Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Akibat kenakalan Zidan.


__ADS_3

Malam sudah tiba, suara adzan isya mulai berkumandang, Adam, Rayya dan Amir melaksanakan sholat berjamaah kecuali Zidan yang baru saja bangun dari tidurnya, dia terus memegangi kepalanya yang masih pusing dan duduk diruang makan.


Setelah shalat, mereka segera bersiap untuk memenuhi undangan dari Musa, Amir terlihat lebih tampan malam itu.


Setelah semua siap, Amir segera keluar untuk memanaskan mesin mobilnya, saat dia melewati pintu ruang makan, dia melihat Zidan yang masih menyandarkan kepalanya diatas meja.


Amir ikut masuk kedalam ruang makan dan membuka lemari es mengambil segelas air perasan jeruk lemon dan memberikannya pada Zidan.


"Ini, minum," ucap Amir.


Tanpa berkata apa-apa, Zidan menerima gelas itu dan segera meminumnya, Kini keadaannya menjadi lebih baik.


"Udah sana siap-siap, kita tunggu didepan," ucap Amir.


Lagi-lagi Zidan menuruti perintah Amir tanpa mengelak, dia berjalan masuk kedalam kamarnya dan menyegarkan diri, Disaat bersamaan, Adam dan Rayya menunggu di ruang tamu.


"Mana Zidan?" tanya Rayya.


"Aku disini bu," jawab Zidan sambil berjalan mendekati mereka.


Rayya tersenyum senang melihat Zidan sudah sedikit berubah dan mau bergabung dalam acara keluarga, setelah semua siap, mereka segera berangkat menuju kediaman Musa.


***


Sesampainya disana, Mereka disambut hangat oleh Musa dan Laksmi, tanpa menunda-nunda, acara segera dilaksanakan.


Lantunan doa-doa mulai dibacakan dilanjutkan dengan sholawat yang dilantunkan oleh anak-anak panti asuhan yang sudah mereka undang.


Semua menyenandungkan sholawat dengan khusyu tapi tidak dengan Zidan, dia terlihat gelisah sambil terus berkirim pesan dengan seseorang.


Hingga akhirnya dia mendekati Rayya dan mengatakan ada urusan penting, Rayya mencoba menahan kepergian Zidan tapi dia berhasil membuat alasan.


"Ya udah kalo gitu, hati-hati ya, pamit dulu sama om dan tante, sama Kiara juga," ucap Rayya.


"Iya bu,"


Zidan berjalan pelan mendekati Kiara dan berpamitan.


"Mbak, aku mau pamit, ada urusan, ini buat mbak, hadiah kecil," ucap Zidan sambil menyerahkan kotak kecil.


"Enggak makan dulu?" tanya Kiara.


"Enggak usah mbak, aku udah kenyang, ya udah aku berangkat ya,"


"Ya udah, hati-hati,"

__ADS_1


Zidan tersenyum dan segera pergi dari kediaman Musa, malam itu dia tidak membawa motornya, dia berangkat menggunakan taksi online yang sudah dipesan sebelumnya.


***


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, Zidan akhirnya sampai disebuah klub dimana disana sudah menunggu teman-temannya, mereka menyambut Zidan dan segera mengajaknya masuk.


Didalam sana, Zidan duduk bersama seorang gadis yang sebaya dengannya, mereka terlihat sangat dekat bahkan gadis itu tidak canggung untuk memeluk Zidan.


Mereka menikmati pesta malam itu, hingga tidak sadar ada sepasang mata cantik yang sedang memperhatikan tingkah pemuda pemudi itu.


Malam semakin larut, cuaca semakin dingin, Zidan melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Zidan hendak pulang tapi teman-temannya selalu menunda kepulangan Zidan terlebih gadis yang selalu menempel kepadanya.


"Nanti dulu Zidan, baru juga jam berapa," ucap gadis itu, sebut saja namanya Meta.


"Tapi udah malem, aku ngantuk," jawab Zidan.


"Alah, Dan-Dan, biasanya juga loe enggak pulang, iya kan temen-temen?"


"Iya Dan," jawab mereka serempak.


Mau tidak mau Zidan menuruti permintaan teman-temannya, hingga tidak sadar dia jatuh pingsan.


Keesokan harinya.


"Ya Ampun, aku ngapain disini," gumam Zidan.


Zidan menatap kearah Meta yang sedang terbaring meringkuk dengan suara tangisan kecil sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


"Meta, Loe ngapain disini?" tanya Zidan.


