
Hari sudah berganti malam, tapi Rayya, Mayra dan Rizal belum juga kembali dari rumah Musa, Adam yang mengkhawatirkan mereka mencoba menghubunginya tapi tidak ada jawaban.
Rasa khawatir Adam semakin menjadi-jadi, Hingga akhirnya dia menghubungi Musa yang mengatakan kalau mereka bertiga sudah pulang sejak 30 menit lagi.
Hati Adam semakin tidak tenang, Dia mengambil kunci mobil yang berada diatas meja, Adam keluar dari rumahnya hendak masuk kedalam mobil tapi disaat bersamaan mobil yang dikendarai Rizal muncul masuk kehalaman rumah mereka.
"Assalamualaikum," ucap Mayra dan Rayya yang baru saja turun dari mobil.
"Waalaikumsalam, kalian dari mana? Kenapa baru pulang?" tanya Adam.
"Maaf mas, tadi aku kurang enak badan, jadi aku mampir kerumah sakit," jawab Rayya.
"Iya mas, jangan marah, bukannya mas seneng enggak ada mbak Rayya, mas bisa berduaan sama perempuan itu," sahut Mayra ketus.
"Mayra, jangan ngomong gitu, Ayok masuk," ajak Rayya.
"Maaf mas, aku udah coba ngerubah Mayra, tapi dia tetep kayak gitu," sahut Rizal.
Mereka masuk kedalam rumah, disana nampak Ira yang sedang duduk diatas sofa dengan ditemani secangkir teh dan cemilan, Mayra yang melihatnya menunjukkan wajah sinisnya, tapi kali ini dia tidak mengatakan apa-apa karena Rizal langsung mengajaknya masuk kedalam kamar.
"Kalian pasti belum makan ya? Biar aku masak sebentar," ucap Rayya.
"Enggak usah Rayya, kamu istirahat aja, Oh iya, apa kata dokter? Kamu baik-baik aja kan?" tanya Adam penuh rasa khawatir.
"Aku enggak apa-apa, cuma kecapean aja," jawab Rayya.
"Ya udah, sekarang kamu istirahat ya," Adam menuntun Rayya masuk kedalam kamar, sementara itu Ira hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
Adam yang juga merasa lelah karena pekerjaan yang menumpuk dikantor, langsung ikut terlelap disamping Rayya, Rayya yang terbangun menatap wajah lelah Adam dan mengusapnya pelan.
Usapan lembut itu membuat Adam terkejut dan ikut terbangun dari tidurnya.
"Rayya, kenapa bangun malam-malam gini, kamu butuh sesuatu?" tanya Adam.
"Iya, aku mau ambil wudhu mas," jawab Rayya.
Adam melihat kearah jam dinding, jam menunjukkan pukul 01.00, Adam dan Rayya segera bergegas mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam bersama.
Saat itu juga, Ira yang merasa haus keluar dari kamarnya hendak mengambil air, Ira melewati depan pintu kamar Adam dan Rayya yang sedikit terbuka, Ira menyaksikan kedua insan itu sedang larut dalam doa masing-masing.
__ADS_1
"Aduhh, perutku," ucap Ira tiba-tiba.
Adam dan Rayya yang mendengar teriakan Ira langsung menoleh kearahnya, Adam segera keluar dan melihat Ira yang sedang kesakitan sambil terus memegang perutnya.
"Kamu kenapa?" tanya Adam.
"Perutku sakit mas," jawab Ira.
Adam mengangkat tubuh Ira yang terlihat lemah dan membawanya masuk kedalam kamar sementara Rayya mengikutinya dari belakang.
"Biar aku telephon dokter," ucap Adam sambil melangkah hendak mengambil ponselnya, tapi langkahnya terhenti saat Ira memegang tangannya.
"Jangan mas, aku enggak apa-apa, kamu temenin aku ya disini,"
Mendengar permintaan Ira itu, Adam langsung melihat kearah Rayya yang sedang berdiri disampingnya, Rayya tersenyum tipis dan mengangguk agar Adam menuruti keinginan Ira.
Malam itu Adam melanjutkan tidurnya bersama Ira yang terus menggenggam tangannya sepanjang malam, Sementara Rayya nampak gelisah dikamarnya seorang diri, tidurnya tidak nyenyak dan selalu memikirkan Adam.
