
Penyelidikan masalah Zidan terus berlanjut tanpa sepengetahuan Kiayi, Hingga akhirnya kebenaran mulai terungkap, Salah satu teman satu kamar Ridho menemukan nota belanja yang bertuliskan merk sebuah minuman keras.
Dia menyerahkannya kepada ustadz Fatih dengan ditemani teman yang lainnya, Melihat bukti itu, Ustadz Fatih meminta Ridho datang menemuinya dan menanyakan kebenarannya, Awalnya Ridho mengelak, Tapi tiba-tiba Zidan muncul dan mengatakan apa yang terjadi dengannya setelah dia mengingatnya.
"Gue inget, loe sama Ruli yang udah ngurung gue di toilet, bahkan loe mukul kepala gue," sahut Zidan.
"Kamu jangan fitnah ya Zidan, punya bukti apa kamu?" ucap Ridho masih berusaha mengelak.
"Waktu itu gue inget, loe sama temen loe itu manggil gue kesana, tapi ternyata kalian nipu gue!" ucap Zidan sedikit berteriak.
Perdebatan itu semakin panas, saat Haris juga ikut membuka suara, Haris mengatakan kalau saat itu mereka memang memanggil Zidan tapi sejak saat itu Zidan tidak juga kembali.
"Itu kesalahan kami, seharusnya kami paham saat itu juga," lanjut Haris.
Ridho terdiam dan hanya tertunduk tak bisa berkata apa-apa lagi, Sampai akhirnya dia mulai mengakui perbuatannya, Membuat ustadz Fatih menghela nafas panjang.
"Saya siap dihukum ustadz," ucap Ridho.
"Hukuman apa lagi? Saya sudah sering kasih kamu hukuman, tapi kamu tetap tidak jera juga," jawab ustadz Fatih.
"Hukumannya terserah Zidan saja, saya sudah lelah menghadapi perilaku kalian," lanjut ustadz Fatih sambil berjalan pergi meninggalkan mereka.
Ustadz Fatih keluar dari ruangan itu, dan ternyata diluar sana sudah banyak para santri yang berkumpul, Mereka mendengar semua perdebatan itu dan juga melihat wajah lelah guru mereka.
Ustadz Fatih melepas kacamatanya dan mengusap matanya, Rupanya ada tetesan air mata yang mengalir begitu saja.
Dari dalam ruangan, Zidan memperhatikan langkah ustadz Fatih, dia kemudian mendekati Ridho yang masih berdiri dihadapannya.
"Kali ini gue maafin loe Ridho, tapi inget, sekali lagi loe cari masalah sama gue, gue bakal bales lebih dari apa yang udah loe lakuin ke gue,"
Zidan menepuk bahu Ridho dan pergi dari ruangan, Ridho tidak menyangka kalau Zidan tidak memberinya hukuman apapun sesuai perintah ustadz, Dia kini bernafas lega dan kembali kekamarnya.
"Kita harus hati-hati sama Zidan, kayaknya dia serius sama omongannya," ucap Ruli.
***
Disisi lain, Zidan duduk bersama Haris dan Akmal dikantin, Zidan minum satu botol jus dingin hanya dengan dua kali tegukan, Rupanya hatinya masih sangat kesal atas fitnah yang menimpa dirinya.
"Sabar Dan, jangan emosi," ucap Akmal.
"Gue udah sabar kok, kalo gue enggak sabar udah babak belur tuh si Ridho,"
Haris dan Akmal tersenyum mendengar ucapan Zidan yang masih tersulut emosi, Tapi mereka terus berusaha menghiburnya hingga akhirnya suasana kembali mencair.
"Masuk kamar yuk, belajar, besok ujian," ajak Akmal.
"Belajar terus, enggak pusing apa?" tanya Zidan.
"Itulah Akmal, makanya dia disebut masternya pesantren, baru berapa minggu dipesantren dia udah ikut macem-macem kompetisi," sahut Haris.
"Ah, enggak juga," jawab Akmal.
__ADS_1
Mereka kembali kekamar dan mulai membuka buku pelajaran, Diatas meja mereka hanya ada buku pelajaran tentang agama maupun pelajaran umum.
Zidan yang lelah membaca malah menutup wajahnya dengan buku dan tertidur.
Tokk... tokk...
Terdengar pintu kamar diketuk, Akmal melihat kearah pintu dan dilihatnya sosok Ridho dan Ruli.
"Assalamualaikum, boleh masuk?" tanya Ridho.
"Waalaikumsalam, boleh, masuk aja," jawab Akmal.
