
Setelah kembali kerumah, Adam dan Musa menjelaskan apa yang terjadi, Rayya dan Laksmi merasa lega mendengarnya kini mereka bisa kembali tenang begitu juga dengan Zidan.
"Apakah berita ini udah nyebar kesemua orang? termasuk temen sekolah kamu?" tanya Musa kepada Zidan.
"Udah ampir nyebar Om, tapi berkat bantuan Rezi, masalah itu bisa diatasin," jawab Zidan.
"Alhamdulillah, semoga masalah ini cukup kita yang tau," jawab Musa.
"Tapi Amir, darimana kamu dapet video-video itu?" tanya Adam.
"Oh iya, Amir lupa kasih tau,"
Amir mulai menceritakan darimana dia mendapat video itu.
*Flashback on*
Setelah perbincangannya bersama Zidan di kebun belakang, Amir mulai mencari tahu kebenarannya, dia bahkan mendatangi klub tempat Zidan dan teman-temannya berkumpul dan bertanya kepada semua yang datang malam itu.
Tapi Amir tidak mendapatkan hasil apapun, dia terlihat sudah putus asa sampai akhirnya seorang wanita yang sebaya dengan Rayya mendekatinya.
"Kamu keliatan bingung? kenapa?" tanya wanita itu.
Tanpa menoleh, Amir menceritakan masalah Zidan kepada wanita itu, wanita itu hanya tersenyum mendengar cerita Amir dan tiba-tiba menyerahkan ponselnya yang berisi video.
Amir terkejut dengan apa yang dilihatnya, Dia menoleh kearah wanita berkacamata itu, matanya seolah bertanya darima dia mendapatkannya.
"Semalem, aku juga ada di klub ini, dari awal aku masuk, aku udah merhatiin tingkah mereka, dan ternyata bener, lagi-lagi ada masalah kayak gini," ucap wanita itu menjelaskan.
"Lagi-lagi? maksud tante?" tanya Amir.
"Aku kerja untuk ngawasin tingkah anak-anak yang dateng ke klub, udah banyak kasus kayak gini, jadi aku enggak heran,"
"Apa tante sendiri yang rekam video ini?" tanya Amir.
"Iya, kamu boleh ambil videonya, buat buktiin kalo adik kamu enggak salah,"
Mendengar perkataan wanita itu, Amir merasa sangat lega, ternyata benar kalau Zidan hanya korban fitnah, dia selalu yakin, senakal-nakalnya Zidan tidak mungkin dia melakukan perbuatan semacam itu.
Setelah perbincangan yang cukup panjang, wanita itu mendapat telephon dari seseorang, dia menoleh keujung jalan dan terlihatlah sosok lelaki muda yang sedang menunggunya, Wanita itu berpamitan dan pergi meninggalkan Amir.
*Flashback off*
"Alhamdulillah, Allah udah kasih kita jalan lewat perempuan itu," ucap Rayya.
"Tapi siapa dia?" tanya Zidan.
__ADS_1
"Aku lupa tanya namanya, tapi yang pasti dia kayaknya perempuan baik-baik," jawab Amir.
Setelah suasana kembali tenang, Musa dan Laksmi berpamitan untuk kembali kerumahnya, Amir dan Zidan pun beristirahat dikamar masing-masing.
"Ujian cinta kita banyak ya mas, dulu masalah kamu sama Ira, sekarang soal Zidan, semoga kita dikasih kesabaran ya mas," ucap Rayya.
"Aamiin," jawab Adam mengaminkan doa istrinya.
***
Tengah malam, saat Rayya hendak mengambil air, dia melewati kamar Zidan, malam itu pintu kamarnya sedikit terbuka, karena penasaran, Rayya membukanya pelan-pelan, betapa terkejutnya Rayya saat melihat Zidan yang sedang melakukan sholat malam.
"Ya Allah, terima kasih engkau udah selesaikan masalahku, aku bersyukur karena dikasih kakak seperti Amir yang selalu bantu aku disetiap masalah," ucap Zidan didalam doanya.
Rayya tersenyum haru mendengar doa Zidan, dia berharap hubungan antara kedua putranya kembali membaik seperti dulu.
***
Esoknya seperti biasa, semua orang sarapan bersama, hari itu Zidan bangun lebih pagi bahkan sebelum yang lain bangun.
Adam yang melihat perubahan pada putranya itu merasa sangat bersyukur, dia berharap Zidan benar-benar berubah setelah apa yang terjadi kepadanya.
