
Singkat cerita.
Tujuh belas tahun kemudian.
"Rayya, bangunin Zidan, udah jam berapa ini?" ucap Adam.
"Iya mas, bentar lagi aku selesai nyuci piring," jawab Rayya dari dapur.
"Ayah, biar Amir yang bangunin ya," ucap Amir.
Amir mengetuk pintu kamar Zidan dan memanggilnya berkali-kali tapi seperti biasa, Zidan tidak menanggapinya dan masih tetap tertidur pulas.
"Gimana, dia udah bangun?" tanya Rayya.
"Belum bu," jawab Amir.
"Ya udah, nanti ibu yang bangunin, kamu lanjutin sarapannya, nanti kamu terlambat kuliah lho,"
Amir mengangguk dan melanjutkan sarapannya sesuai permintaan Rayya, Setelah sarapan Amir segera berangkat kekampus dimana dia kuliah.
Amir yang kini berusia 21 tahun, menjadi salah satu mahasiswa populer dikampusnya, selain karena wajahnya yang tampan, dia juga cukup pandai bahkan sudah beberapa kali mewakili kampusnya dalam mengikuti olimpiade matematika tingkat nasional, Tapi itu semua tidak membuatnya takabur, dia tetap rendah hati seperti apa yang sudah diajarkan oleh Adam dan Rayya.
Lain halnya dengan Zidan, anak kandung Adam dan Rayya yang sifatnya sangat bertolak belakang dengan Amir, dia selalu menyepelekan semua nasihat orang tuanya bahkan Rayya sering kali mendapat panggilan dari pihak sekolah.
Rayya berulang kali menasihati Zidan, tapi dia hanya menjawab dengan satu kata 'Iya' kemudian memeluk Rayya dan pergi begitu saja.
***
Jam menunjukkan pukul 07.30, Adam sudah pergi kekantor dan meninggalkan Zidan tanpa mengantarnya kesekolah.
"Bu, Ayah udah berangkat?" tanya Zidan.
"Iya udahlah Zidan, kamu bangun telat terus, nanti kamu terlambat lagi kesekolah," jawab Rayya.
"Enggak apa-apa bu, satpam sekolah udah akrab sama Zidan, nanti juga dibukain gerbangnya," jawab Zidan sambil menguyah makanannya.
"Bukan itu masalahnya, nanti kepala sekolah nelephon ibu lagi gimana?"
"Jangan khawatir, nanti Zidan atasin sendiri, udah Zidan berangkat dulu, Dahh ibu,"
"Assalamualaikum Zidan,"
"Iya bu,"
Zidan berangkat kesekolah dengan motor gedenya, Selama dalam perjalanan, dia mengemudi dengan kecepatan tinggi seperti jalan itu cuma milik dirinya sendiri, ditengah perjalanan dia bertemu teman-temannya yang juga mengendarai motor gede.
"Zidan, mau kesekolah? Cabut aja yuk," ajak temannya.
__ADS_1
"Enggak ah, gue hari ini mau sekolah, ada guru killer,"
Zidan dan teman-temannya berangkat menuju sekolah dan memasuki gerbang yang hampir tertutup, satpam penjaga sekolah sampai terkejut dan lelah menghadapi geng motor itu.
***
Disisi lain.
Amir yang mendapat tugas dari dosen sedang mengerjakan tugasnya di perpustakaan, dia fokus pada buku-buku didepannya hingga tidak sadar akan kehadiran Ilyas yang satu kampus dengannya.
"Assalamualaikum ustadz Amir," sapa Ilyas.
"Waalaikumsalam, Ya Allah Ilyas, maaf aku enggak sadar kamu dateng,"
"Enggak apa-apa kok, lanjutin baca bukunya, aku udah biasa nunggu kamu disini sambil ngemil," jawab Ilyas sedikit mengejek.
"Maaf ya, ini tugas penting banget,"
"Jangan serius gitu, aku cuma bercanda, ya udah lanjutin,"
Amir kembali fokus pada bukunya, sementara Ilyas terus mengunyah cemilan yang dibawanya, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari tadi, mata seorang gadis cantik berhijab yang sepertinya tertarik kepada salah satu dari mereka.
"Hayo Aini, kamu liatin siapa?"
Gadis itu bernama Aini, teman satu kelas Amir yang juga populer karena kecerdasannya, dia puteri dari ustadz Lutfi, sahabat Adam.
