
Setelah melakukan perjalanan selama tiga puluh menit, Akhirnya Rayya dan Amir tiba disebuah rumah yang nampak sederhana tapi terasa hangat dan damai, dengan adanya jejeran bunga berwarna-warni dihalaman rumah mungil itu.
"Amir, sekarang kita tinggal disini buat sementara ya, kalo keadaan udah lebih baik, kita akan pindah," ucap Rayya.
"Iya bu," jawab Amir.
Rayya masuk kedalam rumah dan langsung merapihkan pakaiannya dan pakaian Amir kedalam lemari, rumah sederhana itu sudah disiapkan dengan baik dan lengkap.
Hari sudah petang, suara adzan maghrib mulai berkumandang, Rayya dan Amir mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah.
Setelah sholat, Amir mengaji dengan dibantu oleh Rayya, saat ditengah-tengah bacaan tiba-tiba perut Amir bergemuruh.
Krucuk...
Rayya menatap Amir yang sedang memegangi perut mungilnya.
"Amir laper ya?"
"Hehe, iya bu,"
"Ya udah, ngajinya berenti dulu ya, sekarang kita makan, Em tapi ibu belum masak apa-apa, kita juga enggak punya bahan, kita pesen aja ya," ucap Rayya.
"Iya bu, Amir apa aja mau kok asal sama ibu," jawab Amir.
***
Beberapa hari kemudian.
Setelah kepergian Rayya, Adam menyibukkan diri dengan semua pekerjaannya, walaupun pekerjaan itu kecil sekalipun tapi Adam tetap fokus pada pekerjaannya.
"Mas, ini kopinya," ucap Ira sambil meletakkan secangkir kopi diatas meja.
Melihat Adam yang sangat sibuk, Ira merasa kurang perhatian, dia berusaha mencari perhatian Adam bagaimanapun caranya.
"Mas, mau makan apa hari ini?" tanya Ira sambil menyandarkan kepalanya dibahu Adam.
"Hm, buatin masakan kesukaan aku ya," jawab Adam.
"Hm, tapi mas, aku capek, kita delivery aja ya,"
"Terus-terusan makan makanan siap saji itu enggak baik lho Ra, apalagi kamu lagi hamil gini, kamu masak ya,"
"Tapi aku lagi males mas,"
"Udah berapa hari kita selalu pesen makanan dari luar, aku juga pengen masakan rumah,"
"Iih mas enggak ngertiin aku banget sih,"
"Hm, ya udah terserah kamu,"
__ADS_1
Adam menutup laptopnya dan pergi meninggalkan Ira, Ira yang ditinggal sendirian terlihat sangat kesal, dia melempar bantal yang ada disofa ke lantai.
Adam yang menyadari hal itu tetap mengabaikan Ira dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
***
Pagi sudah tiba, Adam bersiap pergi menuju kantor, Semenjak kepergian Rayya, meja makan selalu terlihat kosong, bahkan Ira selalu bangun terlambat membuat Adam pergi tanpa sarapan.
"Mas, maaf aku kesiangan, aku bikinin telor dadar ya,"
"Enggak usah, aku udah telat, aku pergi, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Saat dalam perjalanan, Adam menelephon seseorang, Adam menceritakan perilaku istrinya itu melalui telephon.
"Ya udah sarapan disini aja," ucap seseorang dalam telephon.
"Iya udah, aku kesana,"
Satu jam kemudian, Adam sampai dikantor setelah sarapan dengan seseorang yang dia hubungi, Wajah Adam nampak ceria saat membaca isi pesan diponselnya.
Ali yang sudah berada disana lebih dulu, nampak aneh melihat tingkah Adam, Ali yang semakin penasaran langsung mendekatinya.
"Dam, apa kamu bisa sebahagia itu padahal hubungan kamu sama Rayya diujung tanduk?"
"Terus, kenapa kamu senyum-senyum gitu waktu baca pesan? emang dari siapa? dari Ira? Dam, aku merasa bersalah sama Rayya,"
"Kamu enggak ada hubungannya kok sama masalah ini, jangan difikirin, Insya Allah aku bisa atasin semuanya,"
Ali menghela nafas untuk menenangkan hatinya.
***
Tidak terasa waktu cepat berlalu, Hari itu Adam pulang lebih awal karena harus bertemu seseorang, Adam berpamitan kepada Ali dan memintanya untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang masih tertunda.
