
Seminggu sudah berlalu, Hari itu kebetulan hari libur jadi semua orang berada dirumah untuk menikmati waktu bersama keluarga.
Adam, Amir dan Zidan pergi berolahraga bersama, waktu seperti itu sangat jarang terjadi karena kesibukan masing-masing, apalagi saat Zidan tidak perduli kepada keluarganya dan lebih memilih bersama teman-temannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi, Mereka segera pulang kerumah dan membersihkan diri, Rayya sudah menyiapkan makanan kesukaan mereka masing-masing.
"Ayah, ibu, Zidan mau ke pesantren," ucap Zidan tiba-tiba ditengah sarapan mereka.
Mendengar perkataan itu, semua orang sangat terkejut, terlebih lagi Adam yang sejak Zidan masih kecil menyuruhnya untuk ke pesantren, tapi Zidan terus menolak.
"Apa ayah enggak salah denger?" tanya Adam sedikit mengejek.
"Enggak ayah, Zidan serius," jawab Zidan dengan wajah datar.
Semua orang menatapnya dengan heran dan penuh pertanyaan, Zidan akhirnya menjelaskan apa yang terjadi dengannya, Adam dan Rayya sangat bersyukur saat tahu putranya itu sudah bisa mengakui kesalahannya bahkan berniat meminta maaf.
Adam terus bertanya tentang keseriusan Zidan, Zidan benar-benar serius saat itu, hingga akhirnya Adam menyetujuinya dan segera menyiapkan keberangkatannya.
***
Hari berikutnya, Adam dan yang lainnya mengantar Zidan menuju bandara, Zidan hendak pergi ke Surabaya tepatnya dipesantren dimana Rezi juga menimba ilmu disana.
Tapi sayang, Siang itu Amir dan Ilyas tidak bisa ikut mengantar Zidan karena jadwal ujian mereka yang bersamaan, tapi Zidan tidak mengeluhkan hal itu, dia justru bangga karena kakaknya sangat giat dalam menuntut ilmu tidak seperti dirinya.
"Hati-hati ya Zidan, jaga kesehatan," ucap Musa sambil memeluk keponakannya itu.
"Iya Zidan, kalo udah sampe cepet hubungi kami ya," sahut Laksmi.
"Makasih om, tante, aku titip ayah dan ibu ya?" jawab Zidan.
"Iya, tenang aja,"
"Emang kita anak kecil Zidan, seharusnya kami yang bilang gitu sama pak Kiayi," sahut Adam.
"Hati-hati nak, maaf ibu sama ayah enggak bisa anter kamu sampe pesantren," ucap Rayya berlìnang air mata.
"Enggak apa-apa bu, doa kalian cukup buat aku,"
Zidan memeluk mereka satu persatu sampai akhirnya dia segera masuk kedalam pesawat, Tidak lama kemudian, pesawat itu tinggal landas, Rayya semakin menangis saat itu tapi mereka menenangkannya.
***
Singkat cerita.
Sesampainya dipesantren, Zidan disambut hangat oleh pak Kiayi Malik, Pak Kiayi Malik adalah pimpinan sekaligus pemilik pesantren itu, dia juga termasuk salah satu sahabat almarhum ustadz Fadlan, kakek Zidan yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
Semua santri memperkenalkan diri kepada Zidan, begitu juga dengannya. Tapi disana Zidan tidak melihat Rezi, Matanya terus mencari keberadaannya tapi tidak juga ditemukan.
__ADS_1
Dimana Rezi? kok enggak keliatan? apa aku salah masuk pesantren?. Batin Zidan.
"Assalamualaikum Zidan,"
"Waalaikumsalam,"
"Kenalin, aku Haris, aku satu kamar sama kamu, ayok biar aku tunjukin kamar kita," ajak Haris.
"Oh iya, terima kasih,"
Zidan berjalan mengikuti Haris, Haris menunjukkan semua yang berada disana tapi sepertinya Zidan tidak mendengarkan, matanya hanya tertuju pada sekumpulan santri yang sedang bermain sepak bola sambil mencari Rezi.
"Nah, ini kamar kita, kamu tidur disebelah sana," ucap Haris tapi Zidan masih abai.
"Zidan,"
"Ah, iya, maaf, aku ngelamun," jawab Zidan terkejut sambil menggaruk kepalanya.
"Iya enggak apa-apa kok, itu hal yang wajar buat santri baru, ya udah aku tinggal dulu ya,"
Haris pergi keluar setelah mengantar Zidan masuk kedalam kamar, Zidan merapihkan pakaiannya kedalam lemari yang ada disamping tempat tidurnya.
