
Setelah kembali dari TPA, Rayya segera kedapur untuk menyiapkan makan siang, tapi saat membuka lemari es, ternyata semua bahan makanan sudah habis, Rayya memutuskan untuk pergi kepasar.
Untuk menghindari kemacetan, Rayya menggunakan motornya, Saat dalam perjalanan Rayya melihat Aisyah yang tengah berjalan dibawah panasnya terik matahari.
"Assalamualaikum, Aisyah mau kemana?"
"Waalaikumsalam, Eh ustadzah, aku mau kepasar,"
"Kebetulan, aku juga mau kepasar, yuk naik,"
"Tapi ustadzah, apa enggak ngerepotin?"
"Kita kan mau ketempat yang sama, kenapa harus repot,"
Aisyah tersenyum dan naik keatas motor Rayya, setelah mereka sampai dipasar, Rayya dan Aisyah pergi ketoko yang berbeda dan akan bertemu kembali ditempat sebelumnya.
Saat Rayya sedang memilih sayuran, tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara keributan, Rayya yang penasaran segera melihat apa yang terjadi, ternyata disana terlihat sosok wanita muda yang tengah berdebat dengan seorang pedagang.
"Assalamualaikum, ada apa ini?" tanya Rayya.
"Waalaikumsalam, Eh ustadzah, ini perempuan ini, udah dikasih harga murah masih aja nawar, saya bisa rugi dong," ucap pedagang itu sambil menunjuk kearah perempuan muda itu.
"Sayurannya kan udah hampir layu, boleh donk saya tawar," ucap perempuan itu.
"Heh, saya juga jualan pake modal ya, enak aja kamu,"
"Masya Allah, udah jangan ribut, malu diliat orang, ya udah kamu ambil aja sayuran mana yang mau kamu beli, nanti aku yang bayar," ucap Rayya.
"Enggak usah, aku udah enggak butuh," jawab perempuan itu sambil berjalan pergi.
"Mbak, tunggu dulu," Rayya mengejar perempuan itu.
Rayya dan perempuan itu berhenti dipedagang yang sama, Rayya memberikan sayuran yang dibelinya kepada perempuan itu, awalnya perempuan itu menolak tapi dengan kata-kata lembutnya akhirnya Rayya bisa melunakkan hatinya.
"Terima kasih,"
"Sama-sama, siapa nama kamu?" tanya Rayya.
"Hm, Ria, Iya, namaku Ria," jawab perempuan itu dengan sedikit ragu-ragu.
"Oh, kamu tinggal dimana?" Rayya mencoba bercakap-cakap dengan Ria yang terlihat masih sangat canggung bertemu dengan orang yang baru dikenal.
Tapi Rayya terus berusaha membuat suasana menjadi nyaman sampai akhirnya mereka bisa bicara banyak hal, Aisyah yang sudah mendapatkan semua barang belanjaannya mendekati Rayya yang sedang berbincang dengan Ria.
__ADS_1
Rayya memperkenalkan Aisyah kepada Ria.
"Kamu lagi hamil?" tanya Aisyah tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan Aisyah itu, Ria menutupi perutnya dengan tas belanjaannya sementara Rayya menatap Ria sambil tersenyum.
"Emang kenapa kalo dia hamil, dia udah menikah kok," sahut Rayya.
"Hm, berapa bulan?" tanya Aisyah lagi.
"Aisyah, kenapa kamu pengen tau banget sih, udah yuk pulang, Ria, aku pulang dulu ya, kapan-kapan main kerumah," ucap Rayya, Ria hanya mengangguk.
"Assalamualaikum,"
Rayya dan Aisyah pergi meninggalkan Ria yang masih belum selesai dengan belanjaannya.
Setelah sampai dirumah, Rayya segera mengolah bahan makanannya, dan menyiapkannya diatas meja sambil menunggu Adam yang akan pulang makan siang dirumah hari ini.
Jam menunjukkan pukul 11.30, Waktunya istirahat bagi pegawai kantor Adam, Adam yang sudah berjanji pada Rayya, segera pulang kerumah dan makan siang bersama, Tidak terasa waktu makan siang berlalu begitu cepat dan suara adzan zuhur mulai berkumandang, Rayya dan Adam melaksanakan sholat berjamaah seperti yang biasa mereka lakukan.
"Rayya, kamu enggak apa-apa kan?" tanya Adam saat sudah selesai sholat.
