
Beberapa hari sudah berlalu, Tapi Adam tetap meminta Ali untuk menyembunyikan musibah kecelakaan itu kepada Rayya, dia tidak ingin Rayya menjadi khawatir dengan keadaannya.
Sekarang Ira juga sudah membaik, dia sudah sadarkan diri dan bisa mengenali kedua orangtuanya kembali, Setiap hari Adam dan Ali selalu datang berkunjung ke rumah sakit untuk sekedar bersilaturahmi.
Pak Tejo menyambut hangat kedatangan Adam dan Ali tapi tidak dengan bu Siti, dia selalu menunjukkan tatapan sinisnya, kebenciannya sangat dalam terhadap Adam karena sudah menyebabkan kecelakaan terhadap anak dan calon menantunya, bahkan hari itu tanpa sepengetahuan pak Tejo dan yang lainnya, Bu Siti melaporkan Adam ke polisi.
Disaat sedang berbincang tiba-tiba beberapa orang petugas polisi datang, semua orang nampak bingung kecuali bu Siti.
"Ada apa ini pak?" tanya pak Tejo.
"Kami mendapat laporan kalau saudara Adam sudah menyebabkan kecelakaan hingga kematian terhadap pengendara lain," jawab polisi itu.
"Tapi sejak kecelakaan itu kami sudah memutuskan untuk menempuh jalan damai, bahkan ada beberapa orang polisi yang menyaksikannya," tegas pak Tejo.
"Iya, tapi kasus ini kembali di buka oleh pihak korban, kami hanya menjalankan tugas pak, permisi,"
Polisi itu menuntun Adam untuk segera membawanya ke kantor polisi, pada saat bersamaan, Ira keluar dari ruangannya dan menyaksikan Adam pergi bersama mereka.
"Pak, kalian mau bawa kemana dia?" teriak Ira.
Adam dan para polisi itu menghentikan langkahnya, mereka menoleh dan melihat Ira yang tengah berjalan mendekat.
"Ira, kamu ini apa-apaan, biarin aja polisi bawa dia, dia itu penjahat," ucap bu Siti.
"Ibu, kenapa ibu bilang begitu? Apa kesalahannya?" tanya Ira.
"Dia yang sudah menyebabkan kecelakaan yang kamu alami Ira," jawab bu Siti.
"Ibu, aku ngerti ibu emang enggak suka sama mas Ilham, tapi bukankah sebelum kecelakaan ibu sudah setuju dengan hubunganku dan mas Ilham?"
Semua orang terkejut mendengar ucapan Ira, Dokter yang kebetulan berada disana mengajak mereka masuk kedalam ruangan dan menjelaskan kalau Ira masih belum mengingat semua orang, dia hanya mengingat orang-orang terdekatnya saja kecuali wajah Ilham.
Mendengar penjelasan dokter dan juga permohonan Ira, akhirnya bu Siti mencabut laporannya, dia setuju melepas Adam hanya demi Ira.
Sejak hari itu, Ira terus bertanya tentang Adam, dia selalu ingin bertemu dengan Adam yang dia fikir adalah Ilham, Demi menjaga kesehatan Ira, Adam menuruti kemauannya dan selalu datang berkunjung setiap hari untuk menjenguk Ira yang sudah diperbolehkan pulang.
"Mas, terima kasih mas mau datang menemuiku setiap hari, aku seneng banget, Mas, aku mau tanya satu hal, boleh?" tanya Ira.
"Apa? tanya aja," jawab Adam.
"Mas sudah lihat kondisiku sekarang, aku duduk di kursi roda karena kakiku yang lumpuh, apa dengan aku yang begini, mas masih mau menikahiku?"
Deg...
__ADS_1
Jantung Adam seakan berhenti berdetak, hati dan fikirannya seakan berhenti berfungsi saat mendengar perkataan Ira, dia benar-benar tidak menyangka, penyamarannya sebagai Ilham akan berlangsung sejauh ini.
"Mas, kenapa diam? Mas enggak mau ya nikahin Ira?" tanya Ira memecah lamunan Adam.
"Hm, aku..."
"Kamu inget enggak mas waktu kita berdua pacaran diam-diam biar enggak ketahuan ibu, karena waktu itu ibu enggak setuju dengan hubungan kita, tapi karena perjuangan mas, akhirnya ibu merestui kita,"
"Oh iya, Ehm apa kamu inget tentang masa kamu sama Ilham? Ah, maksudku masa lalu kita?"
"Kamu cinta pertamaku mas, mana mungkin aku lupa," jawab Ira dengan senyuman.
"Apa lagi yang kamu inget?" Adam semakin penasaran.
