Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Rayya berusaha tegar.


__ADS_3

Satu minggu sudah Adam berada di Semarang, satu minggu itu juga Rayya menunggu kabar darinya, Rayya ingin tahu apakah Adam akan mengajak Ira ke Jakarta atau tidak setelah Ira menjadi yatim piatu.


Sebenarnya Adam sendiripun bingung untuk menentuka keputusannya, dia ingat kalau dia sudah berjanji kepada Rayya tidak akan membawa Ira untuk tinggal bersama mereka.


"Tapi kasihan Ira, Dam, dia lagi hamil, terus enggak punya siapa-siapa disini," ucap Ali.


"Terus, aku harus gimana?"


"Bawa aja dia ke Jakarta, terus kamu carikan dia rumah sewa,"


Adam terdiam sejenak mendengar ucapan Ali, tapi mungkin dengan cara itu, dia bisa terus dekat dengan Rayya tanpa harus bolak balik Jakarta-Semarang.


Beberapa hari kemudian, Adam kembali ke Jakarta, dia segera menemui Rayya yang sudah nampak baik-baik saja.


"Gimana Ira mas, sehat?" tanya Rayya.


"Alhamdulillah, sehat, Rayya aku mau ngomong sama kamu," jawab Adam.


"Soal apa? Soal kamu bawa Ira ke Jakarta?"


"Gimana kamu tahu?"


"Enggak ada pilihan lagi buat kamu mas, selain kamu bawa dia ke Jakarta, kamu bilang dia enggak punya siapa-siapa lagi kan selain orang tuanya, enggak mungkin kan kamu tega tinggalin dia sendirian saat dia lagi hamil?"


"Hm, kenapa kamu sangat mengerti aku Rayya, tapi aku sendiri enggak bisa ngerti kamu, ini bikin aku nambah merasa bersalah sama kamu, maafkan aku Rayya,"


"Udahlah mas, jangan dibahas lagi, Ayok makan dulu, abis ini aku mau berangkat ke TPA,"


Adam dan Rayya sarapan bersama seperti biasanya bagai tidak terjadi apa-apa, Seperti sebelumnya Rayya selalu tersenyum hangat kepada Adam yang sejak tadi terus menatapnya.


Setelah sarapan Adam berangkat kekantornya sementara Rayya berangkat k TPA untuk mengajar anak-anak mengaji, Sesampainya disana Rayya disambut dengan hangat oleh semua muridnya mereka bersalaman dengan tertib.


"Lusa di TPA kita akan kedatangan tamu dari pesantren Al-Muhajirin, ustadzah minta semuanya dateng ya, Oh iya jangan ajak juga ayah dan ibu kalian," ucap Rayya.


"Baik ustadzah,"


"Habib, tolong bagikan undangannya,"


"Siap ustadzah,"


Setelah undangan dibagikan, Rayya mulai mengajar mereka, satu persatu murid maju kedepan untuk menyetor hafalan mereka yang sudah ditugaskan Rayya beberapa hari yang lalu.


Pelajaran dilakukan selama dua jam, Setelah murid-murid pulang kerumah masing-masing, Rayya juga bersiap untuk segera pulang.


"Ustadzah, apa ustadzah baik-baik aja?" tanya Aisyah, gadis remaja yang ikut membantu Rayya mengajar di TPA.


"Alhamdulillah, aku baik kok, kenapa? Kok kamu nanya gitu?" jawab Rayya.


"Hm, maaf ustadzah, aku pengen nanya satu hal sama ustadzah, boleh?"

__ADS_1


"Boleh, tanya aja,"


"Tapi sebelumnya aku minta maaf ya ustadzah, kalo pertanyaanku nanti bikin ustadzah tersinggung,"


"Soal apa, coba ngomong?"


"Hm, apa bener ustadz Adam menikah lagi? terus, apa ustadzah nerima dipoligami?"


Sejenak Rayya diam setelah mendengar pertanyaan Aisyah, Hal itu membuat Aisyah tidak enak hati dan merasa kalau dia sudah melakukan kesalahan dengan pertanyaannya.


"Maaf ustadzah, maaf, enggak usah dijawab," ucap Aisyah.


"Kenapa aku enggak boleh jawab, aku bisa jawab kok, Hm, iya ustadz Adam menikah lagi,"


"Terus, apa ustadzah nerima gitu aja? Ustadzah enggak marah gitu?"


