Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Ingin memperbaiki hubungan.


__ADS_3

Ira dan Zidan keluar dari ruangan itu, Zidan segera memeluk Adam dan Rayya lalu meminta maaf kepada mereka, Adam terlihat bingung, dia melirik kearah Ira yang berdiri dibelakang Zidan.


"Maafin Zidan Yah, seharusnya Zidan enggak bersikap begitu," ucap Zidan dengan air mata yang mengalir.


Adam memeluknya dengan erat, dia pun ikut menangis dalam pelukan putranya itu, Rayya yang melihat semua itu berjalan mendekati Ira dan memeluknya.


"Apa yang udah kamu bilang sama Zidan Ra?" tanya Rayya.


"Aku cuma jelasin apa yang seharusnya Zidan tau mbak," jawab Rayya.


Rayya memeluk Ira semakin erat begitu pun Ira membalas pelukan saudarinya itu.


"Dimana Rezi? Kenapa dia enggak ikut?" tanya Rayya.


"Hm, pagi tadi Rezi berangkat ke Surabaya, dia mau ke pesantren katanya," jawab Ira.


"Apa? kenapa tiba-tiba?"


"Enggak tiba-tiba kok, ini semua udah rencana sejak lama, tapi baru sekarang bisa terlaksana,"


"Aku belum sempet minta maaf," gumam Zidan.


Amir sebagai kakaknya mencoba menenangkan Zidan, Dia membuat pengertian kepada Zidan supaya tidak merasa bersalah.


Setelah obrolan panjang, Ira berpamitan dan mengatakan akan menyusul Rezi ke Surabaya, Ira akan tinggal disana supaya terus dekat dengan putranya walaupun berbeda tempat tinggal.


***


Beberapa hari berlalu, Suasana kediaman Adam kembali damai seperti dulu, Zidan dan Amir semakin dekat dan kesehatan Rayya pun semakin baik.


"Ayah, aku berangkat dulu ya, Assalamualaikum," ucap Amir.


"Waalaikumsalam,"


"Zidan, kamu enggak bareng sama mas mu?" tanya Rayya.


"Enggak bu, kayak anak kecil aja dianterin terus," jawab Zidan sambil mengunyah sarapannya.


Sesampainya dikampus, Seperti biasa, Ilyas menyambut Amir dan mengajaknya ke kantin, Disana mereka bicara banyak hal, tanpa mereka sadari Aini menatap mereka dari tadi.


"Aini, kenapa kamu enggak tanya langsung aja sama Amir, apa dia beneran mau nikah?" ucap Fatia, sahabatnya.


"Buat apa aku nanya, itu bukan urusan aku," jawab Aini.


"Jangan bohong, aku tau kamu sedih wakti denger obrolan mereka waktu itu?"


"Enggak, siapa bilang,"


"Ya udah, kalo kamu enggak mau tanya biar aku yang tanya," Fatia berjalan mendekati kursi dimana Amir dan Ilyas sedang duduk.


"Fatia, jangan!" ucap Aini sedikit berteriak, tapi Fatia mengabaikannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, boleh gabung enggak," tanya Fatia.


"Waalaikumsalam, silahkan," jawab Amir dan Ilyas berbaring.


Fatia sedikit berbasa basi sebelum dia mengatakan apa yang ingin dia katakan, sampai akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


Amir dan Ilyas saling menatap mendengar pertanyaan Fatia, Mereka tertawa bersama karena menganggap itu sebagai hal yang konyol.


"Siapa yang mau nikah muda di zaman sekarang Fatia," jawab Ilyas.


"Tapi waktu itu aku denger..."


"Enggak, mungkin kamu salah denger, aku belum siap nikah, aku masih mau kuliah," sahut Amir dengan senyuman.


Fatia merasa tenang mendengar jawaban Amir, dia pun berpamitan dan kembali ke kursi dimana Aini sedang menunggunya disana.


Fatia menceritakan semuanya kepada Aini, seketika wajah Aini berubah cerah, dia benar-benar bahagia karena itu hanya kesalahpahaman.


***


Hari itu, Mereka mendapat pelajaran tambahan, Hingga membuat mereka pulang terlambat.


Fatia yang pulang lebih dulu meninggalkan Aini seorang sendiri disebuah halte, Aini menunggu bus cukup lama tapi belum juga ada yang datang.


"Kenapa enggak ada bus, udah jam berapa ini?" keluh Aini.


Ilyas dan Amir melihat Aini yang tengah berdiri seorang diri, Ilyas meminta Amir menghentikan mobilnya dan keluar mendekati Aini.


