
Hari sudah senja, Rayya dan Adam melaksanakan sholat maghrib bersama, Amir yang masih kesakitan terpaksa melaksanakan sholat sambil berbaring, sementara itu Ira yang masih pura-pura sakit tetap berada dikamarnya sambil menunggu Adam.
Setelah melaksanakan sholat, Adam dan Rayya memulai makan malam, Rayya menyuapi Amir yang masih berada diatas sofa.
"Enggak usah tante, aku bisa makan sendiri," ucap Amir.
"Enggak apa-apa sayang, tante enggak keberatan kok,"
Rayya terus menyuapi Amir, sementara Adam mengantarkan makanan kekamar Ira yang masih berbaring diatas tempat tidurnya, Ira yang masih pura-pura terus berusaha membuat Adam selalu memperhatikannya, dia juga meminta Adam menemaninya malam itu.
Adam yang berfikir harus bersikap adil, mau tidak mau menuruti permintaan Ira, walaupun selama pernikahan mereka, Adam masih canggung untuk berdekatan dengan Ira jika bukan karena terpaksa.
Malam itu juga, Rayya tidur bersama Amir, Rayya benar-benar merasa telah menjadi seorang ibu setelah kehadiran Amir didalam keluarganya, tapi sayang Rayya belum bisa mengadopsi Amir.
***
Pagi sudah tiba, seperti biasa, setelah menyelesaikan sholat subuh, Rayya menyiapkan sarapan, Amir yang sudah merasa lebih baik ikut bergabung dimeja makan, Rayya yang melihat pintu kamar Ira masih terkunci, merasa gelisah, dia terus menatap kearahnya berharap Adam segera keluar untuk sarapan.
Tidak lama kemudian, pintu kamar Ira terbuka, tapi yang keluar bukan Adam, melainkan Ira yang masih mengenakan handuk dikepalanya, Ira ikut bergabung bersama Amir dan Rayya untuk sarapan pagi.
"Dimana mas Adam?" tanya Rayya.
"Belum bangun, mungkin dia kecapekan karena semalem," jawab Ira.
"Emang kalian ngapain?" Rayya merasa cemburu.
"Kita kan suami istri, terserah kita donk mau ngapain," jawab Ira.
Tidak berselang lama, Adam keluar dari kamar Ira dan pergi melewati mereka menuju kamar mandi dan bersiap-siap dengan pakaian kerjanya.
"Gimana? udah baikan?" tanya Adam kepada Amir saat bergabung untuk sarapan.
"Udah om, terima kasih, semalem om begadang buat nemenin aku?"
"Sama-sama sayang,"
Mendengar obrolan mereka, Rayya mengeryitkan dahinya, dia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, sementara Ira mengepal tangannya menahan kesal.
Kenapa anak ini malah ngomong gitu sih. Batin Ira.
"Emang semalem Amir kenapa?" tanya Rayya.
"Oh iya, aku lupa, semalem Amir demam, badannya menggigil, aku enggak tega bangunin kamu, jadi aku bawa dia kedokter tengah malem, terus temenin dia sampe sholat subuh," jawab Adam.
__ADS_1
"Jadi, semalem kamu dikamar aku?"
"Iya, tapi karena Ira juga ngeluh sakit, jadi aku balik lagi kekamarnya,"
"Oh gitu," Rayya mengangguk sambil menatap Ira yang terus menunduk sambil menyuap makanan kedalam mulutnya.
"Ya udah, aku berangkat ya, Assalamualaikum," ucap Adam.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
Setelah Adam pergi, Ira mendekati Rayya yang sedang mencuci piring didapur.
"Seneng, udah denger jawaban mas Adam?" tanya Ira.
"Alhamdulillah, aku seneng banget," jawab Rayya.
"Jangan seneng dulu mbak, kalo anak aku lahir, dia enggak akan punya waktu buat mbak dan anak itu,"
"Insya Allah, mas Adam enggak akan kayak gitu, aku udah kenal dia lebih lama dari kamu,"
"Hah, kita liat aja nanti,"
Ira pergi meninggalkan Rayya dengan wajah sinisnya, Rayya yang tidak peduli tetap melanjutkan pekerjaannya, Setelah semua selesai, Rayya bersiap pergi menuju TPA, pagi itu Rayya mengajak Amir ikut bersamanya, supaya Amir bisa ikut belajar.
