
Keesokan harinya, setelah melaksanakan sholat subuh, Adam dan Rayya membaca Al-qur'an sambil menunggu matahari terbit.
Rayya yang sudah selesai lebih dulu, segera pergi kedapur dan menyiapkan sarapannya seperti biasanya, kali ini dia membuat makanan kesukaan Adam.
Adam yang melihat istrinya sedang bekerja segera mendekatinya.
"Udah selesai ngajinya mas?" tanya Rayya.
"Udah," jawab Adam.
"Aku masak makanan kesukaan kamu mas, kamu selama di Semarang pasti enggak akan nemu masakan kayak gini, iya kan mas?"
"Iya, aku kangen masakan kamu,"
Rayya yang sedari tadi sibuk dengan bahan masakannya segera menoleh ke arah Adam yang suaranya terdengar sedikit gemetar.
"Mas, kamu nangis?" tanya Rayya.
Adam langsung memeluk Rayya dengan erat seolah dia tidak ingin melepaskannya, Rayya semakin heran melihat tingkah suaminya itu.
"Maafkan aku Rayya, maafkan aku?" ucap Adam.
"Kamu kenapa sih Mas? kamu sakit?"
"Enggak, aku sehat, aku cuma kangen sama kamu,"
"Aku juga kangen sama kamu, tapi kenapa dari semalam kamu terus minta maaf, ada apa mas?"
"Rayya, aku..."
Ting... ting... ting...
Tiba-tiba ponsel Adam berdering menandakan sebuah pesan masuk, tapi Adam tidak memperdulikannya, dia membaca dan langsung mematikan ponselnya.
"Dari siapa mas?"
"Bukan siapa-siapa, ya udah kamu selesain masaknya, aku mau mandi dulu,"
Rayya mengangguk dengan senyuman diwajahnya.
Sarapan sudah siap berjejer diatas meja, Adam yang sudah selesai mandi segera duduk ditempatnya, Rayya mengisi piring Adam dengan nasi dan lauk seperti biasanya.
Rayya terus memandang wajah Adam tanpa berkedip, Adam yang sadar akan hal itu hanya tersenyum tipis.
"Aku tau aku ganteng, jangan dipandang terus donk," ucap Adam.
"Aku takut karena kamu ganteng mas,"
"Takut? kenapa?"
"Aku takut ada orang lain yang coba buat rebut kamu dari aku mas,"
__ADS_1
Mendengar ucapan Rayya, Adam terkejut dan membuatnya tersedak, Rayya segera mengambilkan air untuk Adam.
"Pelan-pelan mas,"
Tokk... tokk...
"Assalamualaikum," terdengar suara orang mengucapkan salam dari depan rumah.
"Waalaikumsalam, siapa pagi-pagi begini?" Rayya berjalan menuju pintu, ternyata Musa dan Laksmi yang datang.
Rayya mencium tangan Laksmi dan memeluknya begitu juga dengan Ilyas yang langsung memeluk Rayya.
"Mas Musa, masuk mas, yuk sarapan," sapa Adam.
"Enak nih pagi-pagi udah sarapan, semenjak Laksmi hamil dia jarang masak pagi, katanya mual," ucap Musa.
"Wajar mas, Oh iya mas, maaf aku enggak dateng ke acara empat bulanan Laksmi,"
"Enggak apa-apa, yang penting Rayya udah dateng, kamu kapan sampe Jakarta?"
"Tadi malam mas, harusnya kemaren siang, tapi pesawar delay terus jalanan macet,"
"Iya wajar, namanya juga Jakarta,"
Adam dan Musa membicarakan soal bisnis dan tentang pondok pesantren milik mereka yang sedang di bangun, sementara Laksmi dan Rayya membicarakan soal kehamilan dan bermain dengan Ilyas.
*Beberapa minggu berlalu sejak Adam ke Jakarta.
Ira melempar ponselnya diatas ranjang dan disaat bersamaan, Ira melihat sebuah kertas putih tergeletak dilantai kamarnya, Ira mengambil kertas itu yang ternyata adalah sebuah foto pernikahan Adam dengan Rayya, Ira benar-benar terkejut dan tiba-tiba jatuh pingsan.
Bu Siti yang kebetulan lewat depan kamarnya segera berlari dan berteriak memanggil suaminya, Pak Tejo yang mendengar teriakan istrinya itu segera berlari menghampirinya dan mengangkat tubuh Ira keatas tempat tidur.