***
"Zidan belum pulang?" tanya Adam.
"Belum mas, mungkin bentar lagi," jawab Rayya.
"Mau Amir telephon dia Yah?" tanya Amir.
Adam sempat ragu kalau Amir menghubungi Zidan, karena dia tahu kalau hubungan Amir dan Zidan tidak baik, Zidan selalu membantah ucapan Amir bahkan terkadang mengucapkan kata-kata kasar pada kakaknya itu.
"Enggak apa-apa Yah, jangan khawatir," ucap Amir.
Amir menghubungi ponsel Zidan berkali-kali tapi tidak ada jawaban, bahkan pesan yang dikirim Amir selalu dia abaikan.
"Enggak dijawab kan? udah biarin aja," ucap Adam dengan kesal.
Tidak terasa hari sudah malam, suara adzan isya mulai berkumandang, seperti biasa Adam dan Amir pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat, sementara Rayya sholat dirumah seorang diri.
Tokk... tokk... tokk...
"Bu, buka pintu!," teriak Zidan.
Rayya yang masih mengenakan mukena segera berlari membuka pintu, nampaklah sosok Zidan dengan pakaian sekolahnya yang sangat kotor bahkan ada noda darah yang menempel.
__ADS_1
"Ya Allah Zidan, kamu kenapa?" tanya Rayya khawatir.
"Tadi dijalan Zidan sama temen-temen dihadang preman bu," jawab Zidan sambil berjalan dengan kaki sedikit pincang.
"Ya Allah, bentar ya ibu ambil obat,"
Disaat Rayya sedang mengobati luka Zidan, Adam dan Amir kembali dari masjid, Adam segera mendekati Zidan dan menyentuh lukanya.
"Kamu kenapa Zidan? kamu tawuran lagi?!" tanya Adam.
"Enggak," jawab Zidan.
"Jadi anak selalu ngebantah nasihat orang tua, sekarang giliran kayak gini siapa yang susah? ibu kamu kan?!"
"Iya, ibu yang susah, karena ibu selalu perhatian sama Zidan dibanding ayah, ayah cuma sayang sama Amir, apa-apa Amir, semua Amir, Amir selalu bener dimata Ayah!!"
Plakk...
Sebuah tamparan mendarat diwajah Zidan yang penuh luka, tamparan itu terdengar begitu keras hingga membuat lukanya yang baru diobati kembali mengeluarkan darah.
"Mas, jangan mas, liat lukanya," ucap Rayya.
"Diam Rayya, dia harus dikasih pelajaran,"
Adam kembali melayangkan tangannya, tapi kali ini tamparan itu tidak mengenai wajah Zidan, melainkan mengenai wajah Amir yang berdiri didepan Zidan.
"Amir, kamu, kenapa kamu ikut campur?" ucap Adam.
"Jangan pukul Zidan yah, dia udah terluka, jangan tambah lukanya lagi," jawab Amir.
"Udahlah Amir, jangan ikut campur, enggak usah sok belain gue!" ucap Zidan.
"Zidan!!"
"Mas, udah mas, cukup.." sahut Rayya sambil menangis menyaksikan keributan yang terjadi didalam keluarganya.
Melihat ibunya menangis, Zidan mengusap air matanya dan memeluknya, tapi dia kemudian pergi keluar rumah meninggalkan mereka.
"Heh, mau kemana kamu!!" teriak Adam.
"Udah yah, biarin, kasian ibu," ucap Amir.
Amir memeluk Rayya yang masih menangis, dalam pelukan Amir Rayya merasa cukup tenang, dia mencurahkan semua isi hatinya kepada anak sulungnya itu, Amir sangat mengerti bagaimana perasaan ibunya, dia terus menenangkannya dengan semua kalimat dan kata-kata lembutnya.
"Sekarang ibu istirahat ya, biar Amir anter kekamar, ayah juga mendingan istirahat," ucap Amir.
Amir menuntun Rayya menuju kamarnya dan menemaninya hingga terlelap, Amir menatap wajah ibunya itu dengan penuh kasih sayang, matanya yang bengkak karena menangis membuat air mata Amir pun ikut mengalir.
Amir keluar dari kamar dan melihat Adam sedang tertidur diatas sofa, Amir mengambil selimut dari dalam lemari dan menyelimuti Adam yang terlihat kedinginan.
__ADS_1
"Biar aku coba telephon Zidan," gumam Amir.