
Adam dan Rayya mulai mengurus surat-surat adopsi Amir, setelah semua selesai, kini Amir telah benar-benar menjadi anak mereka, Rayya yang sudah lama mendambakan seorang anak dengan senang hati mengurus Amir layaknya seorang ibu begitu juga Adam, dia terlihat bahagia akhirnya telah menjadi seorang ayah walaupun bukan darah dagingnya sendiri.
Sementara itu, Ira yang selalu memperhatikan mereka semakin merasa cemburu, dia terus berusaha supaya mendapatkan perhatian penuh dari Adam, Adam yang selalu ingin bersikap adil tentu harus membagi waktunya dengan baik.
***
Hari ini waktunya Ira memeriksakan kandungannya, dia meminta Adam untuk mengantarnya, Adam sempat menolak karena pekerjaannya yang masih menumpuk, tapi atas permintaan Rayya, akhirnya Adam mau mengantar Ira.
Selama perjalanan, Ira selalu bicara banyak hal, tapi Adam selalu menanggapinya hanya dengan satu kata 'Ya' dan 'Tidak', jawaban Adam itu membuat Ira semakin kesal, dia memutuskan untuk turun ditengah jalan.
"Kamu jangan begitu, sekarang cukup panas, kamu bisa pingsan," bujuk Adam.
"Biarin, lagipula kamu enggak peduli sama aku," jawab Ira.
"Kalo aku enggak peduli, aku enggak akan anter kamu kerumah sakit,"
"Alah, kamu lakuin itu juga karena terpaksa, kalo mbak Rayya enggak minta kamu enggak akan mau,"
"Terus mau kamu gimana?"
"Aku mau kamu kasih perhatian lebih ke aku mas, jangan selalu mbak Rayya dan Amir, aku dan anak aku juga butuh perhatian kamu,"
"Ya udah, aku janji akan kasih perhatian lebih ke kamu, sekarang masuk ke mobil,"
Mendengar jawaban dan janji Adam, Ira tersenyum senang, dia segera masuk kedalam mobil dan terus menyandarkan kepalanya dibahu Adam yang sedang menyetir.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai dirumah sakit, Ira segera menuju ruang pemeriksaan sementara Adam menunggunya diluar.
Tidak berapa lama, Ira keluar dari ruangan dan duduk bersama Adam sambil terus mengelus perutnya yang sudah semakin membesar, Sesekali Ira tersenyum saat bayi yang berada didalam kandungannya bergerak, Adam yang berada disampingnya hanya menatap heran.
"Mas, coba kamu pegang," Ira meraih tangan Adan dan meletakkannya diperutnya.
Sesaat kemudian, Adam juga merasakan bayi itu bergerak, Adam ikut tersenyum, ini pertama kali baginya bisa merasakan gerakan bayi yang masih berada didalam kandungan.
"Sayang, ini ayah, kamu jadi anak baik ya kalo udah lahir," ucap Ira.
Adam menatap Ira begitupun dengan Ira, mata Adam seperti berkaca-kaca, seketika dia tersenyum kepada Ira, senyuman itu nampak penuh ketulusan berbeda dari biasanya, Adam pun mengecup kening Ira, itu benar-benar tidak pernah terjadi sebelumnya.
"Nyonya Adam," terdengar panggilan dari seorang perawat.
"Iya," sahut Ira.
__ADS_1
"Hasil pemeriksaan sudah keluar, mari ikut kedalam untuk mengambil hasilnya,"
Ira berjalan menuju ruangan, Tapi kali ini Adam ikut bersamanya, dokter menjelaskan kondisi bayi mereka dan memberikan surat keterangan.
"Terima kasih dokter," ucap Adam dan Ira.
Setelah melakukan pemeriksaan, Adam dan Ira segera pulang kerumah, Setelah tiba disana, Adam meminta Ira untuk beristirahat sesuai saran dari dokter.
"Gimana mas, Ira dan bayinya sehat kan?" tanya Rayya.
"Alhamdulillah, mereka sehat, kamu tau Rayya, tadi aku merasakan bayi itu bergerak, ini pertama kalinya buat aku merasakan gerakan bayi yang masih didalam kandungan," Adam bercerita dengan semangat.
"Beneran mas? Alhamdulillah, aku ikut seneng dengernya," jawab Rayya.