"Mas, gue berangkat bareng loe ya?" ucap Zidan kepada Amir.
"Apa?" tanya Amir sedikit heran.
"Bukan itu, kata sebelumnya,"
"Mas, gue berangkat bareng loe ya?"
Amir tersenyum senang dan memeluk Zidan yang duduk tepat disampingnya, Zidan merasa risih dan mendorong tubuh Amir.
"Ih, enggak usah peluk-peluk, emang gue apaan," ucap Zidan melanjutkan sarapannya.
Suasana pagi itu begitu ceria, banyak senyuman terpancar dari wajah semua orang, Mereka kembali mengenang saat-saat lima tahun yang lalu sebelum Zidan membenci Amir.
***
Adam berangkat kekantor, begitu juga dengan Amir dan Zidan, mereka berangkat menuju ketempat menuntut ilmu masing-masing.
Sesampainya disekolah, Zidan berpamitan kepada Amir dan segera masuk kedalam kelas, disana dia disambut Rezi yang sudah menunggunya cukup lama, mereka berbincang membicarakan hal-hal konyol, sampai akhirnya beberapa orang teman mendekatinya.
"Dan, kita minta maaf sama loe ya buat kejadian waktu itu," ucap Tedi.
"Iya Dan, seharusnya kita enggak ngelakuin itu sama loe dan ngebantu Dodi, gue bener-bener minta maaf," sahut Alex.
__ADS_1
"Gue udah maafin kalian kok, dan gue tetep mau temenan sama kalian, tapi mulai sekarang gue enggak akan injekin kaki gue lagi ke klub," jawab Zidan dengan senyuman diwajahnya.
Tedi dan Alex merasa lega mendapat maaf dari Zidan, tapi lain halnya dengan Dodi dan Meta yang hanya tertunduk tidak berani menatap mata Zidan sedikitpun.
Zidan melihat kedua temannya itu, Dia berniat mendekati mereka tapi tiba-tiba bell masuk berbunyi pertanda pelajaran akan dimulai.
***
Dikampus Amir.
Amir yang berada dikelas sedang duduk dan fokus pada layar laptopnya, matanya sibuk bolak balik melihat antara layar laptop dan tumpukan buku yang ada didepannya.
Ilyas yang melihat kesibukkan saudaranya itu segera mendekatinya.
"Jangan capek-capek Mir, nanti sakit," ucap Ilyas langsung duduk disamping Amir.
"Sebentar lagi selesai ni, jangan ganggu," jawab Amir.
"Iya deh, oh iya, untung semalem dapet bukti ya, kalo enggak mungkin kamu yang bakal nikah sama Meta," ucap Ilyas tersenyum mengejek.
"Iya, Alhamdulillah, aku enggak jadi nikah haha,"
Ditengah obrolan mereka, dari kejauhan Aini tidak sengaja mendengarnya, Aini yang sedang mengerjakan tugas seketika meremas kertas yang ada dihadapannya, tanpa sadar air matanya mengalir mendengar ucapan Ilyas soal pernikahan Amir.
"Aini, loe kenapa?" tanya sahabatnya.
"Enggak kok, gue enggak apa-apa," Aini berlari keluar kelas meninggalkan sahabatnya itu.
Amir dan Ilyas yang melihatnya merasa heran, tapi mereka tidak ingin ikut campur dan kembali fokus pada tugasnya, Tapi rupanya hati Ilyas tidak tenang, dia ikut keluar kelas dan mencari keberadaan Aini.
"Aini, kamu kenapa?" tanya Ilyas.
Aini mengusap matanya dan berdiri menghadap Ilyas.
"Aku enggak apa-apa kok," jawab Aini tersenyum.
"Kamu nangis?"
Aini menggeleng membuat Ilyas kebingungan, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia takut akan menyinggung perasaan Aini, orang yang disukainya.
"Oh iya, tadi aku enggak sengaja denger, kalian ngobrolin soal pernikahan, kalo boleh tau pernikahan siapa?" tanya Aini.
"Pernikahan Amir," jawab Ilyas singkat.
"Amir mau nikah?!" Aini sedikit terkejut.
__ADS_1
Belum sempat Ilyas menjawab pertanyaan Aini, tiba-tiba salah satu teman sekelasnya datang dan meminta Ilyas untuk menemui dosen yang sudah menunggunya.
Ilyas segera pamit kepada Aini dan pergi meninggalkannya yang masih dipenuhi banyak pertanyaan.