"Emang aku kenapa mas?"
"Emang enggak boleh kalo aku bahagia?"
"Bukan, bukan gitu, aku cuma,"
"Hm, jangan gugup gitu mas, aku cuma bercanda,"
Adam merasa lega saat mendengar jawaban Rayya, sebenarnya Adam masih takut kalau dia akan kembali menyakiti hati Rayya, Tapi sepertinya sekarang semua baik-baik saja, Tidak ada yang perlu Adam khawatirkan.
"Malam ini, aku..."
"Malam ini waktunya kamu kerumah Ira, aku udah siapin baju kamu,"
"Rayya...."
"Kenapa? Aku tahu mas, udah jangan fikirin aku ya, jaga Ira dan bayinya,"
Adam memeluk Rayya dan mencium keningnya, tanpa disadari air matanya mengalir dari sudut matanya, begitu juga dengan Rayya yang masih berusaha untuk tegar dengan keadaan.
Adam kembali kekantor dengan pakaian yang sudah disiapkan oleh Rayya, Langkahnya terasa berat saat harus meninggalkan Rayya sendirian dirumah, tapi Rayya kembali meyakinkan Adam membuat Adam luluh.
__ADS_1
Malam sudah tiba, Adam kini berada dirumah bersama Ira, tapi suasana terlihat canggung, mereka duduk dikursi yang sama tapi tidak bicara apa-apa, sampai akhirnya Ira membuka suara.
"Mas, kalo kamu malas disini, kamu pulang aja," ucap Ira.
"Kenapa?"
"Buat apa kamu disini, kalo kamu cuma sibuk sama laptop dan kerjaan kamu, aku ini istri kamu juga mas, aku mau diperlakukan sama kayak mbak Rayya," ucap Ira dengan suara tinggi.
"Emang kamu tahu gimana aku perlakukan Rayya? Apa kamu udah pernah ketemu Rayya?"
"Mas, kamu..."
"Aku sedang berusaha untuk adil, tapi maaf Ira, hatiku enggak bisa mencintai kamu, walaupun kamu berusaha seperti apapun, hatiku tetap milik Rayya,"
"Terus, kenapa kamu nolak pisah sama aku?"
"Demi bayi itu,"
"Hah,"
Ira nampak kesal dengan jawaban Adam, dia mendudukan tubuhnya dengan kasar diatas kursi, tapi Adam tetap mengabaikannya dan kembali fokus pada layar laptopnya.
"Aku masih enggak percaya, kalo waktu itu kita ngelakuin hubungan itu," ucap Adam.
"Maksud kamu apa? Maksud kamu anak ini bukan anak kamu?"
"Enggak, aku enggak bilang gitu, udahlah aku mau tidur,"
Adam menutup laptopnya dan pergi meninggalkan Ira untuk menuju kekamarnya, Ira yang masih sangat kesal tetap duduk ditempatnya sambil terus mengganti chanel tv tanpa tujuan.
Ira mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang, dia bicara sampai satu jam tanpa sepengetahuan Adam.
Sementara itu saat tengah malam, Rayya bangun dari tidurnya, dia mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tahajud, Dia selalu berdoa supaya diberi keberkahan untuk pernikahannya.
Begitu juga dengan Adam, Adam menjalankan sholat tahajud dan berdoa supaya Allah memberinya jalan terbaik dan memberinya kesabaran juga mendoakan Rayya supaya kelak menjadi penghuni surga.
Ira yang mendengar doa Adam, Hanya bisa memandangnya dari balik selimut, Terkadang Ira merasa bersalah dan berdosa kepada Rayya, tapi dia juga sangat menginginkan Adam untuk menjadi suaminya selamanya, Keinginannya itu berhasil mengalahkan rasa bersalahnya hingga membuatnya tetap bertahan dan terus berusaha membuat Adam mencintainya.
Aku akan tetap berusaha buat dapetin hati kamu mas, apapun caranya aku enggak akan lepasin kamu. Batin Ira.
Disisi lain
Ali juga sedang menjalankan sholat tahajud, tapi sholatnya tidak khusu karena ada hal lain yang terus menguasai fikirannya, Berkali-kali Ali melakukan kesalahan, berkali-kali juga Ali mengulang sholatnya.
__ADS_1
"Ya Allah, setan apa yang merasuki fikiranku, Jauhkanlah aku dari fikiran yang buruk ya Allah, Aamiin," ucap Ali dengan suara nyaring.