
Adam dan Ira sudah sampai dikediaman ustadz Lutfi, Malam itu adalah malam syukuran atas kelahiran anak kedua ustadz Lutfi.
Sesampainya disana, Adam disambut dengan hangat oleh semua teman-temannya, termasuk Ali yang sudah berada disana lebih dulu.
"Dam, maaf ya, aku enggak bisa ketemu klien kemarin," ucap Ali.
"Enggak apa-apa, untuk ada Rizal yang bantuin aku," jawab Adam.
Mariam, istri ustadz Lutfi melirik kesemua arah seperti mencari sesuatu.
"Umi, umi cari siapa?" tanya ustadz Lutfi.
"Ustadz Adam, ustadzah Rayya enggak ikut?" tanya Mariam.
"Oh, iya aku lupa bilang, katanya dia lagi enggak enak badan, jadi enggak bisa ikut,"
Mariam mengangguk dan menatap Ira yang berada dibelakang Adam, Mariam mendekati Ira dan mencoba bicara kepadanya, Ira yang baru bertemu dengan Mariam hanya menjawab beberapa pertanyaan dengan seadanya.
Acara berlangsung dengan lancar, doa-doa dipanjatkan untuk anak ustadz Lutfi, Semua orang mendoakannya sambil mengusap kepala sang bayi dengan lembut.
Sementara itu dirumah.
Rayya yang sendirian dirumah sedang duduk sambil memegang tasbih dan berzikir, Kebetulan malam itu Mayra dan Rizal juga sedang pergi kerumah ustadz Fadlan.
Rayya terus menatap jam dinding yang sedang berputar dengan pelan, didalam hatinya Rayya berharap jam itu berputar dengan cepat supaya Adam cepat kembali.
"Ya Allah, kenapa aku terus memikirkan mas Adam yang pergi bersama Ira, aku merasa gelisah," gumam Rayya.
Hati Rayya benar-benar tidak karuan saat itu, sepertinya malam itu Rayya sedang diselimuti rasa cemburu tapi dia terus beristigfar agar tidak berfikiran buruk.
Hingga akhirnya, Mayra dan Rizal pulang, Mayra yang melihat Rayya sendirian mencoba bicara kepadanya, Rayya menceritakan kegelisahannya kepada Mayra.
"Itu salah mbak, kenapa mbak biarin mereka pergi berdua?" ucap Mayra.
"Mbak cuma pengen mas Adam deket sama Ira,"
"Hah, mbak-mbak, mbak itu jangan terlalu baik sama perempuan itu, aku takut dia malah rebut mas Adam sepenuhnya,"
Rayya terdiam mendengar ucapan Mayra, tapi dia terus mencoba menghilangkan fikiran buruknya, Hingga akhirnya Adam dan Ira kembali, Ira masuk kedalam rumah dengan wajah kesal, dia tidak mengucapkan salam bahkan mengabaikan Rayya.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, mas, Ira kenapa?"
"Aku enggak tahu, dia tadi ngobrol sama yang lain, tapi tiba-tiba cemberut gitu,"
__ADS_1
"Pasti ada yang bilang dia kalo dia pelakor deh, makanya dia cemberut," sahut Mayra.
"Ya Allah Mayra,"
"Coba aja tanya sama dia, udah ah, aku mau tidur,"
Mayra pergi meninggalkan Adam dan Rayya, sementara Rayya hendak pergi menemui Ira, tapi Adam menghentikannya dan memintanya untuk bicara disiang hari, Rayya menuruti permintaan Adam.
Hari sudah kembali pagi, semua orang sudah berada diruang makan untuk memulai sarapan mereka, Pagi itu Rizal mendapat telephon dari Amerika dan memintanya untuk segera kembali.
Rizal mengatakan hal itu kepada Mayra, awalnya Mayra tidak ingin kembali ke Amerika karena dia merasa khawatir kepada Rayya, tapi Rayya berusaha meyakinkan Mayra hingga akhirnya Mayra setuju.
"Ya udah, nanti aku pesen tiket pesawat keberangkatan pertama biar enggak terlambat," ucap Rizal.
"Ya udah, tapi maaf ya Zal, aku enggak bisa nganter kalian ke Bandara, aku ada rapat nanti sore," ucap Adam.
"Iya, enggak apa-apa mas, aku ngerti kok," jawab Rizal.
Setelah sarapan, Adam segera berangkat kekantor, pagi itu Rizal ikut bersamanya, dia ingin berpamitan kepada Ali dan yang lainnya sebelum dia kembali ke Amerika.
