
Satu minggu sudah Adam dan Musa berada di pesantren, mereka membantu semua kegiatan disana sepeninggal kiayi Munawit, Kini sudah saatnya mereka untuk kembali kerumah masing-masing, Adam yang masih dalam kondisi kurang baik, memutuskan untuk kembali ke Jakarta sementara itu, Ira yang berada di Semarang hanya bisa menunggu kepulangan Adam.
Akhir-akhir ini Ira jarang kasih kabar, apa dia marah karena pesan dan telephonnya selalu aku abaikan? Batin Adam.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, Akhirnya Adam sampai dirumahnya, seperti biasa, Rayya selalu menyambutnya dengan hangat, senyum manis selalu dia tunjukkan kepada suaminya itu.
Pagi hari, Seperti biasa Adam dan Rayya sarapan bersama, disaat suasana hening, tiba-tiba ponsel Adam berdering, dilihatnya sebuah pesan dari Ira.
Mas, kamu kapan pulang ke Semarang? Ada hal penting yang mau aku omongin. Isi pesan Ira.
Besok. Isi pesan balasan Adam untuk Ira.
Rayya yang duduk berhadapan dengan Adam hanya sedikit melirik dan tersenyum tanpa berkata atau bertanya apapun.
Hari berlalu begitu cepat, Adam sedang bersiap berangkat menuju Semarang, Rayya yang membantunya mengemas pakaian mulai membuka percakapan karena suasana terasa canggung diantara mereka.
"Berapa lama kamu disana, Mas?" tanya Rayya.
"Aku enggak tau, mungkin tiga hari," jawab Adam.
"Em, Mas, apa enggak bisa kamu tetap disini, biar Ali yang mengurus disana?" ucap Rayya yang untuk pertama kalinya mencegah Adam.
"Tumben kamu bilang gitu, biasanya kamu selalu bilang 'Iya, pergi aja' gitu kan?"
"Hm, enggak apa-apa sih, aku masih kangen aja sama Mas,"
"Aku juga masih kangen, aku juga maunya begitu, tapi mau gimana lagi banyak urusan yang belum selesai disana,"
"Oh gitu, Mas kenapa ya, setiap aku bantu kamu kemas barang, aku ngerasa kalo aku kayak mau ngelepas kamu kerumah istri kamu yang lain?"
Adam terkejut mendengar ucapan Rayya, Wajahnya seketika berubah menjadi masam.
"Hm, ada-ada aja kamu," jawab Adam dengan senyum canggungnya.
Setelah selesai berkemas, Adam segera berangkat menuju Bandara dengan taksi yang sudah dipesan sebelumnya, Rayya mencium tangan Adam dan mengantarnya sampai depan gerbang rumah mereka.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
*Singkat cerita.
__ADS_1
Adam akhirnya sampai di Semarang tepatnya dirumah Ira, disana Ira sudah menyambutnya dengan senyuman dan menyiapkan makanan lalu menyajikannya kepada Adam.
"Enggak usah, aku enggak lapar," ucap Adam saat Ira menyendok nasi untuknya.
"Sedikit aja, Mas, cobain masakan aku, mungkin ini buat yang terakhir kali," jawab Ira sambil mengisi piring Adam.
"Maksud kamu?"
"Enggak apa-apa, Ayok makan,"
Adam merasa ada yang aneh pada Ira, Itu terlihat jelas dari tingkah Ira yang tidak seperti biasanya, Kali ini Ira seperti menjaga jarak dengannya bahkan hanya bicara seperlunya.
Hari berganti malam, Adam dan Ira bersiap untuk tidur, Kali ini Ira meletakkan guling diantara mereka membuat Adam merasa semakin aneh tapi juga nyaman untuknya karena tidak harus bersentuhan dengan Ira, Ira tidur membelakangi Adam yang masih sibuk dengan layar laptopnya.
Citt... citt... citt...
Suara burung kembali berkicau menyambut pagi dengan diiringi matahari yang sudah terbit, Kali ini Adam bangun tepat waktu dan tidak melewatkan sholat subuhnya karena Ira sudah memasang alarm pada ponselnya.
Mereka sarapan bersama pagi itu, tapi suasana saat itu nampak hening, hanya terdengar suara sendok yang beradu diatas piring-piring mereka.
