
Sudah satu minggu sejak kepulangan Ira dari rumah sakit, Ira yang hanya memiliki Adam dan Rayya kembali ikut kerumah mereka setelah semua kebohongannya terbongkar.
Seperti biasa, Rayya selalu merawat dan menjaga Ira bahkan mengurus bayinya, Rayya sangat menyayangi bayi itu layaknya anak kandungnya sendiri, Ira pun dengan senang hati mengizinkan Rayya untuk merawat bayinya.
"Ra, hari ini waktunya imunisasi kan? Kamu udah buat janji sama dokter?" tanya Rayya sambil mengganti popok bayi mungil itu.
"Udah mbak, aku nanti kerumah sakit jam 4 sore," jawab Ira.
"Ya udah, nanti aku anter ya," jawab Rayya, Ira mengangguk setuju.
Tidak lama kemudian, Amir kembali dari sekolah, dia membersihkan diri kemudian makan siang sebelum akhirnya dia kembali menatap bayi mungil yang dia anggap sebagai adiknya itu.
"Adik bayi, kamu lucu banget, nama kamu siapa ya?" tanya Amir pada bayi yang masih belum mengerti apa-apa itu.
Mendengar ucapan Amir, Rayya diam sejenak, dia berfikir ternyata memang benar bayi itu belum memiliki nama, seharusnya bayi itu sudah mendapat haknya untuk diberikan nama dan akikah.
"Ra, kamu udah siapin nama buat dia?" tanya Rayya.
Ira menggelengkan kepalanya, Setelah kelahiran bayinya, Ira memang tidak banyak bicara, didalam hatinya dia hanya memikirkan bagaimana nasibnya dan bayi itu jika Adam menceraikannya, dia sudah tidak memiliki siapa-siapa semenjak kepergian kedua orang tuanya.
"Hm, nanti aku bilang sama mas Adam buat bikin acara akikah bayi ini, kamu siapin aja namanya," ucap Rayya.
"Enggak mbak, mbak dan mas Adam aja yang nentuin nama buat dia, aku yakin nama pemberian kalian akan jadi berkah nantinya," jawab Ira.
Rayya tersenyum tipis, dia menyetujui permintaan Ira dan segera menyiapkan acara syukuran sekaligus akikah untuk bayinya.
***
Beberapa hari kemudian, acara sedang berlangsung, Adam sudah menyiapkan nama dan dua ekor kambing untuk disembelih sebagai akikah untuk bayi laki-laki itu.
Semua tamu mulai berdatangan, Termasuk keluarga Adam, Musa dan Laksmi hadir dengan membawa bayi mereka yang juga sudah lahir dua hari sejak kelahiran bayi Ira, Mereka semua mendoakan semua kebaikan untuk bayi itu.
__ADS_1
Ira yang baru kembali dari kamarnya ikut bergabung diacara itu, disana dia melihat ustadz Fadlan dan bu Fatma yang sedang menimang bayinya, Mereka terlihat menyayangi bayi itu dengan tulus walaupun mereka tahu kalau itu bukan cucu kandung mereka.
Ira berjalan perlahan mencoba mendekati keluarga Adam, dia sempat ragu namun pada akhirnya dia memberanikan diri setelah mendapat nasihat dari Rayya.
"Bu, Pak," sapa Ira.
Mendengar panggilan itu, ustadz Fadlan dan bu Fatma segera menoleh kearah Ira yang sedang berdiri disamping mereka, Ira langsung bersimpuh dan meminta maaf kepada mereka atas semua kebohongan yang dia lakukan, Semua yang hadir tentu menyaksikan kejadian itu, dan mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Maafin aku bu, pak, aku udah bohong sama kalian semua, aku terpaksa ngelakuin semua itu demi bayi yang aku kandung," ucap Ira sambil menangis.
Para tamu benar-benar terkejut mendengar perkataan Ira, Tapi mereka masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, hingga akhirnya Ira menjelaskan semuanya kepada keluarga Adam dihadapan semua orang.
"Ira, kamu apa-apaan? Kenapa kamu bilang gitu?" tanya Rayya sambil mendekatinya.
