
Sesampainya di hotel, Adam menceritakan permintaan Ira kepada Ali, Ali yang belum berpengalaman tentang hubungan asmara, tidak bisa memberi nasehat apa-apa, dia takut nasehat yang akan dia berikan malah menjerumuskan sahabatnya itu kejalan yang salah.
Setelah berfikir cukup lama, Akhirnya Adam mengambil keputusan, dia bertekad akan mengatakan sejujurnya kepada Ira walaupun dia tau pasti kalau Ira pasti akan sangat syok dan itu bisa berpengaruh pada kesehatannya.
Kalo sampai Ira kenapa-kenapa, dan aku dipenjara seumur hidup atau bahkan dihukum mati, biarkan sajalah, yang penting aku harus jujur. Batin Adam.
Sehari kemudian, Adam kembali datang menemui Ira dan mengajaknya untuk bicara berdua saja, dengan senang hati, Ira menuruti permintaan Adam.
"Ira, aku mau ngomong jujur sama kamu, tapi sebelumnya aku mau kamu siapkan hati kamu,"
"Iya, aku siap, ngomong aja mas, aku akan dengerin,"
"Sebenarnya, aku ini bu... bu... bukan..."
"Aww... Dadaku sesak mas, sakit,"
Tiba-tiba Ira merasa kesakitan, dia terus memegang dadanya mencoba menahan rasa sakitnya sampai akhirnya Ira jatuh pingsan tak sadarkan diri dan segera dilarikan kerumah sakit, Bu Siti mulai bertanya apa yang sebenarnya terjadi, Dengan suara lembut, Adam menceritakan segalanya.
"Sekarang kamu lihat, kamu belum ngomong aja keadaannya sudah buruk, gimana kalo sampai kamu ngomong jujur, kamu mau bener-bener bunuh Ira?" ucap bu Siti membentak, Adam hanya terdiam.
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan dan meminta mereka untuk masuk keruangannya, dokter kembali mengingatkan untuk tidak membuat Ira syok, karena jantungnya masih sangat lemah dan berisiko.
Beberapa jam kemudian, Ira siuman dari pingsannya, matanya terbuka dan dilihatnya sosok kedua orang tuanya, pandangannya terus menjelajah kesegala arah seperti mencari sesuatu.
"Kamu cari siapa Ra?" tanya bu Siti.
"Mas Ilham kemana bu? Kenapa dia enggak disini?" tanya Ira.
Bu Siti meminta pak Tejo memanggil Adam yang sedang duduk diruang tunggu bersama Ali yang baru saja datang. Adam masuk kedalam ruangan disambut dengan senyuman Ira.
"Mas, kayaknya hidup Ira enggak lama lagi, Ira pengen banget sebelum Ira pergi, Ira sudah jadi istri mas Ilham, mas, Ira mohon nikahi Ira, Ira bener-bener sayang sama mas Ilham," ucap Ira lirih dengan air mata menetes dari sudut matanya.
Bu Siti ikut menangis mendengar ucapan Ira, Dengan berat hati dan rasa bersalah didalam hatinya kepada Rayya, terpaksa Adam harus meng 'Iya' kan permintaan Ira, Ali yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa memejamkan matanya.
Dua hari kemudian ijab kabul pun dilakukan dirumah Ira, Ali menjadi saksi dari pihak Adam, Pernikahan hanya dihadiri keluarga terdekat saja dengan pesta kecil-kecilan, Adam menghela nafas panjang dan memeluk Ali untuk menenangkan hatinya.
"Ikhlaskan Dam," ucap Ali.
Sementara itu dihari yang sama, Acara empat bulanan Laksmi pun sedang di gelar, Rayya merasa hatinya tidak enak, Dia terus terlihat bingung sepanjang acara, sesekali dia meletakkan ponselnya ditelinga mencoba menelphon Adam.
Mas, kamu kemana? Kenapa belum datang? kamu baik kan mas? jawab telephon aku mas, aku khawatir? aku takut terjadi hal buruk sama kamu mas.
Beberapa hari sudah berlalu, sejak acara itu Adam belum juga menghubungi Rayya, Rayya terus mencoba menelephonnya tapi tidak ada jawaban, Laksmi yang kebetulan datang berkunjung ke rumah Rayya mencoba menenangkannya dengan terus mengajaknya berbincang.
