
Hari kembali berganti hari, Mayra yang sudah berada di Indonesia segera menghubungi ayah dan ibunya juga kakak-kakaknya, Rayya menawarkan diri untuk menjemputnya di bandara tapi Mayra menolaknya dengan alasan mereka sudah merental mobil.
Tapi sayang, disaat bersamaan ustadz Fadlan dan bu Fatma harus pergi ke pesantren almarhum kiayi Munawir, sehingga tidak bisa menemui Mayra dan Rizal.
"Kalo gitu kita nginep dirumah mas Adam aja ya mas?" ucap Mayra kepada Rizal.
"Ngapain nginep disana? Enggak apa-apalah kita kerumah ibu, nginep disana,"
"Sama aja donk kita cuma berdua lagi, Ah aku enggak mau," jawab Mayra, cemberut.
"Ya udah, dirumah mas Musa aja ya?"
"Kalo disana tambah repot, mbak Laksmi lagi hamil nanti malah tambah ngerepotin, ada Ilyas juga, kamu kan tahu aku enggak suka anak kecil,"
"Oh, jadi itu alasan kamu kenapa masih belum mau punya anak?"
"Ya enggak gitu juga,"
"Terserah kamu lah," Rizal kembali mengalah dari istrinya.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam dari Bandara, akhirnya mereka sampai dirumah Adam, Rayya menyambut mereka dengan senang hati, Mayra juga langsung memeluknya, Mayra dan Rayya memang sudah akrab sejak lama, bahkan terlihat seperti kakak adik, bukan sebagai saudara ipar.
"Udah makan belum? Mbak udah masak banyak," ucap Rayya.
"Kebetulan belum, ya udah, yuk makan," jawab Mayra.
"Ih, enggak malu banget sih," sahut Rizal sedikit mengejek.
"Biarin," jawab Mayra.
Mayra dan Rayya makan siang bersama, sementara itu Rizal yang merasa badannya tidak enak hendak menyegarkan diri, Rizal menuju kamar mandi tapi saat berada disana, pintu kamar mandi terlihat tertutup dan terdengar suara seseorang, Rizal mengurungkan niatnya dan kembali kemeja makan.
"Mbak, mas Adam ada dirumah?" tanya Rizal.
"Enggak ada, dia baru berangkat kekantor, tadinya dia mau nunggu kalian, tapi ada rapat mendadak," jawab Rayya.
"Terus dikamar mandi ada siapa?" lanjut Rizal.
Belum sempat Rayya menjawab, Ira keluar dari kamar mandi dengan kimono dan handuk yang mengikat rambutnya, Rizal yang terkejut melihatnya langsung memalingkan wajahnya kearah lain.
"Heh, siapa kamu?" tanya Mayra ketus.
"Itu Ira, Ira cepet masuk kamar," ucap Rayya.
"Iya, maaf, permisi," Ira berlari kecil menuju kamarnya.
"Ira? Ira siapa? Pembantu baru? Nyari pembantu kok masih muda gitu," ucap Mayra.
"Dia, Ehm, Oh iya Rizal, katanya mau mandi,"
"Iya," Rizal berjalan menuju kamar mandi.
"Siapa dia mbak?" tanya Mayra penasaran.
"Ehm, dia kakak ipar kamu juga,"
__ADS_1
"Uhukk... uhukkk," Mayra terkejut dengan jawaban Rayya, "Maksud mbak apa? Apa dia istri mas Adam?" lanjut Mayra.
Rayya hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa.
"Ya Allah mbak-mbak, kenapa dia ada disini sih? Apa mas Adam yang bawa dia kesini? Emangnya dia enggak mikirin perasaan mbak? Awas ya mas Adam,"
"Enggak, bukan gitu,"
Rayya mencoba menjelaskan situasi yang terjadi sehingga membuat Ira berada disana, Mayra yang mendengarkan terlihat kesal dengan caranya mengunyah makanan dengan kasar.
"Kamu jangan marah sama mas Adam ya? Janji sama mbak?"
"Hm, Iya, terserah mbak lah," jawab Mayra.
Setelah makan siang selesai, Rayya merapihkan semua piring kotor tapi tidak langsung mencucinya karena dia belum melaksanakan sholat dzuhur.
Sementara itu Mayra yang penasaran dengan sosok Ira, mencoba mendekatinya, Mayra masuk kedalam kamar Ira tanpa permisi membuat Ira yang sedang menyisir rambutnya terkejut.
"Hm, rapih juga kamar kamu," ucap Mayra sambil melirik seluruh isi kamar Ira.
"Betah tinggal disini? Gimana rasanya jadi istri kedua mas Adam? Dia adil enggak?" lanjut Mayra.
