya laper ustadz, saya makan dulu,"


Zidan melanjutkan makannya sementara ustadz Fatih, Akmal dan Haris masih menunggunya, Ustadz Fatih sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi.


Setelah selesai makan, Kini wajah Zidan sudah tidak pucat lagi, Tenaganya sudah kembali bahkan sudah bisa bicara banyak.


"Zidan, sebenernya kamu kemana kemarin? Kenapa baru pulang subuh tadi, terus kenapa keadaan kamu begitu?" tanya ustadz.


"Saya kenapa ustadz?"

__ADS_1


Ustadz Fatih menceritakan apa yang terjadi kemarin sampai akhirnya Zidan ditemukan dalam keadaan pingsan dengan tubuh berbau alkohol, Zidan terkejut mendengar hal itu.


"Kamu habis minum?" tanya ustadz.


"Enggak ustadz, mana mungkin aku minum, aku aja seharian terkurung di toilet, aku kelaparan, kehausan, makanya aku pingsan," ucap Zidan menjelaskan.


"Terus, kenapa pakaianmu bau alkohol?"


"Aku juga kaget ustadz, aku juga enggak tau kenapa aku bisa keluar dari sana dan tiba-tiba ada di rerumputan,"


Ustadz Fatih menatap mata Zidan yang menunjukkan kejujuran, Rupanya Zidan tidak berbohong, Bahkan Zidan sampai bersumpah walaupun sebenarnya itu tidak diperlukan.


"Haris, Akmal, jangan beritahu kiayi masalah ini ya, kita jaga rahasia dulu sampai semuanya jelas," pinta ustadz Fatih.


"Insya Allah ustadz," jawab mereka bersamaan.


Ustadz Fatih pun keluar meninggalkan ketiga anak muda itu, Akmal yang masih penasaran mulai bertanya banyak hal, tapi sayang, Zidan tidak mengingat apa yang terjadi kepadanya kemarin.


Zidan merasakan sakit dikepalanya, Saat dia menyentuhnya, ternyata kepalanya terluka dan mengeluarkan darah, sepertinya kepalanya habis dipukul oleh sebuah benda dan itu juga yang membuatnya tidak ingat apapun.


"Apa aku bakal dikeluarin dari pesantren?" tanya Zidan.


"Enggak lah, tenang aja, ustadz Fatih orangnya enggak sembrono kok, dia bakal cari tahu apa yang terjadi sama kamu," jawab Akmal sambil mengobati kepala Zidan yang terluka.


"Kayaknya aku difitnah," gumam Zidan.


Mendengar ucapan Zidan, Seketika Haris terdiam, Dia sepertinya sedang memikirkan seseorang yang sanggup melakukan ini kepada santri lain.


Haris meminta izin keluar sebentar dan menemui Ridho yang berada di lapangan sedang bermain bola.


"Kamu kan yang lakuin ini sama Zidan?" tanya Haris dengan suara pelan.


"Jangan sembarangan kamu, itu namanya fitnah," jawab Ridho.


"Udah jujur aja, sebelum terlambat, mending kamu minta maaf sama Zidan dan ustadz,"


"Hah, mungkin aja dia emang abis minum, bukannya waktu di Jakarta dia anggota geng motor? Enggak mungkin kan dia enggak pernah minum,"


"Tau apa kamu soal dia?"


"Aku tau banyak soal dia, kamu jangan mau ketipu sama dia, nanti juga dia bakal khianatin kamu kayak yang udah dia lakuin ke Akmal,"

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Ridho pergi meninggalkan Haris, Haris sendiri masih memikirkan semua ucapan Ridho, Dia masih tidak percaya kalau Zidan dulunya seperti itu.


"Biar aja si Haris terpengaruh omongan kita, bagus kamu cari tahu soal Zidan," ucap Ridho kepada Ruli.


__ADS_2