"Dokter bilang bayinya masih sedikit lemah, jadi aku minta tolong sama kamu, tolong jaga Ira dan bayinya ya,"
"Ah, Em, iya mas, kamu jangan khawatir,"
"Ya udah, kalo gitu aku berangkat kekantor ya, Oh iya, nanti malam aku pulang terlambat, aku mau ketemu mas Musa buat bahas pembangunan pesantren,"
"Iya mas, hati-hati ya,"
"Iya, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
***
Setelah Adam pergi, Rayya masuk kekamar Ira dengan membawa segelas susu hangat, Rayya melihat Ira sedang berdiri didepan cermin sambil mencoba pakaian yang masih bermerk.
"Ra, ini susu, cepat diminum, mumpung masih hangat,"
"Iya mbak, terima kasih, tolong taruh diatas meja aja mbak,"
Rayya meletakkan gelas itu diatas meja dan menutupnya agar tidak terkena debu.
"Kamu abis belanja?" tanya Rayya.
"Iya mbak, tadi pulang dari rumah sakit, mas Adam ngajak aku mampir ke butik, dia beliin aku baju-baju ini, baguskan?"
"Iya, bagus, cocok banget sama kamu,"
__ADS_1
"Hm, mbak, kayaknya sebentar lagi mas Adam akan semakin sayang sama aku, mbak bisa lihat nanti, sebentar lagi dia akan jadi milik aku sepenuhnya,"
Mendengar ucapan Ira, Rayya hanya terdiam, dia tersenyum tipis dan pergi meninggalkan Ira yang masih asyik dengan pakaian barunya.
Jam menunjukkan pukul 10 pagi, Waktunya Rayya pergi ke TPA, Rayya pergi bersama Amir yang ikut belajar disana.
Sesampainya di TPA, Rayya langsung memberikan materi kepada semua anak-anak didiknya, dan pergi keluar begitu saja, Rayya duduk dikursi yang ada dihalaman sekolah, sambil menatap langit yang sangat cerah pagi itu.
Aisyah yang memperhatikan sikap Rayya langsung mendekatinya, Aisyah ikut duduk bersama Rayya.
"Langitnya indah ya ustadzah?" ucap Aisyah.
"Iya, tapi sayang, hatiku enggak secerah langit itu," jawab Rayya.
"Maksud ustadzah apa? Ustadzah ada masalah? Cerita sama aku,"
"Ah, enggak, bukan apa-apa kok, aku masuk dulu ya,"
Rayya berjalan meninggalkan Aisyah yang masih bingung dengan ucapan Rayya, Aisyah yang tidak ingin ikut campur urusan pribadi Rayya hanya bisa terdiam, dia tidak ingin bertanya lagi, dia takut akan menyinggung hati Rayya.
***
Hari sudah sore, seperti biasanya, Rayya sedang menyiapkan makanan setelah melaksanakan sholat ashar. Sore itu Rayya membuat makanan kesukaan Adam.
Sementara itu Ira hanya duduk santai sambil membaca majalah favoritnya, Tidak lama kemudian, Sebuah mobil masuk kehalaman rumah mereka, rupanya itu Adam, dia membawa beberapa paperbag dikedua tangannya yang terlihat cukup berat.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," sahut Rayya dan Ira bersamaan.
Rayya dan Ira menyalami Adam secara bergantian.
"Mas, kamu bawa apa?" tanya Rayya.
"Oh iya, tadi waktu pulang kerja, aku lewat depan toko pakaian bayi, keliatannya lucu-lucu, jadi aku mampir buat beli, ini Ra," jawab Adam dan menyerahkan paperbag itu kepada Ira.
"Wah, terima kasih mas, aku buka ya,"
Ira membuka paperbag itu, isinya benar-benar lengkap untuk keperluan bayi mereka, Ira merasa sangat senang begitupun Adam dan Rayya.
Setelah Adam selesai membersihkan diri, mereka mulai makan bersama, Adam terus memperhatikan makanan yang dimakan Ira, dia tidak ingin kalau sampai Ira memakan makanan yang salah dan membahayakan bayinya.
__ADS_1
Kamu keliatan seneng banget mas, maaf selama ini aku enggak bisa kasih kamu kebahagiaan itu, aku merasa bukan istri yang baik buat kamu mas. Batin Rayya.