
Cuit cuit cuit
Citt... citt... citt...
Suara burung terdengar menyambut pagi yang cerah, Adam yang masih terlelap berusaha membuka matanya, sambil terus memegang kepalanya yang masih terasa pusing Adam berusaha berdiri.
Pada saat bersamaan, Adam benar-benar terkejut melihat keadaan dirinya. Ira yang sudah sembuh dari kelumpuhannya, masuk kedalam kamar dengan membawa secangkir teh hangat.
"Udah bangun mas, ini aku buat teh," Ira menyerahkan cangkir itu kepada Adam.
"Jam berapa sekarang?" tanya Adam.
"Jam 08.00, Ayok sarapan dulu mas,"
"Jam 08.00?! Astagfirullah, jadi aku enggak sholat subuh? kenapa kamu enggak bangunin aku," Adam bangun dari tempat tidurnya dan memungut pakaiannya yang masih tergeletak dilantai.
Setelah selesai mandi, Adam pergi keruang makan, dimana sarapan sudah tertata rapi diatas meja.
"Dimana ibu sama bapak?" tanya Adam.
"Mereka lagi pergi buat beberapa hari, baru tadi pagi berangkat," jawab Ira.
"Ehm, tadi malam... tadi malam... apa yang udah aku lakuin sama kamu?" tanya Adam gugup.
"Kita udah nikah mas, apalagi yang dilakuin pasangan menikah?" jawab Ira dengan senyuman.
"Maksud kamu apa?"
"Mas, kita... kita... emang kenapa mas kalo kita ngelakuin itu, itu wajar mas,"
"Cukup! jangan lanjutin omongan kamu!" Adam merasa sangat marah dan mengeluarkan kata-kata dengan suara tinggi.
Ira yang menyaksikan kemarahan Adam hanya menutup telinga, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Adam bangun dari tempat duduknya dan mengambil tas kerjanya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Ira tanpa menyentuh sarapannya, Ira menatap kepergian Adam dengan wajah cemas.
"Apa yang udah aku lakuin? Aku benar-benar mengkhianati Rayya?" gumam Adam selama perjalanan menuju kantor.
Sesampainya dikantor, Adam menceritakan semua yang dia alami kepada Ali, Ali yang menetap di Semarang setelah kejadian itu hanya mendengarkan setiap kata-kata Adam.
"Kenapa kamu ngerasa berdosa Dam, Toh, Ira itu istrimu, kalo kalian ngelakuin itu, itu bukan dosa Dam," jawab Ali.
__ADS_1
"Tentu aja itu dosa Li, kami menikah dengan kebohongan, dia kira aku Ilham, terus aku bohong sama Rayya, gimana kalo suatu saat Ira ingat semuanya terus dia nuduh aku manfaatin keadaan dia? Gimana?"
"Jawab aja, kalian udah nikah secara agama dan hukum, jadi itu wajar,"
"Enteng banget kamu ngomong Li," Adam menatap Ali dengan tajam dan pergi keluar meninggalkannya seorang diri didalam ruangan.
"Dam, mau kemana?" teriak Ali membuat semua karyawan menoleh kearahnya.
Adam duduk termenung ditaman yang berada didekat sungai, Rasa-rasanya dia ingin sekali berteriak sekeras-kerasnya untuk melepas rasa kacau didalam hatinya, Sambil memegang ponselnya, Adam melihat-lihat isi kontak, Hingga akhirnya dia menemukan nomor ponsel kiayi Munawir, pimpinan sekaligus guru pondok pesantren tempatnya dulu menimba ilmu agama.
Adam memutuskan untuk pergi ke pesantren, Dia menelphon Ali untuk memberitahunya. Dengan segera Adam berangkat menggunakan pesawat penerbangan pertama, dia berharap akan mendapat solusi setelah bercerita kepada guru agamanya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan, Akhirnya Adam tiba di pondok pesantren, Disaat bersamaan, Adam melihat adanya kerumunan yang tak biasa disana, Adam langsung keluar dari dalam taksi dan berjalan hendak memasuki gerbang pesantren.
Belum sempat dia masuk, Adam dikejutkan dengan berkibarnya bendera kuning di pagar pesantren, Adam semakin penasaran dan mempercepat langkahnya hingga akhirnya dia bertemu ustadzah Ainun.
"Assalamualaikum," ucap Adam
"Waalaikumsalam," ustadzah Ainun menoleh ke arah Adam, matanya yang merah dan sembab menandakan dia habis menangis.
"Ustadzah, masih ingat saya?" tanya Adam.
