
Hari kembali berlalu, Seperti biasa, Ira menyiapkan sarapan untuk keluarganya, Pak Tejo dan bu Siti mendapat undangan pernikahan dari saudaranya dan harus pergi setelah sarapan.
Ira memulai percakapan dengan Adam yang sejak kemarin hanya diam tanpa berkata apapun.
"Mas, apa kamu yakin dengan keputusanmu? Sebelum terlambat, fikirkanlah baik-baik," tanya Ira.
"Aku udah berfikir dengan baik, jangan ngomong apa-apa lagi," jawab Adam.
"Gimana dengan istrimu?"
"Itu urusanku, jangan ikut campur,"
Mendengar jawaban Adam yang seperti itu, Ira tidak bisa berkata apa-apa lagi, Begitupun Adam, dia pergi begitu saja menuju kantornya.
Ira yang sudah selesai membereskan rumah, Segera masuk kedalam kamarnya, dia mengeluarkan semua koleksi pakaiannya dan mencobanya satu persatu.
"Bagus yang mana? Yang ini, yang ini, apa yang ini?" tanya Ira pada diri sendiri.
"Terima kasih mas Adam, padahal aku udah kasih kesempatan kamu buat ceraikan aku, tapi kamu enggak mau karena bayi ini, Hahh, mulai sekarang aku enggak akan lepasin kamu mas, kamu milik aku selamanya," ucap Ira.
Beberapa saat kemudian, Ira mendapat pesan dari Adam yang mengatakan akan kembali ke Jakarta.
"Pergilah, kasih tau istri kamu tentang aku," gumam Ira.
Sementara itu di Jakarta.
Rayya yang baru saja pulang dari TPA langsung pergi kedapur dan memasak makanan kesukaan Adam, karena sebelumnya Adam sudah mengirim pesan kalau dia akan pulang.
Rayya tidak menyangka kalau Adam akan pulang secepat itu, padahal sebelumnya dia mengatakan akan di Semarang selama tiga hari, tentu kabar itu sangat membahagiakan untuknya.
Setelah menunggu cukup lama, Akhirnya pintu rumah diketuk, Rayya dengan cepat membuka pintu itu dan nampaklah sosok Adam berdiri didepannya dengan wajah kusut bagai tak bernyawa.
"Assalamualaikum," sapa Adam.
"Waalaikumsalam, mas udah sampe, masuk mas, aku udah masak banyak," sambut Rayya.
Adam tersenyum melihat kebahagiaan istrinya itu, mereka makan malam bersama dengan ditemani suara binatang-binatang malam yang seperti sedang bernyanyi.
Setelah makan malam itu, Adam meminta untuk bicara serius dengan Rayya, Kali ini dia sudah membulatkan tekadnya untuk menceritakan tentangnya dan Ira.
Rayya yang duduk diatas sofa merasa terkejut saat tiba-tiba Adam duduk dihadapannya dengan bersimpuh sambil memegang tangannya dengan erat.
__ADS_1
"Kamu kenapa mas?" Rayya terlihat cemas.
"Maafkan aku Rayya, maafkan aku,"
"Mas, kamu kenapa sih? Kamu nangis? Cerita dong mas, jangan buat aku bingung?"
Dengan suara pelan dan terbata-bata, Adam mulai menceritakan semua yang dia alami, mulai dari kejadian kecelakaan itu sampai pernikahannya dengan Ira, bahkan tentang kehamilan Ira.
Rayya yang mendengarkan cerita Adam hanya bisa diam membisu, tangannya memegang tangan Adam dengan kuat dan memeluk Adam dalam pelukannya yang masih terus menangis.
Tapi tiba-tiba, Rayya beranjak dari duduknya, melepas pelukannya kepada Adam dan berjalan pergi menuju kamarnya, Adam menatap kepergian Rayya dan mengikutinya.
Krik...
Belum sempat Adam masuk kedalam kamar, Rayya sudah menguncinya, Adam hanya bisa berdiri mematung mendengar tangisan Rayya yang sedari tadi dia tahan.
"Rayya, maafkan aku, buka pintunya, biar aku jelasin semuanya!!"
Saat itu juga, Ternyata Musa dan Laksmi sudah berada disana, mereka menyaksikan semua yang terjadi antara Adam dan Rayya, Sebagai seorang wanita, Laksmi dapat merasakan apa yang Rayya rasakan saat ini.
"Mas, minta Rayya keluar mas, aku mohon, Laksmi, kamu dekat sama Rayya kan, minta dia buka pintunya, aku mohon," ucap Adam masih dalam tangisan.
