
Sore tiba, Ilyas datang bersama kedua orang tuanya Laksmi dan Musa, Adam dan keluarganya menyambut mereka dengan hangat, mereka saling berpelukan satu sama lain.
Tujuan mereka datang saat itu untuk mengundang keluarga Adam datang kerumahnya, mereka akan mengadakan syukuran atas bertambahnya usia Kiara, anak kedua Musa dan Laksmi sekaligus adik Ilyas.
Dengan senang hati mereka menerima undangan itu dan berjanji akan datang dengan kedua putera mereka.
Sementara para orang tua sedang mengobrol diruang tamu, lain halnya dengan anak-anak yang sedang berbincang ditaman belakang sambil menikmati udara segar sore hari.
"Zidan, gimana sekolah kamu?" tanya Ilyas.
"Ya, enggak gimana-gimana mas, gitu-gitu terus," jawab Zidan.
"Kalo bosen, kenapa enggak ke pesantren aja?" lanjut Ilyas.
"Hah, pesantren, buat apa mas? aku udah pinter ngaji sama sholat kok,"
"Zidan, ke pesantren bukan cuma sekedar ngaji sama sholat, tapi kamu bisa dapet ilmu yang lebih banyak,"
"Males mas, enggak minat, oh iya bentar ya mas, ada telephon,"
Zidan pergi untuk menerima panggilan telephon dari seseorang, Zidan terlihat tertawa riang saat berbicara melalui telephon entah dengan siapa tapi sepertinya seorang perempuan.
"Apa Zidan masih begitu sama kamu Mir?" tanya Ilyas.
"Ya begitulah, mau gimana lagi, tapi aku bakal berusaha buat perbaikin hubungan aku sama dia," jawab Amir, Ilyas menepuk bahu Amir pelan.
Setelah perbincangan yang cukup panjang, akhirnya keluarga Musa berpamitan untuk pulang, Adam dan Rayya mengantar mereka hingga depan gerbang.
Sementara itu, Zidan masih asyik dengan ponselnya, dia bahkan tidak mendengar ucapan Adam maupun Rayya.
"Zidan, kamu enggak denger ibu?" tanya Rayya sambil menepuk bahu Zidan.
"Oh, iya, maaf bu, tadi ibu ngomong apa?"
"Besok jangan pulang telat, kita mau kerumah Om Musa,"
"Iya, tenang aja, ya udah aku masuk kamar dulu,"
Zidan pergi menuju kamarnya dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya, rupanya panggilan itu belum selesai hingga Zidan harus melanjutkannya.
***
Esoknya.
__ADS_1
Hari ini Adam dan Amir berangkat pagi-pagi sekali supaya mereka dapat menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, Lain halnya dengan Zidan yang masih santai dengan makanan dihadapannya.
"Zidan, udah jam berapa ini? nanti kamu telat lho," ucap Rayya.
"Iya bu, bentar lagi,"
"Kamu kirim pesan sama siapa sih, dari kemaren sibuk terus? kamu punya pacar?" tanya Rayya.
"Ah, ibu, bukan ini temen kok, ya udah daripada ibu bawel, mending Zidan berangkat deh," Zidan bangun dari tempat duduknya dan pergi menuju sekolah.
"Ya udah, Assalamualaikum Zidan?"
"Iya,"
"Ya Allah, kapan anak itu bisa berubah, kasian mas Adam selalu marah-marah liat kelakuan dia,"
***
Zidan berangkat menaiki motornya, saat berada pertengahan jalan, Zidan malah berbelok arah bukan menuju sekolahnya, Dia bertemu teman-temannya disana dan membonceng seorang perempuan dengan pakaian sekolah dan rok diatas lutut.
Zidan pergi ketempat yang sudah biasa mereka kunjungi, kali ini dia kembali bolos sekolah padahal ujian akan segera berlangsung.
Pihak sekolah mencari keberadaan mereka bahkan melephon Adam maupun Rayya tapi tidak ada jawaban, hingga akhirnya mereka melephon Amir.
"Iya pak, Zidan enggak kesekolah lagi?" tanya Amir sedikit terkejut.
"Ya Allah, saya minta maaf ya pak, nanti saya akan ngomong sama dia,"
"Baik, terima kasih,"
Amir yang sedang mengerjakan tugas dikantin merasa kebingungan harus mencari Zidan kemana, dia juga tidak ingin memberitahu Adam maupun Rayya, karena pasti mereka sangat khawatir.
