
Hari berganti hari, perhatian Adam kepada Ira semakin besar, bahkan waktunya untuk Rayya dan Amir hanya tersisa sedikit.
Rayya yang merasakan perubahan Adam terus berusaha berfikir positif, sesuai permintaan Adam, dia juga ikut menjaga Ira dan bayinya dengan sangat baik.
Suatu hari, Adam mendapat panggilan mendadak dari Musa untuk mengurus urusan pembangunan pesantren baru mereka, Adam segera berangkat dan menginap selama beberapa hari disana.
Adam meninggalkan Rayya dan Ira juga Amir, tidak lupa Adam memberi pesan supaya mereka bisa saling menjaga satu sama lain.
***
Sehari setelah kepergian Adam, Tiba-tiba Ira merasakan kram pada perutnya, karena tidak kuat menahan sakit, Ira jatuh pingsan, Rayya yang sangat khawatir segera membawa Ira kerumah sakit dengan bantuan tetangga sekitar rumah mereka.
"Gimana dok, apa dia baik-baik aja?" tanya Rayya.
"Kondisi bayinya cukup lemah jadi nyonya Ira harus benar-benar hati-hati, usia kandungannya sudah masuk delapan bulan, mungkin ini akan sering terjadi karena kondisi bayinya," jawab dokter menjelaskan.
"Apa? Delapan bulan?" Rayya sangat terkejut.
"Iya, mungkin bulan depan dia akan melahirkan, biar saya buatkan resep obatnya,"
Dokter menyerahkan kertas resep kepada Rayya, Rayya yang menunggu Ira siuman, hanya duduk termenung, hatinya masih bingung mendengar usia kandungan Ira yang sudah delapan bulan.
Setelah siuman, Ira keluar dari ruangan, mereka berpamitan kepada dokter dan segera pulang.
"Ini, aku udah beli obatnya, cepat diminum," ucap Rayya sambil memberikan obat dan segelas air kepada Ira.
"Terima kasih mbak, maaf aku udah ngerepotin mbak,"
"Berapa usia kehamilan kamu?" tanya Rayya.
"Enam bulan, kenapa?"
"Bohong!"
Ira terkejut mendengar ucapan Rayya, dia menatap Rayya yang sedang dipenuhi amarah.
"Maksud mbak apa? Aku enggak bohong,"
"Usia kandungan kamu udah 8 bulan, sedangkan kamu menikah sama mas Adam belum sampai 8 bulan, anak siapa itu?"
"Ma-maksud mbak apa sih, aku enggak ngerti, udah ah aku mau istirahat,"
Ira berjalan menuju kamarnya, tapi Rayya menggenggam lengan Ira dengan kuat membuatnya merasa kesakitan.
"Sakit mbak,"
"Jawab jujur, anak siapa itu?"
Ira tetap diam tidak menjawab pertanyaan Ira, tubuhnya gemetar, matanya tidak sanggup menatap wajah Rayya, keringat dingin mengalir dari dahinya tapi bibirnya tetap terkunci.
"Jawab! Anak siapa itu?!" Bentar Rayya.
__ADS_1
"Maafin aku mbak,"
Tiba-tiba Ira bersimpuh dikaki Rayya, dia menggenggam tanga Rayya sambil menangis.
"Iya, aku bohong, ini bukan anak mas Adam," ucap Ira membuat Rayya terkejut.
"Ini anak mas Ilham, calon suamiku yang meninggal akibat kecelakaan itu, Tapi aku enggak bermaksud buat nipu mas Adam, aku tau aku hamil waktu aku dan mas Adam udah menikah," lanjut Ira.
"Kenapa kamu enggak jujur sama mas Adam? Apa kamu tahu, mas Adam bener-bener tersiksa waktu itu, dia hampir stres saat tahu kamu hamil, kamu tahu itu?!"
"Maafin aku mbak, aku terpaksa bohong, tapi waktu itu aku udah minta mas Adam buat ceraikan aku, tapi mas Adam nolak,"
"Kamu tahu alasan dia enggak mau ceraikan kamu? Karena dia fikir itu anaknya, tanggung jawabnya, dia enggak bisa ceraikan istri yang sedang hamil, tapi kenapa kamu enggak jujur sama mas Adam?!"
"Aku butuh sosok ayah buat anak aku mbak, aku enggak mau anak aku sampe enggak punya ayah,"
"Hah, sekarang aku udah tahu tentang ini, apa kamu masih mau terus bohong sama mas Adam?"
