
Satu hari sudah berlalu semenjak Zidan berada dipesantren, Zidan yang pandai bergaul sudah langsung mendapat banyak teman, tapi tidak dengan pertemanannya dan Rezi, Di pesantren Rezi dikenal dengan nama Akmal, dia selalu terlihat sibuk kesana kemari sampai tidak ada waktu bagi Zidan untuk bicara kepadanya.
Zidan terus berusaha menemui Rezi tapi setiap dia datang ketempat Rezi berada, Rezi selalu saja sedang melakukan sesuatu sampai-sampai tidak ada waktu untuk bicara.
"Boleh gue bantu?" tanya Zidan mendekati Rezi yang tengah mengangkut barang yang baru saja dikirim.
"Oh, apa enggak keberatan?" Rezi balik bertanya.
"Enggak kok," Zidan mengambil satu dus berisi penuh dari dalam mobil.
"Terima kasih,"
Rezi berjalan meninggalkan Zidan yang berada dibelakangnya, Zidan yang masih berusaha untuk bicara kepada Rezi berlari mengejarnya hingga tidak sengaja kakinya tersandung dan terjatuh bersama dus yang dibawanya.
Brakk...!
Rezi menoleh kebelakang, dilihatnya Zidan yang tengah terduduk sambil memegang pinggangnya yang kesakitan.
"Kamu enggak apa-apa,?" tanya Rezi sambil membantu Zidan.
"Bagus! Baru dateng udah bikin rusuh, kamu mau ngerusak barang-barang itu?" sahut Ridho dari kejauhan.
"Heh, gue enggak sengaja ya," jawab Zidan.
"Udah jangan ribut, mending buruan beresin ini, sebelum diliat pak Kiayi," ucap Rezi menghentikan pertengkaran itu.
Zidan dan Ridho saling menyeringai bibir, Zidan kembali mengangkat dus itu sementara Ridho hanya memperhatikan mereka tanpa berbuat apa-apa.
Kayaknya Akmal sama itu anak udah kenal lama? siapa sih dia?. Batin Ridho.
***
Hari sudah menjelang malam, suara adzan maghrib berkumandang dari masjid yang berada di pesantren, Semua santri bergantian mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat berjamaah.
Setelah sholat, mereka pun membaca al-qur'an dengan khusu, Tapi tidak dengan Zidan, dia terus menatap Rezi yang duduk cukup jauh, berharap dia bisa segera minta maaf kepadanya tapi rupanya belum ada kesempatan.
"Dan, kamu liatin apa?" tanya Haris sambil ikut melihat kearah dimana mata Zidan tertuju.
"Ah, enggak kok,"
"Kamu liatin Akmal terus? kalian ada hubungan apa? apa kalian saudara atau teman?" tanya Haris.
__ADS_1
Zidan menghela nafas panjang, hingga akhirnya dia menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Rezi, Haris yang lebih tua darinya menjadi pendengar yang baik dan mencoba mengerti situasinya.
"Masya Allah, aku seneng masih ada orang kayak kamu, yang berani ngaku kesalahannya bahkan mau minta maaf, nanti aku usahain buat kamu ngomong berdua sama Akmal," ucap Haris.
Zidan tersenyum senang, dia tidak menyangka, kalau Haris begitu baik kepadanya walaupun mereka baru bertemu beberapa jam yang lalu, tapi sepertinya Haris bisa menjadi teman yang baik.
Waktu makan malam tiba, Semua santri diharuskan duduk bersama teman satu kamar masing-masing, Zidan bersama dengan Haris dan Rezi serta dua teman lainnya duduk saling berhadapan.
Makanan mulai dibagikan disebuah nampan besar, dimana nampan itu berisi nasi dan lauknya yang cukup untuk lima orang, Mereka mulai makan tanpa boleh berbicara sedikitpun.
"Rezi, gue minta maaf sama loe," ucap Zidan tiba-tiba.
Haris dan yang lainnya seketika menatap Zidan, Begitu juga Rezi.
"Kenapa kalian liat gue kayak gitu? gue cuma mau minta maaf sama Rezi," ucap Zidan.
"Ngomongnya nanti aja, abis makan," jawab Rezi sambil melanjutkan makannya.
Mendengar jawaban Rezi, Zidan merasa hatinya cukup tenang, itu artinya Rezi mempunyai waktu untuk bicara dengannya.
