Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Kelicikan Ira.


__ADS_3

Hari minggu.


Adam yang sedang berada dirumah, duduk bersantai diteras rumahnya sambil menikmati udara pagi yang cukup dingin karena hujan semalaman dengan ditemani secangkir kopi dan makanan kecil.


Dari dalam rumah, Rayya keluar dan duduk bersamanya, Rayya meminta Adam untuk cepat-cepat membuat surat adopsi terhadap Amir, Tapi Adam tidak ingin terburu-buru, dia harus benar-benar tahu latar belakang Amir agar tidak terjadi kesalahpahaman nantinya.


"Mas, kenapa kamu enggak titipkan Amir di panti asuhan aja sih, sebentar lagi kan kita mau punya anak sendiri," sahut Ira.


"Iya, aku tahu, tapi aku enggak bisa nolak keinginan Rayya, dia udah bener-bener sayang sama Amir," jawab Adam.


"Emang kenapa kalo aku adopsi Amir? kamu takut anak kamu kurang kasih sayang nantinya? tenang aja Ra, mas Adam orang yang adil," sahut Rayya.


Adam merasa heran dengan ucapan Rayya yang berbeda dari biasanya, Pagi itu Rayya terdengar lebih ketus saat bicara kepada Ira, biasanya Rayya selalu berkata lembut bahkan saat marah sekalipun.


"Enggak kok, siapa bilang aku takut, terserah kalian aja, emang salah aku sih tinggal dirumah ini, jadi kalian enggak pernah anggep omongan aku," jawab Ira sambil berjalan pergi.


"Rayya, kamu kenapa?" tanya Adam.


"Enggak apa-apa mas,"


Kring... kring...


Terdengar suara telephon berdering, Ira yang baru saja masuk langsung menjawab telephon itu yang ternyata panggilan dari Mayra, Mayra menanyakan Rayya dan ingin bicara kepadanya.


Ira meletakkan telephon diatas meja dan pergi keluar untuk memanggil Rayya yang masih bersama Adam.


Rayya segera masuk saat mendengar Mayra menelephon, dan menjawab panggilan itu dengan senang hati.


"Assalamualaikum Mayra? Gimana perjalanan kalian? Enggak ada masalah kan?" tanya Rayya.


Alhamdulillah mbak, semua lancar, mbak sendiri gimana? Sehat? mbak enggak apa-apa kan?


"Alhamdulillah, mbak juga sehat, mbak baik-baik aja kok, kenapa kamu tanya begitu?"


Aku khawatir mbak di apa-apain sama perempuan itu, mbak aku masih penasaran sama kehamilan dia, aku rasa usia kehamilannya bukan 4 bulan deh, mbak lebih baik mbak selidikin.


"Hm, kamu ngomong apa sih May, jangan berprasangka buruk gitu, enggak baik,"


Terserah mbak percaya apa enggak, yang penting mendingan mbak cari tahu deh, sebenernya aku masih mau disana buat cari tahu, tapi mau gimana lagi, ya udah mbak, udah dulu ya, mas Rizal pulang, aku tutup dulu ya, Assalamualaikum.


"Waalaikumsalam,"


Rayya dan Mayra saling menutup telephon, setelah mendengar ucapan Mayra, Rayya diam sejenak, dia berfikir apakah benar yang diucapkan Mayra tentang kehamilan Ira.


Disaat Rayya sedang melamun, Tiba-tiba dari arah belakang, seseorang menepuk bahunya, Rayya sampai terkejut.


"Kamu ngelamun?" tanya Adam.

__ADS_1


"Oh, mas Adam, maaf mas,"


"Kamu mikirin apa? Cerita sama aku?"


Rayya sempat ragu, apakah dia harus bertanya tentang Ira atau tidak, Tapi Rayya mengumpulkan keberaniannya.


"Mas, kamu menikah sama Ira bulan apa?" tanya Rayya.


"Akhir bulan mei, kenapa?"


"Sekarang bulan apa?"


"Awal oktober,"


"Berarti pernikahan kamu udah berapa bulan?"


"Udah jalan 5 bulan, kamu kenapa sih Rayya, kenapa kamu tanya itu? Kamu belum bisa maafin aku ya? Ya Allah, aku bener-bener merasa bersalah sama kamu,"


"Enggak kok, bukan gitu, aku cuma tanya aja,"


"Hm, sekarang aku libur, kamu mau keluar sama aku?"