Tiba-tiba, seseorang masuk kedalam kamar itu dan tidak sengaja menabrak koper Zidan hingga terjatuh.
Brakk...
"Maaf-maaf, aku enggak sengaja,"
Anak lelaki itu membantu mengambil barang-barang Zidan yang berserakan, Zidan nampak kesal, dia menepis tangan santri itu mencegahnya menyentuh barang miliknya.
"Aku bener-bener enggak sengaja," ucap santri itu.
"Ya udah, pergi sana," usir Zidan.
"Kenapa Mal? kok lama cuma ambil handuk?" santri lain masuk kedalam kamar itu.
"Enggak apa-apa kok, ya udah yuk, aku minta maaf sekali lagi,"
"Udah Mal, santri baru aja sombong gitu, udah tinggalin aja,"
Mereka semua pergi meninggalkan Zidan yang masih tertunduk sambil memungut barang-barangnya, wajahnya terlihat muram bahkan terlihat sangat malas untuk bicara.
Saat itu, Haris kembali menemui Zidan, melihat Zidan sendirian, Haris membantunya dan mulai bertanya apa yang terjadi.
"Ada santri nabrak koper aku, aku cuma kesel," jawab Zidan ketus.
"Oh, itu masalahnya, sabar Zidan, jangan gampang marah, kamu harus belajar sabar dan memaafkan," ucap Haris.
__ADS_1
"Emang siapa sih mereka itu?"
"Yang satu cucu pak Kiayi, namanya Ridho, tapi tenang pak Kiayi anggep semua santri sama, walaupun itu cucunya, yang satu lagi Akmal, dia juga baru pindah beberapa hari lalu," jawab Haris.
"Akmal?"
"Iya, dia pindahan dari Jakarta,"
Mendengar nama itu, tiba-tiba Zidan berlari keluar, dia mencari seseorang yang bernama Akmal, salah satu santri memberitahunya kalau Akmal berada di kantin pesantren.
Zidan melihat seluruh isi kantin, sampai akhirnya matanya tertuju pada seseorang yang berada cukup jauh darinya, Iya itu Akmal.
Zidan berjalan hendak mendekatinya, tapi tiba-tiba beberapa santri menghadangnya dan disaat bersamaan tiba-tiba tumpahan air mengenai kepalanya, tubuhnya basah kuyup dengan air kotor, rupanya air itu berasal dari lantai dua pesantren dimana disana terlihat dua orang memegang ember besar.
Semua mata tertuju pada Zidan, Tapi mereka hanya diam tanpa berbuat apa-apa, Akmal yang berada cukup jauh ikut menyaksikan kejadian itu.
"Kamu murid baru yang sombong itu kan? Baru dateng udah banyak tingkah," ucap salah satu dari mereka.
"Udah, kerjain aja lagi," sahut yang lain.
Mereka berusaha melakukan hal buruk lagi kepada Zidan tapi saat itu Zidan membela diri.
"Loe cucu pak Kiayi kan? Ridho?" tanya Zidan.
"Dia tahu nama kamu Do,"
"Heh, beraninya kamu panggil pake kata 'Loe', mau macem-macem kamu," Ridho nampak kesal.
Ridho berusaha memukul Zidan, tapi tiba-tiba seseorang menangkis tangannya dan mencegah perkelahian itu terjadi.
"Jangan Do, jangan ganggu dia," ucap Akmal.
Zidan menatap Akmal dan tersenyum kepadanya, begitu juga dengan Akmal, dia membalas senyuman Zidan dengan hangat.
"Kamu kenal dia Mal?" tanya Ridho.
"Iya, ya udah yuk, jangan ribut," Akmal menuntun Ridho keluar dari kantin.
"Cepet beresin baju kamu, sebentar lagi pelajaran dimulai," ucap Akmal sambil kepada Zidan sambil berjalan keluar.
Haris yang datang sedikit terlambat sangat terkejut melihat pakaian Zidan yang kotor dan basah, Haris mengajaknya untuk membersihkan diri.
"Pasti ini ulah Ridho," ucap Haris.
"Iya, kata kamu dia diperlakuin sama, tapi kenapa dia begitu?" tanya Zidan.
"Iya, itu karena enggak ada pak Kiayi, kalo ada, nyali dia juga ciut,"
__ADS_1
Zidan mengangguk-angguk tanda mengerti, dia masuk kedalam kamar mandi dan membersihkan diri, sebelum akhirnya masuk kedalam kelas untuk belajar bersama yang lain.