Hari semakin malam, Zidan menunggu Rezi dibawah pohon yang ada didepan pesantren, seperti sedang menunggu kekasihnya datang, Zidan terlihat sangat gelisah.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam," jawab Zidan.
"Ngapain malem-malem duduk disini? Enggak takut?" tanya Rezi.
"Rez, gue minta maaf buat apa yang udah gue lakuin ke loe waktu itu, gue bener-bener ngerasa bersalah," ucap Zidan lirih.
Rezi tersenyum dan menepuk bahu Zidan pelan.
"Itu cuma salah paham, kalo aku jadi kamu mungkin aku juga bakal ngelakuin hal yang sama, jangan merasa bersalah, aku udah lupain semua itu kok," jawab Rezi.
"Seriusan?" mata Zidan terbelalak, Rezi mengangguk "Berarti loe udah maafin gue?" lanjutnya.
"Iya, tapi mulai sekarang ubah cara ngomong kamu, terus panggil aku Akmal mulai sekarang, aku suka nama itu, nama itu aku dapet dari ayah kamu,"
Zidan memeluk Akmal seperti layaknya saudara sendiri, Kini hubungan mereka sudah kembali membaik seperti dulu, Mereka mengobrol banyak hal malam itu tanpa mereka sadari, Ridho sedang menatap mereka dari kejauhan.
"Ngapain sih mereka baikan? Kalo mereka baikan, bisa-bisa aku enggak dibantuin lagi kalo ngerjain tugas, aku nyontek sama siapa nanti?" gumamnya.
__ADS_1
***
Ridho termasuk salah satu santri yang kurang berprestasi, setiap mengerjakan tugas dia selalu meminta bantuan kepada Akmal yang terkenal cukup pandai, Bahkan saat ujian pun dia selalu meminta jawaban dari Akmal.
Hal itulah yang membuat Ridho begitu baik kepada Akmal, Bahkan setiap terjadi apa-apa, dia selalu membantu dan membela Akmal walaupun itu dilakukan oleh sahabat-sahabatnya sendiri.
"Kenapa kamu akrab banget sih sama Akmal itu?" tanya Ruli, sahabat Ridho.
"Sebenarnya aku juga males akrab sama dia, tapi dia itu buku berjalan buat aku, kamu juga ikut untung kan?" jawab Ridho tersenyum licik.
"Iya sih,"
Ridho dan Ruli pergi dari sana menuju kamar mereka, Mereka bicara bisik-bisik dengan teman lainnya, entah apa yang mereka bicarakan itu menjadi rahasia.
Keesokan harinya.
Setelah melaksanakan sholat subuh, para santri diwajibkan membersihkan halaman pesantren, Mereka bekerja sama antara satu dan yang lain.
Zidan, Akmal dan Haris selalu terlihat bersama disetiap pekerjaan, Membuat Ridho yang iri hati terlihat sangat marah melihat keakraban mereka.
"Woi Zidan, dipanggil tuh, katanya suruh bersihin toilet," ucap Ruli sedikit berteriak.
"Iya tunggu, Ayok Mal, Ris, bantuin,"
"Kalian enggak usah ikut, disana udah ada orang, cuma perlu satu lagi,"
Zidan mengangguk mengerti, Dia pergi sendiri menuju toilet yang berada cukup jauh dari tempat sebelumnya.
Sesampainya disana, Zidan merasa heran karena tidak melihat siapa-siapa kecuali Ridho dan Ruli yang berada dibelakangnya.
"Mana? Enggak ada orang?" tanya Zidan tanpa rasa curiga.
"Didalem lah, udah sana masuk," Ridho mendorongnya masuk kedalam toilet dan menguncinya dari luar.
Zidan berteriak dan mengetuk-mengetuk pintu, Berusaha membuka dari dalam tapi ternyata tidak berhasil, Ternyata toilet itu rusak dan hanya bisa di buka dari luar.
"Haha, mampus kamu, makanya jadi orang jangan sombong," ucap Ridho.
"Woi buka! Liat aja balesan dari gue!!" teriak Zidan dari dalam.
Ridho dan Ruli merasa puas bisa mengerjai Zidan, Mereka pergi dari sana meninggalkannya sendirian dalam teriakan.
__ADS_1
Akmal dan Haris yang sudah menunggu cukup lama merasa gelisah karena Zidan belum juga datang, Mereka bertanya kepada Ruli, tapi dia menjawab kalau Zidan pergi keluar pesantren setelah membersihkan toilet.