Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Keputusan bersama.


__ADS_3

Malam itu Adam yang masih merasa gelisah tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia terus memikirkan pertengkarannya sore tadi dengan Rayya, Dia berfikir kalau dia sudah benar-benar jahat sampai tega membentak Rayya.


Secara kebetulan, Rayya keluar dari kamarnya sambil membawa botol air hendak menuju kedapur, Melihat istrinya itu, Adam merasa gugup, dia ingin memulai pembicaraan tapi dia merasa tidak enak.


Rayya yang berada didapur menyadari kalau Adam sedang memperhatikannya, tapi Rayya masih benar-benar kecewa dengan sikap Adam, dia keluar dari dapur tanpa menoleh sedikitpun kearah Adam.


"Rayya, tunggu sebentar," ucap Adam membuat langkahnya terhenti.


Adam meraih tangan Rayya dan menggenggamnya erat.


"Maafin aku Rayya, seharusnya aku enggak bersikap begitu sama kamu,"


Rayya tetap mengabaikan Adam dan berusaha melepas genggaman tangannya, Tapi Adam malah memeluknya membuat Rayya tidak bisa berkutik.


"Aku tau kalo aku salah, aku minta maaf Rayya, seharusnya aku enggak begitu,"


"Kepercayaan kamu buat aku udah enggak ada mas, kamu juga berubah sekarang, apa kamu udah mulai cinta sama Ira?" tanya Rayya.


Adam melepas pelukannya dan menatap mata Rayya yang berkaca-kaca, tapi Adam tidak ingin membohongi istrinya untuk kesekian kali, dia memberanikan diri dan mengakui perasaannya terhadap Ira.


"Aku udah enggak heran mas, aku tau suatu saat pasti kamu akan berubah, dan ternyata sekaranglah waktunya, aku seneng kamu jujur sama aku,"


"Maafin aku Rayya, tapi aku janji, aku akan bersikap adil seadil-adilnya, perasaanku enggak mungkin pendam lagi, aku enggak mau bohongin kamu lagi,"


"Iya, aku ngerti mas, udah ya, aku capek, aku mau tidur,"


Rayya pergi menuju kamarnya dan meninggalkan Adam, Rayya yang berusaha tegar, sudah tidak bisa lagi menahan sakit hatinya, Rayya menumpahkan kesedihannya dengan menangis tersedu disisi tempat tidurnya.


Tanpa dia sadari, sosok Amir berada dihadapannya, Amir menghapus air mata Rayya dan memeluknya, setelah merasa cukup baik, Amir mengajak Rayya sholat malam supaya kesedihannya berkurang.


***


Hari terus berganti, setelah malam itu, Rayya mulai tidak banyak bicara, dia hanya bicara kepada Amir seperti biasanya.


Adam berusaha memulai percakapan, tapi Rayya hanya menjawab sekedarnya saja, Rayya sudah tidak peduli dengan apa yang dikatakan Adam maupun Ira kepadanya.


Setelah Adam pergi kekantornya, Ira mendekati Rayya, dia berusaha membuat amarah Rayya tersulut, tapi semua itu sia-sia, karena Rayya benar-benar sudah tidak peduli.


"Mas Adam udah bener-bener cinta sama aku mbak," ucap Ira.


"Terus? Aku harus apa? Aku harus kasih kamu ucapan selamat gitu?"


"Itu artinya, mbak udah kalah, sebaiknya mbak pergi dari kehidupan mas Adam,"

__ADS_1


"Kamu tenang aja, aku akan segera pergi dari sini, dan semoga kamu akan hidup tenang selama rahasia kamu enggak terbongkar,"


Ira tersenyum mendengar jawaban Rayya, dia benar-benar puas dan berharap kalau Rayya akan segera pergi dari rumah itu.


***


Beberapa hari kemudian.


Hari itu, Adam sedang berada dirumah karena kebetulan hari libur, Adam berbincang dengan Amir dan mengajarnya mengaji.


Tidak lama, Rayya keluar dari dalam rumah dengan membawa secangkir teh dan sepucuk surat yang dia letakkan diatas nampan.


"Apa ini? undangan?" tanya Adam.


"Iya," jawab Rayya singkat.


Adam tersenyum dan membuka surat itu, Adam membacanya dengan perlahan kemudian menatap Rayya yang masih duduk dihadapannya.


"Apa ini Rayya? Surat cerai?"


"Jangan kaget mas, kamu cukup tanda tangan disana," jawab Rayya.


