
Waktu terus berlalu dengan sangat cepat, Sejak Rayya dan Ria bertemu dipasar saat itu, kini mereka semakin sering bertemu bahkan Rayya sesekali mengajaknya untuk datang kerumahnya juga memperkenalkan Ria kepada semua murid-muridnya d TPA.
Dengan senang hati, Ria melakukan apa yang Rayya minta, Rayya yang terkadang merasa kesepian harus tinggal seorang diri kini tidak lagi dia rasakan semenjak dia mulai bergaul dengan Ria.
Siang itu Rayya meminta Ria untuk ikut makan siang bersamanya dan Adam, Ria sempat menolak karena dia tidak ingin mengganggu pasangan itu, tapi Rayya terus memintanya dan membujuknya.
Jam makan siang tiba, Adam yang baru kembali dari kantor segera masuk kedalam rumah yang kebetulan siang itu pintu rumah mereka terbuka lebar dan ada sepasang sandal milik orang lain.
"Assalamualaikum," ucap Adam.
"Waalaikumsalam, mas udah pulang, ayuk masuk, aku baru selesai masak," jawab Rayya.
Adam berjalan masuk tidak lupa dia mencium kening Rayya, Adam berjalan menuju meja makan dan dilihatnya sosok perempuan yang sedang membantu Rayya, perempuan itu sangat tidak asing baginya.
"Ira?" ucap Adam dengan wajah terkejut.
Rayya yang baru kembali dari dapur sangat terkejut mendengar ucapan Adam, Tatapannya tertuju pada Ria yang masih berdiam diri dengan tumpukan piring ditangannya.
"Maksud kamu apa mas? Ira? Dia, dia Ira?" tanya Rayya.
Ria meletakkan tumpukan piring itu diatas meja dan berjalan mendekati Rayya, Ria langsung menggenggam tangan Rayya sambil menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku mbak, aku udah bohong sama mbak, tapi bukan maksud aku buat ngebohongin mbak, sekali lagi aku minta maaf," ucap Ria yang ternyata adalah Ira.
Rayya yang masih syok hanya terdiam tanpa berkata apa-apa, Adam yang melihat Rayya diam mematung berjalan mendekati mereka dan menarik tangan Ira untuk membawanya pergi.
"Mas, biarin aku ngomong dulu sama mbak Rayya," ucap Ira.
"Lepasin dia mas," ucap Rayya.
"Tapi Rayya, dia...,"
"Kamu mau ngomong apa?" tanya Rayya pada Ira.
Ira melepas genggaman tangan Adam dan kembali mendekati Rayya.
"Mbak, aku enggak ada maksud apa-apa, aku cuma mau kenal sama mbak, deket sama mbak, dan aku juga mau minta maaf sama mbak, karena aku udah hadir diantara kalian," ucap Ira.
Rayya hanya terdiam mendengarkan ucapan Ira, tanpa sadar air matanya mengalir, Adam yang melihat hal itu meminta Ira untuk pergi meninggalkan rumah itu tapi tiba-tiba Ira merasakan sakit pada perutnya.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya Adam.
"Perutku sakit mas, Awww," Ira terus memegang perutnya, karena tidak bisa menahan rasa sakit akhirnya Ira jatuh pingsan dipelukan Adam.
"Ira? kamu kenapa?" Adam menepuk-nepuk wajah Ira mencoba membuatnya sadar.
Karena Ira yang tidak juga siuman, Akhirnya Adam menggendongnya untuk membawanya kerumah sakit.
"Aku akan ikut mas," ucap Rayya yang berjalan dibelakang Adam.
Selama dalam perjalanan, Rayya berusaha membuat Ira siuman dengan mengoleskan minyak kepada tubuh Ira yang terasa dingin, Adam memperhatikan Rayya melalui kaca mobilnya.
Setelah tiba dirumah sakit, Ira segera dibawa keruang perawatan, Dokter segera menangani dan memeriksa Ira.
Adam dan Rayya duduk bersama diruang tunggu tanpa bicara apapun, Saat itu Adam terlihat sangat cemas, sesekali dia bangun dari tempat duduknya dan melihat kearah ruangan dimana Ira dirawat.
"Dokter, gimana keadaannya?" tanya Adam saat dokter baru saja keluar dari ruangan.