"Ngapain? Loe jahat Dan, liat apa yang udah loe lakuin ke gue?" jawab Meta tanpa menatap Zidan.


Zidan memperhatikan seluruh isi kamar itu, dimana pakaiannya berserakan dilantai.


"Enggak mungkin, enggak mungkin gue ngelakuin itu ke loe Meta? Loe pasti jebak gue kan?!" tanya Zidan kesal.


"Apa enggak mungkin? Loe semalem maksa gue Dan, padahal gue udah nolak, tapi loe nampar gue, liat ini?" Meta menunjukkan wajahnya yang lebam.


Melihat keadaan Meta, Zidan benar-benar syok, dia tidak sadar apa yang sudah dia lakukan pada Meta, Zidan mencoba mengingat semuanya tapi tidak membuahkan hasil.


Hingga tiba-tiba, pintu kamar itu dibuka paksa oleh beberapa orang, Mereka menyeret Zidan dan mencoba menghakiminya.


Tapi sebelum itu terjadi, salah satu dari beberapa orang diantara mereka berhasil mencegahnya dan menyarankannya untuk menyerahkan kepada pihak kepolisian.


Dengan keadaan yang berantakan, Zidan diseret kekantor polisi, Karena tidak merasa melakukan apapun, Zidan terus mengelak tuduhan Meta dan tidak mengakuinya.

__ADS_1


"Kamu masih enggak mau ngaku? ya udah, cepet telephon keluarganya," ucap salah satu polisi.


"Telephon aja, gue enggak takut, karena gue enggak salah," jawab Zidan.


Polisi itu menyeringai dan melephon Adam sebagai wali dari Zidan, Mendapat kabar itu, Adam benar-benar syok, Adam yang sedang menikmati sarapannya tanpa sengaja menjatuhkan sendok yang ada ditangannya.


Adam memegang dadanya yang terasa sangat sesak, membuat Amir dan Rayya menjadi sangat khawatir.


"Halo, pak?" ucap polisi itu saat tidak ada jawaban lagi dari Adam.


Amir yang melihat ponsel Adam masih menyala segera menjawab panggilan itu, Polisi itu menjelaskan kembali tentang apa yang terjadi kepada Zidan, Amir ikut terkejut tapi dia tetap bisa menahan emosinya dan bersikap tenang.


"Baik, nanti saya kesana," jawab Amir.


Rayya yang penasaran langsung bertanya kepada Amir, Amir menjelaskannya secara perlahan supaya Rayya tidak ikut syok.


"Biar Amir yang ke kantor polisi, ibu sama ayah dirumah aja," ucap Amir.


"Enggak Amir, ayah ikut sama kamu," jawab Adam.


"Tapi ayah, ayah masih syok, biar Amir sendiri aja ya?"


"Enggak, ayah udah enggak apa-apa, biar ayah pergi sama kamu,"


Melihat ayahnya yang bersikukuh, Amir tidak bisa menolaknya, Mereka segera pergi ke kantor polisi, Sementara Rayya menelephon Laksmi dan menceritakan semuanya.


***


Sesampainya dikantor polisi, Amir dan Adam segera menemui polisi yang tadi menelephonnya, mereka juga melihat Zidan yang berada didalam sel dan seorang gadis bersama ibunya yang tengah duduk dikursi ruangan itu.


Polisi kembali menjelaskan kronologinya, belum selesai polisi menjelaskan, ibu dari Meta segera menghampirinya dan meminta supaya Zidan dipenjara.


"Aku enggak salah ayah, aku enggak ngelakuin apa-apa sama dia," ucap Zidan dari balik sel.


"Zidan, kamu tenang dulu ya," jawab Amir.


"Dia bohong pak, dia semalem maksa aku, bahkan dia ngelakuin kekerasan sama aku," sahut Meta.


"Meta, Loe jangan bohong, loe fitnah gue karena gue enggak mau pacaran sama loe kan?!" sahut Zidan.


Polisi mencoba menenangkan mereka yang masih saling menuduh, Karena rasa kasih sayangnya kepada Zidan sangat dalam, Adam meminta kepada ibu Meta untuk menempuh jalan damai.


"Baik, tapi saya mau anak bapak nikahin anak saya," ucap ibu Meta.


Mendengar permintaan itu, Zidan benar-benar terkejut, dia terus berteriak menolak permintaan ibu Meta, Tapi Adam hanya bisa memejamkan matanya dan menyetujui solusi itu.

__ADS_1


__ADS_2