
Mendengar Adam menyetujui permintaan itu, Zidan terlihat sangat marah, dia terus memberontak dan menolak keputusan mereka, Karena sudah mendapat solusi, polisi segera membebaskan Zidan.
Selama dalam perjalanan pulang, Zidan terus berusaha menjelaskan kalau dia tidak melakukan perbuatan itu, dia hanya dijebak oleh Meta dan teman-temannya.
"Ayah, biarpun aku nakal, aku enggak pernah sedikitpun mikir apalagi ngelakuin perbuatan kayak gitu, ayah harus percaya sama aku," bujuk Zidan.
"Amir, nanti malem kita kerumah gadis itu, tolong kasih tau om Musa sama Ilyas, ajak mereka juga," ucap Adam, Amir hanya mengangguk pelan.
"Amir, loe harus percaya sama gue, gue bukan cowok kayak gitu," lanjut Zidan "Ayah, Zidan masih mau sekolah,"
Adam terus mengabaikan ucapan Zidan, bahkan sampai dirumahpun dia tetap diam dan langsung masuk kedalam ruang kerjanya, Zidan terus mengikutinya tapi Adam tidak peduli dan mengunci ruang kerjanya.
Rayya, Musa dan Laksmi yang berada disana terlihat bingung, sampai akhirnya Amir mulai menjelaskannya.
Rayya terlihat syok, dia tidak habis fikir kalau Zidan yang masih berusia 17 tahun akan melakukan pernikahan diusia semuda itu.
"Ibu, om, tante, kalian harus percaya sama aku, aku difitnah," ucap Zidan.
"Tenang Zidan, biarin ibu istirahat, ayuk ikut aku," ajak Amir sambil menuntun Zidan menuju kebun belakang rumah mereka.
Zidan menceritakan apa yang terjadi kepadanya semalam, Amir mencoba mencerna semua perkataan Zidan satu persatu.
"Terserah kalian kalo kalian enggak percaya sama gue, yang pasti gue enggak sudi nikahin cewek yang udah fitnah gue," ucap Zidan sambil berjalan menuju kamarnya.
***
Malam sudah tiba, Adam, Musa dan Ilyas sudah berada dikediaman orang tua Meta untuk membicarakan pernikahan anak-anak mereka, tapi malam itu Amir tidak ada bersama mereka, membuat mereka merasa heran karena Amir tidak pernah terlambat sebelumnya.
"Tapi ibu dan bapak tau kan, kalo mereka masih sekolah, Zidan masih belum bisa bekerja, dia juga masih kekanak-kanakan, saya harap bapak dan ibu bisa mengerti nantinya, setelah menikah biar Meta tinggal bersama kami dan bisa melanjutkan sekolah seperti biasa," ucap Musa mewakili Adam.
Bapak dan ibu Meta terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu sampai akhirnya mengatakan hal tidak terduga.
"Kita enggak mau kalo Meta akan selalu bergantung pada mertuanya, ini emang kesalahan anak-anak kita, tapi dia juga butuh nafkah dari suaminya, jadi kalo lebih baik kita batalkan pernikahan Meta sama Zidan," ucap ibu Meta.
Semua orang terkejut mendengar ucapan ibu Meta, mereka tidak mengira kalau keputusan itu tiba-tiba keluar dari mulutnya, padahal pagi tadi dia terus meminta tanggung jawab dari Zidan.
"Maksud ibu gimana?" tanya Adam.
__ADS_1
"Saya minta anak tertua bapak yang menikahi Meta,"
Meta yang berada dikamarnya sangat terkejut mendengar permintaan orang tuanya itu, dia segera keluar kamar dan menolak keputusan itu.
"Tapi itu perbuatan Zidan, gimana bisa Amir yang harus menikahinya?" sahut Musa.
"Sepertinya anak tertua bapak bisa lebih bertanggung jawab," jawab ibu Meta.
"Enggak bu, aku enggak mau," sahut Meta.
"Diem kamu jangan ikut campur Meta, masuk kamar, kamu udah bikin malu harus terima keputusan orang tua," ucap ayah Meta.
Meta menangis dan masuk kedalam kamarnya, disaat bersamaan Amir datang dan mendengar permintaan itu.
"Saya bersedia menikahi Meta, asal Meta bisa jelasin dulu apa yang ada diponsel ini," sahut Amir sambil meletakkan sebuah ponsel diatas meja.
Mendengar kedatangan Amir, Meta kembali keluar dari kamarnya dan bergabung bersama mereka, Amir menunjukkan sebuah video dimana seorang lelaki terlihat memasukkan sesuatu kedalam minuman Zidan hingga membuat Zidan tidak sadarkan diri.
