
Hari terus berganti, Rezi yang sangat ingin berbaikan dengan Zidan terus berusaha untuk mengajaknya bicara walaupun Zidan juga terus mengabaikannya.
Bahkan didepan teman-temannya sekalipun Zidan berani membentak Rezi, Tapi Rezi tidak pernah membalasnya, dia cukup diam dan mendengarkan semua amarah yang dilayangkan kepadanya.
Sampai suatu hari, Zidan membuat Rezi kehilangan kesabarannya.
"Udah gue bilang, loe enggak usah deket-deket gue lagi, dasar anak perempuan j****g!!"
Ucapan Zidan itu membuat Rezi sangat marah, tanpa ragu dia memukul wajah Zidan dengan tangannya, wajahnya memerah menahan amarah.
"Loe udah keterlaluan! loe boleh benci sama gue, tapi jangan hina nyokap gue!!" bentak Rezi sambil terus memukuli Zidan.
"Emang kenyataannya gitu, nyokap loe berusaha buat rebut ayah gue dari ibu gue, tapi enggak berhasil, dan sekarang dia nyuruh loe deketin gue biar bisa balik lagi sama ayah gue, iya? Haha,"
Mendengar ucapan Zidan itu, Rezi semakin marah, dia terus memukuli Zidan, kali ini Zidan membalasnya hingga terjadilah perkelahian.
Semua temannya hanya bisa menyaksikan kejadian itu tapi tidak ada yang berani untuk melerai mereka, hingga akhirnya salah satu dari mereka melaporkannya kepada kepala sekolah dan membawa mereka keruangan guru.
"Kalian ini kenapa? Enggak biasanya kalian begini? bukannya kalian teman akrab?" ucap kepala sekolah.
Rezi dan Zidan hanya diam tanpa menjawab, sampai akhirnya kepala sekolah menghubungi orang tua mereka dan memintanya datang.
***
Tidak lama kemudian, Rayya datang kesekolah bersama Adam, Mereka segera menemui kepala sekolah untuk membahas apa yang sebenarnya terjadi, kepala sekolah mulai menceritakan semuanya.
Disaat Adam masih bicara dengan kepala sekolah, Rayya pergi menemui Zidan yang berada di UKS untuk melihat keadaan putranya itu, Rayya memeluk Zidan dan menangis dalam pelukannya.
Sampai akhirnya Rayya sadar, kalau disampingnya Rezi sedang duduk menahan sakit diwajahnya akibat pukulan balasan dari Zidan.
Rayya mendekati Rezi dan memeriksa wajahnya, dia mengelusnya dengan lembut membuat Rezi merasa heran dengan sikap Rayya.
"Maaf tante, ini semua salah aku, aku yang udah mukul Zidan duluan," ucap Rezi.
Tapi Rayya tidak peduli dengan ucapan Rezi, Rayya malah memeluknya dengan erat membuat Rezi merasa semakin aneh, Rezi melirik kearah Zidan yang sedang menatapnya dengan sinis.
Disaat semua itu terjadi, tiba-tiba sosok perempuan masuk kedalam ruangan dengan tergesa-gesa, matanya melirik kesana kemari sambil berkata.
"Rezi, kamu dimana nak?"
Mendengar suara itu membuat Rayya teringat kepada seseorang, Rayya melepas pelukannya kepada Rezi dan menatap kearah perempuan itu.
Betapa terkejutnya ia saat melihat sosok itu adalah Ira, mantan istri kedua Adam yang pergi bertahun-tahun lalu.
__ADS_1
Begitu juga dengan Ira, dia terkejut saat melihat Rayya berada disana, padahal dia masih belum siap untuk bertemu dengan Rayya sejak hari itu.
"Ira, ini kamu?" tanya Rayya mendekati Ira.
Ira nampak terlihat canggung, dia berusaha menghindari pertemuannya dengan Rayya, tapi Rayya menahannya.
"Kamu kemana aja Ra? kenapa kamu enggak pernah kasih kabar?" tanya Rayya.
"Mbak, aku..." Ira nampak gugup.
Saat itu juga, Adam ikut masuk kedalam ruangan untuk sekedar melihat keadaan Zidan, tapi dia juga ikut terkejut saat melihat Ira yang sedang berdiri berhadapan dengan istrinya.
"Mas Adam," sapa Ira.
Rezi terlihat bingung melihat pertemuan orang tuanya dengan orang tua Zidan, Tapi lain halnya dengan Zidan yang terlihat memasang wajah sinis.