"I-iya," jawab Aini gugup.


"Bareng aja yuk, kebetulan arah rumah kita sama kan?" aja Ilyas.


"Ah, enggak usah, makasih,"


Amir yang sudah menunggunya cukup lama, merasa penasaran dengan apa yang sedang mereka bicarakan, Amir ikut keluar dari mobil dan mendekatinya.


"Ada masalah apa?" tanya Amir.


Ilyas menjelaskan situasinya kepada Amir, Amir terdiam sejenak dan melihat seorang dosen wanita sedang berdiri sendirian seperti sedang ikut menunggu bus.


Amir mendekati guru itu, dan mengajaknya menemui Aini dan Ilyas.


"Ayok pulang bareng, sekalian sama bu Rose juga," ajak Amir.


Rupanya Amir mengerti kenapa Aini tidak mau ikut, sehingga dia mengajak dosennya juga untuk pulang bersama mereka.


Mereka masuk kedalam mobil dan mengantarnya kerumah masing-masing.


Sesampainya dirumah, Aini masuk kedalam kamarnya, seperti orang tidak waras dia tersenyum-senyum sendiri.


"Ya Allah, melihat perlakuan Amir, aku sekarang semakin menyukainya," gumam Aini.

__ADS_1


"Astagfirullahal adzim, aku mikirin apa sih," lanjutnya sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri.


***


Selama dalam perjalanan pulang, Ilyas bercerita kalau dia menyukai seseorang, tanpa mendengar penjelasan, Amir langsung menebaknya.


"Kamu suka Aini kan?" tanya Amir.


"Ya Allah, kok kamu tau Mir? padahal aku belum cerita lho," jawab Ilyas.


"Jangan mikir aneh-aneh ya Yas, takutnya dosa, kalo emang kamu suka sama dia, kamu ajak aja dia ta'aruf," ucap Amir memberi saran.


"Insya Allah, aku takut ditolak Mir," jawab Ilyas pelan.


"Halah, masih takut gitu kok tapi berani jatuh cinta," ejek Amir.


Ilyas hanya terdiam, dia masih berfikir apakah jika dia mengajak Aini ta'aruf, Aini akan bersedia? Dia sebenarnya ingin melakukan itu sejak lama tapi dia masih takut dan ragu untuk meminta kepada Musa.


Setelah mengantar Ilyas pulang, Amir segera berpamitan kepada Musa dan Laksmi, Laksmi memintanya untuk makan malam disana tapi Amir menolaknya dengam sopan.


Amir mengendarai mobilnya hingga sampai dirumah, dia mengucapkan salam dan segera membersihkan diri sebelum melaksanakan sholat isya.


Disaat dia melewati kamar Zidan, dia melihat Zidan sedang duduk melamum sambil memegang sebuah gelang yang terus dipandanginya.


"Kamu mikirin apa Dan?" tanya Amir masuk kedalam kamar Zidan.


Zidan yang melamun sedikit terkejut sampai menjatuhkan gelang yang dipegangnya, melihat hal itu Amir mengambilnya dan memberikannya kepada Zidan.


"Masya Allah, kamu ngelamun Dan? mikirin apa?" tanya Amir.


"Eh, enggak kok mas, enggak mikirin apa-apa," jawab Zidan gugup.


"Udah sholat isya?"


"Belum mas,"


"Ya udah, ambil wudhu sana, kita sholat berjamaah, mas tunggu ya,"


Zidan mengangguk dan segera pergi untuk mengambil air wudhu, Mereka berdua sholat berjamaah dimana Amir menjadi imam untuk mereka.


Selesai sholat, Mereka berdoa masing-masing, Amir selesai berdoa lebih dulu dan melihat kalau Zidan masih khusu dalam doanya, Amir menunggunya hingga selesai.


"Doa apa Dan? panjang amat kayaknya?" tanya Amir.


"Mas, aku merasa bersalah sama Rezi, hati aku enggak tenang sebelum ketemu sama dia," jawab Zidan mencurahkan isi hatinya.


"Aku coba telephon dia, tapi ponselnya enggak dibawa mas," lanjut Zidan.


"Namanya juga dipesantren Dan, semua santri enggak boleh bawa ponsel, kamu berdoa saja, atau kamu bisa temuin dia dipesantren,"


Zidan diam sejenak, dia berfikir apakah mungkin dia akan menyusul Rezi ke Surabaya dan melanjutkan sekolah sambil mondok, tapi apa dia sanggup hidup tanpa orang tua, saudara dan ponselnya? begitu fikir Zidan didalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2