Di video itu juga menunjukkan kalau Meta bertengkar dengan lelaki yang sama bahkan menamparnya hingga membuat Meta kesakitan dan dipaksa masuk kedalam kamar yang dimana disana sudah terbaring Zidan yang sedang tertidur.
Semua mata tertuju pada Meta yang saat itu terlihat gugup, wajahnya memerah saat Amir memintanya menjelaskan isi video itu.
"Apa ini Meta? Ayok jelasin sama ibu dan bapak?" ucap ibu Meta.
"Kalo kamu enggak bisa jelasin, kita bisa kasih rekaman ini kekantor polisi, dan semua jadi berbalik, kamu yang akan masuk penjara," Amir sedikit mengancam.
Mendengar ancaman Amir, Meta segera menjelaskan semuanya, sambil menangis Meta mengakui kesalahannya.
"Laki-laki itu namanya Dodi, dia yang nyuruh aku buat ngelakuin itu, dia maksa aku buat tidur sama Zidan dan memfitnah Zidan, tapi jujur malam itu enggak terjadi apa-apa, sumpah," ucap Meta.
"Siapa Dodi itu? apa masalah dia sama Zidan?" tanya Amir lagi.
"Dia cemburu karena Zidan deket sama cewek yang dia suka, tapi aku tau kalo Zidan sama cewek itu enggak ada hubungan apa-apa," jawab Meta.
"Astagfirullahal adzim, jadi semua ini berawal karena masalah perempuan, Ya Allah," ucap Adam.
Setelah mendengar penjelasan dari Meta, semua orang diam membisu, ibu dan bapak Meta pun tertunduk malu karena sudah menuntut hal yang salah kepada keluarga Adam.
__ADS_1
Tapi mereka juga memikirkan bagaimana nasib Meta setelah berita itu menyebar, pasti Meta akan mendapat banyak hujatan dari semua orang disekitarnya.
"Lalu, bagaimana dengan Meta? gimana nasibnya?" gumam ibu Meta.
"Gimana ayah? apa kita laporkan perbuatan Dodi ini kepada polisi?" tanya Amir.
Adam mencoba mengambil jalan damai dulu sebelum kasus itu masuk ke kepolisian, Adam meminta Meta supaya mengantar mereka semua untuk bertemu Dodi dan keluarganya, Awalnya Meta menolak karena dia merasa takut kepada Dodi juga kasihan kepadanya.
"Kenapa kamu kasihan sama Dodi? padahal dia sudah nyuruh kamu melakukan perbuatan dosa?" tanya Amir.
"Kamu enggak tau gimana keadaan Dodi," jawab Meta.
"Justru itu, makanya aku mau tau gimana keadaan dia, biar kami bisa pertimbangkan kasus ini," lanjut Amir.
Setelah berfikir beberapa saat, Akhirnya Meta dan ibunya ikut bersama mereka menuju kediaman Dodi, Selama dalam perjalanan, Meta hanya diam dan sesekali meneteskan air mata.
Tidak lama kemudian, mereka sampai disebuah rumah kecil yang terlihat kurang layak untuk ditempati, didepan rumah berjejer kandang ayam yang kotor, Rupanya itulah rumah Dodi.
Adam dan Musa mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tidak lama kemudian, keluarlah sosok Dodi yang sedang memegang sebuah lap dan juga mangkuk berisi air hangat.
"Kalian siapa?" tanya Dodi.
Sebagai yang tertua, Musa menjelaskan siapa dan apa tujuan mereka datang kesana, Dodi terlihat ketakutan saat tahu mereka keluarga Zidan dan sebuah video tentang dirinya.
"Maafin aku pak, aku ngaku salah, aku khilaf," ucap Dodi sambil tertunduk.
"Kayaknya ibu kamu lagi sakit? apa ibu kamu tau gimana perbuatan kamu?" tanya Musa.
"Enggak pak, saya mohon, jangan kasih tau ibu saya, jangan laporkan saya ke polisi pak," lanjutnya.
Semua orang mulai mempertimbangkan keadaan Dodi, hingga akhirnya mereka bersedia memaafkannya dan Dodi berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
"Terus gimana sama Meta anak saya?" ucap ibu Meta.
"Biar itu urusan kami bu, kami akan selesaikan masalah ini, dan Meta pasti baik-baik aja," jawab Musa.
Setelah pertemuan itu, mereka mengantar Meta dan ibunya pulang kerumah sebelum akhirnya mereka juga kembali kerumah masing-masing.
__ADS_1