Ujian Cinta Kita

Ujian Cinta Kita
Kasih sayang Amir.


__ADS_3

Malam itu Amir tidak bisa tidur, dia hanya berjalan bolak balik keluar masuk rumah sambil menunggu Zidan yang belum juga pulang hingga pukul 02.00, Amir berusaha menelephon Zidan berulang kali tapi tidak ada jawaban hingga akhirnya panggilan terakhirnya mendapat respon.


"Assalamualaikum, Zidan, kamu dimana?" tanya Amir.


"Maaf mas, ini temennya, Hm, Zidan enggak sadar mas, dia ada di klub nih,"


"Astagfirullahal adzim, ya udah tolong kirim alamatnya nanti aku kesana,"


"Iya mas,"


Setelah mengetahui dimana Zidan berada, Amir segera bergegas menjemputnya, dia mengemudikan mobil menuju lokasi yang sudah diberitahu oleh teman Zidan.


Sesampainya disana, Amir sempat ragu untuk masuk ketempat itu, tapi demi adiknya, Amir akan mau melakukan apa saja.


"Maaf, mas Amir ya?" seorang pemuda yang sebaya dengan Zidan menghampirinya.


"Iya, dimana Zidan?" tanya Amir.


"Dia ditaman mas, aku udah bawa dia keluar, aku tahu mas pasti canggung kalo masuk kedalem sana," jawab pemuda itu.


"Hm, iya, aku enggak pernah pergi ketempat kayak gini, jadi aku risih,"


"Iya mas, aku ngerti kok, Ayok aku anter ketempat Zidan,"


Amir dan pemuda itu menuju ketempat dimana Zidan berada, sesampainya disana Amir segera menopang tubuh Zidan dan memasukkannya kedalam mobil.


"Terima kasih ya, aku jadi ngerepotin kamu," ucap Amir.


"Enggak apa-apa kok mas, aku seneng bisa ngebantu,"


"Oh iya, nama kamu siapa?"


"Hm, nama saya Rezi mah, saya temen sekolah Zidan,"


"Hm Rezi, kayaknya nama itu enggak asing buat aku, kamu pemuda yang baik, kenapa ada disini?"


"Tadi Zidan nelephon aku mas, dia ngajak aku minum, tapi aku nolak dan enggak niat dateng, tapi suara Zidan kayak udah mabok berat jadi aku kesini,"


"Hm gitu, ya udah makasih ya, kamu juga mendingan pulang, apa mau bareng?"


"Enggak usah mas, aku bawa motor,"


"Ya udah kalo gitu, mas pamit ya, Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam,"


Amir menyalakan mesin mobilnya menuju kerumah, selama dalam perjalanan, terdengar suara Zidan yang terus mengigau, Amir menyentuh dahinya dan ternyata Zidan terkena demam yang cukup tinggi.


Amir yang sangat khawatir membelokan mobilnya menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksa kondisi Zidan.


"Loe ngapain repot-repot jemput gue Mir, gue bisa pulang sendiri," gumam Zidan setengah sadar.


"Biar gimanapun, kamu adik aku Dan," jawab Amir.


"Adik? loe itu anak angkat orang tua gue, jadi gue bukan adik loe, loe juga anak emas ayah gue, gue benci sama loe,"

__ADS_1


"Terserah kamu Zidan, yang penting sekarang kamu diobatin dulu,"


Setelah sampai dirumah sakit, Zidan segera mendapat perawatan, Zidan tertidur dengan lelap setelah diberi obat tidur oleh dokter.


Sepanjang malam Amir menjaga adiknya itu dengan tekun, sesekali dia terbangun untuk memeriksa kondisi Zidan.


***


Hari sudah pagi, Amir yang tertidur disamping Zidan merasa terkejut saat melihat tempat tidur itu kosong, Amir bertanya kepada perawat dan ternyata Zidan sudah pergi pagi-pagi sekali.


Amir mencoba menghubungi ponsel Zidan, tapi belum sempat terhubung, ponsel Amir berdering tanda pesan masuk.


Jangan cari gue, gue udah pulang!


Melihat isi pesan itu, Amir merasa cukup tenang, dia tersenyum senang melihat pesan dari Zidan untuknya yang pertama kali setelah lima tahun lamanya.


Amir membayar administrasi dan segera kembali kerumah, keadaan dirumahnya pagi itu cukup tenang, Adam, Rayya dan Zidan sedang duduk bersama menikmati sarapan pagi.