"Rayya, ini mbak, bisa buka pintunya sebentar?" ucap Laksmi.
Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka Rayya keluar dan langsung memeluk Laksmi, Adam mencoba mendekati Rayya namun Laksmi mencegahnya.
"Biarin Laksmi coba ngomong sama Rayya, kamu ikut mas," ucap Musa.
Musa menuntun Adam pergi menjauh dari sana, Sementara Rayya dan Laksmi masuk kedalam kamar, Rayya menangis dalam pelukan Laksmi yang sudah dia anggap saudarinya sendiri.
"Menangislah Rayya, menangis semau kamu, jangan kamu tahan, biarin semua yang kamu rasain hilang, tapi tetap sabar dan jangan lupa kamu masih punya Allah, Sabar Rayya," ucap Laksmi.
Satu jam sudah berlalu, Air mata Rayya sudah mengering, hatinya sudah menjadi lebih baik setelah dia mencurahkan kekecewaannya terhadap Adam kepada Laksmi, Laksmi mengajaknya sholat berjamaah untuk menenangkan diri.
Sementara itu, Musa dan Adam yang berada diruang tamu masih menunggu kedatangan Rayya dan Laksmi.
Beberapa menit kemudian, Rayya dan Laksmi datang dan duduk diruang tamu, Semua terdiam tanpa sepatah katapun.
"Rayya aku..." ucapan Adam terputus.
"Sekarang giliran aku yang mau ngomong, aku bukan perempuan hebat yang bisa nahan amarah, aku bukan perempuan yang dengan gampangnya nerima istri kedua kamu, aku juga punya perasaan, aku bisa nangis, aku bisa kecewa, aku harap kamu ngerti itu Mas,"
__ADS_1
"Iya, aku ngerti, aku minta maaf Rayya," ucap Adam.
"Aku belum selesai mas, satu hal yang aku minta dari kamu, jangan pernah bawa istri kedua kamu masuk kedalam rumah ini, karena aku enggak akan tahan, aku enggak sanggup mas," Rayya kembali menangis dalam pelukan Laksmi.
Adam mengangguk, dia berjanji tidak akan pernah membawa Ira masuk kedalam rumah mereka.
"Aku juga akan ceraikan dia saat anak itu lahir," ucap Adam.
"Jangan ambil keputusan buru-buru mas, bayi itu enggak berdosa, jangan buat dia jadi anak yang kurang kasih sayang dari orang tuanya,"
Adam terdiam mendengar ucapan Rayya yang sangat peduli pada anak yang bahkan belum dilahirkan, Setelah pembicaraan itu, Laksmi dan Musa berpamitan untuk pulang tapi Rayya menahannya dan meminta Laksmi untuk tetap bersamanya malam itu.
Musa meminta Laksmi untuk tetap berada disana dan menemani Rayya, sementara dia kembali kerumah.
"Jangan idupin lampu mbak, biar aja rumah ini gelap,"
Rayya masuk kedalam kamarnya meninggalkan Adam yang masih berdiri diruang tamu seorang diri.
"Rumah ustadz Adam gelep banget ya? Bukannya ustadz Adam udah pulang ya?" ucap Jono, security komplek.
"Mungkin mereka lagi keluar," jawab Iwan.
"Ah, orang mobilnya ada kok, aneh enggak kaya biasanya, apa belum bayar tagihan listrik?"
"Enggak mungkin lah, jangan aneh-aneh deh Jon, itu TPA aja nyala kok lampunya, baru di bayar ustadzah Rayya, enggak mungkin rumah sendiri enggak dibayar," lanjut Iwan.
"Udahlah, Yok ronda,"
Jono dan Iwan berkeliling komplek, setelah sampai di post mereka dikejutkan dengan sosok Adam yang sedang duduk melamun disana dengan wajah pucat dan mata sembab.
"Astagfirullah, ustadz, bikin kaget aja," ucap Jono.
"Ustadz, ustadz sakit?" tanya Iwan.
"Aku mau ikut ronda malam ini, bolehkan?" tanya Adam.
"Tapi ustadz..."
"Boleh ustadz, silahkan,"
Jono yang memahami kondisi Adam meminta Iwan untuk tidak berkata apa-apa lagi, walaupun Jono tidak tahu masalah Adam tapi dia dapat mengerti kalau Adam sedang dalam masalah. Adam membaringkan tubuhnya, suasana kembali hening hanya terdengar suara serangga-serangga malam menemani mereka.
__ADS_1