Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Awal sebuah keretakan.


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu sejak Adam pergi ke Semarang, Rayya yang terkadang merasa bosan berada di rumah mencari kegiatan lain dengan ikut mengajar anak-anak mengaji di TPA atau berkunjung ke rumah Laksmi dan Musa hanya untuk sekedar bermain dengan Ilyas yang sekarang sudah memasuki usia sekolah.


Kebahagiaan Laksmi dan Musa kini akan semakin sempurna, Karena tidak lama lagi Ilyas akan mempunyai seorang adik, Tapi ini menjadi kebalikan dari Rayya dan Adam yang masih belum juga ada tanda-tanda akan mempunyai anak.


"Rayya, kamu kok melamun?" tanya Laksmi sambil duduk disamping Rayya.


"Aku enggak apa-apa mba, mba gimana rasanya hamil?" tanya Rayya.


"Rasanya mual, males makan, kepala kadang pusing, Eh untuk apa mba jelasin, nanti juga kamu tau sendiri," jawab Laksmi.


"Entah kapan aku bisa ngerasain kayak mba," keluh Rayya.


"Kamu sudah periksa ke dokter?"


"Sudah mba, aku sama mas Adam sudah tiga kali ke dokter,"


"Terus, apa kata dokter? Semuanya bagus kan?"


"Alhamdulillah, semua bagus mba, aku sehat, mas Adam juga sehat, tapi enggak tau kenapa Allah belum kasih aku keturunan,"


"Sabar Rayya, mungkin Allah masih mau kalian menikmati bulan madu, Allah enggak tidur, pasti Allah sudah menentukan waktu untuk kalian punya anak," ucap Laksmi menasehati.


"Iya mba, Hm sudah sore mba, kayaknya aku harus pulang,"


"Lho, kenapa pulang? Menginap saja disini sekalian temani mba mu yang lagi manja itu," sahut Musa yang baru kembali dari dapur untuk mengambil minuman.


"Terima kasih mas, aku pulang aja, takut rumahnya hilang," gurau Rayya.


"Haha, ada-ada aja kamu, ya udah biar mas Musa antar kamu ya?"


"Enggak usah Mas, aku udah pesen taksi kok,"


"Oh iya udah kalo gitu, hati-hati ya,"


"Iya mba, Assalamualaikum,"

__ADS_1


"Waalaikumsalam,"


Rayya masuk kedalam taksi yang sudah menunggunya dan bersiap mengantarnya pulang, Selama dalam perjalanan, Rayya masih terus memikirkan ucapannya beberapa hari yang lalu kepada Adam tentang mengadopsi anak.


*Sementara itu di Semarang


Adam yang berada di hotel tempatnya menginap sedang duduk melamun dengan wajah datar tanpa senyuman, sepertinya Adam sedang di landa kecemasan, Fikirannya kacau dan tidak bisa berfikir jernih, terkadang dia menangis dan marah terhadap dirinya sendiri jika mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


Beberapa hari yang lalu.


Adam memasuki mobil untuk berangkat ke perusahaanya bersama Ali, karena dia sangat lelah hingga akhirnya dia bangun kesiangan, Karena sudah terlambat, Adam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Ali yang berada satu mobil dengannya sudah beberapa kali mengingatkan agar menurunkan kecepatan.


"Pelan-pelan Dam, kamu kenapa ngebut gini sih?" ucap Ali.


"Kita udah terlambat Li," jawab Musa.


"Emang kenapa kalo terlambat, kamu yang punya perusahaan Dam, udahlah jangan buru-buru,"


"Aku emang yang punya perusahaan, tapi aku enggak mau kasih contoh buruk buat semua karyawan,"


Sesuatu yang tidak terduga terjadi, Mobil yang dikendarai Adam mengalami tabrakan dengan mobil lain, Mobil itu rupanya membawa pasangan pengantin yang akan melakukan akad nikah.


Akibat kecelakaan itu, pasangan pengantin itu mengalami luka berat dan harus segera dilarikan kerumah sakit, Sang pengantin pria terpaksa harus menjalani operasi karena luka yang ada dikepalanya akibat benturan yang terjadi begitu keras, Sementara sang mempelai wanita masih mengalami koma.


"Maaf bu, puteri ibu sepertinya mengalami syok berat, tubuhnya tidak bisa digerakkan, dan satu hal lagi, akibat benturan yang cukup keras dikepalanya, puteri ibu mengalami amnesia," ucap dokter kepada bu Siti, ibu dari mempelai wanita.