Sesampainya disana, Rayya dan Amir disambut oleh Aisyah dan murid-muridnya, mereka menyalami Rayya dengan tertib.
"Oh iya, kenalin, namanya Amir, mulai hari ini dia belajar disini, ustadzah harap kalian berteman baik sama Amir, setuju?"
"Iya ustadzah," jawab anak-anak serempak.
"Ustadzah, ini anak yang ustadzah ceritain sama aku semalam?" tanya Aisyah.
"Iya, kamu jagain dia juga ya,"
"Siap ustadzah,"
Setelah anak-anak tertib dan duduk dengan rapih, Rayya memulai pelajarannya, Rayya mengajar mengaji mereka secara bergantian dan kemudian dilanjutkan dengan pelajaran lainnya.
Sementara itu, Ira sedang bersantai dirumahnya, dia hanya membaca majalah dan makan, dia tidak peduli soal piring-piring kotor yang sudah dipakainya, Disaat bersamaan, Pintu rumah diketuk.
"Siapa sih jam segini ada tamu," keluh Ira berjalan membuka pintu.
Saat pintu terbuka, nampaklah ustadz Fadlan dan bu Fatma bersama dengan Ilyas, cucu pertama mereka, Ira sempat terkejut dan gugup saat melihat kedatangan mereka yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Bapak, ibu, mari masuk," ucap Ira.
"Rayya belum pulang?" tanya bu Fatma.
"Belum bu,"
Bu Fatma melihat sekitar, dilihatnya banyak bungkus makanan ringan berserakan, piring dan gelas kotor berjejer diatas meja, Ira yang menyadari hal itu segera merapihkannya.
"Maaf bu, ini sisa makanan anak angkatnya mbak Rayya, mbak Rayya enggak sempet beresin," ucap Ira.
"Oh, gitu, kemana anak itu?"
"Mbak Rayya bawa dia ke TPA,"
"Hm, apa majalah ini juga abis dibaca anak itu?"
"Ah, bukan bu, ini majalahnya mbak Rayya,"
Bohong, Rayya enggak mungkin baca majalah kayak gini, dia juga enggak mungkin bikin rumah berantakan. Batin bu Fatma.
Ustadz Fadlan dan bu Fatma duduk diatas sofa sambil menunggu Rayya kembali, sementara Ilyas sedang asyik bermain, Ilyas yang masih polos membuat meja kembali berantakan.
"Ilyas, jangan nakal sayang," ucap bu Fatma.
"Enggak apa-apa kok bu, namanya juga anak kecil," jawab Ira.
Ustadz Fadlan menelephon Adam memintanya untuk pulang sebentar, Adam yang akan melakukan rapat meminta ustadz Fadlan menunggunya, Ustadz Fadlan memahami betapa sibuknya Adam saat ini, dia dengan sabar menunggu Adam sambil bermain dengan Ilyas.
Tidak lama kemudian, Rayya kembali bersama Amir, bu Fatma langsung memeluk Rayya, Amir juga langsung menyalami bu Fatma dan ustadz Fadlan, Ilyas yang melihat anak sebaya dengannya langsung mendekatinya dan menyalaminya.
"Aku Ilyas," ucap Ilyas.
"Aku Amir," jawab Amir.
Semua yang melihat perkenalan dua akan kecil itu merasa senang, Ilyas dan Amir yang baru saja bertemu seketika langsung menjadi akrab.
"Ayah sama ibu ada apa kesini?" tanya Rayya, "Kenapa enggak suruh aku aja yang kesana?" lanjutnya.
"Ibu mau ketemu Amir, Adam cerita semalem kalo dia pengen adopsi Amir, jadi ibu penasaran kayak apa sih anak ini sampe Adam minta ibu sama ayah buat bantu urus adopsinya,"
"Mas Adam udah bilang itu sama ibu dan ayah?" Rayya terlihat bahagia.
"Iya, makanya ibu sama ayah kesini,"
__ADS_1
Rayya semakin senang mendengar ucapan bu Fatma, dia tidak menyangka kalau Adam membuat kejutan ini, padahal sebelumnya Adam menolak untuk mengadopsi Amir karena alasan tertentu.
Bersamaan dengan kebahagiaan Rayya, ada sosok Ira yang tersenyum sinis, Ira merasa tidak senang jika Adam dan Rayya benar-benar mengadopsi Amir, dia takut kalau Adam akan lebih menyayangi Amir dibandingkan anaknya nanti.