"Zidan bolos lagi Mir?" tanya Ilyas, Amir mengangguk.
"Anak itu emang harus dikasih pelajaran," ucap Ilyas kesal.
"Yas, aku minta jangan kasih tau ayah sama ibu ya, terus jangan kasih tau Om sama tante juga,"
"Lho, kenapa? biar aja mereka tahu, biar mereka kasih pelajaran buat anak tengil itu,"
"Jangan, aku enggak mau mereka ribut lagi, aku akan cari Zidan nanti sampe ketemu,"
"Hah, Amir-Amir, kamu ini polos apa bodoh sih," Ilyas menghela nafas mendengar penjelasan Amir.
__ADS_1
Amir hanya tersenyum dan berpamitan untuk mencari keberadaan Zidan, dia meninggalkan tugasnya kepada Ilyas dan memintanya memberikan kepada dosen.
Saat Ilyas akan memberikan tugas milik Amir, tiba-tiba dia bertabrakan dengan Aini hingga membuat tugas milik Amir berantakan begitu juga dengan buku-buku yang dipegang Aini, semua jatuh dilantai.
"Ya Allah, maaf ya, aku enggak sengaja," ucap Ilyas sambil membereskan buku milik Aini.
"Iya, enggak apa-apa, aku juga salah, jalan enggak liat-liat,"
Ilyas memberikan buku-buku itu kepada Aini, Aini menerimanya sambil terus menundukkan kepala, membuat Ilyas penasaran ingin melihat wajahnya.
Belum sempat Ilyas bicara, Aini buru-buru pergi, Ilyas hendak mengejarnya tapi tugas Amir lebih penting.
"Hah, nanti aja deh, tapi sebenernya kapan lagi ada kesempatan buat ngobrol sama Aini," gumam Ilyas.
***
Sementara itu, setelah mencari Zidan disemua tempat, Akhirnya Amir melihatnya sedang berkumpul disebuah rumah tua yang sudah hampir roboh, mereka sedang tertawa-tawa dengan minuman dihadapan mereka.
Amir langsung mendekati mereka dan mengancam akan melaporkan mereka ke polisi jika mereka tidak membubarkan diri, mendengar ancaman itu, akhirnya mereka semua pergi kecuali Zidan.
"Ayok pulang," Amir memegang lengan Zidan.
"Apa-apaan sih, ikut campur aja, malu-maluin gue tau enggak,"
"Malu sama siapa? malu sama temen kamu? malu sama Allah Zidan, kasian ibu sama ayah,"
"Enggak usah ceramah pak ustadz, ini bukan masjid, ini rumah hantu tau enggak,"
"Iya, dan sekarang hantu-hantu itu bersarang dibadan kamu, ayok pulang,"
"Enggak usah sok jadi kakak buat gue, gue enggak sudi punya kakak kayak loe,"
"Terserah kamu, Dan, kalo kamu enggak mau pulang, biar aku laporin ke ibu dan ayah, biar kamu dikirim ke pesantren," ucap Amir sedikit mengancam.
"Itu mah maunya loe gue ke pesantren, biar loe bisa kuasain semua milik gue, iya kan?"
Amir mengabaikan semua ucapan Zidan dan menyeretnya masuk kedalam mobil, Zidan yang setengah sadar tidak bisa melakukan apa-apa, dia berjalan mengikuti langkah Amir dengan tubuh lunglai.
"Sampe rumah, kamu masuk kamar terus tidur, nanti aku bilang sama ibu kalo kamu sakit," jawab Amir.
"Terserah, heh, loe belum pernah minum kan? coba deh sekali aja,"
"Udah, aku udah minum, ini," Amir memberikan sebotol air mineral kepada Zidan, Zidan tersenyum sinis hingga akhirnya tertidur.
__ADS_1
Sesampainya dirumah, Amir langsung membawa Zidan kedalam kamarnya, kebetulan waktu itu Rayya sedang mengajar di TPA, sehingga dia tidak harus menyaksikan kejadian yang sangat memalukan itu.
"Kamu tidur aja, kalo perlu apa-apa aku ada diluar," ucap Amir sambil melepas sepatu Zidan yang masih terpasang rapi dikakinya.