
Rumah Ira.
Hari sudah kembali pagi, Seperti biasa Ira yang masih belum bisa bangun dari kursi rodanya, membantu ibunya membuat sarapan untuk Adam dan pak Tejo.
"Ra, apa suamimu itu enggak melarang kamu buat bantu ibu masak?" tanya bu Siti sambil menggoreng ikan.
"Kenapa mas Ilham harus ngelarang bu?" Ira balik bertanya.
"Kondisi kamu kan begini, gimana bisa dia biarin kamu masak didapur, dia seperti enggak peduli sama kamu?" jelas bu Siti.
Mendengar ucapan ibunya itu, Sejenak Ira menghentikan pekerjaannya dan menatap Adam yang sedang duduk bersama pak Tejo.
"Bener bu, kenapa mas Ilham berubah ya? Dulu sebelum menikah, dia selalu perhatian sama Ira, Ira luka sedikit aja, dia khawatir banget," gumam Ira.
"Ahh, udahlah, nih bawa ke meja makan," bu Siti menyerahkan piring berisi ikan goreng yang masih panas.
Ira meletakkan piring itu diatas pangkuannya, Adam yang melihat hal itu langsung mendekati Ira dan mengambil piring itu.
"Ini panas, kenapa kamu taruh dipangkuanmu?" tanya Adam.
"Iya, aku lupa mas,"
"Ya sudah,"
Mereka menikmati sarapan pagi itu bersama-sama, ditengah sarapan, Adam mulai membuka percakapan.
"Ira, bisnisku disini sudah selesai, maka dari itu aku harus kembali ke Jakarta," ucap Adam.
"Bisnis? Bisnis apa mas? kamu udah punya bisnis sekarang? di Jakarta?" tanya Ira heran.
"Hm, maksudmu apa?" Adam merasa bingung.
"Hm, iya, Ilham sekarang sudah punya bisnisnya sendiri, dia mulai bisnisnya diem-diem buat kasih kejutan ke kamu," sahut bu Siti.
"Beneran mas, Wah kamu hebat mas? Tapi kenapa harus di Jakarta?" tanya Ira.
"Itu... itu...," Adam tampak gugup.
"Karena temannya yang waktu itu jadi saksi dipernikahan kalian, itu orang Jakarta, dia kan rekan bisnis Ilham, iya kan Ham?" bu Siti memberi kode kepada Adam dengan menendang kakinya pelan.
"Oh iya,"
"Wah, aku seneng mas, kalo gitu apa aku boleh ikut?"
"Enggak," jawab Adam secepat kilat.
"Kenapa mas?"
"Ira, suamimu ke Jakarta kan buat bekerja, kalo kamu ikut gimana bisa dia fokus kerja, apalagi dengan keadaan kamu yang begini," sahut pak Tejo.
"Oh, iya, aku ngerti kok,"
__ADS_1
"Maaf Ra, aku bukannya enggak mau bawa kamu ke Jakarta, tapi kamu juga belum sembuh, kamu juga masih harus dirawat disini kan? dokter mu disini, cuma dia yang tau kondisi kamu dengan baik," ucap Adam mencoba memberi pengertian.
"Kamu harus ngerti suami kamu Ira, dia disana buat kerja, bukan liburan," sahut bu Siti.
"Iya bu, Ira ngerti kok, Ira udah selesai sarapan, Ira ke kamar dulu,"
Wajah Ira menunjukkan rasa kekecewaan, Adam yang melihatnya merasa tidak enak hati dan mencoba menyusul Ira ke kamarnya.
"Biarkan aja Nak, Ira emang begitu, masih seperti anak-anak, nanti ibu jelaskan sama dia," ucap bu Siti.
"Terima kasih bu," jawab Adam.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00, Ali juga sudah datang menjemput Adam untuk mengantarnya ke Bandara, Sebelum pergi, Adam berpamitan kepada pak Tejo dan bu Siti, begitupun kepada Ira.
Adam masuk kedalam kamar untuk berpamitan kepada Ira, dilihatnya Ira tengah duduk disudut ranjangnya, Adam mendekatinya dan ikut duduk dengan jarak yang cukup jauh.
"Aku pamit ya?" ucap Adam sambil mengulurkan tangannya kepada Ira dengan maksud untuk bersalaman.
Tapi ternyata, Ira sangat jauh berbeda dengan Rayya, Ira tidak menanggapi uluran tangannya tapi malah duduk semakin dekat dan juga mendekatkan wajahnya ke wajah Adam.