"Awalnya aku marah, hatiku sakit, aku juga kecewa, tapi mau di apakan lagi kalo udah terjadi, pernikahan bukan mainan, enggak mungkin aku minta mereka berpisah,"


"Ya Allah ustadzah, semoga ustadzah selalu bahagia ya, dan selalu diberi kekuatan sama Allah,"


"Aamiin, ya udah, yuk pulang,"


Rayya dan Aisyah pulang bersama, kebetulan rumah mereka satu arah sehingga selama dalam perjalanan Rayya ada teman untuk berbincang.


Setelah sampai dirumahnya, Rayya melihat ada sebuah mobil terparkir dihalaman, tapi itu bukan mobil Adam, Musa atau mertuanya.


"Assalamualaikum, Rayya,"


"Waalaikumsalam, Ali, kamu dari tadi? Tapi mas Adam enggak ada dirumah," jawab Rayya.


"Aku enggak mau ketemu Adam, tapi aku mau ketemu kamu, Rayya aku minta maaf, sebenernya aku tau soal pernikahan Adam dan Ira, tapi aku enggak bilang sama kamu, kalo aku bilang dari awal, mungkin semua ini enggak akan terjadi, mungkin kamu dan yang lainnya bisa mencegah pernikahan itu," ucap Ali mencoba menjelaskan.


"Kamu kesini cuma mau bilang itu? Masya Allah Ali," jawab Rayya dengan senyuman.


"Kamu enggak marah sama aku?"


"Hm, buat apa aku marah, semua udah terjadi, sekarang aku udah bisa terima semuanya, aku cuma bisa minta sama Allah supaya aku diberi kesabaran dan kekuatan,"


"Alhamdulillah, terima kasih Rayya, beruntungnya Adam punya istri kayak kamu,"


"Alhamdulillah,"


"Oh iya, tadi itu siapa yang sama kamu?"


"Oh, itu Aisyah, dia ngajar di TPA,"


"Oh, ya udah kalo gitu, aku pamit ya, sekali lagi aku minta maaf dan terima kasih sama kamu Rayya, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"

__ADS_1


Ali masuk kedalam mobilnya dan pergi setelah berpamitan, Rayya juga masuk kedalam rumahnya, Baru saja beberapa langkah, Rayya mendengar suara ponsel berdering, dilihatnya ponsel Adam yang berada diatas meja, banyak panggilan dan beberapa pesan yang masuk.


"Ira, Ira, dan Ira juga, Hm, kenapa dia nelephon mas Adam sebanyak ini?" gumam Rayya.


Rayya meletakkan ponsel Adam kembali diatas meja, tapi ponsel itu kembali berdering, ternyata itu panggilan dari Ira.


"Assalamualaikum," ucap Rayya.


Tutt... tutt...


Panggilan itu berakhir begitu saja tanpa ada jawaban.


"Kenapa dengan Ira?" gumam Rayya.


*Disisi lain.


"Aduh, kenapa Rayya yang angkat telephonnya, mas Adam kemana sih?" gumam Ira.


Ira yang penasaran karena tidak ada kabar dari Adam, mencoba menghubungi Ali yang masih dalam perjalanan menuju kantor.


"Assalamualaikum," ucap Ali.


"Li, kamu lagi sama mas Adam?" tanya Ira.


"Enggak, aku lagi dijalan," jawab Ali sedikit ketus.


"Kalo kamu sama dia, suruh dia telephon aku ya,"


"Iya,"


Ira mengakhiri panggilannya dengan Ali, Ali yang terkejut karena Ira memutus panggilan begitu saja langsung menatap layar ponselnya.


"Assalamualaikum, bukannya bilang gitu, malah maen matiin aja, bener-bener beda sama Rayya," gumam Ali.


Setelah perjalanan selama 30 menit, akhirnya Ali sampai dikantor, dia langsung masuk kedalam ruangan Adam dan memberitahu kalau Ira menelephonnya, tapi Adam tidak merespon dan hanya fokus pada berkas-berkas yang ada ditangannya.


"Rayya sama Ira beda jauh ya Dam, Rayya sopan banget, sabar, cantik luar dalam, kalo Ira, nelephon enggak pake salam, asal matiin aja lagi," ucap Ali.


"Jangan berani lirik istri orang, dosa," jawab Adam.


"Astagfirullah, maaf-maaf,"


"Nih, kerjain berkas ini, habis itu cepet balik ke Semarang," ucap Adam sambil menyerahkan setumpuk berkas dengan ratusan halaman.


"Kerjaan lagi, enggak bisa apa kamu kasih aku istirahat sebentar,"


"Enggak bisa, udah sana,"


"Berkas banyak gini pasti selesainya dua bulanan," jawab Ali sambil melangkah pergi meninggalkan Adam.

__ADS_1


__ADS_2