"Dimana mbak Rayya?" Ira balik bertanya.
"Lagi sholat, kenapa?"
"Enggak apa-apa, Hm, aku Ira,"
"Aku Mayra, adiknya mas Musa dan mas Adam, pasti belum tahu kan? karena aku tahu mas Adam enggak akan cerita tentang keluarganya sama orang lain,"
"Hm, iya, aku baru tahu dari mbak Rayya," jawab Ira.
"Apa?"
Mayra memegang tangan Ira dan mengajaknya masuk kedapur, Mayra menyuruh Ira mencuci tumpukan piring kotor yang berada disana.
"Yang bersih ya,"
Rayya yang baru selesai melaksanakan sholat berjalan menuju dapur hendak mencuci piring kotor itu, baru sampai didepan pintu Rayya melihat Mayra dan Ira berada disana.
"Ya Allah Ira, kenapa kamu yang cuci? Udah tinggalin aja, biar aku yang cuci," ucap Rayya.
"Enggak usah mbak, orang dia yang mau kok, iya kan, MBAK IRA?" jawab Mayra menekankan suaranya.
"Iya mbak, biar aku aja,"
"Nah, mbak denger kan, Ya udah sekarang mendingan mbak temenin aku kerumah mas Musa, mana kunci mobil?" Mayra menarik tangan Rayya dan membawanya keluar dari dapur.
"Tapi, Ira,"
"Udah mbak, biarin aja, mas Rizal, mau ikut enggak?"
Rizal yang sedang berbaring dikamarnya segera keluar mendengar teriakan Mayra.
"Kemana? Aku capek," jawab Rizal.
__ADS_1
"Kerumah mas Musa, kamu enggak mau ikut? Mau disini aja?" tanya Mayra sambil melirik Ira yang masih fokus dengan piring kotornya.
"Iya-iya, ikut deh,"
"Mbak, kita kayaknya pulang terlambat, kerjain yang lain juga ya," teriak Mayra kepada Ira.
Mayra, Rayya dan Rizal masuk kedalam mobil dan pergi menuju rumah Musa dan meninggalkan Ira sendirian.
Ira yang baru selesai mencuci piring langsung mengerjakan pekerjaan lainnya sesuai permintaan Mayra.
"Hah, aku capek, kenapa sih Mayra itu harus dateng kesini," ucap Ira dengan kesal.
Tokk... tokk...
"Assalamualaikum,"
"Siapa juga yang dateng, bikin repot aja,"
Ira berjalan menuju pintu dan membukanya, dilihatnya sosok anak kecil dengan tampilan rapih menggunakan sarung, baju koko dan peci.
"Mau apa kamu?" tanya Ira ketus.
"Jawab salam dulu donk tante, jangan marah-marah," jawab bocah itu.
"Waalaikumsalam, mau apa?"
"Nah, gitu kan enak, mau kasih undangan buat pak ustadz sama bu ustadz," jawab anak itu sambil menyerahkan sepucuk kertas putih.
"Undangan apa ini?"
"Pengajian akbar dipesantren Abi Lutfi,"
"Oh iya udah,"
"Assalamualaikum,"
Tanpa menjawab Ira langsung masuk dan menutup pintu, sementara anak itu masih berdiri disana dengan tatapan heran.
"Hm, siapa tante itu, enggak sopan," gumamnya.
Hari sudah sore, Adzan ashar mulai berkumandang, Ira yang sudah selesai dengan semua pekerjaannya, duduk santai diteras rumah sambil membaca majalah dengan berpangku kaki, Pakaian Ira yang hanya sebatas lutut membuat orang-orang yang lewat menatapnya dengan tatapan aneh.
"Kenapa sih orang-orang, aneh banget," gumam Ira.
Lalu sebuah mobil masuk kedalam halaman rumah mereka, ternyata itu Adam yang baru saja kembali dari kantor, Ira bangun dari tempat duduknya dan menyambut Adam dengan hangat.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam, sini mas aku bawain tasnya," ucap Ira mengambil tas kerja dari tangan Adam.
Adam yang heran melihat tatapan para tetangga, langsung melirik kearah Ira dan mengajaknya masuk kedalam.
"Ganti baju kamu," ucap Adam.
"Emang kenapa mas? Kamu enggak suka? Kurang cocok ya?" tanya Ira.
__ADS_1
"Iya, perempuan muslim kurang cocok pake baju yang kayak gitu, apalagi didepan orang banyak" jawab Adam.
Ira mengeryitkan dahinya mencoba memahami ucapan Adam, Ira melihat dirinya melalui cermin memperhatikan apa yang salah dengan penampilannya.