
Hari sudah sore, Zidan yang sudah berada dirumah lebih dulu sedang bersiap-siap menuju masjid untuk menunaikan sholat ashar, Rayya yang melihat perubahan putranya itu benar-benar sangat bahagia.
Zidan terlihat semakin tampan dengan balutan baju koko, kain sarung dan peci hitam yang menghiasi kepalanya.
"Gimana bu, aku udah ganteng belum?" tanya Zidan.
"Masya Allah, anak ibu emang enggak ada duanya," puji Rayya.
Zidan tersenyum dan berpamitan kepada Rayya untuk berangkat ke masjid.
***
Zidan pergi dengan berjalan kaki, ditengah perjalanan, tidak sengaja dia melihat Rezi yang terlihat seperti orang bingung.
"Rezi, loe ngapain disini?" tanya Zidan.
"Ya Allah Zidan, rumah loe deket sini? gue bingung nih, kayaknya gue nyasar," jawab Rezi.
"Hah, nyasar? malu-maluin aja loe, emang loe mau kemana?"
"Gue abis beli kue ulang tahun buat nyokap gue, tapi gue salah jalan kayaknya,"
"Hm, ya udah, nanti gue anterin, sekarang udah ashar, ke masjid dulu yuk,"
Rezi merasa tenang setelah bertemu temannya, dia berjalan mengikuti langkah Zidan menuju masjid dan meninggalkan motornya disebuah warung kecil.
***
Setelah selesai melaksanakan sholat, Zidan mengajak Rezi mampir kerumahnya dan memperkenalkannya kepada Rayya, Rayya yang ramah menyambutnya dengan senang hati, dia menyuguhkan banyak makanan kecil untuk Rezi yang terlihat masih sangat canggung.
"Rezi satu kelas sama Zidan?" tanya Rayya.
"Iya tante,"
"Alhamdulillah, kamu tinggal sama siapa?"
"Sama mama dan papa, tapi udah dua bulan papa enggak dirumah," jawab Rezi.
"Lho, emang kemana papa kamu?"
"Beliau lagi pergi ke luar negeri tante,"
Sambil menunggu Zidan bersiap, Rayya terus mengajak Rezi berbincang hingga membuatnya nyaman, Hubungan keduanya terlihat semakin akrab layaknya orang tua dan anaknya.
"Waduh, ibu gue udah nyaman sama loe Zi, jangan rebut ibu gue ya," ucap Zidan bergurau.
"Ah, ada-ada aja, ya enggak lah," jawab Rezi.
Rezi berpamitan kepada Rayya dan segera pulang menuju rumahnya dengan diantar oleh Zidan.
__ADS_1
***
Sesampainya dirumah Rezi, kini Zidan yang disambut hangat oleh mama Rezi, Mama Rezi terlihat sangat modis, gayanya seperti seorang sosialita tapi tidak menutupi keramahannya.
Bahkan didinding rumah mereka berjejer banyak foto mama Rezi bersama anak-anak panti asuhan, Mama Rezi terlihat cantik difoto itu dengan busana muslimah yang menutupi tubuhnya.
Zidan memperhatikan semua foto itu satu persatu, sampai akhirnya matanya tertarik kepada sebuah bingkai kecil yang ada diatas meja.
"Kayaknya gue pernah liat foto ini? tapi dimana ya?" gumam Zidan.
"Itu foto gue masih bayi Dan, waktu acara akikah," sahut Rezi.
"Hm, kayaknya foto ini enggak asing, tapi gue lupa pernah liat dimana, padahal ini pertama kali gue kerumah loe," jawab Zidan.
"Udah, jangan difikirin, ayok bacain doa buat tante," ucap mama Rezi.
Rezi dan Zidan duduk disamping mamanya sambil mendoakan kebaikan untuk mama Rezi diusianya yang semakin bertambah, Rezi yang usianya lebih tua dari Zidan menjadi pemimpin doa.
"Udah hampir maghrib tante, saya pamit ya?" ucap Zidan.
"Kenapa buru-buru, nanti aja, biar makan malem disini ya,"
"Enggak usah tante, tadi saya pamit cuma bilang nganter Rezi aja, takut ibu nungguin,"
"Masya Allah, anak yang baik, ya udah hati-hati ya,"
"Iya tante,"
***
Malam sudah tiba, Seperti biasa keluarga Adam makan malam bersama, sambil berbincang dan membicarakan tentang pengalaman masing-masing hari itu, suasana terasa begitu hangat.
