
Suara adzan subuh berkumandang, Seperti biasa Rayya dan Adam bangun lebih awal dan melaksanakan sholat berjamaah dirumah, tidak lupa mereka juga membangunkan Amir yang sekarang sudah memiliki kamarnya sendiri.
Ding... dong...
Jam dinding besar mulai berdenting, Rayya sedang menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga, tidak lupa dia juga membangunkan Ira yang harus sarapan tepat waktu karena sedang menyusui.
Rayya mengetuk kamar Ira berkali-kali tapi tidak juga ada jawaban, Karena khawatir, Rayya membuka kamar itu yang ternyata tidak dikunci.
Rayya melihat seluruh isi kamar Ira tapi betapa terkejutnya dia saat melihat kamar itu kosong, Ira dan bayinya tidak ada disana bahkan pakaian dilemari nampak kosong.
Rayya yang sangat khawatir segera memanggil Adam, Adam juga ikut terkejut saat melihat isi kamar Ira, Adam hanya melihat sepucuk kertas putih diatas meja yang ternyata surat dari Ira.
Mas, mbak
Maafin aku, aku harus pergi enggak pamit sama kalian, karena aku tau, kalo aku pamit pasti kalian akan ngelarang aku.
Terima kasih buat semua kebaikan kalian dan keluarga besar kalian yang udah berbesar hati buat maafin aku, makasih juga buat nama Akmal yang sangat indah, aku bersyukur bisa kenal kalian, tapi aku terpaksa pergi dari rumah ini, aku enggak mau jadi beban kalian seumur hidup aku, aku mau belajar mandiri, mas, mbak makasih udah kasih banyak cinta buat kita, tolong jangan cari aku, buat mas Adam, aku lepasin mas dari tanggung jawab jadi suami aku. Sekali lagi makasih mas, mbak.
"Mas, cepet cari Ira, kasian mereka mas," ucap Rayya.
"Iya udah, aku cari mereka ya, kamu jangan khawatir,"
Adam meminta bantuan Ali untuk ikut mencari keberadaan Ira, Mereka menyusuri seluruh kota tapi tidak juga menemukan keberadaannya.
Adam mulai bertanya kepada semua orang yang dia temui, tapi hanya beberapa orang yang melihatnya pergi, Adam menyusuri jalan yang mereka tunjukkan, tapi hasilnya tetap nihil.
"Kita cari kemana lagi Dam, aku capek, aku haus, mau cari minum dulu," keluh Ali.
Ali pergi kesebuah warung kecil yang ada dipinggir jalan untuk membeli minuman dingin, Ali meletakkan foto Ira diatas kursi disampingnya.
"Mas, lagi cari perempuan ini ya?" tanya pedagang itu.
"Iya pak, bapak liat?" tanya Ali sambil meneguk minumannya.
__ADS_1
"Iya, saya liat mas, tadi dia naik bus kearah sana, dia bawa bayi kan?"
"Iya pak, beneran bapak liat?" tanya Ali antusias, Bapak itu mengangguk dan mengubah wajah lelah Ali menjadi ceria.
Ali segera memberitahu Adam dan segera menyusul kemana bus itu.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, akhirnya mereka menemukan bus itu memasuki jalan tol, Adam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan akhirnya bisa menghentikan bus itu.
Adam mencari kedalam bus dan menanyakan tentang Ira, tapi sopir bus mengatakan kalau tidak ada penumpang yang membawa bayi.
Karena lelah, Adam dan Ali kembali kerumah dengan tangan hampa, Rayya masih khawatir tentang Ira dan bayinya, mereka memutuskan untuk mencarinya esok hari.
***
Esoknya pencarian terus berlanjut hingga beberapa hari, tapi hasilnya tetap nihil, hingga akhirnya Adam memutuskan untuk pergi kerumah Ira yang ada di Semarang.
Adam berangkat bersama Ali, Sesampainya di Semarang, mereka segera menuju kediaman Ira, tapi rumah itu nampak kosong seperti tidak ada penghuninya, Adam beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
"Mas, cari siapa?" tanya warga sekitar yang kebetulan lewat.
