Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Berita bahagia.


__ADS_3

Sementara itu, Rayya yang sedang berada dirumahnya seorang diri, mendapat telephon dari Laksmi yang berada di Turki untuk urusan bisnis suaminya, Musa. Laksmi mengatakan kalau dia dan Musa akan segera kembali ke Indonesia, Rayya tentu sangat senang mendengar kabar baik itu, Bagi Rayya, Laksmi adalah sosok kakak yang sangat dia sayangi setelah kakak kandungnya.


"Baiklah, Mba, kalo sudah sampai bandara kabari aku, aku sama mas Adam nanti jemput kalian," ucap dengan dengan semangat.


Rayya yang sangat kegirangan, merasa tidak sabar untuk memberitahu Adam tentang kabar baik itu, tapi sayangnya, Adam tidak menjawab telephon darinya.


"Hm, pasti dia lagi sibuk, ya sudah aku tunggu dia pulang aja," gumam Rayya sambil meletakkan ponselnya.


Jam sudah menunjukkan pukul 16.00, Rayya yang sudah selesai mandi dan mengerjakan sholat ashar, seperti biasa sedang berdiri didepan rumahnya sambil memegang sapu ijuk ditangannya, tetapi tatapan matanya terus memandang kearah jalanan berharap Adam segera pulang.


Lima belas menit menunggu dengan gelisah, Rayya yang sudah lelah karena berdiri terlalu lama, segera duduk dikursi yang berada diteras rumahnya sambil menopang dagu.


Tidak lama kemudian, mobil Adam datang memasuki halaman rumah mereka, senyum merekah terkembang di bibir Rayya, dengan cepat Rayya menyambut tangan Adam dan menciumnya tidak lupa dia juga membawakan tas kerja Adam.


Tapi sore itu, wajah Adam terlihat berbeda, dia masuk kedalam rumah dengan terburu-buru bahkan tidak mengatakan apapun, hanya ucapan salam yang keluar dari bibirnya.


"Mas, kamu tau enggak, mba Laksmi sama mas Musa besok pulang ke Indonesia?" ucap Rayya memberitahu kabar bahagia itu kepada suaminya.


"Benarkah? Baguslah kalo begitu, semoga mereka selamat sampai indonesia," jawab Adam dengan nada datar.


"Mas, kamu lagi ngapain? kenapa kamu ambil koper dari lemari? terus mau kamu apakan pakaian kamu?" tanya Rayya sambil menatap Adam dengan serius.


"Astagfirullah, aku lupa kasih tahu kamu, maaf ya Rayya, sebenarnya aku harus pergi ke semarang sekarang juga, cabang perusahaan kita disana lagi bermasalah, aku belum sempat nelpon kamu ya? maaf ya sayang?" ucap Adam sambil memegang wajah Rayya yang sedang cemberut.


"Mendadak begini?"


"Iya, mau gimana lagi, masalahnya juga datang mendadak kan? mereka butuh aku untuk bantu disana," jawab Adam.


"Baiklah, mau gimana lagi, aku enggak mungkin melarangmu kalau sudah begini," jawab Rayya pasrah.


"Aku akan segera kembali, jangan sedih ya, kalo kamu bosan dan kesepian, datanglah temui Laksmi dan mas Musa, kamu bisa bermain sama Ilyas," ucap Adam mencoba menghibur.


"Ya sudah, hati-hati mas, cepat pulang,"


"Iya sayang, Assalamualaikum,"

__ADS_1


"Waalaikumsalam,"


Adam mengecup kening Rayya dengan lembut, Rayya yang sudah siap ditinggalkan, ikut mengantarnya hingga depan rumah dan kembali menatap Adam sampai hilang dari pandangan.


Dalam hatinya, Rayya sebenarnya tidak ikhlas harus melepas suaminya, tapi mau bagaimana lagi, toh Adam pergi hanya untuk bekerja, untuk menafkahi hidup mereka, Rayya tidak bisa egois hanya karena hal kecil, begitu isi fikiran Rayya.


Hari sudah kembali pagi, Rayya mencoba menghubungi Adam untuk sekedar bertanya apakah dia sudah sampai di Semarang atau belum, Tapi pagi itu ponsel Adam tidak aktif, Rayya menghela nafas dalam-dalam sambil menyuap makanan kedalam mulutnya.


Pagi itu selera makannya berkurang, dia akhirnya benar-benar merasa kesepian tanpa anak dan sekarang tanpa Adam.