"Iya ustadzah, saya enggak sempet, ustadzah maaf, apa ada yang meninggal?" tanya Adam.
Mendengar pertanyaan Adam, Ustadzah Ainun kembali menitikkan air mata dia berusaha menjawab pertanyaan Adam dengan terbata-bata.
"Kiayi Munawir yang meninggal," terdengar suara seorang lelaki yang tidak asing ditelinga Adam.
Adam dan ustadzah Ainun menoleh bersamaan, Disana terlihatlah sosom Musa yang tengah berdiri dengan pakaian serba putih dan celana panjang yang terlipat setinggi lutut.
"Mas Musa?"
"Assalamualaikum," sapa Musa.
"Waalaikumsalam," jawab Adam dan ustadzah Ainun bersamaan.
Musa berjalan mendekati mereka berdua, dan Musa mulai berbicara banyak hal kepada Adam, Adam benar-benar terkejut atas kabar duka itu hingga membuatnya hanya diam berdiri mematung, Sementara itu ustadzah Ainun masuk ke pesantren meninggalkan mereka.
"Jadi, kamu enggak tau kalo kiayi meninggal?" tanya Musa.
"Aku bener-bener enggak tau Mas," jawab Adam.
__ADS_1
"Ya udah, jangan terlalu berduka, kasian pak Kiayi disana, ikhlaskan. Sekarang kamu bantuin mas buat urus pemakaman pak Kiayi,"
"Iya mas,"
Adam dan Musa membantu yang lain menyiapkan pemakaman, Musa sebagai murid kesayangan pak Kiayi, turun langsung ke liang lahat, dia membacakan doa-doa sebagai pengantar kepergian guru besar mereka.
Suasana pemakaman cukup hening, hanya terdengar bacaan doa-doa saja dari setiap santri dan santriwati yang hadir.
Setelah acara pemakaman selesai, Musa kembali mendekati Adam yang sedang duduk di kursi bambu yang berada dibawah pohon dihalaman pesantren, Musa merasa kalau sepertinya Adam sedang dalam masalah wajahnya menunjukkan kegundahan dan kecemasan yang mendalam.
"Jangan ngelamun Dam, apalagi dibawah pohon kayak gini," ucap Musa yang ikut duduk disampingnya.
Adam tersenyum tipis kepada kakak sepupunya itu.
Sebagai saudara yang lebih tua, Musa mencoba mencaritahu apa masalah yang sedang dialami saudaranya itu, karena dia sangat tahu sifat Adam, Adam tidak akan pernah bercerita masalahnya jika bukan orang lain yang bertanya lebih dulu.
Awalnya Adam masih tetap bungkam mendengar nasehat-nasehat dari Musa, Tapi akhirnya Adam memberanikan diri untuk bercerita tentang apa yang dia alami.
Mendengar cerita Adam tentang kedua istrinya, Musa benar-benar terkejut, Musa menghela nafas panjang dan terdiam mendengarkan semua kata-perkata yang Adam ucapkan.
"Sekarang aku harus gimana mas? aku bingung, aku merasa bersalah sama Rayya, aku benar-benar putus asa," ucap Adam sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu cuma merasa bersalah sama Rayya? Kamu enggak merasa bersalah sama Ira?"
"Maksud mas apa?"
"Kamu sadar enggak Dam, kalo kamu juga bohong sama Ira, kamu menjadi Ilham dan menikahinya, padahal kondisinya lupa ingatan waktu itu,"
"Tapi mas, aku terpaksa lakuin itu karena kondisi jantung Ira yang lemah,"
"Iya, mas ngerti,Kamu sebagai murid pak Kiayi, seharusnya bisa berfikir panjang sebelum bertindak, coba waktu itu kamu kasih Ira nasehat-nasehat yang baik biar Ira enggak mendahului takdir Allah,"
Adam termenung mendengar ucapan Musa, dia berfikir semakin dalam tentang masalahnya, Sampai akhirnya terdengar suara adzan berkumandang.
"Udah, mendingan kita sholat ashar dulu, biar fikiran kamu tenang, nanti kita cari solusinya sama-sama, Ayok," Musa menepuk bahu Adam pelan.
Adam dan Musa segera mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat ashar berjamaah sebelum mereka mengadakan tahlilan untuk kiayi Munawir.
Ya Allah
Berilah aku jalan yang benar, berilah aku kekuatan untuk berkata jujur kepada orang yang sangat aku sayangi, berilah aku jalanmu Ya Allah. Aamiin. Pinta Adam dalam doanya.
__ADS_1