
Author mau ralat sedikit ya readers
Karena udah lama enggak nulis dan rada-rada lupa sama seasons sebelumnya jadi ada beberapa kesalahan yang mau author ralat.
Adam dan Musa sebenarnya saudara kandung ya, Ilyas sekarang umurnya kira-kira udah 5 tahunan jadi udah besar ya readers, terus Ilham calon suaminya Ira itu bukan Ilham temennya Musa dan Adam ya, cuma nama aja yang sama.
Oke gitu aja
Sebelumnya author minta maaf ya dan terima kasih buat yang masih setia ikutin ceritanya, Happy reading !!
RUMAH MUSA.
Hari sudah berganti pagi, Tapi pagi ini suasana dirumah Musa sedikit berbeda karena Laksmi tidak ada dirumah, Hanya ada Musa, Ilyas dan bi Tuti yang masih setia bekerja dirumah Musa setelah bertahun-tahun.
Musa sedang menikmati sarapan paginya bersama Ilyas yang sudah siap dengan seragam sekolahnya. Pagi itu Ilyas memperhatikan wajah ayahnya yang lain dari biasanya, Ilyas yang sudah cukup besar mencoba membuka percakapan.
"Ayah, ayah kenapa?" tanya Ilyas dengan lugu.
"Oh, enggak apa-apa sayang, Ayok lanjutkan makannya nanti ayah antar kesekolah," jawab Musa sambil mengusap kepala Ilyas.
"Ayah, ibu mana?" lanjut Ilyas.
"Ibu lagi menginap dirumah tante Rayya, kenapa? Kamu kangen?" Musa balik bertanya.
"Iya," jawab Ilyas polos.
"Baru juga semalem ditinggal ibu, Ya udah kalo udah selesai sarapannya, Ayok ayah antar kesekolah,"
Ilyas bangun dari tempat duduknya dan mengambil tas sekolahnya, Ilyas berpamitan kepada bi Tuti yang sudah dia anggap seperti neneknya sendiri.
"Saya pamit ya bi," ucap Musa.
"Iya den, hati-hati," jawab bi Tuti.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Musa segera berangkat mengantar Ilyas kesekolahnya, Selama dalam perjalanan, Musa terlihat bingung, dia bingung bagaimana akan memberitahu keluarganya tentang masalah Adam dan Rayya.
Musa mengambil ponselnya mencoba menghubungi Laksmi yang masih berada dirumah Adam, tapi tidak ada jawaban.
__ADS_1
"Udah sampe, belajar yang pintar ya, Ayah berangkat dulu, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Musa kembali melajukan mobilnya, kali ini dia tidak berangkat kekantor tapi berbelok arah menuju rumah Adam, Dia ingin memastikan kalau kondisi Rayya dan Adam baik-baik saja.
Baru sampai didepan gerbang rumah Adam, Musa melihat mobil milik ustadz Fadlan yang sudah terparkir disana, Musa yang penasaran segera memarkir mobilnya dan masuk kedalam rumah Adam yang kebetulan pintunya sedang terbuka.
Ternyata benar, ustadz Fadlan dan bu Fatma sedang duduk diruang tamu bersama Adam, Rayya dan Laksmi yang hanya diam membisu.
"Assalamualaikum," ucap Musa.
"Waalaikumsalam, Musa, cepat masuk," jawab ustadz Fadlan.
"Ibu enggak habis fikir, kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi, kamu juga Musa kenapa enggak kasih tau ibu masalah ini?" ucap bu Fatma.
"Maaf bu, sebenernya Musa pengen kasih tau ibu semenjak Adam cerita masalahnya ke Musa, tapi Musa masih bingung gimana caranya kasih tau ibu," jawab Musa.
"Udah, kenapa kalian malah ribut, ini udah terjadi, mau di apakan lagi, enggak mungkin kan Adam kita paksa buat cerai dengan perempuan itu dalam kondisi hamil," sahut ustadz Fadlan.
"Maafkan Adam bu, ini semua salah Adam, seharusnya Adam cerita ke kalian semua saat kejadian itu," ucap Adam.
Bu Fatma nampak kesal dengan semua itu, dia tidak habis fikir dengan jalan fikiran Adam yang mengambil keputusan tanpa berunding dengan keluarga, Terlebih lagi Adam sudah menyakiti hati menantunya.