"Kamu kasih cincin ini buat aku, kamu juga tiap malem minggu selalu kasih aku es krim, kamu inget rasa favorit aku?"
"Ehm, cokelat?"
"Bukan mas, Vanila, kamu lupa ya, aku yang dirawat kenapa kamu yang lupa mas?"
"Oh, iya, Maaf,"
"Kamu aneh mas, kenapa kamu canggung gitu sama aku, kayak orang asing,"
*Back to Adam
Sejak hari itu, Adam benar-benar berada dalam dilema, disisi lain, dia sudah mempunyai Rayya, Istri yang sangat dicintainya, disisi lain ada sosok Ira, wanita asing yang tanpa sengaja ditemuinya melalui musibah yang diakibatkan olehnya.
Tutt... tutt...
Ponsel Adam bergetar diatas meja, dilihatnya sebuah panggilan video dari Rayya, Dengan cepat Adam menjawabnya dia tidak ingin membuat Rayya khawatir.
"Assalamualaikum mas," sapa Rayya.
"Waalaikumsalam," jawab Adam.
"Udah berapa hari kamu enggak jawab telephon aku mas, kamu baik-baik aja kan?" tanya Rayya.
"Alhamdulillah aku baik Rayya, Rayya aku kangen sama kamu," ucap Adam lirih.
"Iya, aku juga kangen sama kamu mas, kapan pulang? Oh iya, minggu depan mba Laksmi mau buat acara empat bulanan, kamu bisa pulang?"
"Insya Allah, aku pulang, aku akan segera pulang,"
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa sih? kamu kok aneh? kamu enggak apa-apa kan mas? kamu ada masalah lain?"
"Enggak sayang, aku enggak apa-apa, aku cuma kangen kamu?"
"Aku juga kangen mas, mas kamu nangis?"
Adam mengusap matanya yang tanpa sengaja mengeluarkan air mata, di tengah obrolan itu, Ira mengirim pesan kepada Adam, dia meminta Adam untuk datang kerumahnya, dengan terpaksa Adam mengakhiri panggilan video dengan Rayya.
Adam membalas pesan Ira dan mengatakan akan segera datang kerumahnya, Adam berganti pakaian dan masuk kedalam mobilnya seorang diri.
Sesampainya disana, Adam disambut hangat oleh Ira yang tengah duduk diteras rumahnya dengan gaun pink dan rambut terurai indah, Ira meminta Adam untuk duduk sementara dirinya berjalan kedapur dengan kursi rodanya.
"Nak, kamu udah datang?" sapa pak Tejo.
"Iya pak, baru aja," Adam mencium tangan pak Tejo dan bu Siti.
"Nak, sebenarnya ada hal penting yang mau bapak dan ibu bicarakan," lanjut pak Tejo.
"Iya pak, ada apa?"
"Kemarin malam, Ira membicarakan pernikahan kalian, bapak dan ibu bingung harus jawab apa, sedangkan kami tahu, kalo itu enggak mungkin, kamu sudah punya istri dan kamu juga bukan Ilham," jelas pak Tejo.
"Beberapa hari yang lalu juga, Ira tanya soal itu pada saya pak, tapi saya enggak bisa jawab," jawab Adam.
"Menikahlah dengan Ira, Nak, ibu mohon, selamatkan nyawa puteri ibu?" ucap bu Situ memohon.
"Maaf bu, tapi saya sudah beristri, dan saya sangat mencintai istri saya,"
"Iya, ibu tahu, tapi kalo laki-laki enggak apa-apa kan punya istri dua, toh istrimu belum bisa kasih keturunan,"
"Ibu, kok ibu ngomong begitu?" sahut pak Tejo.
"Tenang saja Nak, ibu akan jaga rahasia, biarlah Ira di Semarang dan istrimu di Jakarta, ibu janji Ira enggak akan datang ke Jakarta," ucap bu Siti mencoba mempengaruhi Adam.
"Tapi bu..." seketika ucapan Adam terputus saat melihat kedatangan Ira dengan nampan berisi teh hangat diatas pangkuannya.
Bu Siti mengambil nampan itu dan meletakkannya diatas meja.
"Gimana mas, kapan kita akan menikah?" tanya Ira.
"Kalian akan segera menikah, kamu tenang aja," ucap bu Siti sambil berjalan meninggalkan mereka berdua.
Pak Tejo yang terkejut mendengar jawaban bu Siti langsung mengikutinya masuk kedalam rumah, Sementara Ira terlihat senang mendengar kabar itu, sedangkan Adam masih dilanda kebingungan.
__ADS_1