"Enggak apa-apa mbak, aku mau semua orang tahu kebohongan aku, aku juga enggak mau mas Adam di cap jelek gara-gara aku, bayi ini anakku, anak kandung aku, tapi bukan anak mas Adam," lanjut Ira.
Ira menangis tersedu-sedu, menyesali apa yang sudah dia lakukan, tangisan itu membuat hati bu Fatma menjadi luluh, dia memeluk Ira layaknya orang tua baginya.
Ira terkejut atas perlakuan bu Fatma, sebelumnya dia mengira kalau bu Fatma pasti akan marah besar kepadanya, apalagi dia mengatakannya dihadapan semua tamu undangan.
"Kamu beruntung Ra udah jadi bagian keluarga ustadz Fadlan, mereka bukan orang-orang yang akan membalas dendam, tapi mereka selalu memaafkan," ucap salah satu tamu undangan.
***
Semua ketegangan akhirnya hilang, para tamu undangan bergantian memberi doa kepada bayi Ira yang sudah diberi nama oleh Adam sendiri.
"Insya Allah bayi ini aku berinama Akmal Fahrezi," ucap Adam mengumumkan nama bayi Ira.
Semua orang mengucap syukur dan melanjutkan acara dengan penuh kebahagian.
***
__ADS_1
Tidak terasa hari sudah berlalu, semua acara sudah selesai dan berlangsung lancar, Akmal mendapat banyak hadiah dari para tamu undangan, Hadiah itu menumpuk diatas meja membuatnya tidak kelihatan.
"Amir, bantuin tante beresin hadiahnya ya," ucap Ira.
"Oke tante," jawab Amir.
Amir dan Ira membuka hadiah itu satu persatu, Semua hadiah itu benar-benar barang bermerk terkenal, Bahkan pakaian bayi sekalipun ada nama dari desainer terkenal.
"Mbak, hadiah-hadiah ini mahal-mahal, apa pantes bayiku dapet hadiah seperti ini?" tanya Ira.
"Emang kenapa? Bayi kamu sangat berharga, dia pantes nerima semua ini, iya kan sayang," jawab Rayya sambil menimang Akmal ditangannya.
Ira tersenyum dan memasukan semua barang itu kedalam koper yang cukup besar, Akmal mulai menangis, sepertinya dia lapar, Rayya menyerahkan Akmal kepada Ira dan memintanya untuk beristirahat.
"Ya udah mbak, aku kekamar dulu," ucap Ira.
Setelah Ira pergi kekamarnya, Adam datang dari ruang tamu dan duduk disamping Rayya, hari itu Adam nampak sangat lelah, dia menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dan memejamkan matanya.
"Makasih mas, kamu udah buat acara meriah buat Akmal," ucap Rayya.
"Ini kewajibanku Rayya, ini juga tanggung jawabku," jawab Adam.
"Mas, apa keputusan kamu sekarang? Apa kamu akan tetep cerai dengan Ira?" tanya Rayya.
"Itu udah keputusanku dari awal Rayya, aku enggak bisa ubah lagi,"
"Tapi mas, kamu enggak kasian sama Akmal? fikirin baik-baik mas,"
"Sayang, aku emang niat ceraikan Ira, tapi aku tetep tanggung jawab kok sama Akmal, biar gimanapun, dia udah aku anggep anak sendiri," jawab Adam dengan senyuman diwajahnya.
Wajah Rayya tidak menunjukkan kebahagiaan, dia masih tetap ingin supaya Adam memikirkan kembali keputusannya, dia sekarang benar-benar sudah ikhlas jika harus berbagi cinta Adam dengan Ira.
__ADS_1
Tapi Rayya tahu bagaimana sifat Adam, jika dia sudah mengambil keputusan tentu tidak mudah untuk dibatalkan.
Tanpa mereka sadari, Ira mendengar obrolan mereka, kali ini Ira tidak mengeluh apa-apa, bahkan sebaliknya, dia tersenyum mendengar perkataan Adam, dia tidak ingin menjadi beban lagi bagi Adam dan Rayya, Ira benar-benar sudah berubah dan menyesali perbuatannya dimasa lalu.