
Sesampainya dirumah, Amir segera membawa masuk Zidan kedalam kamarnya diikuti oleh Rayya dan Adam.
Adam duduk disamping Zidan yang sedang berbaring, sadar akan hal itu, Zidan berbalik arah dan membelakanginya.
"Ibu, bisa tinggalin aku sendiri?" ucap Zidan.
"Tapi kamu terluka Zidan, biar ibu obatin luka kamu dulu ya?" jawab Rayya.
"Enggak usah bu, Zidan pengen sendirian,"
Adam yang mengerti kalau Zidan sedang marah kepadanya, segera mengajak Rayya dan Amir keluar, tapi Zidan memegang lengan Amir dan memintanya tetap disana.
"Mas disini aja, temenin aku," pinta Zidan, Amir mengangguk.
Rayya dan Adam duduk termenung diruang keluarga, mereka sedang berusaha berfikir bagaimana caranya menjelaskan kesalahpahaman kepada Zidan.
***
Sudah beberapa hari berlalu, beberapa hari itu juga Zidan tidak berbicara kepada Adam dan Rayya, sebagai seorang ibu, Rayya berusaha mengajaknya bicara tapi Zidan tetap mengabaikannya, dia hanya mau bicara kepada Amir.
"Amir, ibu minta tolong, kamu coba jelasin ya sama Zidan," ucap Rayya.
"Insya Allah bu, Amir akan usaha biar Zidan bisa faham,"
Rayya tersenyum dan mengusap kepala Amir, Amir berpamitan kepada orang tuanya untuk pergi kekampus sekaligus mengantar Zidan kesekolah.
"Dan, kamu mau sampe kapan diemin ibu sama ayah?" tanya Amir.
"Enggak tau mas, gue masih enggak terima ayah ngeduain ibu," jawab Zidan.
"Tapi ibu udah enggak permasalahin itu kan? ibu bahkan nerima tante Ira?"
"Nah, itu yang gue enggak suka, ibu itu terlalu pasrah diduain, sampe-sampe ayah punya anak dari perempuan lain," jawab Zidan semakin kesal.
"Itu karena ibu..."
"Cukup mas, gue enggak mau denger, udah gue turun disini aja,"
"Tapi ini masih jauh,"
"Enggak apa-apa,"
Amir menghentikan mobilnya dan Zidan keluar dari mobil, dia melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki hingga akhirnya sampai disekolah.
Sesampainya disana, Zidan disambut hangat oleh Rezi, Rezi membawakannya minuman dan makanan kecil, Rezi yang sedikit cerewet terus mengajak Zidan bicara.
"Loe bisa diem enggak? Gue pusing denger omongan loe?" ucap Zidan tiba-tiba.
"Oh, iya udah, gue minta maaf deh, ya udah dimakan," jawab Rezi.
__ADS_1
"Enggak perlu, oh iya, gue kasih tau sama loe ya, mulai sekarang, loe enggak usah deket-deket sama gue, anggep aja kita enggak pernah kenal,"
"Loe kenapa Zidan? Gue punya salah apa sama loe?"
"Loe enggak salah, tapi nyokap loe yang salah, dan karena nyokap loe, gue jadi benci sama loe!"
Zidan bicara dengan suara yang sedikit keras, sehingga semua temannya yang berada disana langsung beralih memperhatikan mereka, Rezi yang selalu berfikir positif mencoba mengalihkan pandangan temannya.
"Enggak apa-apa kok, jangan peduliin kita berdua, kita cuma bercanda," ucap Rezi dengan menunjukkan senyumannya.
Zidan yang kelihatan sangat tidak menyukai Rezi, segera pergi keluar dan menjatuhkan bangku yang dilewatinya, Rezi hanya terdiam ditempatnya masih tidak mengerti apa yang terjadi.
***
Setelah pulang kerumah, Rezi nampak murung, wajahnya terlihat masam sampai-sampai mengabaikan Ira yang mengajaknya bicara.
Ira yang khawatir melihat perilaku putranya yang tidak biasa itu, mencoba mendekatinya dan mengajaknya bicara.
"Kamu kenapa Zi? kamu sakit?" tanya Ira.
"Oh, enggak kok Ma, aku baik-baik aja," jawab Rezi.