"Ehm, aku udah terlambat, aku pergi ya?" Adam memalingkan wajahnya dan berdiri dari duduknya, tapi Ira memegang tangannya membuat langkah Adam terhenti.
"Kamu kenapa mas? kenapa kamu berubah enggak seperti dulu?" tanya Ira.
Adam melepaskan genggaman tangan Ira, dia tidak menjawab pertanyaan Ira dan hanya mengucapkan salam.
"Aku pergi, Assalamualaikum," ucap Adam.
Adam segera masuk kedalam mobil dan meminta Ali untuk segera berangkat, Ali yang melihat temannya itu seperti ketakutan mulai bertanya-tanya, tapi kali ini Adam tidak menjawab pertanyaan Ali, dia hanya menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya Adam tiba di Bandara, dia memesan tiket penerbangan pertama menuju Jakarta, Selama menunggu, Adam masih tetap terdiam tanpa sepatah katapun.
"Dam, kamu kenapa sih?" tanya Ali.
"Rayya, aku kangen Rayya," jawab Adam.
"Masya Allah, begitu kangennya kamu sama Rayya sampe-sampe dari tadi kamu cuekin aku?"
"Maaf, Li,"
"Aku ngerti Dam, udah lama kamu enggak ketemu Rayya, wajar kalo kamu kangen,"
"Berapa lama lagi kita nunggu Li?"
"Sabar, pesawatnya masih delay, jangan buru-buru Dam, enggak baik,"
*Sementara itu di rumah Rayya
Rayya yang baru saja menyelesaikan pekerjaan rumahnya, terus menatap jam dinding yang terus berputar, sesekali dia melihat ke arah jalan, berharap Adam akan segera muncul.
Setiap ada taksi atau mobil yang berhenti didepan rumahnya, Rayya langsung berlari untuk melihat, tapi ternyata bukan Adam yang muncul, Hingga hari semakin sore, suara adzan asar mulai berkumandang, Rayya yang sudah lelah segera menutup pintu dan mengambil air wudhu.
__ADS_1
Tokk... tokk...
Terdengar suara pintu diketuk, Rayya yang baru selesai melaksanakan sholat kembali antusias dan segera membuka pintu.
"Paket bu,"
Ternyata seorang kurir pengantar paket yang datang, Beberapa hari yang lalu Rayya memesan banyak buku pelajaran untuk anak-anak di TPA tempatnya mengajar.
"Terima kasih,"
Rayya membawa paket itu kedalam rumah, dia langsung memeriksa isinya yang ternyata sangat menarik untuk anak-anak.
Hari sudah petang, sekarang sudah terdengar suara adzan maghrib, Rayya segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat, lima belas menit kemudian...
Tokk... tokk...
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab Rayya sambil memakai kembali hijabnya.
Kali ini dia berjalan pelan, dia tidak ingin kecewa lagi karena Adam yang tidak kunjung datang, Dengan pelan, Rayya membuka pintu, ternyata kali ini Adam sudah berdiri dihadapannya.
Betapa senangnya hati Rayya, dia langsung memeluk erat suaminya itu yang bahkan belum sempat masuk kedalam rumah.
"Assalamualaikum," bisik Adam.
Tanpa mereka sadari, ternyata banyak orang yang baru pulang dari masjid melewati rumah mereka.
"Assalamualaikum ustadz," sapa seorang anak kecil.
Adam dan Rayya terkejut, Rayya segera melepas pelukannya dan langsung masuk kedalam rumah dengan rasa malu.
"Waalaikumsalam, Eh Habib, ada apa?"
"Ini, ada titipan dari ustadz Agung," Habib memberikan bungkusan kecil kepada Adam.
"Oh iya, terima kasih ya, masuk dulu yuk,"
"Enggak usah ustadz, Habib buru-buru mau kekamar mandi, Assalamualaikum," Habib langsung berlari dengan kencang bahkan sebelum Adam menjawab salamnya.
"Waalaikumsalam, lucu sekali anak itu,"
Adam masuk kedalam rumah, dilihatnya sosok Rayya sedang membuat minuman dan makanan kecil, Adam berjalan mendekati Rayya dan memeluknya dengan lembut.
"Rayya, maafkan aku," bisik Adam.
"Enggak apa-apa mas," jawab Rayya.
Malam itu adalah malam yang membahagiakan untuk Rayya, setelah lama tidak bertemu suaminya, akhirnya kini mereka kembali bertemu.
Adam dan Rayya melaksanakan sholat isya berjamaah dirumah seperti biasanya, tidak lupa mereka juga saling mendoakan satu sama lain.
__ADS_1