Sementara itu, Mayra yang berada dikamar terlihat sedang cemberut sambil mengemas pakaiannya kedalam koper, Rayya yang kebetulan lewat menghampiri Mayra dan membantunya.
"Kamu kenapa May?" tanya Rayya.
"Mbak, aku itu masih mau disini, tapi kenapa malah disuruh pulang mendadak sih," jawab Mayra.
"Hah, mbak, kalo aku pulang, mbak hati-hati ya disini, aku khawatir sama mbak, aku juga khawatir kalo mas Adam bakal terpengaruh sama perempuan itu,"
"Jangan berfikir buruk May, mbak enggak kenapa-kenapa kok,"
"Ya udah kalo gitu, kalo ada apa-apa, mbak kasih tau aku ya, mas Musa atau ibu atau ayah, pokoknya kasih tau semua orang,"
"Iya adikku,"
Tidak terasa, hari cepat berlalu, Mayra dan Rizal berpamitan kepada Rayya dan Ira, sebelum mereka ke Bandara tidak lupa mereka mampir ke kediaman ustadz Fadlan dan Musa, Mayra memeluk semua orang sambil menangis.
"Jangan nangis, kamu seperti pertama kali pergi aja," ucap bu Fatma.
Setelah berpamitan, Rizal dan Mayra segera berangkat menuju bandara dengan ditemani Musa yang kebetulan sedang berada dirumah hari itu.
***
Kini suasana rumah kembali terasa sepi, hanya ada Rayya dan Ira yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Rayya yang mempunyai keterampilan merajut terlihat sedang membuat baju hangat mungil ukuran bayi, sementara Ira hanya sibuk dengan ponselnya sambil memakan buah yang dia beli.
"Ra, bisa bantu aku?" tanya Rayya.
__ADS_1
"Apa?" jawab Ira yang masih fokus pada ponselnya.
"Aku mau masak makan malam, bisa bantu potongin sayuran?"
"Aduh maaf mbak, pinggang aku lagi sakit, aku enggak bisa berdiri lama-lama didapur, mbak kerjain sendiri aja ya?" jawab Ira sambil berjalan pergi.
"Oh gitu, ya udah,"
Rayya menatap kepergian Ira kemudian pergi menuju dapur, Rayya merasa, Ira berubah saat itu, setiap Rayya meminta bantuannya, Ira selalu beralasan, tapi Rayya tetap berfikir positif.
"Biarlah, mungkin emang kalo lagi hamil itu bawaannya cepet lelah," gumam Rayya.
Jam sudah menunjukkan pukul 17.00, Disaat itu waktunya Adam pulang, Sesampainya dirumah, Adam mencari Rayya kemana-mana tapi tidak juga menemukannya.
"Rayya kemana?" tanya Ira.
"Enggak tau, habis masak langsung pergi tadi, jalan-jalan mungkin," jawab Ira.
"Kenapa kamu enggak temenin dia?"
"Aku capek mas, mbak Rayya biasanya juga pergi sendiri kan,"
Adam menatap Ira dengan tajam, dan meninggalkannya untuk mencari Rayya yang belum pulang juga padahal hari sudah hampir gelap sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang.
"Kemana kamu? kenapa enggak angkat telephon dari aku," gumam Adam.
Adam mencari keseluruh tempat didekat rumahnya bahkan sampai dijalan besar, sampai akhirnya Adam melihat Rayya yang sedang duduk bersama seorang anak kecil dengan tampilan yang lusuh.
"Rayya, kamu darimana?" tanya Adam.
"Mas Adam, ngapain kamu disini?"
"Kamu yang ngapain? terus siapa anak ini?"
"Maaf mas, aku abis dari minimarket, tapi jalanan macet, terus aku liat anak ini disini, kasian dia mas, yatim piatu, dia enggak punya siapa-siapa,"
Adam menatap anak itu yang kira-kira usianya baru empat tahun, anak itu sedang menyantap roti pemberian Rayya dengan lahapnya, Adam mendekatinya dan mengusap kepalanya dengan lembut.
"Siapa nama kamu nak?" tanya Adam.
"Amir," jawabnya.
"Oh, kamu mau ikut Om sama tante?"
"Kemana?"
__ADS_1
"Kerumah om, Ayok, udah malem lho kasian kamu sendirian disini, bahaya,"
Amir menatap Rayya dan berganti Adam, tanpa fikir panjang, Dengan polosnya, Amir ikut bersama mereka.