"Terus kenapa kamu diem dari tadi? kamu ada masalah? ayuk cerita sama ibu,"
"Enggak Ma, aku cuma capek aja, ya udah, aku mau istirahat dulu ya,"
Rezi mencium pipi Ira dan pergi meninggalkannya, Rezi masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat.
***
Ira yang mendadak mendapat tugas, pergi menuju kantornya dan meninggalkan Rezi, dia hanya menyiapkan makanan diatas meja supaya Rezi bisa memakannya nanti.
Saat dalam perjalanan, Ira melihat Amir yang sedang berdiri disamping mobilnya dengan bagasi yang terbuka, Amir terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Ehm, mobil kamu kenapa?" tanya Ira.
"Oh, tante, ini mobil aku mogok," jawab Amir.
"Kamu mau kemana? Biar tante anterin ya,?"
"Enggak usah tante, ini aku udah nelephon montir,"
"Jalanan sebentar lagi macet lho, bisa aja montirnya dateng telat, ayuk masuk,"
Amir diam sejenak, Dia terlihat bingung harus ikut atau tidak.
Ikut enggak ya? Tapi kalo enggak, aku bisa terlambat kekampus? Pak dosen sih ngasih tugas dadakan gini. Batin Amir.
"Ayuk masuk,"
__ADS_1
Suara Ira menyadarkan Amir dari lamunannya, Amir yang memang sedang terburu-buru, terpaksa masuk kedalam mobil Ira.
Amir yang sedari tadi memperhatikan wajah Ira, mencoba bicara kepadanya agar suasana menjadi nyaman.
"Tante, maaf, kalo boleh tau, apa tante ada masalah?" tanya Amir sedikit gugup.
"Iya, tante lagi mikirin anak tante, dari pulang sekolah dia diem terus, tante bingung,"
"Mungkin dia lagi capek tante,"
"Dia sih bilangnya gitu,"
"Emang anak tante umur berapa?"
"18 tahun, dia kelas 2 SMA,"
"Oh, yang waktu jemput tante naik motor itu anak tante, siapa namanya?" Amir semakin banyak bicara.
"Rezi, Akmal fahrezi, bagus kan namanya?"
Mendengar jawaban Ira, Amir benar-benar terkejut, Akhirnya dia tahu kalau wanita yang membantunya menyelesaikan masalah Zidan adalah Ira.
Amir terlihat sedang terkesima, dia terus menatap wajah Ira yang tatapannya tetap fokus pada jalanan didepannya.
"Kamu kenapa? kok diem?" tanya Ira.
"Tante Ira?"
Mendengar ucapan Amir, Ira menghentikan mobilnya secara mendadak hingga hampir menabrak mobil lain yang ada didepannya.
"Kamu? kamu siapa? kenapa tau nama tante?" tanya Ira.
"Aku Amir tante, anak angkat ayah Adam dan ibu Rayya, tante enggak kenal aku?"
Ira semakin terkejut, dia ikut memperhatikan wajah Amir, dan tiba-tiba dia memeluknya dengan erat, Amir juga membalas pelukan itu.
Suasana haru terjadi saat itu, Mereka akhirnya mencari tempat yang nyaman untuk saling bicara dan bercerita tentang semua yang terjadi selama 17 tahun.
"Amir, jangan cerita soal tante sama ayah dan ibu kamu ya?" pinta Ira.
"Lho? Emang kenapa tante? kalo mereka tau, pasti mereka juga seneng? Apalagi ibu, dia udah tau kalo Rezi anak tante,"
"Gimana ibu kamu bisa tahu? Apa Rezi udah cerita tentang tante?"
Amir menggelengkan kepalanya dan mulai bercerita apa yang terjadi kemarin malam, Ira merasa kalau Adam bersalah karena tidak mengatakan terus terang tentang Rezi kepada Zidan.
"Pasti sekarang Zidan berfikir buruk tentang mas Adam," gumam Ira.
"Waktu tante rekam video itu, apa tante tau kalo Zidan anak ayah dan ibu?"
__ADS_1
"Enggak, gimana tante bisa tau, sama kamu aja tante enggak kenal," jawab Ira dengan senyuman.
Mereka berbincang cukup lama hingga tidak sadar kalau mereka sudah terlambat pergi ketempat tujuan masing-masing, Mereka pergi dengan sangat terburu-buru.