"Ya Allah Rayya, seharusnya kamu marah sama Adam, kamu boleh pukul dia, marahi dia, jangan diem aja begini, ibu ngerasa bersalah sama kamu," jawab bu Fatma sambil memeluk Rayya.
Pembicaraan itu tidak ada habisnya dengan perdebatan yang dilakukan bu Fatma, Dia masih tidak bisa menerima menantunya disakiti oleh anaknya sendiri, Sampai akhirnya Adam mendapat telephon dari Ali yang masih berada di Semarang.
Ali memberitahu Adam sebuah kabar duka, Dimana kedua orang tua Ira mengalami kecelakaan saat akan kembali ke Semarang, Pak Tejo dan bu Siti mengalami luka cukup parah sampai harus dilarikan kerumah sakit, tapi sayang nyawanya tidak dapat diselamatkan.
"Berangkatlah, kasihan Ira, dia butuh suaminya," ucap Rayya.
"Tapi aku..."
"Berangkatlah mas,"
Adam yang merasa bingung menatap seluruh anggota keluarganya satu persatu, Mereka semua mengisyaratkan supaya Adam berangkat menemui Ira, tapi tidak dengan bu Fatma yang menunjukkan wajah sinis kepada Adam.
Setelah berpamitan, Adam segera berangkat menuju Semarang dengan penerbangan pertama, Walaupun hatinya masih kalut tapi dia tetap berusaha tenang.
"Kamu yang sabar ya Rayya, jangan nangis terus, kalo kamu aja nerima pernikahan Adam dan perempuan itu, Ya ibu mau gimana lagi, ibu juga bingung," ucap bu Fatma.
__ADS_1
"Terima kasih bu, Insya Allah Rayya ikhlas kok bu," jawab Rayya.
Ustadz Fadlan dan bu Fatma berpamitan untuk pulang, Rayya memeluk erat ibu mertuanya itu, begitu juga bu Fatma dia terus mencoba menenangkan Rayya, Ustadz Fadlan mengelus kepala Rayya pelan dan mendoakan kebaikan untuknya.
"Musibah apa lagi ini mbak, orang tua Ira meninggal," ucap Rayya setelah kepulangan kedua mertuanya.
"Sabar ya, Insya Allah enggak akan terjadi apa-apa, kita berdoa yang baik-baik aja," ucap Laksmi.
"Terima kasih mbak, mbak udah nemenin aku, karena masalah aku mbak harus ninggalin mas Musa dan Ilyas, aku ngerasa enggak enak," ucap Rayya.
"Enggak apa-apa kok, kamu sekarang udah baikan kan?"
"Udah mbak, aku udah enggak apa-apa kok,"
"Hm, kalo gitu mbak pamit pulang dulu ya, kalo ada apa-apa kamu telephon mbak atau mas Musa aja, enggak apa-apa kan?"
"Iya mbak, terima kasih,"
"Iya udah kita juga pamit ya, Assalamualaikum," ucap Musa.
"Waalaikumsalam,"
Setelah kepulangan Musa dan Laksmi, kini Rayya kembali sendirian dirumah, untuk mengatasi kesedihannya, Rayya mencari kesibukkan, dia menyiram tanaman di kebun belakang rumahnya yang bahkan sudah basah terkena air hujan, dia mencuci semua piring yang bahkan masih belum kotor hingga akhirnya dia lelah dan tertidur diatas sofa ruang tamunya.
Kabar pernikahan kedua Adam itupun ternyata sampai ditelinga Mayra yang berada di Amerika, Mayra dan Rizal tinggal di Amerika setelah pernikahan mereka karena bisnis Rizal yang semakin meluas.
"Berani-beraninya mas Adam nikah lagi, sama perempuan enggak jelas," ucap Mayra dengan kesal.
Mayra memang sejak dulu suka asal bicara tanpa berfikir panjang bahkan kepada Rizal sekalipun.
"Hush, omongan kamu dek-dek," ucap Rizal.
"Emang bener kan, perempuan enggak jelas mana yang udah berani-berani jebak kakakku," lanjut Mayra.
"Terserah kamu dek, Mas mah pusing kalo kamu udah ngomong," jawab Rizal sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Ayok mas, kita pulang ke Indonesia,"
"Nanti, kerjaanku masih banyak disini, Sstt diem jangan cerewet, sholat sana,"
"Huhh,"
__ADS_1
Mayra berjalan meninggalkan Rizal dan pergi kekamar mandi untuk mengambil air wudhu begitupun Rizal yang menyusulnya dari belakang.