Setelah makan malam, Adam masuk kedalam ruang kerjanya, Zidan yang melihat dompet ayahnya tertinggal diatas meja segera mengembalikannya.
"Taruh diatas meja aja Dan," ucap Adam.
Zidan meletakkan dompet itu diatas meja, tapi tanpa sengaja dia menjatuhkan sebuah buku, dari dalam buku itu ikut terjatuh juga sebuah foto yang sama persis yang dia lihat dirumah Rezi.
"Ayah, ini foto siapa?" tanya Zidan.
"Hm, darimana kamu dapet foto itu?" Adam balik bertanya.
"Jatuh dari dalem buku,"
"Masukin kedalem buku lagi ya,"
"Tapi ini foto siapa yah? ini bukan foto akikah Zidan kan? foto akikah Zidan enggak begini,?" Zidan semakin penasaran.
Adam yang merasa putranya itu sedang emosi langsung menghentikan pekerjaannya, dia mendekati Zidan yang masih berdiri disamping meja sambil memegang foto itu.
__ADS_1
"Ini foto kakak kamu," ucap Adam.
"Kakak? kakak yang mana? Mas Amir kan diadopsi waktu umur 4 tahun?"
"Kakak kamu satu lagi, ini ibunya, namanya Ira,"
"Maksud ayah, ayah putra istri dua gitu? ayah selingkuh dari ibu?"
"Enggak, enggak gitu, biar ayah jelasin,"
Adam mulai menceritakan kisah cintanya bersama Rayya dan juga pertemuannya dengan Ira, tapi dia tidak menceritakan kalau bayi yang ada difoto itu bukanlah anak kandungnya.
"Siapa namanya? bayi ini?" tanya Zidan.
"Namanya Akmal, Akmal..."
"Fahrezi?" sahut Zidan.
"Darimana kamu tahu?"
"Oh, jadi ayah selingkuh sama mamanya Rezi, ayah ngeduain ibu buat dia, Zidan bener-bener enggak nyangka sama ayah,"
Zidan keluar dari dalam ruang kerja Adam dengan penuh amarah sambil membawa foto itu bersamanya, Adam berlari mencoba mengejarnya, Rayya yang melihatnya sangat terkejut dengan keributan yang terjadi antara ayah dan anak itu.
"Ada apa mas?" tanya Rayya.
Adam mengabaikan pertanyaan Rayya dan tetap mengejar Zidan yang ternyata sudah pergi bersama motornya entah kemana.
Rayya yang khawatir kembali bertanya kepada Adam, Adam menceritakan semuanya kepada Rayya, Rayya benar-benar terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka kalau siang tadi dia berbincang dengan Akmal, anak kandung Ira yang dia cari-cari.
"Rezi itu siapa?" tanya Adam.
"Rezi teman satu kelas Zidan mas, tadi siang dia kesini, tapi aku enggak kenal dia," jawab Rayya.
"Masya Allah, kayaknya aku buat Zidan salah paham lagi," keluh Adam.
"Apa bu, Rezi anaknya tante Ira?" sahut Amir yang baru keluar dari kamarnya karena mendengar keributan.
Rayya mengangguk, Entah apa yang dirasakan Rayya saat itu, antara sedih karena Zidan salah paham atau mungkin bahagia karena sudah menemukan Akmal yang hilang selama 18 tahun.
"Pantas, waktu pertama aku ketemu Rezi, aku ngerasa enggak asing sama wajahnya," lanjut Amir.
"Sekarang, lebih baik kamu cari Zidan, Mir, ibu takut dia kenapa-kenapa," pinta Rayya.
Amir mengangguk dan segera bergegas mencari Zidan, dia mencari kesemua tempat yang biasa Zidan datangi tapi hasilnya nihil.
Amir tidak menyerah begitu saja, dia bahkan meminta bantuan Ilyas ikut mencarinya, Dengan senang hati Ilyas segera ikut bersama Amir.
Ditengah perjalanan, mereka melihat sekumpulan anak muda yang sedang berkelahi, Amir dan Ilyas takut kalau Zidan terlibat didalamnya, namun ternyata benar, Zidan yang sedang mabuk sedang dipukuli beberapa orang yang dia ganggu.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan masalah itu, Amir membawa Zidan kedalam mobil sementara Ilyas mengendarai motor Zidan yang tergeletak ditepi jalan.