"Eh, mas ini suaminya ya?" jawab orang itu dengan pertanyaan.
"Hm, iya,"
"Bukannya dia tinggal di Jakarta sama mas? kenapa mas cari kesini? apa ada masalah?"
"Oh, enggak kok bu, semua baik-baik aja, gimana bu, apa Ira pulang kesini?"
"Setahu saya enggak mas, eh tapi cuma tanya pak rt, mungkin dia tahu,"
"Oh iya, terima kasih bu,"
Adam segera menuju rumah pak Rt, Pak Rt bercerita kalau memang Ira sempat pulang tapi hanya menginap satu malam, Ira juga sudah menceritakan semuanya kepada pak Rt yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri, Ira meminta pak Rt untuk mencari pembeli rumahnya.
"Jadi, rumah itu udah dijual pak?" tanya Adam.
__ADS_1
"Iya nak, cuma pemilik barunya belum tinggal disana," jawab pak Rt.
"Terus, Ira pergi kemana pak? apa bapak tau?" sahut Ali.
"Ira enggak bilang apa-apa nak, dia cuma bilang kalo dia pengen mandiri,"
Mendengar penjelasan pak Rt, Adam termenung sesaat, hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan menceritakan semuanya kepada Rayya.
Rayya menanggapi cerita Adam tanpa berkata apa-apa, Rayya terus memegang kepalanya yang terasa sakit hingga akhirnya jatuh pingsan.
Adam sangat khawatir saat itu dan segera membawa Rayya kerumah sakit, Disana Rayya melakukan pemeriksaan hingga akhirnya dokter memberi kabar baik, kalau Rayya sedang hamil.
Kabar itu membuat Adam dan Rayya nampak bahagia, penantian selama empat tahun akhirnya dikabulkan oleh Allah, Rayya mengandung anak Adam dikala hatinya masih terus mengkhawatirkan Ira dan Akmal.
***
Hari berganti hari, Adam terus melakukan pencarian terhadap Ira, kali ini tidak hanya dibantu Ali, tapi juga bantuan dari sahabat-sahabatnya yang lain.
"Gimana mas? udah ada kabar?" tanya Rayya, Adam menggeleng.
"Permisi bu, ada surat," ucap tukang pos.
Rayya berjalan mendekatinya dan menerima surat itu kemudian menyerahkannya kepada Adam.
Adam membaca surat itu yang ternyata isinya sebuah surat dari pengadilan agama, dimana disana tertulis kalau Ira menggugat cerai dirinya.
"Mas, ada surat lain," ucap Rayya.
Maaf mas, mbak
Aku udah bikin kalian khawatir, aku mau bilang kalo aku dan Akmal baik-baik aja, ini aku kirim foto Akmal buat kenang-kenangan, mas aku udah tanda tangan disurat itu, sekarang giliran mas, maaf mas kalo aku enggak sopan karena cuma kirim surat dizaman sekarang, tapi ini semua demi kebaikan aku, Akmal dan kalian semua, aku mohon mas, jangan cari aku lagi, ini surat perpisahan kita, semoga dengan begini kita bisa bahagia masing-masing.
Adam menghela nafas panjang setelah selesai membaca surat itu.
"Ini udah keputusan dia Rayya, jadi lebih baik kita berhenti cari dia, yang penting kita tahu, kalo mereka baik-baik aja, kamu jangan khawatir lagi ya," ucap Adam sambil memeluk Rayya.
__ADS_1
Adam mengambil pena yang ada disakunya dan menandatangani surat cerai itu, kini Adam dan Ira benar-benar sudah berpisah, Masalah orang ketiga dalam rumah tangga mereka sudah selesai, Kini Adam dan Rayya lebih fokus menunggu kelahiran anak pertama mereka, juga melanjutkan proyek pembuatan pesantren bersama Musa yang sudah 80% pembangunannya.