Ridho dan Ruli masuk kedalam dan duduk bersama mereka.
"Mau ngapain?" ucap Zidan yang masih menutup wajahnya.
"Dan, Aku mau minta maaf sama kamu, aku nyesel udah berbuat begitu sama kamu," ucap Ridho.
"Iya Dan, aku juga," sahut Ruli.
"Bukannya kalian udah gue maafin ya? Mau maaf gimana lagi?" jawab Zidan dengan pertanyaan.
"Iya sih, tapi rasanya belum afdol aja kalo belum minta maaf,"
Zidan membuka matanya dan menatap ke arah Haris dan Akmal, Mereka mengangguk pelan seolah memberi tanda supaya dia mau memaafkan.
"Okelah, gue terima maaf kalian," ucap Zidan.
"Ih, apaan sih?" Zidan merasa risih.
"Itu tanda kalo kalian udah bersahabat, begitu kata ustadz," ucap Haris.
***
Akhirnya perdamaian terjadi diantara mereka, Mereka terlihat semakin dekat sejak beberapa hari ini, Bahkan terkadang, Ridho membantu pekerjaan Zidan yang ditugaskan oleh ustadz.
"Alhamdulillah, mereka akhirnya akur juga," gumam ustadz Fatih.
"Emang kapan mereka bertengkar?" sahut pak Kiayi tiba-tiba.
"Eh, pak Kiayi, enggak kok, hehe,"
Pak Kiayi menepuk bahu ustadz Fatih dan mengajaknya mengerjakan tugas yang lain.
Ujian semakin dekat, Para santri diperintahkan untuk lebih fokus dalam belajar.
"Mal, lagi nulis apa?" tanya Zidan.
"Oh, ini rangkuman,"
"Buat apa? Bukannya loe gampang hafal pelajaran?"
__ADS_1
"Iya, ini buat Ridho,"
"Wah, enak banget dia,"
Zidan memperhatikan setiap tulisan yang dibuat Akmal sambil berfikir macam-macam tentang Ridho yang kini sudah menjadi temannya.
Kenapa Akmal mau banget bantuin Ridho, gue jadi curiga kalo Ridho manfaatin Akmal aja?. Ucap Zidan membatin.
----
Sementara itu di Jakarta.
Hari ini Amir mengikuti olimpiade matematika antar mahasiswa mewakili kampusnya, Dia datang ditemani Adam dan Rayya, Mereka memberi semangat kepada Amir dan memintanya untuk tetap fokus.
"Sayang sekali ya mas, Zidan enggak ada sama kita," ucap Rayya.
"Iya, tapi enggak apa-apa, itu kemauan dia sendiri kok," jawab Adam.
Saat kompetisi dimulai, Semua tamu yang menghadiri acara fokus pada perlombaan, Dari kejauhan ada sosok yang terus fokus pada Amir selain Adam dan Rayya.
"Semoga kamu menang," gumamnya.
Kompetisi berlangsung selama 60 menit, Sampai akhirnya pemenang di umumkan, Betapa bangganya Adam dan Rayya saat mendengar nama Amir disebut sebagai juara pertama, Mereka memeluk dan mencium Amir dengan penuh kasih sayang.
"Selamat Amir, atas kemenanganmu,"
"Terima kasih," jawab Amir.
"Maaf, tapi anda siapa?" tanya Rayya.
"Nama saya Lidia, kalau begitu saya permisi dulu,"
Adam dan Rayya merasa heran dengan tingkah wanita itu yang tiba-tiba datang memberi selamat bahkan memeluk Amir padahal mereka sama sekali tidak mengenalnya.
"Apa dia dosenmu, Mir?" tanya Rayya.
"Bukan bu, aku enggak kenal dia," jawab Amir.
Adam dan Rayya saling menatap, Tapi mereka kemudian melupakan hal itu dan merayakan kemenangan Amir disebuah restoran favorit Amir.
"Mas, bisa telephon Zidan?" tanya Rayya.
"Jam segini biasanya santri lagi pada belajar, nanti aja kita telephon dia," jawab Adam.
Rayya mengangguk tanda mengerti, Mereka melanjutkan menikmati makanan yang sudah dipesannya, Amir mengungkapkan rasa rindunya kepada Zidan.
"Seandainya Zidan disini pasti sangat menyenangkan ya bu,?" ucap Amir.
"Iya, sabar dulu, kita doakan aja yang terbaik buat dia, semoga saat pulang nanti dia berubah lebih baik," jawab Rayya.
"Aamiin,"
__ADS_1