
Adam, Rayya dan Amir sudah sampai dirumah, sesampainya disana, Adam meminta Ira untuk membantu Amir membersihkan diri, Ira mengajak Amir menuju kamar mandi tapi dengan menunjukkan wajah yang tidak enak dilihat.
Ngapain sih bawa-bawa anak jalanan, baru juga Mayra pergi eh dateng lagi yang lain. Batin Ira.
Sementara itu, Rayya sedang menyiapkan kamar untuk Amir, sementara Adam sedang bersiap hendak pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat magrib.
"Om mau sholat ya?" tanya Amir yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya, kamu mau ikut?" tanya Adam.
"Iya, ibu bilang aku harus rajin sholat sama ngaji, supaya Allah sayang sama aku," ucap Amir.
"Masya Allah mas, dia masih kecil tapi aku enggak nyangka dia masih inget nasehat orang tuanya,"
"Masya Allah, ibu kamu bener nak, ya udah, ayuk berangkat,"
Setelah bersiap dengan pakaian yang diberikan Rayya, Adam dan Amir pergi menuju masjid, Sesampainya disana mereka duduk di shaf depan sambil mendengarkan adzan berkumandang.
Sementara itu, Rayya melaksanakan sholat magrib dirumah.
"Ra, kamu enggak sholat?" tanya Rayya.
"Enggak,"
"Kenapa? Sholat bareng yuk,"
"Udah sih mbak, kenapa sih mbak itu ngatur-ngatur aku terus, mbak sengaja ya, biar aku kecapekan, terus perut aku sakit, terus aku keguguran?"
"Astagfirullahaladzim, Ira, kenapa kamu bilang begitu?"
"Udah lah mbak, aku capek, aku mau tidur,"
Ira pergi meninggalkan Rayya yang masih berdiri ditempatnya, Setelah kepergian Mayra, sifat Ira benar-benar berubah, dia selalu berkata kasar kepada Rayya dan selalu beralasan untuk menolak permintaan Rayya.
Meskipun begitu, Rayya tetap berusaha berfikir positif, dia tidak pernah membalas ucapan Ira yang mungkin sangat menyakitinya.
Setelah waktu magrib berlalu, Adam dan Amir sudah kembali dari masjid, Rayya yang sedang menyajikan makanan diatas meja meminta mereka untuk makan malam.
"Kemana Ira?" tanya Adam.
"Aku disini mas, aku baru selesai sholat," jawab Ira yang baru keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Hm, ya udah,"
Setelah makan malam, Seperti biasa Rayya mencuci piring kotor, Tiba-tiba, Ira ikut masuk kedapur dan membantu Rayya mencuci piring, Sifat Ira kembali berubah baik saat itu.
Waktu berjalan begitu cepat, Adzan isya mulai terdengar, seperti biasa Adam pergi ke masjid kali ini dengan ditemani Amir, anak yatim piatu yang baik akhlaknya.
Tek... tek... tek...
Jam berputar terus tanpa henti begitu juga dengan hari, Tidak terasa hari sudah kembali pagi, Adam berangkat kekantor sangat pagi hari itu bahkan dia sampai tidak sempat sarapan karena terburu-buru.
"Mbak, anak itu mau tinggal disini sampe kapan?" tanya Ira.
"Enggak tau, mbak sama mas Adam semalem udah ngobrol panjang, kami rencananya mau adopsi Amir, gimana menurut kamu?"
"Hah? Adopsi? buat apa? Sebentar lagi juga aku mau punya anak, lagipula dia itu anak jalanan, enggak jelas asal usulnya"
"Ya Allah Ira, kenapa kamu ngomong gitu?"
"Aku bener mbak, setelah anak aku lahir, aku janji, mbak bakal dipanggil ibu juga sama anak aku, asal mbak usir anak itu jauh-jauh,"
"Ira....!!!"
"Kamu tega ngomong gitu soal Amir? Kamu sadar enggak, sebentar lagi kamu mau punya anak? Harusnya kamu bersikap lebih dewasa dan bisa jaga ucapan kamu," ucap Adam kesal.
"Maaf mas, aku..."
"Diam, jangan ngomong apa-apa, denger ya, semua keputusan dirumah ini harus sesuai sama keputusan aku, paham kamu?!"