"Maksud mbak?"
"Aku mau kamu jujur sama mas Adam, atau aku yang akan cerita sama dia,"
"Jangan mbak, aku mohon, jangan cerita sama mas Adam, biar aku yang akan bilang sama mas Adam, aku janji mbak, tapi tolong maafin aku mbak,"
"Oke, aku kasih kamu waktu buat jujur sama mas Adam sampe dia pulang,"
"Iya mbak,"
***
Beberapa hari sudah berlalu, Adam mengabarkan akan pulang sore ini, Rayya dan Ira menunggunya dengan gelisah.
Ira menatap Rayya dengan penuh kecemasan, sementara Rayya terus berharap supaya Adam segera sampai dirumah dan mencari solusi masalah rumah tangga mereka.
Tidak lama kemudian, Adam tiba dirumah, Rayya dan Ira menyambutnya dengan hangat, Adam yang baru saja tiba segera menyegarkan diri, sementara Rayya dan Ira menyiapkan makanan diatas meja.
"Kamu udah siap buat cerita sama mas Adam?" tanya Rayya.
"Hm, iya mbak, tapi aku takut,"
"Buat apa takut? Apa waktu kamu bohong kamu takut?"
Ira langsung diam tanpa menjawab, tidak lama kemudian, Adam datang dan duduk bersama mereka, Mereka mulai makan bersama.
"Mas, Ira mau ngomong sesuatu sama mas," ucap Rayya.
"Ngomong apa? Ngomong aja," jawab Adam.
"Ayok Ra, cepet ngomong,"
"Mas, sebenernya aku-aku emm,"
__ADS_1
"Cepet Ra,"
"Kalian kenapa sih, kok jadi aneh gini? Ayok Amir, kita main diluar, Ayah punya sesuatu buat kamu,"
Belum sempat Ira bicara, Adam pergi keluar bersama Amir, Rayya terlihat kesal saat itu, Rayya menatap Ira dengan tajam dan penuh amarah.
"Kenapa kamu enggak ngomong? kamu udah janji sama aku? kamu jangan nipu aku ya Ra?!" bentak Rayya.
Dari kejauhan, Adam menyaksikan hal itu, Adam benar-benar terkejut melihat Rayya semarah itu bahkan sampai membentak Ira.
"Rayya, kamu kenapa?" tanya Adam.
"Hah,"
Rayya tidak menjawab pertanyaan Adam, karena emosinya sedang memuncak, Rayya pergi begitu saja meninggalkan mereka.
"Kalian kenapa Ra, apa ada masalah?" tanya Adam.
"Enggak apa-apa kok mas, mungkin mbak Rayya kecapekan aja," jawab Ira.
Ira juga pergi meninggalkan Adam, Adam yang ditinggal berdua dengan Amir semakin terlihat bingung dengan kedua istrinya itu.
"Apa mereka bertengkar karena aku tidak adil,?" gumam Adam.
***
Maghrib sudah tiba, Adam, Rayya, Amir dan Ira melaksanakan sholat maghrib berjamaah dirumah, Setelat selesai sholat mereka berdoa masing-masing.
Adam memperhatikan perubahan Ira, yang kini sudah mau menjalankan sholat bahkan memakai busana muslim, Ira nampak begitu cantik dimata Adam.
Ya Allah, apa aku sudah mulai jatuh cinta kepada Ira?. Batin Adam.
Setelah melaksanakan sholat maghrib, mereka mulai makan malam, Adam menyuapi Amir dengan penuh kasih sayang, tapi malam itu suasana benar-benar hening, Ira dan Rayya tidak bicara sedikitpun, hanya terdengar suara Adam dan Amir yang sesekali bergurau.
Malam itu, Adam tidur bersama Rayya, Rayya menyandarkan kepalanya dibahu Adam dengan manja.
"Mas, aku mau tanya boleh?"
"Tanya apa?"
"Seandainya bayi dikandungan Ira bukan anak kamu gimana?"
"Kamu ngomong apa sih, jangan berfikir buruk, enggak baik, itu dosa namanya,"
"Kan seandainya mas, gimana sikap kamu?"
"Aku enggak pernah mikir kesitu, jadi aku enggak tau gimana sikap aku nantinya,"
"Mas, bayi itu bener-bener bukan anak kamu,"
Mendengar ucapan Rayya yang sangat serius, Adam menatap Rayya dengan penuh tanda tanya, mereka saling beradu pandang satu sama lain.
__ADS_1