"Aku harus gimana sekarang? Atau aku ke TPA aja mengajar anak-anak mengaji? tapi ini masih jam 7, belum waktunya mereka mengaji," keluh Rayya.


Rayya menyandarkan kepalanya diatas meja makan, sambil terus menatap layar ponselnya, hingga tiba-tiba ponselnya berdering, diliatnya sebuah panggilan dari Laksmi yang mengatakan kalau pesawatnya akan segera mendarat.


Mendapat kabar itu, Rayya berubah ceria kembali, dia masuk kedalam kamar dan bersiap-siap menuju bandara untuk menjemput Laksmi dan Musa, bukan itu saja, Rayya sangat tidak sabar untuk bertemu Ilyas, yang kini sudah berusia 5 tahun.


Sesampainya di bandara, Rayya langsung memeluk Laksmi dengan erat, sepertinya dia sangat merindukan Laksmi karena sudah hampir 6 bulan mereka tidak saling bertemu.


Rayya meneteskan air mata kerinduannya, membuat Laksmi bertanya-tanya.


"Ya Allah Rayya, kamu nangis?" tanya Laksmi.


"Ya Allah, bahagianya mba punya adik kayak kamu," jawab Laksmi.


"Sudah dramanya, perempuan kenapa sensitif begitu ya?" ucap Musa sedikit mengejek.


"Mas kan enggak tau perasaan perempuan," jawab Laksmi.


"Kalo aku enggak tau, aku enggak mungkin tau yang kamu mau,"


"Hah, terserah mas,"


"Oh iya, dimana Adam? Dia enggak ikut?" tanya Musa.


"Kemaren sore mendadak dia pergi ke Semarang mas, jadi enggak bisa ikut, dia cuma titip salam aja buat mas dan mba," jawab Rayya.

__ADS_1


"Wassalamualaikum,"


Setelah perbincangan itu, Mereka segera berangkat untuk pulang, karena masih sangat rindu pada mereka, Rayya ikut pulang ke rumah Laksmi dan Musa dan bermain bersama Ilyas, Ilyas tumbuh menjadi anak lelaki yang tampan, bahkan di usianya yang masih sangat kecil, Ilyas sudah bisa menghafal beberapa surat dalam Al-qur'an.


Rayya yang mendengarkan lantunan ayat-ayat suci dari mulut Ilyas, seketika hatinya merasa tenang, seakan beban dari tubuhnya menghilang seketika, dia bahkan sudah tidak mengkhawatirkan Adam yang dari kemarin belum juga memberi kabar.


Tidak lama kemudian, ponsel Rayya berdering, dilihatnya panggilan video dari Adam, dengan cepat Rayya menjawabnya dengan wajah yang ceria.


"Assalamualaikum," ucap Adam.


"Waalaikumsalam mas, kamu udah sampe?" tanya Rayya.


"Alhamdulillah, aku udah sampe, sekarang aku lagi di hotel sama Ali," jawab Adam.


"Alhamdulillah, aku seneng dengernya mas,"


"Oh iya sayang, aku mau kasih tau kamu soal ini, tapi kamu jangan sedih ya,"


"Apa mas?"


"Kayaknya mas akan lama di Semarang, pekerjaan disini menumpuk, mas enggak bisa selesain ini dalam waktu dua atau tiga hari, jadi mas minta pengertian kamu ya,"


"Iya mas, enggak apa-apa kok, asal mas disana jaga kesehatan ya, jangan lupa makan,"


"Iya sayang,"


Dari kejauhan, percakapan itu sepertinya sedang disaksikan oleh Laksmi dan Musa, mereka tersenyum menyaksikan keromantisan sepasang suami istri itu, Musa memeluk Laksmi dengan erat sambil mengenang masa-masa mereka dulu, mulai dari perkenalan sampai akhirnya menikah.


"Mas, kenapa aku khawatir ya sama pernikahan Adam dan Rayya?" ucap Laksmi tiba-tiba.


"Khawatir kenapa? hubungan mereka baik-baik aja kan? Lihat mereka ngobrol kaya anak baru gede," jawab Musa.


"Enggak tau mas, rasa-rasanya sesuatu akan terjadi,"


"Jangan berfikiran buruk, kita berdoa saja buat mereka," ucap Musa memberi nasehat.

__ADS_1


"Iya mas,"


Tanpa terasa hari sudah sore, Rayya yang asyik bermain dengan Ilyas terpaksa harus berpamitan untuk kembali kerumah.


__ADS_2