
Sementara itu dirumah.
Rayya dan Mayra sedang duduk santai sambil bercerita banyak hal, Saat itu juga Ira datang menghampiri mereka dan meminta izin pergi kerumah sakit untuk memeriksa kandungannya.
"Biar aku antar ya," ucap Rayya.
Baru saja Rayya bangun dari tempat duduknya, tiba-tiba ponselnya berdering, nampak panggilan dari Aisyah yang mengatakan kalau ada tamu yang ingin bertemu dengannya di TPA, Rayya pun membatalkan niatnya mengantar Ira, dan meminta Mayra yang mengantarnya.
"Aku capek, udah bawa aja sendiri mobilnya," jawab Mayra.
"Mayra,"
"Kenapa? Kamu enggak bisa bawa mobil? Ya udah naek taksi aja, sini aku pesenin,"
"Mayra, mbak minta tolong ya," ucap Rayya.
"Enggak usah mbak, bener kata mbak Mayra, aku naek taksi aja," sahut Ira.
"Enggak, nanti kamu kecapean harus nunggu taksi, bahaya juga kalo kamu pergi sendirian, Ayok Mayra,"
"Hah, iya-iya,"
Mayra dan Ira pergi menuju rumah sakit, sementara Rayya pergi ke TPA dan bertemu dengan tamu yang dimaksud Aisyah.
Selama dalam perjalanan, Ira nampak canggung dengan Mayra, Sementara Mayra nampak santai sambil memutar lagu yang dia sukai.
"Berapa bulan kandungan kamu?" tanya Mayra membuka percakapan.
"Udah masuk 4 bulan," jawab Ira.
"Bayi kamu kembar?" lanjut Mayra.
"Enggak kok, aku udah usg,"
"Hm, bayinya gemuk kali ya, makanya perut kamu kayaknya besar gitu,"
"Hah, Hmm mungkin,"
Setelah sampai dirumah sakit, Ira langsung masuk keruangan dokter dimana sebelumnya mereka sudah membuat janji, Sementara Mayra duduk diruang tunggu bersama pasien lainnya.
"Mbak, hamil berapa bulan?" tanya Mayra yang memang sangat ingin tahu.
"Enam bulan, kamu?"
"Aku enggak hamil, cuma nganter perempuan itu yang barusan masuk," jawab Mayra.
"Oh, perut dia juga besar, mungkin sama kayak aku ya?" tanya orang itu.
"Belum, kandungannya baru empat bulan,"
"Oh, tapi kok besar gitu,"
__ADS_1
Setelah Ira keluar dari ruangannya, pasien berikutnya masuk kedalam, Mayra yang penasaran terus memperhatikan perut Ira.
"Tunggu sini bentar ya," ucap Mayra.
Mayra pergi meninggalkan Ira menuju ruangan dokter, dia sangat ingin bicara pada dokter yang memeriksa Ira, tapi sepertinya dokter itu cukup sibuk menangani banyak pasien yang sedang mengantri.
Setelah menunggu selama tiga puluh menit, Akhirnya Mayra kembali dan segera mengajak Ira pulang, selama dalam perjalanan Mayra tetap diam tidak seperti biasanya, tapi hal itu membuat Ira merasa nyaman karena tidak ada pertanyaan yang harus dia jawab.
Setelah sampai dirumah, Mayra yang biasanya selalu banyak bicara tiba-tiba menjadi pendiam, Rayya yang kebetulan sudah berada dirumah lebih dulu merasa sedikit heran dengan sikap diam Mayra.
"Mayra kenapa Ra?" tanya Rayya kepada Ira.
"Aku enggak tau mbak, semenjak keluar dari rumah sakit, dia udah diem gitu," jawab Ira.
Rayya yang penasaran dengan sikap Mayra, pergi menemuinya yang sedang duduk didalam kamar sambil menatap layar laptopnya.
"Mayra, kamu lagi apa?" tanya Rayya.
"Mbak, lihat sini sebentar, Liat nih kehamilan empat bulan itu masih segini, tapi kenapa perut perempuan itu lebih besar?" ucap Mayra sambil menunjukkan layar laptopnya.
"Maksud kamu apa sih?"
"Mas Adam sama perempuan itu udah berapa lama menikah?" lanjut Mayra.
"Lima bulan, kenapa?"