"Kamu mau kemana Dam? buru-buru amat?" tanya Ali.
"Ada urusan penting, aku tinggal ya,"
Adam pergi meninggalkan Ali, saat akan menyalakan mesin mobil, Adam malah menjatuhkan kunci mobilnya, tangannya mencari-cari dimana kunci itu jatuh, tapi Adam malah menemukan sebuah surat yang sepertinya sudah cukup lama berada disana.
Adam mengambilnya dan kembali mencari kunci yang jatuh, Saat Adam akan menyalakan mesin mobilnya, lagi-lagi hal itu tertunda, Adam merasa penasaran dengan sebuah surat yang dia temukan, hingga akhirnya dia membuka surat itu dan mulai membacanya.
Adam diam sejenak setelah tahu isi surat itu, tanpa mengulur waktu Adam menghubungi nomor yang tertera disana dan membuat janji untuk bertemu.
***
Adam sudah berada disebuah caffe tempatnya membuat janji, Adam terus melihat jam tangannya berharap orang yang dia hubungi akan segera tiba.
__ADS_1
"Tuan Adam?" sapa seorang perempuan yang berpenampilan cukup menarik dengan riasan tipis membuatnya nampak natural.
"Iya, saya sendiri," jawab Adam.
"Maaf saya terlambat, apa tuan sudah lama menunggu?"
"Ah, tidak, baru beberapa menit, silahkan duduk,"
"Maaf saya datang bersama asisten saya, saya tidak ingin terjadi fitnah, apalagi saya tahu kalau tuan salah satu tokoh agama,"
"Iya, saya juga sempat berfikir begitu, tapi untungnya anda membawa seseorang bersama anda,"
"Iya, Oh iya, apa yang bisa saya bantu?"
Adam mengeluarkan sepucuk surat dari dalam saku jasnya dan memberikannya kepada perempuan itu, Sebut saja dr.Tania, Dr.Tania menerima surat itu dan mulai membacanya, Setelah memahami isi surat itu, dr.Tania tersenyum tipis dan memberikan beberapa penjelasan yang ingin Adam ketahui.
"Benarkah semua itu dokter?" tanya Adam.
"Iya, karena ini surat dari rumah sakit tempat saya bekerja, dan anda sudah tahu, kalau disana tertulis nama saya,"
Adam merasa sedikit syok saat tahu isi surat itu, Setelah perbincangan yang terjadi selama satu jam itu, akhirnya mereka saling berpamitan, Tidak lupa Adam membawa kembali surat itu bersamanya.
Selama dalam perjalanan, Adam masih tidak habis fikir dengan apa yang baru saja dia ketahui, dia terus terdiam hingga tiba dirumahnya, Ira yang menyambutnya bahkan dia abaikan.
Adam berjalan masuk kedalam kamar Ira, dia membuka semua laci yang ada disana seperti mencari sesuatu.
"Mas, kamu cari apa?" tanya Ira.
Adam mendengar pertanyaan Ira tapi dia tetap tidak peduli, hingga akhirnya dia menemukan apa yang dia cari dan mulai membacanya.
"Ini, ini semua kebohongan kamu? Iya kan?" tanya Adam.
"Kebohongan apa mas? itu cuma surat pemeriksaan kehamilan aku,"
"Iya, kehamilan kamu itu kebohongannya? lihat ini? disini tertulis usia kehamilan kamu, tapi lain dari apa yang udah kamu bilang, jawab jujur anak siapa itu?!" tanya Adam dalam kemarahan.
"Mas, aku..."
"Aku cuma mau tahu jawaban kamu, jangan kasih alesan apa-apa lagi, aku udah ketemu dokter itu, dan dia udah jelasin semuanya,"
"Ma-mas, a-aku,"
"Kenapa kamu tega sama aku Ra? ternyata semua yang Rayya bilang itu bener, kamu udah bohongin kita semua,"
"Mas, maafin aku mas, aku ngaku salah aku minta maaf mas, aku mohon jangan ceraikan aku mas,"
Ira bersimpuh dikaki Adam dan memegang kakinya dengan erat sambil menangis, Adam yang masih dipenuhi amarah meremas erat surat-surat itu.
To be continued...
__ADS_1