"Amir, kamu darimana? Ayok sarapan," ucap Adam.


"Nanti yah, Amir mandi dulu,"


"Ya udah,"


Adam melanjutkan sarapannya, pagi itu mereka tidak ada yang saling bicara, karena ketegangan semalam membuat semua orang menjadi canggung.


"Liat tuh si Amir, dia pulang subuh enggak dimarahin," ucap Zidan tiba-tiba.


"Karena dia udah kasih kabar, enggak kayak kamu," jawab Adam.


"Hm," jawab Zidan singkat.


Setelah sarapan selesai, semua orang berangkat menuju tempat tujuan masing-masing, Adam kekantor, Amir menuju kampus dan Zidan menuju sekolah, tapi pagi itu Zidan tidak melihat motornya dia kebingungan harus berangkat menggunakan apa.


Tiinnn


Terdengar suara klakson mobil, Zidan menoleh kearah suara itu dan melihat Amir disana.


"Ayok aku anter," ucap Amir.


"Enggak usah, gue bisa sendiri," jawab Zidan ketus.


"Nanti telat, udah jam berapa ini?"


Zidan melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 07.30, hari itu dia tidak ingin terlambat karena ada ujian dari guru favoritnya.


Dengan langkah terpaksa, Zidan masuk kedalam mobil Amir menuju sekolahnya.


"Kamu sebegitu bencinya sama aku Dan?" tanya Amir.


"Hm,"


"Kenapa? apa salah aku?"


"Fikir aja sendiri,"

__ADS_1


"Aku udah mikir berkali-kali, tapi aku masih enggak tahu kesalahan aku,"


"Motor gue kemana? masih di klub ya? tolong bawa kesekolah ya?" ucap Zidan dengan temannya melalui ponsel, dia pura-pura tidak mendengar ucapan Amir.


"Udah stop, gue turun disini aja,"


"Ini masih jauh Zidan,"


"Nanti temen gue jemput, udah pergi sana, gue enggak mau loe nampakin muka didepan temen-temen gue,"


"Ya udah, aku tunggu sampe temen kamu dateng,"


"Terserah,"


Tidak lama kemudian, sebuah motor berhenti didepan Zidan, Zidan segera naik keatas motor itu dan pergi meninggalkan Amir yang masih berada disana.


Amir yang khawatir Zidan tidak berangkat kesekolah, mengikutinya sampai gerbang, Amir menyaksikan sendiri kalau Zidan masuk kedalam kelasnya.


Tii...nnnnn


Terdengar suara klakson panjang dari belakang mobilnya, Amir terkejut dan langsung memarkir mobilnya kearah yang benar.


Tokk.. tokk..


Kaca mobil Amir diketuk, Amir membukanya dan melihat sosok Rezi yang tersenyum kepadanya.


"Assalamualaikum mas, nganter Zidan?" tanya Rezi.


"Oh iya, kamu baru dateng?" tanya Amir.


"Iya mas, abis isi angin, jadi telat, ya udah mas, aku tinggal dulu ya,"


"Oh iya,"


Rezi masuk kedalam sekolah, untuk kedua kalinya Amir melihat wajah Rezi, kali ini wajah itu nampak jelas dari pandangannya tidak seperti semalam yang terlihat samar-samar.


Amir merasa wajah itu tidak asing baginya, dia seperti pernah melihat atau bertemu dengan Rezi, tapi Amir tidak tahu dimana, dia berusaha berfikir keras tapi tidak ada jawaban dikepalanya.


Ditengah pemikirannya itu, tiba-tiba ponselnya berdering, dilihatnya panggilan dari Ilyas yang sudah menunggunya dikampus, Amir melajukan mobilnya menuju kampus dan melupakan apa yang baru saja dia fikirkan.


***


Dikampus.


"Kamu kenapa Mir? kayak orang bingung gitu?" tanya Ilyas.


"Ah, enggak apa-apa kok,"


"Hm, oh iya, nanti sore aku sama ayah dan ibu mau kerumah om Adam, siapin makanan enak ya,"


"Wihh tumben, ada apa?"


"Nanti juga tahu, ya udah yuk masuk kelas,"


Amir dan Ilyas segera masuk kedalam kelas, keakraban mereka terus terjalin sejak kecil hingga sekarang, Ilyas yang tahu kalau Amir bukan anak kandung Adam tetap menganggapnya saudara kandung lain halnya dengan Zidan yang sering bersikap kasar kepada Amir.

__ADS_1


__ADS_2