"Kemana?"


"Liburan, nenangin fikiran,"


Ira melihat sekeliling, dilihatnya Amir yang sedang duduk dikursi kayu dikebun belakang rumah mereka, Amir yang suka pemandangan alam duduk dengan santai mendengar kicauan burung-burung dengan ditemani camilan ditangannya.


"Amir, tante bisa minta tolong?" ucap Ira.


"Apa tante?"


"Bantu tante buang ini ya, tadi enggak sengaja jatuh terus pecah,"


"Iya tante,"


Amir yang polos segera berlari mendekati Ira, tapi saat menginjak lantai, Amir terpeleset dan terjatuh, lututnya berdarah karena terkena pecahan kaca yang masih berada dilantai.


"Mas, mbak, tolongin Amir," teriak Ira.


Adam dan Rayya segera berlari mendengar teriakan Ira, Dilihatnya Amir yang sedang memegangi lututnya sambil meringis kesakitan.


"Ya Allah Amir, kamu kenapa?" tanya Adam sangat khawatir.


"Tadi dia kepeleset mas, terus jatuh, lututnya kena pecahan kaca," jawab Ira.


"Gimana bisa ada pecahan kaca disini?"

__ADS_1


"Maaf mas, tadi aku jatuhin gelas, aku lagi beresin tapi Amir lari, terus nginjek air yang tumpah,"


"Ya udah, Rayya tolong ambil kotak obat ya,"


"Iya mas,"


Adam menggendong Amir dan membaringkannya diatas sofa, Rayya mengobati lukanya dengan hati-hati supaya Amir tidak merasa kesakitan.


"Mas, kalian mau kemana rapih gitu?" tanya Ira.


"Tadinya kita mau liburan, tapi gimana bisa ninggalin Amir kayak gini," jawab Adam.


"Hm, ya udah pergi aja mas, biar aku yang jaga Amir,"


"Serius?"


"Iya, kalian pergi aja,"


Adam menatap Rayya, tapi Rayya menolak untuk pergi, dia benar-benar khawatir pada Amir, Tapi Adam berusaha membujuknya hingga Rayya akhirnya setuju.


"Ya udah, hati-hati ya, sini mbak aku simpen kotak obatnya,"


Ira pergi untuk meletakkan kotak obat itu kembali ketempatnya, Saat sedang berjalan, Ira terus memegang perutnya, Rayya yang melihat hal itu segera mendekati Ira.


"Ra, kamu kenapa?"


"Perut aku tiba-tiba sakit mbak,"


"Mas, bawa Ira ke dokter ya, aku khawatir," ucap Rayya.


"Enggak usah mbak, kalian pergi aja, aku istirahat sebentar nanti juga sembuh,"


"Gimana bisa kita pergi sementara kalian sakit, udah mas kita batalin aja,"


Adam mengangguk pelan, dia membantu Ira masuk kedalam kamarnya dan membaringkannya ditempat tidur, sementara Rayya terus menemani Amir yang sudah tertidur karena lelah menangis.


Adam keluar dari kamar Ira, dilihatnya Rayya yang sedang mengusap kepala Amir dengan lembut.


"Maafin aku ya, kita enggak jadi pergi," ucap Adam.


"Enggak apa-apa mas, kita bisa pergi lain kali, kesehatan mereka lebih penting kan?"


Adam tersenyum, dia mengecup kening Rayya, Mereka terlihat seperti keluarga yang sempurna dengan kehadiran Amir ditengah-tengah mereka, walaupun Amir bukan anak kandung mereka, tapi Adam dan Rayya sangat menyayanginya.


Sementara itu, Ira yang berada dikamarnya, melihat mereka dari balik pintu, Ira memperlihatkan senyum sinisnya, dia benar-benar merada senang karena bisa menggagalkan rencana mereka untuk liburan berdua.


"Maaf ya mas, mbak, aku udah sengaja bikin Amir jatuh, terus aku juga pura-pura sakit, supaya kalian enggak bisa ngabisin waktu berdua, enak aja kalian mau ninggalin aku sama anak enggak jelas itu, Hah, aku seneng banget, lain kali kamu bakal pergi liburan sama aku mas, bukan sama mbak Rayya," gumam Ira sambil menatap cermin dihadapannya.

__ADS_1


__ADS_2