"Mama kenal sama ayah dan ibunya Zidan?" tanya Rezi.
"Sebaiknya, kita cari tempat lain buat ngobrol," ucap Adam.
Mereka segera pergi menuju sebuah kedai yang dekat dengan sekolah.
Adam, Rayya, Ira dan Rezi duduk dalam satu meja, tapi tidak dengan Zidan, dia lebih memilih memisahkan diri ditempat lain.
"Aku masih enggak ngerti, sebenernya apa hubungan kalian?" tanya Rezi.
Ira sebagai ibunya, mulai menceritakan semua kisah hidupnya kepada Rezi, putra semata wayangnya, walaupun sebenarnya Ira masih belum siap untuk mengatakan hal itu.
"Jadi, itu sebabnya Zidan marah sama aku?" gumam Rezi.
"Sekarang loe paham kan? Siapa loe, siapa nyokap loe? sekarang apa rencana loe? loe mau rebut ayah gue kayak nyokap loe berusaha rebut dia?" sahut Zidan.
"Zidan!!"
Adam membentak dan melayangkan tangannya kearah Zidan, tapi belum sempat tangan itu mendarat, Ira menghentikannya.
"Jangan mas, jangan pukul dia, wajar dia marah," ucap Ira.
"Udah tante, enggak usah belain aku, aku udah biasa ditampar ayah, apa jangan-jangan ini trik tante buat deketin ayah?" Zidan tersenyum sinis.
"Zidan..!!"
Plakk....
__ADS_1
Sebuah tamparan mendarat diwajah Zidan yang berasal dari Rezi, Rezi kembali nampak marah mendengar ucapan Zidan yang menghina Ira, ibunya.
Menyaksikan kejadian itu, Rayya tidak bisa menahan rasa syoknya, dadanya terasa sakit dan membuatnya sulit bernafas hingga akhirnya jatuh pingsan dan harus dilarikan kerumah sakit.
***
Sesampainya dirumah sakit, Rayya segera dibawa keruang perawatan, sementara yang lain hanya bisa menunggunya diluar sambil terus berdoa.
"Ini semua gara-gara kamu Zidan, kalo sampe ibu kamu kenapa-kenapa, ayah enggak akan maafin kamu," ucap Adam menekankan suaranya.
Zidan hanya tertunduk dan terdiam mendengar ancaman ayahnya itu, Zidan yang sangat menyayangi Rayya tentu sangat khawatir.
Tidak lama kemudian, Amir datang bersama Ilyas, mereka langsung bertanya tentang kondisi Rayya tapi tidak ada satupun yang menjawabnya.
"Amir, kamu tenang dulu, dokter lagi urus ibu kamu," ucap Ira menenangkan Amir.
Zidan yang sebelumnya tertunduk, seketika melihat kearah mereka, Zidan menyaksikan keakraban yang terjalin antara Ira dan Amir, hatinya kembali tersulut amarah.
"Kalian udah deket banget kayaknya?" ucap Zidan.
"Cukup Zidan, jangan mulai lagi," sahut Adam.
"Kenapa? ayah mau belain perempuan ini?"
"Zidan, aku sama tante Ira udah kenal lama, jadi wajar kan kalo kita deket?" ucap Amir.
"Iya sih wajar, kalian berdua emang pantes buat deket, karena kalian sama-sama dipungut dari jalanan,"
"Zidan!!"
Adam semakin kesal dan amarahnya kembali tersulut, dia menampar Zidan hingga tersungkur kelantai, membuat semua yang berada disana memperhatikan mereka.
"Maaf tuan, jangan buat keributan disini, kalo kalian mau bertengkar, sebaiknya keluar," ucap salah satu perawat.
Amir membantu Zidan berdiri dan membawanya keluar dari rumah sakit, Zidan berusaha memberontak tapi dia tidak lebih kuat dari Amir.
"Istigfar Dan, kamu kenapa sih? kenapa kamu bisa ngomong gitu? tante Ira itu lebih tua dari kamu? kamu enggak ingat nasehat kakek?"
"Gue enggak peduli! loe juga, peduli apa sama gue, gue muak sama kalian semua!!"
Zidan pergi meninggalkan Amir yang masih berada ditempatnya, Amir berusaha mengejar Zidan tapi dia berjalan sangat cepat dan pergi menggunakan taksi entah kemana.
Ira yang mengikuti mereka, melihatnya dari jauh, Air matanya menetes melihat pertengkaran keluarga itu, sadar ibunya sedang bersedih, Rezi memeluknya dan mencoba menenangkannya.
__ADS_1