"Mbak, jangan-jangan perempuan itu udah hamil sebelum nikah sama mas Adam,"
"Aku enggak nuduh mbak, ini bukti, kalo mbak enggak percaya, nanti aku cari bukti yang lain,"
"Udah, enggak usah aneh-aneh, udah dzuhur, sana sholat dulu,"
Rayya pergi keluar dari kamar Mayra, sementara Mayra masih terus menatap layar laptopnya dengan cermat.
*Malam hari
Adam yang baru menyelesaikan sholat isya, sekarang sedang bersiap untuk untuk memenuhi undangan dari ustadz Lutfi, pakaian yang akan dikenakannya sudah siap dengan rapi.
Saat itu, Rayya masuk kedalam kamar mereka membantu Adam bersiap.
"Mas, kayaknya aku enggak bisa ikut," ucap Rayya sambil memasang kancing baju Adam.
"Lho, kenapa?"
"Aku lagi enggak enak badan aja mas,"
"Ya udah, kalo gitu kita kerumah sakit ya, sekarang kamu siap-siap," ucap Adam.
"Enggak mas, aku cuma butuh istirahat aja kok,"
"Kalo gitu, aku juga enggak usah pergi, biar aku temenin kamu,"
__ADS_1
"Jangan mas, kamu pergi aja, enggak enak sama ustadz Lutfi,"
"Tapi rasanya aneh kalo aku pergi sendiri,"
"Kamu enggak sendiri kok, biar Ira yang nemenin kamu, kamu enggak pernah ajak dia keluar kan, lebih baik kamu bawa dia,"
"Tapi Rayya, aku..."
"Biar aku yang ngomong sama Ira ya," Rayya memutus ucapan Adam dan pergi meninggalkannya untuk menemui Ira.
Ira yang sedang menyisir rambutnya merasa senang saat Rayya memintanya untuk pergi bersama Adam, Ira membuka lemarinya dan mencari pakaian yang cocok untuk dipakai.
"Tapi, semua bajuku begini mbak," ucap Ira sambil menunjukkan isi lemarinya yang terlihat hanya ada pakaian dress setinggi lutut.
"Kemarin mas Adam bilang, kalo semua orang liatin kamu karena pakaian kamu terlalu pendek, ini tadi aku mampir ke butik langganan dan beliin kamu baju ini," ucap Rayya sambil menyerahkan sebuah paper bag.
"Mas Adam udah dikenal dimana-mana, semua teman dekatnya kebanyakan orang-orang dari pesantren, jadi aku harap kamu bisa ubah penampilan kamu, jangan pake baju itu lagi ya, kamu bisa mulai pake baju yang kayak gini,"
Ira menatap Rayya yang sedang menyiapkan pakaiannya, Tiba-tiba Ira memeluk Rayya dan menangis dalam pelukannya.
"Hei, kamu kenapa?"
"Terima kasih mbak, mbak udah perhatian sama aku, padahal aku ini madunya mbak,"
"Udah, jangan ngomong gitu, kamu udah aku anggap adik sendiri, aku harap kamu juga begitu,"
Ira tersenyum mendengar ucapan Rayya, Rayya membantu Ira memakai hijab, karena Ira belum terbiasa, dia merasa sedikit tidak nyaman, tapi Rayya dengan sabar terus mengajarinya.
Adam yang sudah siap, sedang duduk menunggu Ira diruang tamu atas permintaan Rayya, Rayya dan Ira keluar bersamaan, saat itu Ira nampak berbeda, dia terlihat semakin cantik dengan hijab dan pakaian yang tertutup, tapi itu tidak mengubah apapun, Adam hanya fokus memandang Rayya.
"Ya udah, kalian berangkat sana, nanti terlambat," ucap Rayya.
"Kamu beneran enggak apa-apa ditinggal sendiri?" tanya Adam.
"Aku enggak apa-apa mas, udah ceper berangkat," jawab Rayya.
Dengan langkah yang berat, Adam pergi bersama Ira menuju kediaman ustadz Lutfi, Selama perjalanan itu Adam hanya terdiam tanpa berkata apa-apa.
"Mas, mendingan aku turun disini aja, aku enggak usah ikut," ucap Ira.
"Kenapa?"
"Aku enggak suka kamu diem aja kayak gini, kamu perhatian sama aku cuma saat aku sakit aja,"
"Kalo kamu enggak mau ikut, kenapa kamu enggak nolak permintaan Rayya?"
"Mas kamu...."
"Sebentar lagi sampe, aku harap kamu bisa jaga sikap," ucap Adam.
Ira yang masih merasa kesal dengan sikap Adam hanya bisa terdiam sambil melipat tangan dan menyandarkan tubuhnya dikursi.
__ADS_1