"Kondisi kandungannya cukup lemah, sepertinya dia tidak pernah meminum obat yang diberikan oleh dokter,"
"Gimana bisa, tapi obat itu selalu habis?" tanya Adam heran.
"Sebaiknya bapak tanyakan kepadanya, oh iya, dia juga butuh perawatan dan perhatian ekstra, saya harap dia tidak bekerja berat dulu sementara waktu, tolong jaga dia ya pak, nanti saya akan resepkan obat," ucap dokter itu dan pergi meninggalkan Adam.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Rayya.
"Iya mbak, aku enggak apa-apa kok, terima kasih mbak, mbak udah mau anter aku kerumah sakit, tapi sekarang aku enggak apa-apa, aku mau pulang," jawab Ira.
"Kondisi kandungan kamu lemah, sebaiknya kamu istirahat dulu disini," Rayya bangun dari tempat duduknya hendak pergi, tapi Ira memegang tangannya.
"Mbak, sekali lagi aku minta maaf,"
Rayya tidak berkata apa-apa, dia hanya tersenyum dan mengusap tangan Ira dengan lembut, Ira merasa sangat lega setelah melihat Rayya tersenyum kepadanya.
Setelah beberapa jam, Ira sudah diperbolehkan pulang, Setelah sampai didepan rumah, Adam menghentikan mobilnya.
"Aku mau antar Ira pulang dulu," ucap Adam.
"Pulang kemana? kamu lupa tadi dokter bilang apa? Kandungan Ira lemah, dia butuh perawatan dan enggak boleh kerja berat, biar Ira tinggal disini sementara waktu," jawab Rayya membuat Adam dan Ira terkejut.
__ADS_1
"Rayya,"
"Ayok Ra, biar aku bantu kamu," ucap Rayya.
Rayya membantu Ira berjalan dan masuk kedalam rumah, Rayya meminta Ira untuk istirahat disebuah kamar yang memang selalu disiapkan jika ada yang datang untuk menginap.
"Kamu istirahat disini, aku keluar sebentar," ucap Rayya, Ira hanya mengangguk.
"Rayya, apa kamu yakin dia akan tinggal disini? Biar aku ajak dia pulang ya, aku bisa mencari orang untuk bantu dia disana," ucap Adam.
"Enggak mas, disaat kayak gini, perhatian keluarga lebih penting daripada harus dengan orang lain,"
"Tapi kamu..."
"Aku enggak apa-apa mas, sebaiknya kamu kembali kekantor, pulang nanti jangan pula bawa barang-barang Ira,"
Adam dan Rayya saling bertatapan satu sama lain, Adam memperhatikan mata Rayya yang berkaca-kaca seperti menahan air mata, Adam langsung memeluk Rayya dengan erat begitupun dengan Rayya, Sementara itu Ira melihat kejadian itu dari balik pintu kamarnya.
Adam pamit kepada Rayya dan kembali kekantor, Setelah Adam pergi, Rayya mendapatkan telephon dari Mayra yang masih berada di Amerika, Mayra memberi kabar kalau dia akan pulang ke Indonesia, tentu saja hal itu sangat membahagiakan untuk Rayya setelah berpisah dari Mayra dalam waktu yang cukup lama.
"Mbak, telephon dari siapa?" tanya Ira.
"Oh, dari Mayra,"
"Ehm, Mayra itu siapa?"
"Lho, kamu enggak tau Mayra? Dia adiknya mas Adam, dia mau pulang ke Indonesia,"
"Emang dia tinggal dimana?"
"Emang mas Adam enggak pernah cerita sama kamu tentang Mayra?"
"Mana pernah mas Adam cerita tentang keluarganya sama aku mbak, mbak makasih ya mbak selalu angkat telephon aku waktu aku butuh temen, padahal aku inikan madunya mbak, sekali lagi aku minta maaf,"
"Jangan minta maaf terus, aku ini bodoh ya, padahal kamu selalu telephon aku, tapi aku enggak kenal kamu,"
"Mbak,"
"Udah, kamu istirahat aja, sebentar lagi ashar, jangan lupa sholat,"
__ADS_1
Rayya menepuk bahu Ira pelan ditambah senyuman diwajahnya dan pergi meninggalkan Ira menuju kekamarnya, Ira masih berdiri ditempatnya sambil menatap kepergian Rayya.
"Pantas mas Adam sangat cinta sama kamu mbak, kamu emang bener-bener perempuan yang sangat baik," gumam Ira.