Jam menunjukkan pukul 04.45, Suara adzan subuh pun mulai berkumandang, Rayya yang bangun lebih dulu datang kekamar Ira untuk membangunkan Adam, Tapi sepertinya nampak sangat lelah hingga Rayya mengurungkan niatnya.
Adam membuka matanya, nampak sinar matahari sudah masuk kedalam kamar itu membuat Adam merasa silau, dilihatnya jam didinding membuat Adam segera bangkit dari tidurnya.
"Ya Allah, udah siang, kenapa subuh tadi aku enggak bangun," gumam Adam.
"Mbak, kok mbak biarin mas Adam tidur dikamar perempuan itu sih?" tanya Mayra.
"Emang kenapa? Dia juga istrinya mas Adam kan?" jawab Rayya dengan senyuman.
"Mbak, dia hamil berapa bulan sih?"
"Ktanya sih 3 bulan,"
"Terus, mbak percaya gitu? Masa 3 bulan udah sebesar itu?"
"Maksud kamu apa sih Ra, jangan suudzon gitu, Dosa, udah lanjutin sarapannya,"
Adam yang sudah rapi dengan pakaian kantornya, segera bergabung dengan mereka dimeja makan, Adam nampak terburu-buru membuat Rayya merasa khawatir.
"Mas, kenapa buru-buru?" tanya Rayya.
__ADS_1
"Aku ada rapat dikantor jam 10 nanti, entah kenapa aku sampe terlambat bangun," jawab Adam.
"Maaf mas, aku...,"
"Emang perempuan itu enggak bangunin mas? Hah gimana mau bangunin, dia aja jam segini belum bangun," sahut Mayra ketus membuat ucapan Rayya terputus, juga dibarengi tatapan Rizal yang mengarah kepadanya.
"Ya udah, aku berangkat ya, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
"Mas, mau aku antar?" tanya Rizal "Enggak baik lagi buru-buru bawa mobil sendiri," lanjutnya.
"Emh, Iya, bolehlah," jawab Adam.
Adam dan Riza berangkat menuju kantor, sementara Rayya dan Mayra sedang membersihkan piring-piring kotor.
"Kerjaan lancar ya mas, yang disemarang gimana mas? siapa yang ngurus?" tanya Rizal saat dalam perjalanan.
"Alhamdulillah lancar, Maaf ya Zal, dari kemaren aku enggak bisa ngobrol sama kamu" jawab Adam.
"Enggak apa-apa mas, aku ngerti kok," jawab Rizal.
Setelah perjalanan yang cukup panjang karena macet, Akhirnya mereka sampai dikantor, Adam yang terburu-buru langsung keluar dari mobil dan berpamitan kepada Rizal.
Saat berada didalam kantor, tiba-tiba Adam mendengar kabar yang kurang mengenakan, Ali yang ikut andil dalam proyek itu tidak bisa hadir karena urusan yang mendesak, Padahal kehadiran Ali sangat dibutuhkan saat itu.
Adam nampak kebingungan, Dia tidak mungkin mempresentasikan semuanya sendiri terlebih lagi ada klien dari Korea, Sementara Adam tidak fasih berbahasa korea.
"Ya Allah, kenapa dia enggak bilang dari awal," keluh Adam.
"Mas, maaf berkas mas ketinggalan di mobil," ucap Rizal sambil menyerahkan map berwarna biru.
"Oh iya, Ya Allah, kenapa aku bingung gini,"
"Ada apa mas? Ada masalah?" tanya Rizal.
Adam menceritakan masalahnya kepada Rizal yang dengan setia mendengarkan, Rizal sedang berfikir mencari solusinya, tapi tiba-tiba Adam menatapnya tajam.
"Kenapa mas? Apa aku salah ngomong?" tanya Rizal.
__ADS_1
"Kamu bisa bantu aku, kamu bisa bahasa korea kan, Ayok cepet ganti baju kamu, Firman, kasih dia jas dan lain-lainnya," ucap Adam tanpa menunggu persetujuan Rizal.
Rizal hanya pasrah dan menuruti permintaan kakak iparnya itu, Hingga akhirnya klien mulai berdatangan, Adam dan Rizal yang sudah menunggu diruang rapat langsung menyambut mereka dan mulai mempresentasikan apa yang sudah mereka rancang sebelumnya.