"Kamu udah gila, kenapa kamu tiba-tiba minta cerai? Apa kesalahanku kali ini?"


"Aku udah enggak kuat sama semua ini mas, aku capek, jadi terpaksa aku buat surat itu, aku mau bebas mas, aku ikhlas lepasin kamu sama Ira,"


Rayya menghela nafas dalam-dalam mencoba membuat hatinya tetap tenang supaya amarahnya tidak tersulut.


"Kamu jangan egois mas, aku perempuan biasa, aku bukan seperti istri rasul, aku mohon sama kamu, bebasin aku mas,"


Rayya meneteskan air mata dan pergi meninggalkan Adam, Adam yang masih tidak percaya dengan keputusan Rayya, kembali membaca surat itu berulang kali.


Dari kejauhan, Ira menyaksikan kejadian itu, Ira tersenyum puas dengan apa yang sudah dilakukan Rayya, dia merasa kalau tidak lama lagi dia akan menjadi satu-satunya istri Adam.


***


Adam masuk kedalam kamarnya dan Rayya, dilihatnya Rayya sedang duduk termenung seorang diri sambil menghadap kearah luar dimana kebun belakang rumah mereka terlihat jelas.


Adam ikut duduk bersama Rayya, tanpa sepengetahuan mereka, rupanya Ira mengikutinya.


"Mereka lagi ngomongin apa sih?" gumam Ira.


"Tante, tante lagi ngapain?" tiba-tiba Amir datang, membuat Ira sedikit terkejut.

__ADS_1


Karena suara Amir yang cukup keras, Adam dan Rayya menoleh kearah mereka, dilihatnya Ira yang berjalan terburu-buru tanpa menjawab pertanyaan Amir.


"Amir, kamu lagi apa?" tanya Adam.


"Aku mau minta ayah buat benerin mainan aku, tadi jatuh," jawab Amir.


Akhirnya Adam dan Amir pergi untuk memperbaiki mainan Amir, Rayya juga kembali masuk kekamarnya melanjutkan pemandangan yang ada dihadapannya.


Tidak lama setelah itu, ponsel Rayya berdering dilihatnya panggilan dari nomor tidak dikenal, seperti dari luar negeri.


"Assalamualaikum," ucap Rayya.


"Waalaikumsalam, mbak ini aku, Mayra,"


"Ya Allah Mayra, nomor kamu ganti lagi?"


"Iya mbak, maaf nomor yang kemaren udah enggak aktif, Oh iya mbak, aku mau tanya, apa mbak bener-bener mau lakuin itu? mbak yakin?"


"Insya Allah May, kamu doain mbak ya, supaya mbak baik-baik aja,"


"Apa mas Adam udah setuju?"


"Iya, mas Adam setuju, tapi mbak minta, hubungan silaturahmi kita jangan sampe putus ya,"


"Aamiin, kalo emang itu udah keputusan kalian, aku bisa apa, semoga ini jalan terbaik,"


"Aamiin,"


Setelah perbincangan singkat itu, Rayya mulai mengemas semua pakaiannya, Amir yang berada disana mulai bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan ibunya itu, tapu dengan tutur kata yang lembut, akhirnya Rayya berhasil membuat Amir mengerti.


***


Rupanya keputusan itu sudah benar-benar matang, Bahkan sebuah mobil sudah siap menjemput Rayya untuk membawanya pergi dan meninggalkan rumah itu.


Adam terlihat ikut mengantar Rayya hingga gerbang rumahnya, Adam membukakan pintu mobil yang siap ditumpangi Rayya dan Amir.


Hari itu cukup berat bagi Adam, Dia benar-benar tidak percaya dengan perpisahan mereka, tapi semua itu demi kebaikan mereka bersama.


Adam mengecup kening Rayya, Rayya pun menyalaminya, Disaat bersamaan, Ira mendekati mereka dan mengucapkan perpisahan kepada Rayya.


"Hati-hati mbak, maafin aku," ucap Ira.


Adam terus menatap kepergian Rayya hingga mobil yang ditumpanginya tidak terlihat lagi.

__ADS_1


"Maafin aku mas, seharusnya mas dan mbak enggak harus sampe sejauh itu, seharusnya aku yang pergi dari rumah ini," ucap Ira.


Adam menatap Ira sejenak, tidak nampak adanya ketulusan dari matanya yang bisa membuktikan ucapannya itu, malah sebaliknya, Ira terlihat berbinar-binar tapi disembunyikan.


__ADS_2