Tidak lama kemudian, Ira membuka matanya, dilihatnya kedua orang tuanya sedang duduk disampingnya dengan senyum terkembang.
"Aku kenapa bu?" tanya Ira.
"Selamat Ira, kamu hamil, ibu enggak nyangka baru satu bulan kalian menikah, ibu udah mau punya cucu," jawab bu Siti.
"Apa? Hamil? gimana bisa, aku dan mas Ilham..." Ira menghentikan ucapannya.
"Ya bisa Ira, kamu kan udah menikah,"
"Apa mas Ilham udah ibu kasih tau?" tanya Ira pelan.
"Belum, mau ibu telephon dia?"
"Enggak usah bu, biar Ira nanti yang kasih tau," jawab Ira.
Bu Siti tersenyum dan meminta Ira untuk istirahat, Bu Siti dan pak Tejo keluar dari kamar Ira dan duduk diruang tamu.
"Foto tadi dimana pak?" tanya bu Siti.
__ADS_1
"Ini,"
"Sini, kasih ke saya, biar saya bakar fotonya, saya enggak mau sampe Ira liat foto ini,"
"Iya, terserah ibu, bapak mau berangkat kerja,"
"Ya sudah,"
Hari terus berganti, Adam terpaksa bolak balik Jakarta-Semarang untuk bisa membagi waktu antara Ira dan Rayya dengan alasan pekerjaan.
Seperti sebelumnya, Rayya selalu mengerti dan memaklumi pekerjaan Adam, tapi tidak dengan Ira, dia terkadang marah kepada Adam bahkan mogok makan jika Adam hendak kembali ke Jakarta, tapi berkat perkataan Adam yang lemah lembut, Ira akhirnya mengerti.
"Ya Allah, jangan biarkan syaitan mempengaruhi fikiranku," gumam Rayya.
Adam yang melihat istrinya sedang melamun, langsung datang dan memeluknya.
"Kamu kenapa?" tanya Adam.
"Enggak apa-apa mas, kamu hari ini berangkat lagi ke Semarang?"
"Iya, kenapa? Hm, kalo enggak boleh, aku enggak akan pergi kok, aku akan tetap disini nemenin kamu,"
"Ah, enggak mas, kamu pergi aja, ini kan tentang kerjaan, kamu harus berangkat," jawab Rayya dengan senyuman.
Kenapa kamu enggak pernah larang aku Rayya, padahal aku mau kamu cegah aku pergi sekali aja, aku pasti enggak akan pergi, aku udah capek.
Maafin aku Rayya, aku janji akan segera kasih tau kamu dan akan ambil keputusan. Batin Adam.
Pagi hari, Adam berangkat kembali ke Semarang, sebenarnya hatinya sangat sedih dan kakinya terasa berat untuk pergi meninggalkan Rayya, Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi tanggung jawabnya yang Allah berikan kepadanya, Sebagai seorang suami dengan dua orang istri dia tetap harus berlaku adil.
Malam ini, Ira berdandan dengan cantik, rambut lurusnya ditata dengan rapi, aroma wewangian menyelimuti tubuhnya, pakaian yang sedikit terbuka membuat Adam risih untuk melihatnya walaupun dia adalah istrinya.
"Mas, aku buat susu hangat buat kamu," ucap Ira.
"Terima kasih, taruh aja diatas meja," jawab Adam.
"Cepet diminum mas, mumpung masih hangat," bujuk Ira.
Adam meletakkan laptopnya diatas meja dan mengambil gelas berisi susu hangat itu dan langsung meminumnya.
"Mas malam ini..."
"Udah adzan, aku mau ambil wudhu terus ke masjid sholat isya," Adam memutus ucapan Ira.
"Oh, iya udah,"
"Kamu juga sholat,"
Ira mengangguk pelan mendengar perintah suaminya untuk pertama kalinya sejak mereka menikah.
Setelah kembali dari masjid, kepala Adam terasa sangat pusing, dia langsung masuk dan berbaring dikamarnya, Ira yang melihat berada didekatnya mencoba membantu Adam, tapi Adam terus menolak bahkan enggan disentuh oleh Ira, sampai akhirnya Adam benar-benar terlelap.
__ADS_1
Ternyata kamu emang bukan mas Ilham, terus kamu siapa? terus kemana mas Ilham? Tapi aku enggak peduli, sekarang aku istrimu mas, entah siapa kamu, aku tetap istri kamu. Batin Ira.