"Kamu bukan mas Ilham," ucap Ira tiba-tiba membuat semua orang terkejut.
"Maksud kamu apa Ra?" tanya bu Siti.
"Ira, kamu tau darimana semua itu?" tanya bu Siti.
"Aku belum selesai bu, Dan satu lagi mas, ini..." Ira memberikan sebuah foto kepada Adam.
"Foto itu, darimana kamu dapat foto itu?" tanya Adam.
"Dikamar kita, mungkin kamu enggak sengaja jatuhin foto itu disana,"
"Tapi foto itu..."
"Iya, ibu sama bapak udah simpen foto itu biar aku enggak tau kan, tapi sebenernya sebelum ibu dan bapak ambil foto itu aku udah liat lebih dulu, dan aku ambil ini dilaci kamar ibu,"
"Jadi sekarang, kamu tahu semuanya?" tanya Adam.
"Iya, Mas, aku tahu semuanya, selama kamu pergi aku inget semuanya, maka dari itu, aku mulai cari informasi tentang kamu, sekarang aku sadar kalo aku salah karena hadir diantara kamu dan istrimu mas, aku minta maaf,"
"Ira,"
__ADS_1
"Pasti istri kamu perempuan yang sangat baik mas, sama kayak kamu, sekarang aku mau minta satu hal sama kamu,"
"Apa?" tanya Adam harap-harap cemas.
"Ceraikan aku mas, talak aku,"
Bu Siti sangat terkejut mendengar permintaan Ira, sedangkan pak Tejo hanya menghela nafas panjang.
"Gimana bisa, kamu kan..."
"Jangan bu," Ira menggelengkan kepalanya.
"Diam Ira, kamu udah banyak ngomong, sekarang giliran ibu, Adam kamu enggak bisa ceraikan Ira, Ira lagi hamil, kamu tahu?"
Bagai disambar petir untuk kedua kalinya, Adam sangat terkejut mendengar ucapan bu Siti, Fikirannya kosong seakan jiwanya telah keluar dari raganya, Dia tidak percaya dengan semua itu.
Hamil? Gimana bisa? Aku bahkan enggak pernah sentuh dia? Batin Adam.
Namun seketika Adam mengingat kejadian hari itu, dimana dia bangun terlambat dengan pakaian yang berserakan, Bu Siti masih terus bicara supaya Adam tidak bercerai dengan Ira.
Adam yang merasa lemah, bangun dari tempat duduknya, dia berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang lunglai, melihat hal itu, Ira mengikutinya, kini mereka duduk diatas tempat tidur dengan berjarak.
"Jangan peduli sama kehamilan aku mas, aku bisa urus semuanya sendiri, ini semua udah keputusan aku, lebih baik kamu kembali ke Jakarta, biar aku disini dengan bayi ini," ucap Ira.
"Apa kamu benar-benar hamil?" tanya Adam.
Ira membuka laci mejanya, dan mengambil sepucuk surat lalu menyerahkannya kepada Adam.
"Itu surat dari dokter Mas,"
Adam membaca surat itu berkali-kali, seakan masih tidak percaya kalau Ira benar-benar hamil.
"Keluarlah, aku mau sendirian," ucap Adam.
Ira melangkahkan kakinya keluar dari kamar, sementara Adam mengurung dirinya selama berjam-jam, dia hanya keluar kamar untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat tanpa berbicara pada siapapun.
Hari sudah kembali petang, Adam yang baru saja selesai melaksanakan sholat isya, Adam meminta Ira dan keluarganya untuk bicara.
"Kamu minta aku menceraikan kamu, tapi maaf Ra, aku enggak bisa," ucap Adam tiba-tiba, "Aku enggak bisa berpisah dengan perempuan yang sedang mengandung anakku, itu yang berlaku di agama kita, jadi maaf Ra, aku enggak bisa," lanjut Adam.
"Tapi Mas,"
__ADS_1
"Diam Ira! Syukurlah Dam, kamu ambil keputusan yang benar, jangan sampai kalian berpisah dalam kondisi Ira yang begini," ucap bu Siti.
Setelah mengatakan semua itu, Adam kembali kekamarnya, sementara Ira hanya menatap kepergiannya.