__ADS_1
Karena sudah tidak sanggup menahan rasa penasarannya, akhirnya Rayya memutuskan menghubungi Ali.
"Assalamualaikum," sapa Ali.
"Waalaikumsalam, Li,"
"Iya ini Ali, Rayya ya? tumben nelephon kesini, ada apa?"
"Adam kemana? kenapa enggak jawab telephon saya?"
"Oh Adam, ada dirumah is..." Ali menghentikan ucapannya dan menepuk-nepuk bibirnya karena hampir mengatakan rahasia tentang Adam.
"Is? is apa?" tanya Rayya penasaran.
"Dirumah Iskandar, klien baru," jawab Ali.
"Kalo dia pulang, suruh telephon ya?"
"Oke..."
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Baru saja Ali menutup telephonnya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Rupanya Adam yang datang, Ali memberitahunya kalau Rayya baru saja menelephon, Adam yang cemas langsung men-charger ponselnya yang kehabisan baterai sejak hari pernikahan.
"Emang beneran abis batere kok, enggak usah aneh-aneh deh," jawab Adam.
"Gimana rasanya jadi penganten baru lagi Dam?"
"Diem kamu Li, enggak ada rasa apa-apa,"
"Hm, masa sih?"
"Aku natap mata dia aja enggak sanggup Li, gimana aku mau ngapa-ngapain, aku terus inget Rayya Li, dan aku udah janji sama diri sendiri, kalo aku enggak akan nyentuh Ira sedikitpun," jawab Adam.
"Istigfar Dam, jangan ngomong gitu, enggak baik, biar gimanapun Ira juga istri sah kamu,"
"Enggak tau ah,"
Adam menyalakan ponselnya yang baru terisi 10 persen, Dia langsung menekan nomor Rayya.
Adam dan Rayya berbincang seperti anak baru gede yang dilanda asmara, Sejenak Adam melupakan kalau dia mempunyai istri lain, Dia mencurahkan semua kerinduannya kepada Rayya yang terus memintanya untuk pulang.
__ADS_1
"Iya sayang, aku besok pulang, aku janji," ucap Adam.
"Serius ya mas, aku tunggu lho,"
"Iya sayang, mau oleh-oleh apa?"
"Kamu pulang sehat dan selamat aja udah oleh-oleh buat aku mas,"
"Masya Allah, subhanallah, istri sholehahku, aku janji akan pulang lewat penerbangan pertama,"
"Iya mas,"
Setelah dua jam berbincang, Mereka saling menutup telephon, Adam membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur Ali, sedangkan Ali sedang mengerjakan tugasnya melalui laptopnya.
"Dam, kamu enggak kefikiran buat minta Ira pake hijab?" tanya Ali.
"Aku enggak akan nyuruh-nyuruh dia pake hijab, itu terserah dia aja,"
"Kamu enggak minta dia buat ganti pakaian muslim gitu?"
"Kita baru nikah dua hari, buat apa aku nyuruh dia ini itu,"
"Pernikahan kalian bakal lama enggak kira-kira?"
"Semua atas izin Allah, aku enggak bisa nentuin nasib,"
"Hmm, iya iya, aku ngerti,"
"Harus,"
Ali menoleh ke arah Adam yang sedang memainkan ponselnya, jari jemarinya sedang asyik menghapus foto-foto pernikahannya dengan Ira, sampai tidak ada satupun yang tertinggal.
"Kenapa kamu hapus Dam?"
"Kamu cerewet Li, aku mau tidur,"
"Tidur? emang semalem kamu enggak tidur? begadang? waduhh..."
"Iya begadang, aku takut bersentuhan sama Ira, puas kamu, udah diem,"
"Haha..."
Adam memejamkan matanya dan langsung terlelap, tidurnya sangat nyenyak sampai menimbulkan suara mendengkur, Ali yang merasa tidak nyaman karena suara bising langsung pindah tempat menjauh dari Adam.
__ADS_1
Tapi suara bising kembali dia dengar, Ali mencoba mencari sumber suara itu yang ternyata berasal dari ponsel Adam, rupanya kali ini Ira yang menghubunginya.
"Adam-Adam, kasihan banget kamu, kamu bukannya bahagia punya istri dua, ternyata malah susah, kenapa dulu aku sempet ya pengen punya istri dua? mungkin karena itu Allah belum kasih aku jodoh," gumam Ali.