"Ya Allah mas, istigfar," ucap Rayya.
Adam menatap wajah Rayya, saat itu emosi Adam sedang tersulut hingga dia mengeluarkan amarahnya.
"Astagfirullahal adzim," ucap Adam.
"Ira, kamu masuk kekamar ya,"
Ira pergi menuju kamarnya, sementara Rayya masih mencoba menenangkan Adam, Adam yang masih diselimuti amarah, selalu mengucap istigfar hingga hatinya tenang.
Rayya benar-benar tidak menyangka kalau Adam akan semarah itu dengan ucapan Ira, Hingga membuat Ira terlihat ketakutan.
Setelah semua kembali tenang, Adam memutuskan kembali kekantor setelah mengambil berkasnya yang tertinggal, Sementara Rayya mencoba bicara kepada Ira yang masih mengurung diri didalam kamar.
__ADS_1
"Ra, kamu tidur?"
"Enggak," jawab Ira dari dalam kamarnya.
"Maafin mas Adam ya, dia cuma lagi emosi,"
Trek...
Ira membuka pintu kamarnya, dia menatap tajam kepada Rayya yang berdiri dihadapannya dengan senyum yang terkembang.
"Mbak seneng liat aku dimarahin mas Adam? Seneng kan?"
"Ya Allah Ira, kenapa kamu bilang gitu, aku enggak pernah berfikir begitu,"
"Alah udahlah mbak, mbak sengaja kan bawa Amir kesini buat jadi alesan biar mbak tambah disayang mas Adam, mbak takut mas Adam cinta sama aku?"
"Ira, kenapa kamu ngomong gitu? Aku enggak pernah manfaatin orang lain buat kebahagiaan aku, apalagi itu Amir,"
"Hah, banyak alasan, liat ya mbak, aku bakal buat mas Adam sayang dan cinta sama aku, aku akan rebut semua milik mbak!"
Plakkk....
Sebuah tamparan mendarat diwajah Ira hingga meninggalkan bekas merah dipipinya, Ira yang merasa kesakitan terus memegang pipinya akibat tamparan itu.
"Silahkan, kamu bisa ambil semua yang aku punya, rumah ini, mobil itu, perusahaan, TPA, tapi aku enggak akan biarin kamu rebut cinta mas Adam dan menghina Amir, Ngerti kamu?" ucap Rayya.
Saat itu kesabaran Rayya sudah di ambang batas, dia tidak bisa berfikir jernih hingga mampu melayangkan tangan kepada seseorang, padahal selama ini Rayya tetap diam walaupun ada yang bicara buruk tentangnya dan Adam.
Rayya berjalan meninggalkan Ira, Fikirannya hanya terisi kemarahan, dia tidak peduli dengan keadaan Ira yang masih berdiri ditempatnya sambil menatap Rayya.
Keributan itu disaksikan oleh Amir yang tanpa sengaja lewat didekat mereka setelah kembali dari kebun belakang, Amir yang masih polos segera berlari menjauh saat melihat tatapan Ira yang begitu tajam.
"Awas kamu ya mbak, aku enggak rela kamu tampar aku," gumam Ira.
Sementara itu.
"Ya Allah, apa yang udah aku lakuin, tanganku menampar seseorang, tapi hatiku benar-benar tidak terima jika ada yang menghina Amir, apalagi ada orang yang berniat merebut suamiku, Maafkan aku ya Allah, tapi aku akan berusaha menjaga cinta suamiku apapun yang terjadi," ucap Rayya dalam doanya.
Hari sudah kembali senja, matahari sebentar lagi hendak kembali ketempatnya terbenam, Rayya yang sudah menyelesaikan tugasnya sedang duduk diruang tamu dengan untaian tasbih ditangannya, sementara Ira sedang bersolek dikamarnya, setelah pertengkaran itu, Rayya dan Ira tidak saling bicara satu sama lain, Rayya hanya bicara pada Amir dan membantunya belajat mengaji.
Amir yang masih anak-anak merasakan kegelisahan dihati Rayya, dia terus mencoba menghibur Rayya dengan mengajaknya bermain dan bercakap-cakap.
__ADS_1