Bu Siti menangis sejadi-jadinya dalam pelukan pak Tejo, suaminya, Dia benar-benar tidak menyangka hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan untuk puterinya malah berujung menyedihkan.


Ali yang hanya mengalami luka ringan, Tanpa sengaja mendengar percakapan kedua orang tua itu, Dia mencoba memberanikan diri menghampiri mereka untuk meminta maaf dan siap bertanggung jawab mewakili Adam yang masih terbaring di ruang perawatan.


"Sudah nak, jangan merasa bersalah begitu, ini semua kehendak Allah," ucap pak Tejo.


Ditengah kesedihan itu, Dokter kembali menghampiri mereka dan kali ini membawa kabar duka, dokter mengatakan kalau sang mempelai pria sudah meninggal pasca operasi, mendengar hal itu bu Siti semakin syok dan kembali menangis, dia yang merasa geram dan marah berjalan mendekati Ali dan menarik kerah bajunya.


"Kau dengar, calon suami anakku meninggal, terus kamu mau tanggung jawab apa, kamu bisa balikin nyawa dia? kamu bisa balikin ingatan anak saya?!" ucap bu Siti dalam kemarahan.

__ADS_1


"Sabar bu, kita bicarakan ini baik-baik ya, ini bukan waktunya buat marah-marah dan menyalahkan," ucap pak Tejo.


Ali yang masih berdiri ditempatnya hanya bisa terdiam menerima cacian dari bu Siti, dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Tanpa mereka sadari, Adam yang ternyata sudah siuman mendengar percakapan dan kemarahan itu, Dia merasa sangat bersalah atas semua yang terjadi, tapi tiba-tiba dokter dan beberapa perawat berlarian menuju ruangan dimana sang mempelai wanita di rawat.


Bu siti semakin khawatir dan ikut berlari menuju ruangan, dia bertanya kepada perawat tentang apa yang terjadi.


"Bu, pasien mengalami masalah pada jantungnya dan harus segera di operasi, ibu tenang ya," jawab perawat itu.


"Pak, Ira pak?" ucap bu Siti yang kembali menangisi puterinya.


Beberapa jam berlalu, Operasi berjalan lancar dan sekarang Ira sudah dipindahkan keruang perawatan pasca operasi, tapi karena jantungnya saat ini sangat lemah, dokter meminta mereka untuk tidak memberitahu kabar yang mengejutkan, terlebih lagi tentang calon suaminya yang sudah meninggal.


Adam semakin merasa bersalah setelah mendengar semua itu, Dia hanya bisa berdiri di sudut ruangan dengan wajah datarnya.


Bu Siti yang melihat Adam segera menghampirinya, tanpa diduga sebuah tamparan mendarat diwajah Adam yang bahkan lukanya belum sembuh.


Dengan pasrah Adam menerima segala cacian dan tamparan itu, dia tidak bisa mengelak apalagi membela diri, karena semua itu memang salahnya yang tidak mau mendengar nasihat Ali.


Pak Tejo mencoba menenangkan bu Siti dan menjauhkannya dari Adam yang hanya bisa tertunduk tanpa kata-kata.


"Kamu istirahatlah Nak, kamu juga masih belum pulih, cepat masuk ke ruanganmu," ucap pak Tejo kepada Adam yang masih diam mematung.


"Nak, ajak temanmu masuk, biar saya coba bicara dengan istri saya," ucap pak Tejo kepada Ali.


Ali mengangguk pelan dan segera menuntun Adam untuk kembali keruangannya.


"Ya Allah, kenapa jadi gini," keluh Ali sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Bapak itu bijaksana, tapi istrinya, marah-marah terus kayak orang kerasukan,"


"Sikap ibu itu wajar Li, dia enggak salah, wajar kalo dia marah, calon suami anaknya meninggal karena aku, dan anaknya sekarang kondisinya buruk, ini semua salahku Li," sahut Adam.


Ali hanya menatap Adam dengan datar, dan berhenti bicara saat mendengar ucapan Adam.

__ADS_1


Terserah kamu Dam, yang aku khawatirkan sekarang gimana kalo kita di penjara dengan tuduhan pembunuhan, apalagi aku belum menikah Dam, Ya Allah kenapa nasibku begini? Batin Ali.


__ADS_2